
Flashback On
Dua orang gadis dengan wajah yang begitu mirip itu duduk berhadapan dengan sebuah kue ulang tahun yang berada di tengah-tengah keduanya. Salah satunya memasang wajah bahagia dengan senyum manisnya sedangkan yang lainnya terlihat begitu sendu dengan mata yang sedikit berkabut.
Hari ini adalah ulang tahun keduanya, tapi tidak ada perayaan hanya mereka tanpa adanya orang tua karena orang tua mereka masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Bahkan suasa terlihat begitu gelap tidak ada lampu yang menyala dan lilin yang berada di sekitar mereka lah yang memberikan penerangan.
Memang sengaja Fahisa yang meminta itu semua, gelap seperti hidupnya.
"Fahisa ayo tersenyum ini adalah hari yang bahagia tidak seharusnya kamu bersedih." Kata Fanesa sambil memberikan senyuman yang begitu menenangkan
"Aku ingin Ayah dan Ibu datang! Kenapa mereka tidak bisa meluangkan sedikit waktu? Kita tidak meminta mereka untuk libur bekerja, tapi kita hanya meminta mereka untuk pulang lebih awal. Kenapa masih tidak bisa?!" Keluh Fahisa dengan raut wajah penuh kesedihan
"Mungkin mereka masih sibuk, sudah Fahisa jangan difikirkan bukankah masih ada aku? Kita akan merayakannya bersama-sama." Kata Fanesa masih dengan senyum manisnya
Menghela nafasnya panjang Fahisa menatap kembarannya itu lalu perlahan mulai menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Terkadang dia bingung dengan sikap Fanesa yang terlihat begitu menerima keadaan, sepertinya apapun yang terjadi Fanesa akan selalu berusaha untuk tersenyum.
"Baiklah sekarang kita akan tiup lilinnya bersama-sama, tapi sebelum itu kita harus buat suatu permintaan." Kata Fanesa yang sakarang sedang memejamkan matanya
Ikut memejamkan mata Fahisa berharap agar dia dan saudara kembarnya diberikan kebahagiaan di hari esok dan hari-hari berikutnya, dia harap tidak akan ada lagi kesedihan.
"Apa permintaan kamu?" Tanya Fanesa setelah dia membuka matanya
"Rahasia." Kata Fahisa membuat saudara kembarnya itu mengerucutkan bibirnya kesal
Tapi, beberapa saat setelahnya dia tersenyum dan mulai mengatakan sesuatu yang membuat Fahisa merasa begitu terharu.
"Aku meminta agar kamu selalu sehat, bahagia, dan mendapatkan semua yang kamu inginkan,"
Setelah mengatakan hal itu Fanesa memberi jeda sebentar lalu setelah memberikan sebuah senyuman yang penuh arti dia mengatakan kalimat terakhir yang membuat Fahisa menangis.
"Aku selalu ingin kamu bahagia meskipun nanti saudara kembar kamu yang cantik ini tidak ada lagi di samping kamu, Fanesa selalu ingin Fahisa bahagia"
Malam itu Fahisa sama sekali tidak tau bahwa itu adalah perayaan ulang tahun terakhirnya bersama Fanesa karena dua hari setelahnya kecelakaan itu terjadi.
Fanesa meninggalkannya.
Orang tua nya juga melakukan hal yang sama.
Tapi, ternyata doa Fanesa terkabul permintaannya terpenuhi.
Fahisa kembali bahagia meskipun Fanesa tidak ada disisinya.
Fahisa kembali menemukan jalan menuju kebahagiaan.
Flashback off
Berada di dalam pelukan suaminya semua kenangan singkat dan penuh arti itu berputar di ingatannya membuat tangis Fahisa tak kunjung berhenti.
Ada perasaan yang tidak bisa dia gambarkan.
Kebahagiaan ini membuatnya melayang.
Kembali berada di sekeliling orang-orang yang menyayanginya membuat Fahisa merasa begitu bahagia.
Seandainya masih ada Fanesa mereka pasti akan merasa begitu bahagia dan kebahagiaan Fahisa pasti akan semakin besar lagi.
Setelah sekian lama akhirnya Fahisa kembali merasakan hangatnya sebuah keluarga.
Merasakan pelukan hangat dari orang yang dia cintai.
Dengan mata terpejam batin Fahisa bersuara menyampaikan rasa bahagia dan terima kasihnya kepada Fanesa.
'Fanesa terima kasih banyak aku harap kamu bahagia disana dan Fanesa selamat ulang tahun, aku rindu kamu'
Jika diizinkan Fahisa begitu ingin melihat saudara kembarnya lagi.
Meskipun hanya untuk beberapa detik.
¤¤¤¤
Tidak ada yang tau sudah berapa lama Fahisa menangis di pelukan suaminya, tapi yang jelas setelah tangisan itu reda matanya terlihat sembab dan hidungnya terlihat memerah. Namun, sekarang senyuman Fahisa sudah kembali dia merayakan hari bahagia ini bersama keluarga barunya menghabiskan malam dengan penuh canda tawa.
Rumah milik Daffa terlihat begitu ramai karena banyak keluarganya yang datang selain itu ada cukup banyak anak kecil yang membuatnya terlihat sangat ramai. Sesekali suara tangisan terdengar ketika mereka bertengkar, tapi terkadang mereka akan berlarian kesana dan kemari.
"Selamat ulang tahun ya bumil cantik." Kata Dara sambil menangkup kedua pipi adik iparnya
Fahisa yang masih dengan mata sembabnya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya singkat.
"Hmm terima kasih Kak"
"Bagaimana kandungan kamu? Apa keponakanku baik-baik saja di dalam sana?" Tanya Dara membuat senyum Fahisa mengembang semakin lebar
"Baik Kak aku juga sudah periksa sama Mas Daffa mereka sangat sehat." Kata Fahisa
"Fahisa apa Daffa sering menyulitkan kamu? Dia selalu menuruti kemauan kamu kan?" Tanya Farhan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Fahisa
"Mas Daffa sangat baik kami sering jalan-jalan untuk membeli makan kadang kami juga makan ice cream sama-sama." Kata Fahisa dengan senyuman lebarnya
"Itu bagus, kalau dia macam-macam bilang sama Kakak." Kata Farhan membuat Fahisa tertawa kecil ketika mendengarnya
Suaminya itu tidak mungkin macam-macam.
Hanya satu macam saja.
"Siap Kak"
Setelah itu Fahisa kembali mengobrol dengan Dara mereka membicarakan begitu banyak hal sampai akhirnya Daffa datang di tengah-tengah keduanya.
"Apa kamu ingin makan sesuatu?" Tanya Daffa
"Iya sayang aku mau tolong ambilkan ya." Kata Dara membuat Daffa menatapnya dengan kesal
"Kakak"
Rengekan Fahisa dengan wajah meronanya membuat kakak beradik itu tertawa kecil.
Melihat keadaan Dara akhirnya memilih untuk pergi, tapi sebelum itu dia mengatakan hal yang membuat adiknya merasa kesal setengah mati.
"Fahisa sekali-sekali kamu harus mengerjai Daffa mintalah sesuatu yang sulit untuk dituruti"
Dan Daffa benar-benar merasa kesal sekarang.
¤¤¤¤
Sampai hampir tengah malam barulah keadaan rumah kembali sepi karena semua pada kembali ke rumah masing-masing kecuali Tania yang diminta Daffa untuk tetap tinggal karena sudah terlalu malam. Saat ini Daffa sedang berada di kamar bersama dengan Fahisa yang memeluknya, mereka belum tertidur bahkan rasa kantuk belum mereka rasakan.
Sejak tadi keduanya hanya diam dengan Fahisa yang sesekali bergerak dan kembali memeluk suaminya menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Daffa.
Ada hal yang ingin Fahisa sampaikan, tapi dia bingung harus memulainya dari mana.
Fahisa ingin mengucapkan terima kasih yang begitu besar kepada suaminya.
"Mas Daffa"
"Hmm ada sesuatu yang kamu inginkan?" Tanya Daffa
"Aku mau bicara sesuatu." Kata Fahisa sambil mendongak dan menatap mata suaminya
"Katakan saja akan aku dengarkan." Kata Daffa dengan senyuman manisnya
Sebelum mulai berbicara Fahisa berkali-kali menghela nafasnya, dia berusaha merangkai kata yang akan diucapkannya.
"Terima kasih banyak untuk hari ini aku sangat bahagia." Kata Fahisa dengan pelukan yang semakin ia eratkan
"Saat menangis tadi aku bukan marah, tapi aku hanya teringat Fanesa biasanya kami selalu merayakannya berdua tanpa Ayah dan Ibu,"
Merasa jika istrinya butuh kekuatan Daffa mengusap lembut rambut hitam Fahisa dan sesekali mencium puncak kepalanya dengan sayang.
"Aku sangat bahagia Mas dan aku merasa begitu dicintai, terima kasih." Kata Fahisa dengan mata yang kembali berkaca-kaca
"Kamu pantas untuk dicintai Fahisa dan aku akan selalu mencintai kamu sampai kapanpun, jangan menangis lagi teruslah berbahagia bersama aku, Sahara, dan anak-anak kita." Kata Daffa
Keduanya saling bertatapan dan entah siapa yang memulai wajah mereka semakin mendekat hingga hidung keduanya saling menyatu.
Saat itulah bibir mereka menyatu salinh bergerak dengan begitu lembut dan teratur. Kedua tangan Fahisa mengalung di leher milik Daffa menarik pria itu agar semakin mendekat.
Daffa pun melakukan hal yang sama dia menarik tengkuk Fahisa dan semakin memperdalam ciuman mereka.
Cukup lama mereka berciuman sampai akhirnya dengan nafas terengah Daffa menjauhkan wajahnya dan beralih ke leher jenjang Fahisa membuat wanita itu tersentak karena perbuatannya.
"Mas"
Mendorong tubuh Daffa agar menjauh Fahisa menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Sudahh"
Menetralkan deru nafasnya yang tidak beraturan Fahisa merasa kesal karena di lehernya pasti akan ada bekas merah yang membuatnya jadi enggan kemana-mana.
"Cantik"
Mengecup singkat bibir istrinya Daffa merasa gemas melihat wajah Fahisa yang memerah dengan bibir yang sedikit membengkak.
"Nakal"
Mendengar keluhan itu Daffa tertawa dan membawa Fahisa kedalam pelukannya.
"Selamat malam sayang"