Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Empatpuluh



Hanya tinggal tiga bulan lagi penantian besar yang sangat Fahisa harapkan untuk bisa melihat buah hatinya, tapi sekarang semuanya telah hancur penantiannya benar-benar tidak akan pernah bisa ia capai. Rasanya ketika melihat perut yang kembali seperti semula Fahisa ingin pingsan, dia tidak sanggup untuk menerima semua kenyataan.


Bayi yang di kandungnya selama enam bulan telah tiada.


Tangisannya bahkan sama sekali tidak mengurangi rasa sakit serta sesak yang di rasakannya, isakannya tidak akan bisa menggambarkan bagaimana hancurnya dia sekarang. Semua sudah berakhir Fahisa benar-benar merasa sangat hancur, buah hatinya telah pergi.


Usapan serta kata-kata menguatkan untuknya sama sekali tidak membuat Fahisa lebih baik, dia telah hancur berkeping-keping.


Apalagi dengan kehadiran Daffa yang langsung menenangkan dan menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya. Kesedihan yang sama juga suaminya rasakan Fahisa tau, matanya melihat itu semua.


Mereka telah sama-sama hancur.


"Sstt Fahisa sudah." Kata Daffa pelan sambil terus menghapus air matanya


Fahisa terisak dengan nafas yang terputus-putus karena menangis dengan keras.


Dia menggenggam tangan Daffa dengan sangat erat lalu menggelengkan kepalanya lemah.


"Tidak kan? Dia masih ada kan Mas? Mas Daffa anak kita masih ada kan?" Tanya Fahisa lirih


Daffa menggelengkan kepalanya pelan membuat tangisan Fahisa semakin pecah dan membuat Daffa merasa begitu sakit melihatnya.


"Hisa belum waktunya." Kata Daffa sambil menggenggam erat tangan istrinya


Tidak lagi sanggup mengatakan apapun Fahisa hanya menangis dengan Daffa yang tanpa henti berusaha menenangkan dan menghapus aliran air mata yang tidak berhenti keluar. Tangisan Fahisa begitu menyayat hatinya Daffa benar-benar tidak bisa melihatnya.


"Aku disini Fahisa kita akan melaluinya bersama-sama"


Cukup lama Fahisa menangis sebelum akhirnya dia cukup tenang meskipun masih terisak, tapi air matanya tidak lagi turun dan hal itu membuat Daffa merasa sedikit lega. Saat Daffa datang tadi Tania serta Dara membawa Sahara pergi dari ruangan karena tidak mau membuat anak itu kembali menangis.


Sejak tadi tangan Daffa terus mengusap lembut rambut hitam Fahisa dan tersenyum menguatkan setiap kali istrinya itu menatap ke arahnya. Dapat dia lihat ada begitu banyak luka dan kesedihan di mata Fahisa dan itu semua karnanya.


"Maaf"


Mengucapkan kata maaf berkali-kali Fahisa membuat Daffa benar-benar merasa bersalah dan langsung menggenggan tangan Fahisa lalu mengusapnya lembut.


"Tidak Fahisa bukan salah kamu jangan minta maaf." Kata Daffa


"Maaf... hiks... maaf... aku jahat... aku tidak bisa... menjaga anak kita." Kata Fahisa kembali terisak


Daffa menggelengkan kepalanya lalu mencium kening Fahisa cukup lama membuat istrinya itu memejamkan matanya sambil terisak pelan.


"Tidak Fahisa bukan salah kamu, aku yang salah karena tidak bisa menjaga kalian berdua." Kata Daffa


Fahisa hanya diam matanya menerawang ke setiap detik yang mereka habiskan untuk menanti buah hati mereka dengan penuh kebahagiaan. Rasanya masih sulit untuk di percaya jika semuanya sudah berakhir sekarang.


"Aku disini Fahisa kita akan melaluinya bersama-sama"


¤¤¤¤


Tiga hari berlalu keadaan Fahisa sudah mulai membaik meski terkadang dia masih suka melamun atau menangis, tapi Fahisa sudah lebih baik dan mulai bisa menerima semuanya. Sampai saat ini Fahisa masih belum di perkenankan untuk pulang dan masih harus di rawat untuk beberapa hari kedepan.


Setiap malam Daffa selalu menjaganya sedangkan dari pagi sampai siang ada Dara lalu ketika sore Tania akan datang bersama Sahara, tapi sering kali Daffa juga mengunjunginya ketika waktu makan siang atau terkadang suaminya itu pulang lebih awal. Semua berjalan sedikit demi sedikit memang sikap Fahisa sedikit berubah karna terkadang ketika di tanya atau di ajak berbicara Fahisa hanya menanggapinya dengan singkat bahkan hanya dengan gumaman.


Tapi, setidaknya Fahisa sudah lebih baik dari dua hari yang lalu ketika dia menolak untuk memakan apapun hingga membuat kondisinya kembali melemah.


Masalah orang yang mencelakai Fahisa masih dalam pencarian bahkan Daffa sudah membawanya ke ranah hukum, dia tidak bisa memaafkan lagi entah siapa dalangnya mereka harus di hukum.


Siang ini Daffa datang menemui Fahisa dan membantu istrinya untuk makan meskipun Fahisa sudah menolak. Suapan demi suapan Daffa berikan sambil sesekali mengajak Fahisa mengobrol meskipun istrinya itu tidak banyak menanggapi.


"Kamu harus makan yang banyak Hisa." Kata Daffa sambil terus menyuapi istrinya


Dalam diam Fahisa memperhatikan Daffa yang terus menyuapinya, dia merasa bersalah karena sudah bersikap seperti ini padahal yang sedih bukan hanya dia, tapi Daffa juga merasakan kesedihan yang sama.


Kenapa Fahisa harus bersikap seperti ini?


Suaminya juga merasakan kesedihan dan ketakutan ketika mendengar kabarnya apalagi ketika itu dia sedang di luar kota untuk urusan pekerjaan.


"Hey, ayo buka mulutnya kenapa malam melamun hmm?" Tanya Daffa membuat Fahisa sedikit tersentak lalu membuka mulutnya


Semua sudah terjadi dan Fahisa tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini yang harusnya dia lakukan adalah menerima semuanya dan percaya bahwa di depan sana ada kebahagiaan yang lebih besar untuk mereka.


"Hmm"


"Maaf"


Mendongakkan kepalanya Daffa menatap istrinya dengan senyuman lalu mengusap pipi yang sedikit lebih tirus itu dengan penuh kasih sayang.


"Untu apa? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun Fahisa." Kata Daffa


"Mau peluk Mas Daffa." Kata Fahisa pelan


Tersenyum lebar Daffa meletakkan makanan Fahisa di meja lalu mendekatkan dirinya dan membawa istrinya itu kedalam pelukannya memberikan dia ketenangan.


"Semua akan baik-baik saja kita akan melalui ini bersama-sama." Kata Daffa sambil mengusap rambut hitam Fahisa dengan begitu lembut


"Jangan tinggalin Hisa." Kata Fahisa lirih


"Tidak akan Fahisa"


Melepaskan pelukannya Daffa menangkup kedua pipi istrinya lalu mencium setiap bagian wajah Fahisa dan berhenti cukup lama ketika mencium bibir yang masih sedikit pucat itu.


"Tersenyumlah Fahisa jangan menangis ada aku dan Ara kami tidak akan pernah meninggalkan kamu." Kata Daffa


Menarik sudut bibirnya Fahisa mulai membentuk sebuah senyuman yang begitu Daffa rindukan.


Senyuman Fahisa perlahan mulai kembali.


¤¤¤


Sepulang sekolah Sahara pergi ke rumah sakit bersama dengan Tania anak itu sangat bersemangat untuk bertemu Mommy nya karena sejak malam hingga siang dia tidak bisa bertemu. Sepanjang perjalanan Sahara yang masih memakai seragam sekolahnya terus bercerita tentang banyak hal kepada Tania.


"Oma tau tidak? Ara sebentar lagi mau masuk sd." Kata Sahara dengan semangat


"Benarkah? Wahh cucu Oma sudah besar." Kata Tania sambil mencium puncak kepala Sahara


"Oma apa Mommy masih lama di rumah sakitnya? Kapan Mommy pulang? Ara kangen Mommy mau tidur sama Mommy lagi." Kata Sahara dengan bibir mengerucut


"Sabar ya sayang Mommy masih sakit jadi belum boleh pulang." Kata Tania dengan sabar


Mengangguk pelan Sahara kemudian diam dan menikmati sisa perjalanannya dengan memperhatikan jalanan. Sekitar sepuluh menit berlalu akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan dengan penuh semangat Sahara menarik tangan Tania agar mengikuti langkah kakinya.


Membuka pintu ruang rawat Fahisa keduanya dapat melihat Daffa yang sedang berbincang bersama Fahisa sambil sesekali tertawa. Melihat tawa menantunya membuat Tania merasa begitu bahagia karna akhirnya semua mulai kembali seperti sedia kala.


"Mommy Daddy"


Berlari menghampiri keduanya Daffa langsung membawa anaknya kedalam pangkuannya lalu menciumi puncak kepala anak itu berkali-kali.


"Mommy Ara mau peluk." Kata Sahara sambil berusaha naik ke atas ranjang rumah sakit


"Pelan-pelan sayang." Kata Daffa sambil mengangkat tubuh anaknya agar bisa duduk di ranjang rumah sakit


Hati-hati Sahara memeluk Fahisa yang langsung di balas oleh wanita itu di sertai dengan usapan-usapan halus di rambut hitam milik Sahara.


"Bagaimana sekolahnya sayang?" Tanya Fahisa pelan


"Tadi Ara belajar nulis tegak bersambung, tapi Ara gak suka capek susah tulisan Ara jadinya gak bagus." Kata Sahara dengan bibir mengerucut


Tertawa kecil Fahisa mencubit pipi Sahara dengan gemas membuat anak itu semakin mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Mommy jangan di cubit." Rengeknya


Tania yang memperhatikan keluarga kecil itu hanya bisa tersenyum haru karena akhirnya senyuman menantunya mulai kembali dan kebahagiaan keluarga kecil yang sempat hancur itu perlahan mulai terbentuk kembali.


"Apa sekarang Mommy sudah sembuh? Mommy sudah senyum lagi." Kata Sahara dengan wajah polosnya


Fahisa sedikit tersentak ketika mendengarnya, tapi setelahnya dia tersenyum lalu mencium puncak kepala Sahara cukup lama dan mengatakan hal yang membuat mereka yang mendengarnya ikut bahagia.


"Mommy sudah sembuh sayang dan Mommy tidak akan menangis lagi"