
Memiliki keluarga yang sempurna adalah keinginan besar Sahara sejak dia masih kecil. Dibesarkan tanpa seorang Ibu dan sering kali ditinggalkan sang Ayah bekerja membuatnya merasa kesepian. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali Sahara selalu berdo'a agar dia dapat memiliki seorang Ibu yang akan memberikan kasih sayangnya.
Beberapa kali Daffa dekat dengan wanita dan mengenalkannya dengan Sahara, tapi anak itu selalu menolak karena dia sangat tau jika wanita-wanita itu tak menginginkannya. Bahkan pernah Sahara dicubit karena dia ingin naik mainan, dimarahi karena selalu menempel pada Daffa ketika sang ayah sedang kencan, dan yang paling parah dia pukul karena mengatakan bahwa dia tidak menyukai kekasih Ayahnya tersebut.
Tadinya Sahara berfikir untuk menyerah saja, dia menganggap bahwa tidak ada yang mau menjadi Ibunya. Namun, ketika bertemu dengan Fahisa dia kembali merubah fikirannya.
Saat pertama kali Fahisa tersenyum dan mengusap air matanya dengan begitu lembut membuat Sahara tersentuh. Tangan yang begitu lembut itu menghapus jejak air matanya dengan penuh kasih sayang.
Dan saat itulah Sahara sadar bahwa Fahisa berbeda.
Fahisa memang berbeda, ketika wanita lain berusaha menyingkirkan Sahara untuk menempel pada Daffa dia malah berusaha menghindar dari Daffa dan menempel dengan anaknya.
Sekarang Sahara merasa begitu bahagia dengan keluarga yang sudah sempurna.
"Aduhh"
Bahkan meskipun kedua adiknya sering sekali menjahilinya.
"Mommyyy tolongin Araa!"
Saat ini Sahara sedang menjaga adiknya karena Fahisa sedang pergi ke kamar mandi, tapi baru beberapa saat dia yang sebelumnya ingin mengajak bermain malah dijahili.
"Daddyy tolongin Araa adiknya nakall!"
Saat sedang berusaha melepaskan tangan sang adik di rambut hitamnya Daffa datang dan dia langsung terkejut ketika melihatnya.
"Baby kenapa melakukan itu pada Kakak?" Kata Daffa sambil berjalan menghampiri anak kembarnya
"Lepaskan sayang." Kata Daffa
Kedua bayi berusia satu tahun yang masih belum mengerti itu tidak mau mendengar dan Daffa dengan begitu hati-hati melepaskan tangan-tangan mungil yang berada di rambut Sahara.
"Dasar adik nakal." Kata Sahara ketika dia sudah terbebas
Bukan marah Sahara malah merasa gemas ketika melihat keduanya tertawa dan tangannya langsung terulur untuk mencubit pipi keduanya.
"Untung Kakak Ara sayang, kalian lucu sekali Ara jadi gemas." Kata Sahara
Entah terlalu keras atau bagaimana, tapi setelah Sahara melepas cubitannya mereka menangis dan hal itu bersamaan dengan keluarnya Fahisa dari kamar mandi. Mendengar tangisan anaknya Fahisa langsung menghampiri mereka dan disana dia dapat melihat Sahara juga Daffa yang berusaha menenangkan keduanya.
Senyum Fahisa terbit ketika melihatnya.
"Anak Mommy kenapa menangis?" Tanya Fahisa sambil menghampiri mereka
Melihat Fahisa datang Sahara jadi takut dimarahi karena membuat adiknya menangis.
"Mommy tadi Ara dijambak terus sama Daddy udah dilepasin habis itu karena Ara gemas jadi adiknya Ara cubit terus mereka menangis." Kata Sahara dengan cepat
"Kenapa anak Mommy menjambak rambut Kakak hmm? Tidak boleh lagi ya sayang?" Kata Fahisa kepada kedua anaknya sambil mencapit hidung mungil itu bergantian
Tapi, keduanya yang memang sudah berhenti menangis malah tertawa dan memainkan wajah Fahisa.
"Lihat Daddy adiknya sangat menurut sama Mommy." Kata Sahara ketika melihat kedua adiknya yang nampak bahagia
"Kenapa dia sangat penurut kalau sama kamu Fahisa?" Tanya Daffa penasaran
Menjauhkan wajahnya Fahisa memberikan mainan kepada keduanya agar mereka bisa tenang bermain dan tidak kembali menangis.
"Ara juga menurut sama Mommy, iya kan Mommy?" Kata Sahara
Memicingkan matanya Fahisa membuat sang anak mengerucutkan bibirnya kesal karena memdapat respon seperti itu darinya.
"Benarkah? Daddy apa benar Ara sudah menurut sama Mommy?" Tanya Fahisa kepada Daffa yang sedikit terkejut ketika mendengar nada bicara istrinya
Tapi, tak urung dia ikut menjawab dengan mata yang memicing.
"Hmm Daddy tidak tau Mommy." Kata Daffa
"Ara nurut kok, buktinya Ara selalu menuruti perkataaan Mommy." Kata Sahara dengan wajah kesalnya
Tertawa kecil Fahisa kembali meledek anaknya.
"Benarkah? Lalu siapa yang pernah ngeyel bermain sepeda saat Mommy larang? Atau diam-diam makan ice cream ketika sedang batuk padahal sudah Mommy larang? Siapa itu Daddy?" Tanya Fahisa
"Mommy itu kan hanya sekali saja." Rengek Sahara sambil menghambur kedalam pelukan Fahisa
Melihat itu Fahisa tertawa dan membalas pelukan Sahara, beberapa kali Sahara memang sulit untuk dibilangi.
Dan Daffa yang melihat hal itu hanya bisa menyunggingkan senyum manisnya.
"Mau jalan-jalan ke taman?" Tanya Daffa
"Mau Daddy mauu Ara mau main sepeda." Kata Sahara sambil melepaskan pelukannya dan menatap Daffa dengan penuh antusias
"Ide yang bagus Mas cukup membosankan kalau hanya berdiam diri di rumah saja." Kata Fahisa
"Hmm adiknya Ara juga pasti bosan, iya kan?" Kata Sahara sambil mendekatkan wajahnya kepada kedua adiknya
"Katanya Iya Daddy mereka juga bosan." Kata Sahara sambil menoleh dan menatap Daffa dengan wajah yang begitu lucu
"Sejak kapan anak Daddy sudah bicara selancar itu?" Tanya Daffa sambil tertawa kecil
"Benar kok Daddy tadi Ara dengar." Kata Sahara dengan wajah penuh kepercayaan
"Baiklah Daddy percaya sekarang kita bersiap dulu." Kata Daffa
"Ini sudah siap kan kita sudah mandi tinggal berangkat saja." Kata Sahara
"Katanya ingin bermain sepeda, apa Ara mau main sepeda pakai rok?" Tanya Daffa
Tersenyum lebar Sahara langsung memeluk Daffa dan mencium pipinya berkali-kali.
"Jadi Ara boleh main sepeda kan?" Tanya Sahara yang langsung dijawab dengan anggukan
Bersorak senang Sahara langsung melepaskan pelukannya dan berlari ke kamarnya untuk berganti baju.
"Tapi dia bahagia sayang karena di rumah dia punya dua adik yang sangat menggemaskan seperti mereka." Kata Daffa sambil mengambil Devina agar duduk dipangkuannya
"Hmm bahkan dia sering memaksa agar bisa tidur dengan Vina dan Vano." Kata Fahisa dengan disertai kekehan
"Dia sangat bahagia dulu aku tidak pernah melihatnya sebahagia ini." Kata Daffa
Tersenyum kecil Fahisa hanya diam dan memilih untuk tidak menanggapi dia malah memperhatikan Devano yang tampak tenang dengan mobil-mobilan ditangannya.
"Aduhh Vina"
Sedikit terkejut Fahisa menoleh dan mendapati Devina yang memainkan rambut suaminya sambil tertawa.
Ikut tertawa Fahisa langsung menghentikan kejahilan anaknya.
"Jangan sayang." Kata Fahisa
Seolah faham dengan apa yang diucapkan Devina langsung berhenti dan merentangkan tangannya agar digendong Fahisa.
Tersenyum kecil Fahisa membawa anak itu kedalam gendongannya.
"Ya ampun anak Mommy manja sekali." Kata Fahisa sambil mengusap-ngusap punggungnya
"Kenapa kalau sama Mommy kamu sangat manja, tapi kalau sama Daddy kamu sangat jahil hmm?" Tanya Daffa yang merasa gemas melihat tingkah anaknya yang berubah menjadi begitu manja ketika berada dipelukan Fahisa
"Soalnya Daddy nakal." Kata Fahisa dengan suara yang seperti anak kecil
Belum sempat menjawab Sahara yang sudah berganti baju langsung menghampiri mereka dengan wajah yang dipenuhi senyuman.
"Daddy ayo kita ke taman Ara mau main sepeda." Kata Sahara dengan tidak sabaran
"Tunggu ya Daddy akan ambil kereta bayi dulu." Kata Daffa
Selepas itu Sahara langsung menghampiri adiknya dia memperhatikan Devina yang nampak tenang di dekapan Fahisa.
"Vina sangat manja kalau sama Mommy." Kata Sahara sambil mengusap pipi tembam adiknya
"Seperti Ara kan?" Kata Fahisa yang membuat anak itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya
"Hmm seperti Ara kalau sama Mommy Ara suka manja, tapi kalau sama Daddy tidak soalnya Daddy suka nakal dia suka bikin Ara kesal." Kata Sahara
Tertawa kecil Fahisa yang ingin menanggapi ucapan itu mengurungkan niatnya ketika Daffa secara tiba-tiba langsung menyauti ucapannya.
"Siapa yang nakal Ara?" Tanya Daffa
"Daddy yang nakal." Kata Sahara sambil memeletkan lidahnya
Mendekati Devano dia membisikkan sebuah kalimat yang mengundang tawa kedua orang tuanya.
"Vano kamu kalau sudah besar jangan seperti Daddy"
Dan Devano hanya menatap Kakak perempuannya itu dengan bingung, tidak mengerti dengan ucapannya.
¤¤¤¤¤
Saat sampai di taman Sahara langsung mengendarai sepedanya dengan pelan-pelan sesuai permintaan dari Fahisa yang tidak mau dia terjatuh lagi. Sedangkan kedua orang tua dan adiknya menunggu di salah satu bangku taman. Mengingat ini hari minggu keadaan taman cukup ramai Fahisa sedikit takut dengan Sahara yang suka bermain sepeda dan terkadang tidak memperhatikan sekitarnya.
Bukan hanya sekali dua kali Sahara terjatuh, tapi hampir setiap kali bermain sepeda dia akan menghampiri Fahisa dengan tangisan dan menunjukkan lukanya lalu mengatakan hal yang sama.
'Mommy Ara jatuh dari sepeda'
Saat tengah sibuk mengawasi Sahara suara tangisan membuat Fahisa melihat kedalam kereta bayi dan mendapati anak laki-lakinya yang sedang menangis, tumben sekali biasanya Vina yang selalu rewel.
"Biar aku saja." Kata Daffa saat Fahisa ingin mengangkat Devano
Membawa anak itu kedalam gendongannya Daffa mengusap-ngusap lembut punggungnya untuk menenangkan Devano dan benar saja tidak butuh waktu lama dia kembali diam.
"Mungkin dia juga ingin keluar dari kereta bayinya." Kata Daffa
Mengedarkan pandangannya Daffa menemukan salah satu penjual ice cream dan dia langsung menawarkan Fahisa.
"Sayang kamu ice cream? Kalau mau aku akan belikan." Kata Daffa
Menganggukkan kepalanya dengan semangat Fahisa yang sudah jarang sekali makan ice cream tampak bersemangat.
"Mau Mas yang rasa...."
"Coklat, aku tau sayang." Kata Daffa membuat istrinya itu tersenyum senang
Setelah suaminya pergi untuk membeli ice cream Fahisa mengeluarkan Devina dari dalam kereta bayi dan memangkunya.
Disisi lain Sahara yang melihat Daddy nya menuju salah satu tempat penjual ice cream langsung memutar balik sepedanya dan menghampirinya.
"Daddy Ara juga mauu." Kata Sahara yang membuat orang-orang menoleh ke arahnya
Daffa yang tadi memang menjadi pusat perhatian kini semakin ditatap kagum oleh orang-orang, terutama wanita tentunya.
Sama sekali tidak merasa terganggu Daffa dengan senyumannya langsung bertanya keinginan sang anak.
"Ara mau rasa apa? Vanilla?" Tanya Daffa yang dijawab dengan anggukan oleh anaknya
Setelah menerima pesanannya Daffa langsung mengajak Sahara untuk menghampiri Fahisa yang hanya bersama Devina. Saat melihat anak dan suaminya Fahisa tersenyum senang apalagi ketika ice creamnya diberikan, dia kembali meletakkan anaknya di kereta bayi untuk menyantap ice creamnya.
"Mommy tau tidak?" Kata Sahara dengan mata yang membulat lebar
"Kenapa sayang?" Tanya Fahisa sambil memakan ice creamnya
"Saat beli ice cream tadi ada banyak yang lihatin Daddy"
Tapi, Fahisa sudah mengerti jika suaminya memang selalu seperti itu ketika keluar.
¤¤¤¤