
Tiga hari berlalu dan sekarang adalah hari dimana keluarga kecil ini akan pergi berlibur ke Inggris selama satu minggu kedepan. Saat mendengar jika mereka akan pergi berlibur Sahara bersorak dengan begitu gembira karena akan pergi liburan, biasanya meskipun sudah libur panjang Daffa hampir tidak pernah mengajak anaknya pergi berlibur.
Pakaian sudah Fahisa masukkan kedalam koper dan sekarang mereka sedang menunggu keberangkatan pesawat. Tersenyum senang Sahara menggenggam erat tangan Fahisa dan memainkan jari-jari tangannya.
"Mommy nanti kita main ya disana? Ara mau jalan-jalan terus main terus beli oleh-oleh buat Oma sama foto juga." Kata Sahara dengan semangat
"Tidak sayang Mommy akan bermain bersama Daddy nanti." Kata Daffa membuat istrinya menatap dengan tajam dan penuh peringatan
Menatap Daffa dengan penuh kekesalan Sahara memukul lengan Daddy nya itu dengan cukup kuat untuk meluapkan kekesalannya.
"Kenapa hanya sama Daddy? Ara juga mau main sama Mommy!" Kata Sahara kesal
"Ara tidak bisa ikut karena permainan ini hanya untuk orang yang sudah besar." Kata Daffa
"Mas Daffa!" Peringat Fahisa dengan mata tajamnya
"Ara sudah besar! Ara juga mau ikut main!" Kata Sahara dengan bibir mengerucut
"Ara sudah biarkan saja Daddy jangan kamu dengarkan nanti kita main disana ya? Daddy tidak usah diajak." Kata Fahisa menghibur anaknya yang sedang kesal dan menghentikan perkataan suaminya
"Emm kita musuhan Daddy saja! Ayo Mommy!" Kata Sahara dengan penuh dendam
Mengangkat kelingkingnya Fahisa menautkan jarinya dengan jari mungil milik Sahara membuat Daffa terkekeh melihatnya, apalagi ketika kalimat ini keluar dari bibir mungil Sahara.
"Biar saja Daddy tidak punya teman!"
Mencubit pipi Sahara dengan gemas Daffa membuat anaknya itu merasa sangat kesal dan hampir menangis karena matanya mulai berkaca-kaca. Bukannya melepaskan Daffa malah semakin gemas, anaknya itu sangat lucu dengan bibir menekuk apalagi pipinya yang sangat tembam.
"Lucunya tuan putri Daddy." Kata Daffa
"Jangan dicubit Daddy!" Rengek Sahara
"Mas Daffa udah ihh seneng banget sih gangguin anak sendiri!" Kata Fahisa sambil menggelengkan kepalanya
Tertawa kecil Daffa melepaskan cubitannya dan beralih mengusap pipi tembam itu dengan begitu lembut. Mengerucutkan bibirnya kesal Sahara memukul lengan Daffa cukup kuat dan menatapnya dengan sengit.
"Daddy nakal!"
Ya, Sahara Daddy kamu memang sangat nakal.
¤¤¤¤
Berjam-jam berada di dalam pesawat akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan dan karena menempuh perjalanan yang sangat panjang Daffa langsung membawa keluarganya untuk pergi ke hotel. Selama perjalanan Fahisa terus berdecak kagum ketika melihat sekelilingnya, sedangkan disampingnya ada Sahara yang tersenyum dengan begitu lebarnya.
Tidak menyangka jika negara ini bisa begitu indah, sebelumnya Fahisa hanya bisa melihat dari film-film yang pernah ditontonnya dan ketika bisa melihatnya secara langsung dia begitu senang.
"Kita istirahat saja dulu ya? Besok baru kita akan jalan-jalan." Kata Daffa yang langsung disetujui oleh kedua wanita kesayangannya
Setelah sampai di hotel mereka langsung menyusun semua barang yang dibawa, tidak banyak begitu barang jadi hanya perlu waktu sedikit untuk menyusun semuanya. Selesai menyusun semuanya mereka berkumpul di kamar dengan posisi Sahara yang berada ditengah, mereka menatap kearah langit-langit kamar dan tanpa ada yang minta salah satu dari mereka mulai bicara.
Dengan wajah polosnya dan perkataannya yang begitu jujur dia berhasil membuat yang lainnya terharu saat mendengarnya.
"Ara senang sekali karena sekarang Ara punya Mommy dan Daddy juga sering ajak Ara jalan-jalan, kalau dulu Daddy cuman belikan Ara mainan atau menyuruh Ara untuk jalan-jalan sama Oma Daddy jarang ajak Ara main." Kata Sahara mengingat masa lalunya sebelum kehadiran Fahisa
Memiringkan tubuhnya Fahisa mengusap lembut rambut hitam Sahara dan membawa anak perempuan itu kedalam pelukannya. Sedangkan Daffa yang mendengar perkataan itu merasa begitu bersalah, dia merasa begitu jahat kepada Sahara padahal menurutnya dia sudah menjadi figur seorang Ayah yang baik, tapi ternyata dia salah.
"Mommy juga sangat senang bisa menjadi Mommy nya Ara." Bisik Fahisa sambil tersenyum manis
Perlahan Daffa ikut memiringkan tubuhnya dan memuluk kedua wanita kesayangannya itu dengan lengan kekarnya. Mencium puncak kepala anaknya Daffa mengatakan maaf kepada Sahara karena jarang memperhatikannya.
"Maaf ya Ara, sekarang Daddy janji akan sering ajak Ara jalan-jalan dan Daddy juga janji akan selalu membuat Ara bahagia." Kata Daffa dengan begitu tulus
Tersenyum senang Sahara memutarkan tubuhnya untuk menghadap Daffa lalu memeluk pria itu dengan sangat erat membuat Daffa tersenyum.
"Ara akan marah kalau Daddy bohong!" Kata Sahara pelan
Daffa hanya menanggapinya dengan senyuman dan setelahnya dia mendongak menatap mata Fahisa yang juga sedang menatap kearahnya, mereka tersenyum.
Tatapan mata Daffa seolah mengucapkan terima kasih yang begitu dalam.
¤¤¤¤
Setiap hari Jira merasa begitu menyesal karena sudah merusak reputasi keluarganya, tapi dia masih beruntung karena Daffa masih memiliki sedikit belas kasih dengan tidak menyebarkan berita dan masih mau menjalin kerja sama perusahaan. Setiap kali mengingat semuanya Jira merasa begitu kecewa dengan dirinya sendiri karena sudah berani berbuat sampai sejauh ini, dia begitu jahat.
Selama di penjara beberapa kali Ratu juga mengunjungi entah untuk tujuan apa, tapi yang jelas dia tidak akan lagi termakan dengan omongan wanita iblis itu untuk yang kedua kalinya.
Dia merasa begitu bersalah baik kepada keluarga Daffa, keluarganya, dan kepada Tanti yang sudah dia dilibatkan dalam kasus ini.
Tapi, hari ini Jira dikejutkan ketika seorang petugas mengatakan jika ada tamu yang berkunjung dan dia lebih dikejutkan ketika tau jika yang datang adalah Rana.
Keduanya duduk berhadapan hanya dengan dibatasi oleh pembatas tipis dan ketika mata mereka bertemu terdapat kerinduan yang begitu besar disana.
Tapi, mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama dan menghabiskan beberapa detik untuk melepas rindu.
Sampai akhirnya.
"Kamu terlihat lebih kurus, kenapa? Apa kamu tidak makan dengan baik?" Tanya Rana pelan
Tersenyum sambil menahan tangisnya Jira mengatakan jika dia baik-baik saja dan dia bahagia karena akhirnya Rana datang berkunjung.
"Aku baik-baik saja Mi dan aku makan dengan baik, kenapa Mami baru datang sekarang? Apa Mami sudah melupakan Jira?" Tanya Jira sambil menahan tangisnya
Menggelengkan kepalanya pelan Rana menghapus air matanya dengan kasar lalu tersenyum sambil menatap Jira yang sekarang ikut menangis.
Dia tidak pernah melukapan Jira, tapi Rana hanya tidak sanggup untuk melihat anaknya berada di balik sana dengan pakaian seorang tahanan.
Dia tidak sanggup.
"Jira"
"Iya Mah?"
"Sebentar lagi kamu akan bebas dan ketika kamu sudah bebas nanti kita kembali saja ke tempat yang dulu, Ayo kita mulai kehidupan yang baru setelah ini." Kata Rana sambil tersenyum kecil
Ikut tersenyum Jira mengangguk dan menyetujui semua permintaan Rana karena mulai sekarang dia hanya akan fokus untuk merawat serta membahagiakan Mamahnya. Tidak perduli lagi dengan semua rasa cintanya Jira akan benar-benar menghilangkannya sekarang.
"Mamah kangen Jira"
'Jira juga kangen Mah.' Batinnya
¤¤¤¤
Tertidur dengan keadaan saling berpelukan Sahara yang dipeluk kedua orang tuanya benar-benar sangat nyenyak bahkan ketika Fahisa yang sudah terbangun mengusap lembut rambut hitamnya dia sama sekali tidak berkutik. Tersenyum singkat Fahisa melepaskan pelukannya lalu meninggalkan Sahara dengan Daffa dan tersenyum senang sebelum pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.
Saat sedang membasuh mukanya Fahisa dibuat terkejut dan hampir berteriak ketika tiba-tiba Daffa sudah berada dibelakanganya lalu memeluknya. Terkadang Fahisa merasa heran, kenapa Daffa selalu bisa muncul secara tiba-tiba begini?
Padahal beberawa menit lalu pria ini masih tertidur disamping Sahara dan terlihat begitu nyenyak.
"Sudah bangun? Tadi aku lihat Mas Daffa masih tidur sama Ara." Kata Fahisa yang sekarang sedang menatap ke arah cermin
Daffa hanya bergumam pelan sambil menenggalamkan wajahnya diceruk leher Fahisa, tapi Fahisa yang memang sudah terbiasa tidak lagi terkejut dengan perlakuannya suaminya.
Bahkan sekarang Fahisa malah fokus pada satu titik diwajahnya, jerawat.
"Ihh kok aku jerawatan ya?" Kesal Fahisa seperti wanita pada umumnya
Mendongakkan wajahnya Daffa mengikuti arah tangan Fahisa dan meraih tangan mungil itu lalu mengecup pipi dimana jerawat itu berada. Padahal tidak terlalu terlihat hanya kecil saja, tapi istrinya itu terlihat begitu heboh sendiri.
"Nanti akan hilang setelah aku cium seperti tadi." Kata Daffa membuat Fahisa mengerucutkan bibirnya kesal
"Mana ada? Mas Daffa ngarang cerita." Kata Fahisa membuat suaminya itu terkekeh mendengarnya
"Dia akan hilang sendiri nanti Fahisa jangan kamu pegang-pegang begitu, jerawat itu normal sayang dia muncul dengan sendirinya." Kata Daffa seolah lebih mengerti dari istrinya
"Tapi jelek jadinya." Keluh Fahisa
Membalikkan tubuh istrinya agar menghadap kearahnya Daffa mencium bibir Fahisa singkat dan mengatakan hal yang membuat pipi istrinya merona.
"Kamu tetap cantik di mata aku Fahisa"