Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Empatpuluh sembilan



Menikmati liburan selama seminggu di negara lain Daffa benar-benar memanjakan keluarga kecilnya dia mengajak mereka ke berbagai tempat wisata dan juga membelikan banyak barang untuk dibawa pulang. Sampai akhirnya tibalah mereka di hari terakhir liburan dan kali ini Daffa hanya mengajak mereka untuk pergi ke taman yang untungnya disetujui oleh mereka bahkan kedua wanita itu terlihat begitu semangat dan antusias.


Setelah selesai bersiap mereka bergegas untuk pergi karena Sahara yang sudah begitu tidak sabar, selama berlibur memang anak itu yang sangat antusias. Saat sampai disana Daffa hanya diam sambil mengawasi Sahara yang bermain disana dengan senyuman lebarnya dan disampingnya ada Fahisa yang juga melakukan hal yang sama.


"Mas Daffa pernah bayangin gak? Kalau nanti Sahara sudah semakin dewasa dia pasti gak bakal bersikap kayak gini lagi, gak manja lagi, gak minta gendong lagi, dan mungkin gak cengeng lagi," Kata Fahisa sambil terus menatap ke arah Sahara


Tidak tau kenapa tiba-tiba Fahisa jadi terbayang kesana yang sialnya ketika membayangkan jika Sahara sudah tak lagi anak-anak dia menjadi sedih dan haru.


"Ara itu lucu banget dan aku belum rela kalau dia beranjak besar secepat ini." Kata Fahisa membuat Daffa merangkul pundaknya dan mencium puncak kepala itu dengan lembut


"Ara akan tetap jadi anak yang manja meskipun dia sudah dewasa nanti, percaya sama aku." Kata Daffa membuat Fahisa tersenyum kecil


Menghela nafasnya pelan Fahisa melepaskan tangan suaminya yang bertengger dipundaknya lalu berlari kecil menghampiri Sahara dan ikut bergabung dengan anak itu, tersenyum juga tertawa bersama. Cukup lama mereka menghabiskan waktu disana dan ketika hari sudah semakin siang Daffa mengajak mereka untuk pergi mencari makan siang.


"Daddy Ara maunya makan ice cream yang di tempat kemarin." Kata Sahara dengan wajah penuh binar


"Siap tuan putri." Kata Daffa membuat anaknya itu bersorak senang


Kedai ice cream yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari area hotel membuat mereka sampai dengan lebih cepat dan sambil menunggu Daffa yang sedang memesan Sahara yang duduk di samping Fahisa memeluk wanita itu dari samping. Tersenyum kecil Fahisa sedikit menunduk untuk melihat Sahara lalu tangannya terulur untuk mengusap lembut rambut hitamnya.


"Mommy besok kita pulang ya?" Tanya Sahara yang langsung diangguki oleh Fahisa


"Iya sayang soalnya Daddy sudah harus kembali bekerja." Kata Fahisa


Menyunggingkan senyumnya Sahara masih enggan melepaskan pelukannya bahkan ketika Daffa kembali dan melihat kelakuannya dengan senyuman lebar.


"Apa Ara lelah? Kita akan kembali ke hotel saja ya?" Kata Daffa yang langsung ditolak oleh anaknya


"Tidak mau! Ara mau jalan-jalan lagi! Besok kita sudah pulang nanti tidak bisa jalan-jalan lagi." Kata Sahara dengan bibir mengerucut dan melepaskan pelukannya


"Memang Ara mau kemana lagi?" Tanya Daffa


"Mau jalan-jalan pokoknya!" Kata Sahara


Tidak lama setelahnya pesanan mereka datang membuat Sahara bersorak senang dan langsung memakan ice cream Vanilla miliknya dengan penuh semangat. Melihat hal itu Fahisa dan Daffa hanya bisa tersenyum dengan sikap anak mereka yang terlihat begitu menggemaskan.


Tentu saja setelah memakan ice cream Daffa kembali mengikuti keinginan anaknya yang masih belum ingin pulang. Hingga akhirnya mereka menghabiskan waktu untuk pergi ke pusat perbelanjaan dan kembali membeli beberapa barang lalu pulang ke hotel saat sore tiba.


Seperti biasanya Sahara yang selalu kelelahan akan tidur dipangkuan Fahisa dan ketika sampai anak itu akan langsung digendong oleh Daffa.


Sama halnya dengan yang istrinya bayangkan Daffa juga sering membayangkan jika anaknya sudah mulai beranjak dewasa dan tidak lagi sering merengek atau bermanja-manja dengannya, Daffa sangat yakin jika dia pasti akan merindukan itu semua. Lima tahun dia hidup bersama Sahara dan selama itu dia selalu setia mendengar setiap rengekan hingga tangisan anaknya serta dengan senang hati meladeni sikap manjanya.


Seandainya Sahara sudah beranjak dewasa dan tidak lagi seperti itu Daffa pasti akan merasa kehilangan.


Rasanya masih belum rela jika Sahara harus tumbuh secepat ini.


Ternyata memang benar kata orang tua bahwa meskipun anak mereka sudah tumbuh dewasa, tapi dimata orang tuanya mereka tetaplah seorang anak kecil.


Dan dimatanya Sahara akan selalu menjadi anak kecil, putri kesayangannya.


"Dia sangat lucu kalau sudah tidur begini." Kata Fahisa menyadarkan Daffa yang sedang melamun setelah menyelimuti Sahara


"Kenapa Sahara harus tumbuh secepat ini? Aku suka dia yang manja dan cengeng." Kata Daffa membuat Fahisa tertawa kecil ketika mendengarnya


"Karena Mas Daffa suka menjahili Ara sampai nangis makanya kalau Ara sudah besar nanti Mas Daffa bakal kesepian." Kata Fahisa


Dalam hati Daffa membenarkan perkataan istrinya. Dia memang benar, Daffa suka menjahili anaknya dan jika Sahara sudah besar nanti dia akan kehilangan itu semua.


Tapi, masih ada jalan lain.


"Sebenarnya masih ada satu orang lagi yang bisa aku jahili." Kata Daffa membuat Fahisa langsung menatapnya dengan penasaran dan kesal


"Siapa?!" Tanya Fahisa galak


"Fahisa"


"Hah?"


"Fahisa, aku bisa menjahili Fahisa dia memang tidak menangis seperti Ara, tapi wajahnya akan memerah seperti tomat setiap aku jahili." Kata Daffa membuat Fahisa menatapnya dengan kesal


Terkekeh pelan Daffa memeluk Fahisa dengan erat dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher istrinya.


"Aku cinta kamu Fahisa"


Setelah mengatakan kalimat itu Daffa mengurai pelukannya dan memindahkan tangannya ke tengkuk Fahisa lalu menciumnya dengan begitu lembut.


Merasa bahagia dengan satu kalimat yang suaminya ucapkan Fahisa kini ikut melingkarkan tangannya di leher Daffa dan membalas ciuman memabukkan itu dengan sama lembutnya.


Dia juga sangat mencintai Daffa.


¤¤¤¤


Sehari setelah kepulangan mereka dari liburan Daffa sudah harus kembali bekerja dan karena dia meninggalkan kantor cukup lama alhasil dia harus bekerja sampai menjelang malam. Sebenarnya selain menyelesaikan pekerjaan Daffa juga sedang menyiapkan kejutan untuk istrinya mengingat jika sebentar lagi adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama dan Daffa ingin memberikannya kejutan.


Selama menunggu hari itu tiba Daffa juga sengaja membuat istrinya itu kesal dengan tidak memberikan kabar setelah dia berangkat kerja dan juga mengabaikan pesan Fahisa yang menanyakan keadaannya. Tentu saja hal itu membuat Fahisa kesal dan sesekali berusaha menelponnya, tapi sekali lagi Daffa dengan sengaja mengabaikannya.


"Daddyyy"


Seruan itu membuat Daffa yang sedang fokus dengan berkas ditangannya secara refleks mendongak dan mendapati anaknya bersama dengan Fahisa yang datang ke ruang kerjanya. Sambil memasang wajah cool nya Daffa menutup berkas yang ada di tangannya lalu menghampir kedua wanita itu sambil tersenyum manis.


Saat melihat tatapan kesal Fahisa dia sangat ingin tertawa, tapi ditahannya dan Daffa memilih untuk mengabaikan istrinya dengan membawa Sahara kedalam gendongannya.


"Hai sayangnya Daddy." Kata Daffa sambil menciumi pipi anaknya


"Hai juga Daddy." Kata Sahara sambil mencium pipi Daffa


"Kenapa Ara kesini hmm?" Tanya Daffa yang masih sengaja mengabaikan Fahisa padahal istrinya itu sudah terlihat sangat kesal


"Di ajak sama Mommy tadi kita abis makan ice cream sama Tante Hana terus langsung kesini." Kata Sahara


"Kenapa Mas Daffa tidak membalas pesan aku? Terus kenapa telpon aku gak diangkat?" Tanya Fahisa setelah dia sudah merasa begitu kesal


"Aku kan sedang bekerja Fahisa." Kata Daffa dengan santainya


"Tapi kan biasanya Mas Daffa selalu bisa balas pesan dari aku lagian kan enggak lama balasnya." Kata Fahisa dengan bibir mengerucut


Melihat hal itu Daffa jadi merasa gemas, tapi dia memilih untuk tetap diam dan kembali mengajak anaknya mengobrol supaya dia bisa mengabaikan Fahisa. Merasa diabaikan Fahisa merasa sangat kesal dan dengan bibir yang mengerucut dia mendudukkan dirinya di sofa tepat disebelah Daffa yang sedang memangku Sahara.


"Daddy apa hari ini Daddy akan pulang malam lagi?" Tanya Sahara dengan wajah sedihnya


"Iya sayang pekerjaan Daddy sangat banyak." Kata Daffa sambil ikut memasang wajah sedihnya


"Jadi Daddy tidak ikut makan malam lagi?" Kata Sahara dengan bibirnya yang mengerucut


"Akan Daddy usahakan untuk pulang sebelum kita makan malam ya?" Kata Daffa berusaha menghibur anaknya


Tersenyum singkat Sahara menganggukan kepalanya pertanda setuju dan setelahnya Fahisa yang ingin berbicara harus kembali menelan kekesalan karena Daffa yang tiba-tiba beranjak dari sofa.


"Kalian tunggu disini ya? Daddy ada urusan sebentar." Kata Daffa sambil mengambil ponselnya yang berdering di meja kerjanya


Menatap punggung suaminya yang menghilang dibalik pintu Fahisa benar-benar merasa kesal sekarang, berbanding terbalik dengan Sahara yang merasa begitu bahagia.


Melangkahkan kakinya ke meja kerja Daffa dia mendudukkan dirinya disana sambil melihat-lihat dan meninggalkan Sahara yang sedang memakan cemilan.


Saat sedang melihat-lihat tiba-tiba pintu ruangan kerja Daffa dibuka begitu saja dan Wira yang sambil memasuki ruangan berbicara tanpa menyadari jika yang sedang berada di dalam sana adalah Fahisa.


"Daf kata Raya nanti sore abis pulang kerja dia bisa gue udah chat katanya..... ehhh kok bukan Daffa?" Kata Wira yang sekarang menghantikan langkahnya


"Ehh uncle Wiraaa." Seru Sahara sambil berlari menghampiri teman baik Daffa


Sedangkan Fahisa yang mendengar semuanya hanya diam dan sama sekali tidak mau menanggapi meskipun dalam hati dia terus bertanya-tanya tentang banyak hal.


Suaminya itu pasti sedang menyembunyikan sesuatu.


'Awas saja dia nanti malam! Aku akan tidur saja bersama Sahara' Batin Fahisa kesal


Bye bye Daffa