
Kehamilan Fahisa sudah memasuki bulan keenam dan perutnya sekarang sudah mulai membesar membuat Sahara merasa sangat bahagia, setiap hari dia pasti akan mengusap perut Fahisa lalu berbicara seolah adiknya akan mendengar semua ucapannya. Kesehatan di kandungan Fahisa juga sangat baik kemarin dia dan Daffa baru memeriksakannya, masalah jenis kelamin keduanya memilih untuk tidak bertanya supaya menjadi kejutan nantinya.
Baik Daffa ataupun Fahisa keduanya sama-sama antusias menyambut kelahiran bayi yang dikandung Fahisa dan sama seperti anaknya setiap malam Daffa selalu mengusap perut istrinya dan berbicara dengan anaknya di dalam sana. Namun, tanpa ada yang tau bahwa di balik kebahagiaan yang Daffa rasakan dia juga menyimpan ketakutan yang amat besar.
Daffa takut jika kejadian ketika Renata melahirkan Sahara akan terulang.
Hanya saja Daffa berusaha mengenyahkan fikiran tersebut dia percaya bahwa semua akan baik-baik saja, Fahisa pasti akan kuat.
Hari ini Daffa akan membawa keluarganya ke rumah Tania dan untuk tiga hari ke depan mereka akan tinggal disana karena Daffa akan pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Sejak pagi Fahisa terus menekuk bibirnya dia tidak mau di tinggal sampai menginap begitu karena Fahisa terbiasa tidur dengan memeluk suaminya, dia pasti akan kesulitan untuk tidur nantinya.
"Hanya tiga hari Fahisa aku janji kalau pekerjaanku bisa selesai lebih cepat aku akan pulang." Kata Daffa berusaha membuat istrinya itu untuk mengerti
"Mas Daffa jahat." Kata Fahisa dengan kesal
Kenapa sih harus keluar kota?
Menghela nafasnya pelan Daffa harus lebih berusaha lagi untuk meyakinkan istrinya. Jujur saja dia juga tidak mau, tapi masalahnya pekerjaan ini tidak bisa diwakilkan dan mau tidak mau Daffa harus berangkat sendiri.
"Fahisa, hanya tiga hari hmm? Jangan cemberut gitu aku jadi pengen cium." Kata Daffa membuat Fahisa melotot ke arahnya
Tertawa kecil Daffa mencubit kedua pipi Fahisa dengan gemas membuat istrinya itu semakin cemberut, tapi bukannya berhenti Daffa malah jadi semakin gemas melihat tingkahnya. Tubuh Fahisa yang lebih berisi membuatnya jadi semakin lucu apalagi dengan perutnya yang mulai membesar.
Membawa Fahisa kepelukannya Daffa memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang mengusap kepalanya dengan lembut dan berbisik pelan.
"Aku janji akan segera pulang, jadi jangan cemberut begitu hmm?"
Membalas pelukan suaminya Fahisa berbicara dengan suara pelan, dia mengatakan kalimat yang membuat Daffa merasa sangat bahagia.
"Nanti kalau malam aku tidurnya gimana? Gak ada yang bisa Hisa peluk." Kata Fahisa pelan
"Bisa peluk Ara, hanya tiga hari aku juga tidak bisa memeluk siapa-siapa nanti kalau malam." Kata Daffa
Melepaskan pelukannya Fahisa menatap suaminya dengan curiga, tiba-tiba saja fikirannya jadi negatif. Bagaimana kalau disana Daffa menemukan wanita lain?
"Nanti Mas Daffa cari wanita lain disana." Kata Fahisa dengan galak
Terdiam sebentar setelahnya Daffa tertawa mendengar penuturan Fahisa. Astaga, dia bahkan sama sekali tidak pernah berfikir kesana. Saat ini bagi Daffa istri dan anaknya adalah segalanya, dia bersumpah tidak akan menyakiti mereka.
"Tidak akan sayang, mana mungkin aku nakal sama wanita lain." Kata Daffa
"Janji?"
Mengecup kening Fahisa lama Daffa menatapnya dengan sangat lembut, dia sama sekali tidak pernah berfikir untuk mencari wanita lain.
"Janji sayang"
Saat tengah asik menghabiskan waktu berdua ketukan di pintu kamar membuat Fahisa langsung menjauhkan diri dan membuka pintu kamarnya. Saat membuka pintu Fahisa langsung disambut dengan pelukan oleh Sahara, anak itu baru saja selesai mandi dan sekarang dia sudah siap untuk pergi ke rumah Tania.
"Cantiknya anak Mommy." Kata Fahisa
Dia sangat ingin membawa Sahara kedalam gendongannya dan menciumi pipi tembam anak itu, tapi Fahisa tidak berani selain itu Daffa juga melarang karena kehamilan Fahisa sudah cukup besar sekarang.
"Haii dedek bayi sekarang kita mau main ke rumah Oma." Kata Sahara sambil mengusap perut Fahisa dengan lembut
"Mommy apa dedek bayinya masih lama di sini?" Tanya Sahara
"Sebentar lagi sayang." Kata Fahisa sambil mengusap rambut hitam Sahara dengan lembut
Di tempatnya berdiri Daffa tersenyum senang, jujur saja dia juga malas untuk pergi berjauhan dengan Fahisa, tapi dia benar-benar ingin menyelesaikan semua pekerjaannya dalam waktu dekat. Alasannya supaya nanti saat kehamilan Fahisa sudah memasuki bulan ketujuh atau kedelapan Daffa tidak lagi ingin pergi ke kantor dan akan mengerjakan pekerjaannya di rumah.
Menghampiri kedua wanita kesayangannya Daffa langsung mengajak mereka untuk pergi ke rumah Tania.
Sebelum membawa Sahara ke dalam gendongannya Daffa menyempatkan diri untuk mencium pipi istrinya sekilas membuat wanita yang sedang hamil itu tersenyum senang. Di dalam gendongannya Sahara mencubiti pipi Daffa dengan kesal karena akan di tinggal untuk tiga hari kedepan, anak itu merasa kesal.
"Daddy nakal mau ninggalin Ara sama Mommy dan dedek bayi"
¤¤¤¤
Saat sampai di rumah Tania wajah Fahisa semakin sendu karena sebentar lagi Daffa akan berangkat ke bandara, dia tidak mau ditinggal. Sekarang Tania membiarkan Daffa dan juga Fahisa untuk mengobrol sebentar di ruang tamu, dia membawa Sahara ke atas dan meninggalkan keduanya disana.
Memeluk Daffa dari samping Fahisa benar-benar merasa sedih dan tidak rela, entah ini karena kehamilannya atau bukan hanya saja perasaan Fahisa sangat tidak enak. Fahisa merasa seolah akan ada sesuatu yang buruk terjadi dan hal itu membuatnya jadi tidak tenang.
"Kenapa Hisa? Kamu memikirkan sesuatu? Katakan saja." Kata Daffa saat melihat wajah istrinya yang nampak gelisah
Fahisa menggelengkan kepalanya pelan dan menangkup pipi suamianya lalu menciumi setiap bagian dari wajah tampan Daffa, dia melakukannya di ruang tamu tanpa memperdulikan jika mungkin akan ada orang yang melihat.
Sedikit tersentak Daffa tersenyum senang lalu dengan senang hati dia langsung menahan wajah Fahisa untuk menjauh ketika istrinya itu mencium bibirnya sekilas.
Daffa menahan tengkuknya dan malah memperdalam ciuman mereka, tapi Fahisa yang memang merasa sedikit gelisah langsung membalas ciuman itu membuka mulutnya dan membiarkan Daffa menciumnya lebih dalam lagi.
Merasa pasokan udara sudah mulai menipis Daffa langsung melepaskan ciumannya dan mengusap bibir merah Fahisa dengan ibu jarinya.
"Kamu memikirkan sesuatu kan?" Tanya Daffa sambil mengangkat dagu Fahisa dan membuat wanita itu menatap ke arahnya
Fahisa menganggukkan kepalanya.
"Perasaanku tidak enak Mas dan hal itu buat
aku jadi tidak tenang," Kata Fahisa sambil menatap suaminya dengan sedih
"Aku takut"
Suara lirih Fahisa membuat Daffa tersentak, tapi dia langsung berfikir jika itu semua karena kehamilan Fahisa.
Jadi Daffa hanya tersenyum dan mengusap kedua pipi Fahisa penuh kasih sayang.
"Semua akan baik-baik saja Fahisa, percaya sama suami kamu." Kata Daffa
Ketika kedua mata mereka bertemu Daffa menganggukkan kepalanya, meyakinkan kepada Fahisa jika semua akan baik-baik saja.
"Cepat pulang"
¤¤¤¤
Sudah saatnya Daffa berangkat ke bandara dan selama itu pula wajah sedih Fahisa semakin terlihat dia terus mengganggam erat tangan suaminya, entahlah rasa takut itu masih ada. Melihat menantunya yang sangat sedih membuat Tania tersenyum penuh arti dia menepuk pelan pundak Fahisa dan tersenyum menenangkan.
Sebelum pergi Daffa mencium pipi Tania lalu beralih untuk mencium pipi Sahara, tidak menangis seperti biasanya Sahara tersenyum dan memeluk singkat Daffa.
Saat berhadapan dengan Fahisa dia tersenyum dan langsung membawa wanita itu kedalam pelukannya mengusap rambutnya dengan begitu lembut.
Mendongakkan kepalanya Fahisa berusaha tersenyum saat mata keduanya bertemu, tapi Daffa sangat tau jika senyum Fahisa palsu.
"Mas Daffa jangan lupa makan terus tidurnya juga jangan telat dan jangan nakal sama wanita lain." Kata Fahisa mengingatkan
"Iya sayang, jangan sedih, cuman sebentar dan aku janji akan pulang secepatnya." Kata Daffa dengan senyuman manisnya
Saat Daffa akan pergi Tania sempat menanyakan hal yang membuat Fahisa langsung tersentak.
"Jira jadi ikut?"
Dan Fahisa benar-benar tidak tenang sekarang.