Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Empatpuluh satu



Satu minggu berlalu di rumah sakit Fahisa sudah di perbolehkan untuk pulang dengan catatan dia belum di perbolehkan untuk terlalu kelelahan. Saat di perbolehkan untuk pulang Fahisa merasa begitu bahagia karena dia sudah sangat bosan berada di rumah sakit. Selain itu Fahisa juga ingin melihat makam buah hatinya sebelum pulang ke rumah.


Selama perjalanan tangan Fahisa selalu di genggam oleh Daffa sambil sesekali di ciumnya punggung tangan itu dengan penuh kasih sayang. Sangat bahagia jika mengingat beberapa hari belakangan Fahisa sudah jauh lebih baik dan sering tersenyum bahkan terkadang tertawa ketika Sahara mengajaknya bercanda.


Perlahan semuanya membaik dan kembali seperti sedia kala meskipun Daffa sangat yakin jika luka di hati Fahisa tidak akan pernah bisa hilang atau terobati.


Tapi, setidaknya senyum Fahisa sudah kembali itu sudah lebih dari cukup.


"Mas malu ihh." Kata Fahisa kepada Daffa yang terus menciumi punggung tangannya padahal di depan ada Pak Hadi yang lagi menyetir


"Aku rindu kamu Fahisa, sangat." Kata Daffa tanpa memperdulikan perkataan Fahisa


Bukan menjauh Daffa malah semakin mendekat dan membawa kepala Fahisa untuk bersender di bahunya lalu mengusap rambut hitam itu dengan lembut.


"Maaf karena tidak bisa menjaga kalian dengan baik, tapi Fahisa aku mohon tetaplah tersenyum karena kita akan melewatinya bersama-sama." Kata Daffa membuat Fahisa jadi merasa sedih mendengarnya


"Mas Daffa tidak salah." Kata Fahisa pelan


Sisa perjalanan mereka di habiskan dengan keheningan dan sekitar sepuluh menit akhirnya mereka sampai ke tempat dimana buah hati mereka di makamkan. Melangkahkan kakinya nafas Fahisa terasa begitu berat dan dengan di tuntun oleh Daffa mereka berhenti di salah satu nisan yang ada.


Mengusap nisan itu dengan lembut Fahisa memejamkan matanya berusaha menghilangkan sesak di dadanya dan air mata yang meronta minta di keluarkan. Di sampingnya Daffa dengan setia merangkul Fahisa dan mengusapnya lembut.


"Dia laki-laki." Kata Daffa pelan


Menyunggingkan senyumnya Fahisa mengangguk pelan.


"Jika dia lahir pasti akan setampan Daddy nya." Kata Fahisa membuat Daffa tertawa kecil dengan hati yang semakin terluka


"Dan sekuat Mommy nya." Tambah Daffa


"Memang aku kuat? Aku ini cengeng." Kata Fahisa


"Tidak Hisa, kamu kuat karena sudah bisa menerima semua yang telah terjadi dan berusaha menutupi semua kesedihan yang kamu rasakan, menangis adalah hal yang wajar." Kata Daffa panjang


Tidak menanggapi Fahisa hanya diam sambil menghela nafasnya panjang lalu kembali mengusap nisan itu anaknya pasti sudah tenang disana.


"Kita yang sama-sama kuat." Kata Fahisa sambil tersenyum menatap suaminya


Ikut tersenyum Daffa menggenggam erat tangan Fahisa yang sudah mulai mendingin karena angin yang memang cukup kencang.


"Sudah ya? Anginnya cukup kencang." Kata Daffa mengajak Fahisa untuk pulang


Mengangguk pelan Fahisa membalas genggaman tangan suaminya lalu sebelum pergi dia kembali mengusap nisan itu dengan sangat lembut.


"Mommy pulang ya sayang"


¤¤¤¤


Saat sampai di rumah keduanya disambut oleh Sahara yang langsung berlari dan memeluk Fahisa dengan penuh kebahagiaan. Akhirnya setelah seminggu Fahisa bisa kembali ke rumah dan selain Sahara para pekerja rumah tangganya juga ikut menyambut kepulangan Fahisa.


"Mommy"


Saat Fahisa menundukkan tubuhnya Sahara langsung menciumi pipi Fahisa dengan gemas lalu kembali memeluknya dengan sangat erat. Melihat beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya Fahisa tersenyum lalu dengan di rangkul oleh suaminya Fahisa langsung melangkahkan kakinya ke kamar.


"Ara sangat senang Mommy sudah pulang." Kata Sahara dengan senyuman lebarnya


"Mommy juga senang bisa pulang ke rumah dan bertemu Ara lagi." Kata Fahisa


Menggenggam erat tangan Mommy nya sesekali Sahara memainkan jari-jari tangan itu dan ketika sampai di kamar Daffa langsung menyuruh Fahisa untuk kembali beristirahat. Mengerucutkan bibirnya kesal Fahisa enggan untuk istirahat karena menurutnya seminggu di rumah sakit dia sudah beristirahat dengan total.


"Istirahat terus." Keluh Fahisa


"Tentu saja Fahisa kamu baru pulang dari rumah sakit." Kata Daffa sambil menuntun Fahisa agar berbaring di tempat tidur


Menurut, Fahisa hanya membiarkan suaminya yang sekarang sudah menyelimuti tubuhnya, tapi ada rasa haru yang Fahisa rasakan ketika melihat kasih sayang dan kepedulian Daffa kepadanya. Mendadak dia menyesal karena sempat meragukan perasaan Daffa kepadanya padahal suaminya itu sangat menunjukkannya.


Semua karena pesan sialan itu dan mulai sekarang Fahisa tidak akan lagi percaya dengan apapun itu mengenai suaminya kecuali jika dia mendengarnya sendiri dari bibir Daffa.


"Ara mau sama Mommy." Kata Sahara sambil ikut naik ke tempat tidur dan menempatkan dirinya di sebelah Fahisa


"Aku akan ambilkan minum." Kata Daffa sambil berlalu pergi meninggalkan keduanya


"Mommy Ara kangen sekali tidur sama Mommy setiap malam Ara selalu sama Oma." Kata Sahara sedih


"Sekarang sudah ada Mommy jangan sedih lagi." Kata Fahisa sambil tersenyum


Melihat Sahara yang sangat menyayanginya membuat Fahisa begitu terharu bahkan meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah sekalipun Sahara tetaplah anaknya, putri kesayangannya. Namun, ketika mengingat antusias Sahara yang selalu tidak sabar menyambut kehadiran buah hatinya membuat Fahisa kembali merasa sedih.


"Ara maafkan Mommy ya?" Kata Fahisa secara tiba-tiba


Mendongakkan kepalanya Sahara menatap Fahisa dengan wajah bingungnya.


"Kenapa?"


"Maaf karena adik bayinya harus pergi." Kata Fahisa pelan


Semakin memeluk Fahisa kata-kata yang keluar dari bibir Sahara benar-benar membuatnya tergegun bukan main, anak itu sangat menyayanginya.


"Ara cuman mau Mommy, Ara tidak mau Mommy sakit lagi karena adik bayi"


Mereka memang sudah terikat satu sama lain.


¤¤¤¤


Mendapat panggilan yang menyatakan jika Tanti sudah di temukan membuat Daffa langsung bergegas pergi dan meninggalkan istrinya bersama dengan Tania juga Sahara. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi tangan Daffa menggenggam stir dengan begitu erat berusaha meredamkan emosinya yang kembali memuncak.


Setelah seminggu dia seperti orang gila karena memarahi banyak pegawainya yang dianggap tidak becus sampai menangkap satu orang wanita saja memakan waktu yang begitu lama. Akhirnya penantian itu terpenuhi dia akan meluapkan semua emosinya kepada orang yang telah membuat keluarganya sangat menderita.


Wanita itu berada di salah satu rumah yang letaknya cukup jauh dari perkotaan dan tentu saja memakan waktu cukup lama untuk bisa sampai kesana. Selama perjalanan Daffa terus menggerutu karena jalanan yang cukup padat membuat dia jadi lebih lama untuk sampai.


Sekitar satu jam dalam perjalanan akhirnya Daffa sampai di tempat yang sudah di beritahu oleh Wira dan di sana sudah banyak mobil yang terpakir termasuk mobil milik polisi. Beberapa warga juga ada mulai berhamburan keluar ketika melihat ada mobil polisi yang berhenti disana.


Di depan sana sudah ada Wira yang menunggunya dan tanpa menunggu waktu lama Daffa langsung berlari menghampirinya.


"Dia sudah di amankan dan dia juga tidak memberontak sama sekali." Kata Wira sambil membawa teman baiknya itu kedalam


Menghampiri Tanti yang sudah di borgol Daffa meminta izin kepada polisi untuk berbicara sebentar kepada wanita yang sudah lama bekerja untuknya itu. Saat melihat mata tajam majikannya Tanti sama sekali tidak berani untuk melihat lebih lama lagi dan lebih memilih untuk menundukkan kepalanya.


"Kau! Kenapa kau melakukan ini semua hah? Apa kau sudah bosan hidup?!" Bentak Daffa dengan tangan terkepal membuat wanita itu memejamkan matanya takut


"Jawab! Kenapa kau diam?!" Tanya Daffa sambil menarik dagu wanita itu cukup keras agar menatap ke arahnya


"Saya... tuan... maafkan saya." Kata Tanti terbata-bata


"Maaf kau bilang?! Karena ulahmu istriku sampai keguguran dan kau mengatakan maaf?! Semudah itu?!" Kata Daffa dengan penuh kemarahan


Terisak pelan Tanti merasa begitu bersalah ketika mendengarnya, tapi sayangnya tangisan itu malah membuat emosi Daffa semakin tersulut hingga dia menendang kursi yang ada didekatnya dan membuat wanita itu semakin ketakutan.


"Dia sampai menangis semalaman terus meminta maaf karena menganggap bahwa itu semua salahnya dan sekarang hanya ini yang bisa kau lakukan hah?! Meminta maaf sambil menangis? Aku benar-benar ingin membunuhmu sekarang!" Kata Daffa dengan mata penuh kilatan kemarahan


"Maafkan saya.... hiks.... maaf... saya hanya... menjalankan... apa yang diperintahkan." Isaknya pelan


Menghela nafasnya panjang Daffa langsung mencengkram kuat kedua pipi wanita itu hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Siapa? Siapa orang bodoh yang memerintahkanmu untuk melakukan itu semua?!" Tanya Daffa dengan penuh emosi


"Daf lepaskan tanganmu dia kesakitan." Kata Wira saat melihat Tanti yang semakin meringis kesakitan


"Persetan dengan itu semua Fahisa merasakan sakit yang lebih besar dari ini!" Tegas Daffa


Tidak bisa memaksa temannya yang sedang tersulut emosi itu Wira hanya membiarkannya.


"Apa kau tidak bisa bicara?! Aku bertanya padamu!" Kata Daffa lagi


Sambil menangis serta menahan sakit Tanti mulai berbicara mengatakan dalang di balik semua ini dan perkataannya membuat Daffa tertegun di tempatnya.


"Nona Jira"