Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Tigapuluh



Masa kehamilan Fahisa sudah menginjak usia tiga bulan dan ternyata semua kecurigaan Fahisa terhadap keluarga Renata salah besar, entahlah mungkin itu semua karena bayi di kandungannya yang membuat Fahisa jadi semakin posesif dan manja. Setelah makan malam hari itu kecurigaan Fahisa memang masih ada karena sesekali Jira datang ke kantor Daffa dan bahkan berkunjung ke rumah mereka.


Bagaimana Fahisa tau jika Jira mengunjungi Daffa di kantornya?


Tentu saja berkat kehamilannya yang menjadikan dia jadi semakin posesif juga lebih berani membuat Fahisa meminta kepada sekretaris Daffa agar memberitau semua yang suaminya itu lakukan termasuk siapa yang datang berkunjung. Jangan salahkan dia, semua ini karena Fahisa benar-benar merasa tidak tenang dan dari pada dia selalu kefikiran lebih baik dia melakukannya.


Beberapa kali Fahisa sempat mendiamkan Daffa karena pria itu pulang terlambat atau pergi menemui Jira, tapi suaminya itu selalu berhasil meluluhkan hatinya.


Masalah ngidam Fahisa tidak terlalu membuat Daffa susah dengan permintaannya, malah sering kali permintaan Fahisa justru membuatnya bahagia.


Hanya saja yang membuat Daffa susah adalah ketika istrinya sudah mulai merajuk karena akan sulit untuk membujukanya, tapi beruntungnya dia punya Sahara yang bisa memudahkan jalannya untuk berbaikan dengan Fahisa. Mereka juga secara rutin memeriksakan kandungan ke dokter dan tentu saja Fahisa pergi bersama Daffa sesekali mereka juga mengajak Sahara.


Seperti sekarang mereka yang baru saja kembali dari dokter sedang dalam perjalanan ke rumah, tapi tiba-tiba Fahisa jadi menginginkan sesuatu.


"Mas"


"Hmm"


"Mau makan ice cream deh mampir dulu ya beli ice cream." Kata Fahisa


Menghela nafasnya pelan Daffa menoleh ke arah Fahisa yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh permohonan membuat Daffa jadi tidak bisa menolaknya. Tapi, istrinya itu terlalu sering makan ice cream bahkan hampir setiap hari jika dia tidak melarangnya.


"Ice cream terus gak mau yang lain?" Tawar Daffa


Fahisa menggelengkan kepalanya cepat saat ini yang ada di fikirannya hanya ice cream coklat yang pastinya akan sangat segar di tenggorokannya.


"Gak, boleh ya? Sekali aja besok gak lagi." Kata Fahisa berusaha membujuk suaminya


"Setiap kali kamu minta beliin ice cream pasti ngomongnya gitu." Canda Daffa


Tetap saja Daffa tidak bisa menolak dan dia langsung menuju salah satu kedai ice cream dia tidak mau mengajak Fahisa ke supermarket karena nanti istrinya itu akan mengambil ice cream sebanyak-banyaknya. Bahkan mulai saat ini masalah belanja bahan makanan Daffa serahkan kepada pekerja rumah tangga dia sama sekali tidak membiarkan Fahisa untuk turun tangan.


Sampai di kedai ice cream yang cukup ramai senyum Fahisa langsung mengambang dan dengan segera Fahisa langsung menggenggam tangan suaminya mengajak pria itu untuk segera masuk. Setelah mendapat tempat kosong Daffa menyuruh Fahisa untuk menunggu karena dia akan memesan dan Fahisa hanya menurut.


Sambil menunggu suaminya Fahisa mengedarkan pandangannya memperhatikan seisi kedai sampai akhirnya mata Fahisa menangkap sosok Sandra yang baru saja masuk.


"Sandra"


Merasa terpanggil wanita itu menoleh dan dia ikut tersenyum saat melihat Fahisa bersama tunangannya Sandra menghampiri Fahisa.


"Kak Hisa, apa kabar?" Tanya Sandra dengan penuh semangat


"Baik, kalian duduk sini aja gabung sama aku." Kata Fahisa yang langsung disetujui oleh Sandra


Setelahnya tunangan Sandra pergi untuk memesan dan bersamaan dengan itu Daffa kembali ke tempat duduknya dia menatap Fahisa dengan bingung ketika melihat ada orang lain yang duduk bersama mereka. Menyadari kebingungan suaminya Fahisa memperkenalkan Daffa kepada Sandra karena suaminya itu memang tidak mengenal teman baiknya mengingat ketika pertunangan Sandra dia pergi seorang diri.


"Mas ini Sandra teman aku yang waktu itu tunangan." Kata Fahisa


Mengangguk mengerti Daffa mendudukkan dirinya di hadapan Fahisa dan tidak lama setelahnya seorang pelayan datang membawa ice cream yang telah Daffa pesan membuat senyum Fahisa langsung mengembang. Selang beberapa menit kemudian tunangan Sandra datang dan langsung bergabung membuat Daffa menoleh ke arahnya.


Keduanya saling melempar senyuman canggung kemudian kembali pada kegiatannya masing-masing. Kedua lelaki itu hanya diam dan membiarkan Fahisa juga Sandra berbincang tentang banyak hal.


"Bagaimana sama kandungan Kakak?" Tanya Sandra


"Selamat ya Kak semoga sehat terus." Kata Sandra yang langsung diamini oleh Fahisa


Mereka kembali berbincang tentang banyak hal dan Daffa sesekali hanya menyahut ketika kedua orang itu bertanya atau membahas tentang dia. Tapi, sejak tadi Daffa diam-diam melirik pria di sampingnya yang sepertinya sedang memperhatikan Fahisa.


Dia tidak tau apa ini hanya perasaannya saja atau tidak, tapi sepertinya tunangan Sandra memang terus memperhatikan Fahisa.


Dia menatap istrinya dengan tatapan yang Daffa tidak suka.


"Fahisa aku rasa kita harus pulang Ara pasti akan mencari kita nanti." Kata Daffa


Fahisa yang memang sudah menghabiskan ice creamnya langsung mengangguk setuju. Mengambil tasnya Fahisa mengikuti langkah suaminya yang akan membayar.


Tapi, sebelum pergi Fahisa berpamitan terlebih dahulu.


"Aku duluan ya sampai ketemu lagi"


Daffa memang benar pria itu masih memperhatikan Fahisa bahkan ketika Daffa melingkarkan tangannya di pinggang Fahisa, dia masih terus menatap istrinya.


¤¤¤¤


Saat sudah sampai di rumah Daffa yang hendak membuka pintu mobil berhenti ketika Fahisa menahan tangannya. Merasa bingung Daffa menatap istrinya dengan penuh tanda tanya, tapi Fahisa hanya diam dengan wajah menunduk.


Daffa tau jika sudah begini Fahisa pasti ingin meminta sesuatu.


"Kamu mau sesuatu Hisa? Katakan saja." Kata Daffa sambil meraih wajah Fahisa dan membuat wanita itu menatapnya


Wajah Fahisa memerah entah karena apa dan hal itu membuat Daffa jadi panik dia ingin bertanya, tapi belum sempat bertanya Daffa malah di buat kaget ketika Fahisa meraih tengkuknya dan mencium bibirnya dengan lembut. Merasa terkejut sekarang Daffa mengerti kenapa wajah istrinya itu memerah, sepertinya dia malu untuk mengatakan keinginannya.


Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tangan Daffa kini ikut meraih tengkuk Fahisa dan semakin memperdalam ciuman mereka, dia suka sekali jika Fahisa sudah seperti ini.


Cukup lama mereka berciuman sampai akhirnya Daffa melepaskan ciuman mereka ketika menyadari jika Fahisa sudah mulai kehabisan nafasnya. Menangkup kedua pipi istrinya Daffa mengusapnya dengan lembut dan dia mencium kening Fahisa cukup lama.


Lalu berbisik.


"Aku suka sekali jika kamu sudah begini Fahisa." Kata Daffa membuat Fahisa memukul pundaknya kesal


Tertawa kecil Daffa membuka pintu mobilnya dan menggandeng tangan Fahisa membawanya masuk ke dalam rumah. Saat baru membuka pintu Fahisa langsung memanggil Sahara dan beberapa detik setelahnya anak itu keluar dari ruang keluarga dan langsung berlari menghampiri Fahisa.


"Mommyy"


"Anak Mommy lagi ngapain hmm?" Tanya Fahisa sambil membawa Fahisa kepelukannya


"Nonton kartun ayok kita nonton Mommy." Kata Sahara sambil menarik tangan Fahisa agar mengikutinya


Menggelengkan kepalanya Daffa tersenyum penuh arti saat melihat dua orang yang sangat dia sayangi itu dan tentu saja Daffa mengikuti langkah kaki mereka ke ruang keluarga.


Di sana Daffa terus memperhatikan bagaimana Sahara terus bertanya dan berbicara kepada Fahisa, dia tersenyum dengan penuh kebahagiaan.


Rasanya tidak sabar untuk menambah satu lagi anggota keluarganya.


Darah dagingnya dengan Fahisa.