
Pesta pertunangan Wira yang di gelar di restoran mewah miliknya sudah di mulai sejak lima belas menit yang lalu dan tamu yang berdatangan juga sudah cukup banyak termasuk Daffa dan istrinya, Sahara tidak ikut serta katanya dia malas karena acaranya pasti baru selesai saat malam sudah larut. Malam ini Daffa yang mengenakan jas tampak begitu tampan apalagi ketika tangannya melingkar sempurna di pinggang ramping Fahisa menunjukkan kepada orang-orang jika dia adalah miliknya.
Memasuki area di gelarnya pesta ada begitu banyak pasang mata yang menatap kagum ke arah Daffa dan dalam hati berharap agar mendapat pasangan seperti dia. Di sebelahnya Fahisa merasa gugup karena ada banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka, lebih ke Daffa sebenarnya.
"Tangan kamu dingin sekali Fahisa." Kata Daffa saat merasakan tangan yang berada di genggamannya itu berkeringat dan terasa dingin
"Malu diliatin orang-orang." Kata Fahisa jujur
Daffa tertawa kecil mendengarnya, "Kenap malu hmm? Tenang saja ada aku disini"
Mengusap lembut telapak tangan istrinya Daffa berhasil membuat Fahisa merasa sedikit tenang dan secara perlahan senyumnya mulai terbentuk. Menghampiri Wira dan tunangannya mereka mengucapkan selamat lalu sedikit mengobrol sambil sesekali bercanda.
"Jangan lama-lama nikahnya Wir." Kata Daffa
"Gue juga maunya gitu Daf, tapi nih bebeb gue gak mau cepet-cepet." Kata Wira sambil melirik Dahlia, tunangannya
"Fahendra belum dateng?" Tanya Daffa
"Belum masih nyari pasangan dia." Canda Wira
Tertawa kecil mereka kembali mengobrol bahkan sampai mengabaikan kedua wanita cantik yang sekarang hanya diam, tapi karena merasa sedikit bosan Dahlia mulai mengajak Fahisa berbicara. Sedikit membedakan Dahlia yang sebelumnya adalah teman Renata merasakan perbedaan yang sangat kentara.
Mereka sangat berbeda Renata yang ceria dan Fahisa yang pemalu.
"Hai kita udah pernah ketemu kan sebelumnya." Kata Dahlia sambil tersenyum
Fahisa mengangguk dengan senyuman tipisnya yang membuat wajahnya terlihat sangat cantik dengan lesung pipitnya.
"Daff istri lo gue ajak ketemu temen-temen ya?" Kata Dahlia yang langsung diangguki oleh Daffa
Melirik Fahisa yang tampak gugup membuat Daffa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya singkat seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tersenyum kecil Fahisa akhirnya membiarkan Dahlia membawanya untuk menghampiri teman-temannya yang rata-rata juga teman suaminya mengingat mereka kuliah di kampus sama yang dulu.
Rasa malu menghampiri Fahisa ketika dia melihat orang-orang yang tampak begitu modis dan juga sangat cantik.
"Hai guys tau kan ini siapa?" Tanya Dahlia sambil merangkul Fahisa yang tampak gugup
Mereka mengangguk dan menatap Fahisa dengan senyuman ramahnya, tapi ada dua orang wanita yang menatap Fahisa dengan aneh membuat dia jadi merasa sedikit takut. Tatapannya tajam meskipun bibirnya membentuk sebuah senyuman dan hal itu membuat Fahisa merasa tidak nyaman.
"Sahara gak ikut?" Tanya Clara
"Gak, katanya dia malas dan juga takut kalau acaranya sampai larut malam jadi dia di rumah Mami." Kata Fahisa sambil tersenyum tipis
Mengangguk mengerti sesekali mereka bertanya kepada Fahisa dan setelahnya mereka mengobrol tentang banyak hal, obrolan yang sama sekali tidak Fahisa mengerti. Rasanya Fahisa ingin pergi dia merasa asing disini memang sih mereka ramah, tapi tetap saja Fahisa merasa canggung dia ingin ikut bergabung hanya saja dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Lo masih kerja?" Tanya Jane penasaran
Fahisa menggelengkan kepalanya pelan, "Udah enggak"
"Memang tadinya kerja apa?" Tanya Jane lagi
"Aku kerja di sekolah Sahara." Kata Fahisa membuat beberapa orang disana cukup terkejut
"Pantesan deket banget sama Sahara." Kata Clara membuat Fahisa hanya menanggapinya dengan gumaman
"Canggung banget si Sa santai aja kita gak gigit kok." Canda Jane saat melihat istri temannya itu tampak begitu canggung
"Hmm iya." Gumam Fahisa sambil tersenyum tipis
Mereka kembali melanjutkan perbincangan yang kali ini membahas pekerjaan mereka sebagai seorang model, sampai akhirnya saat salah satu pelayan membawa minuman menggunakan nampan mereka menghentikan pembicaraan. Mereka semua mengambil minuman yang di bawa oleh pelayan itu kecuali Fahisa dan kebetulan saat itu tersisa satu minuman di nampan yang di bawa.
"Kenapa tidak di minum?" Tanya Ratu
Nada bicaranya terdengar menyebalkan.
Menggigit bibir bawahnya pelan Fahisa ragu untuk mengatakan jika dia tidak pernah meminum minuman beralkohol dan dia takut untuk mencobanya. Belum sempat Fahisa menjawab sebuah suara terdengar bersamaan dengan rangkulan di pundaknya membuat Fahisa menghentikan ucapannya.
"Dia gak minum." Kata Daffa sambil mengambil alih gelas di tangan Fahisa
"Serius? Dia hidup di zaman apa sih?" Tanya Ratu dengan raut wajah terkejutnya
"Ratu gak semua orang minum minuman beralkohol kali." Kata Dahlia berusaha mencairkan suasana yang tampak tegang ketika tatapan mata Daffa sudah menajam
"Hell! Dia lebih muda dari kita dan setau gue anak zaman sekarang lebih parah deh, jadi gue agak kaget aja." Kata Ratu santai
Mendongak Fahisa menatap mata suaminya dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa dia ingin segera pergi dari sini. Dia tidak suka mereka tidak cocok Fahisa merasa tidak nyaman berada di sana.
"Dia gak minum dan gak bisa minum alkohol!"
¤¤¤¤
Setelah berpamitan dengan Wira mereka pulang lebih dulu bahkan sebelum acara puncak di mulai, sebenarnya Fahisa merasa tidak enak karena mereka harus pulang lebih dulu. Namun, Fahisa tidak bisa lebih lama di sana dia merasa sangat tidak nyaman itu bukan lingkungannya.
"Maaf ya karena aku kita jadi pulang duluan." Kata Fahisa pelan
Tertawa kecil Daffa mengusap rambut hitam Fahisa dengan lembut menggunakan satu tangannya. Sebenarnya dia tidak masalah malah dia memang ingin cepat-cepat pulang selain itu dia juga tau bahwa Fahisa merasa tidak nyaman disana.
"Kenapa minta maaf? Aku malah ingin cepat pulang." Kata Daffa
Melanjutkan perjalanan mereka menyusul Sahara di rumah Tania saat sampai disana ternyata anak itu masih belum tidur dan masih menonton kartun. Hanya mampir sebentar mereka langsung berpamitan untuk pulang karena malam sudah semakin larut.
"Mi langsung pulang ya? Besok kita kesini lagi." Kata Daffa
"Iya, hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebut." Kata Tania mengingatkan
Sebelum pergi mereka mencium punggung tangan Tania dan setelahnya langsung memasuki mobil. Di perjalanan Sahara mulai berceloteh ria dia duduk di pangkuan Fahisa.
"Daddy kenapa cepat? Biasanya kalau pesta kan Daddy pulangnya lama kadang sampai pagi." Kata Sahara mengingat kebiasaan Daddy nya ketika pergi ke pesta
"Di rumah lebih menyenangkan sayang." Kata Daffa
"Kenapa?" Tanya Sahara penasaran
"Daddy sekarang lebih suka pesta berdua sama Mommy." Kata Daffa dengan santainya membuat Fahisa langsung menoleh dan menatapnya dengan tajam
Tentu saja dia tau kemana arah pembicaraan ini nantinya.
"Kenapa hanya berdua? Kok Ara tidak di ajak?" Tanya anak itu kesal
Daffa yang nakal dia terus saja berceloteh tentang hal-hal seperti itu di depan anaknya yang masih kecil dan akan bingung ketika anak itu bertanya nantinya.
"Ara sudah jangan di dengarkan." Kata Fahisa sambil mengusap lembut rambut anaknya
Tapi, perkataan Sahara selanjutnya malah membuat Daffa tertawa dan Fahisa menghela nafasnya pelan.
"Tapi Ara sudah dengar Mommy"
Ya tentu saja Sahara memang selalu benar.