Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Enampuluh delapan



Hari ini kencan romantis yang telah Keenan rencanakan gagal total karena Fahisa yang terus bertanya-tanya tentang hubungan keduanya saat di kedai dan akhirnya Hana menolak ketika Keenan mengajaknya untuk ke tempat lain. Padahal perlu waktu lama untuk membuat Hana akhirnya luluh dan mau ketika dia ajak keluar, tapi sekarang rencananya sudah berantakan.


Tidak, Keenan sama sekali tidak marah dia hanya sedikit kecewa saja.


Sekarang keduanya sedang dalam perjalanan untuk mengantar Hana pulang ke rumahnya dan sejak tadi keheningan menyelimuti mereka. Sekitar dua puluh menit akhirnya sampailah Keenan di rumah sederhana milik keluarga Hana dan sebelum wanita itu sempat pergi dia menahannya.


Menggenggam erat tangan wanita itu Keenan membuatnya sedikit tersentak, tapi Keenan sama sekali tidak perduli.


"Lain kali kita bisa pergi lagi kan?" Kata Keenan sambil menatap Hana dengan dalam


"Iya Kak"


Tersenyum senang Keenan mengusap lembut rambut hitam wanita itu membuat dia membatu dengan bibir bersemu.


"Padahal aku sudah merencanakan banyak hal, tapi kamu malah ingin pulang." Kata Keenan membuat Hana jadi merasa tidak enak


"Maaf ya Kak lain kali saja aku janji." Kata Hana


"Hmm asal kamu janji ya jangan mengabaikan pesan dan panggilanku lagi ya?" Kata Keenan dengan memasang wajah penuh peringatan


Menatap pria itu untuk sesaat Hana menganggukkan kepalanya singkat sambil menyunggingkan senyum manisnya.


"Baiklah sekarang kamu boleh turun." Kata Keenan sambil melepaskan genggaman tangannya


Sebelum membuka pintu mobil Hana sempat mengatakan sebuah kalimat yang membuat senyum Keenan mengembang dengan begitu lebar.


"Hati-hati ya Kak jangan lupa kabarin kalau sudah sampai." Kata Hana yang entah kenapa berani mengatakan hal itu


Tersenyum lebar Keenan menganggukkan kepalanya dan tidak lama setelahnya Hana segera turun dari mobil meninggalkan pria yang masih terus menatapnya bahkan hingga dia menghilang ketika sudah memasuki rumah.


Perkenalan mereka awalnya sangat canggung apalagi ada Fahisa yang kala itu nampak tidak sabaran padahal dari Keenan atau Hana sendiri masih belum ada ketertarikan sama sekali.


Hal yang sama masih berlaku hingga dua minggu kemudian mereka masih bersikap biasa dan tidak merasakan apapun dari kedekatan yang sedang keduanya jalani.


Sampai akhirnya ketika melihat Hana bersama pria lain tiba-tiba saja Keenan merasa tidak suka dan marah lalu mulai dari situlah Keenan melancarkan aksi pendekatannya. Namun, Hana tidak menyambut niatnya dan malah bersikap acuh tak acuh baru hari ini lah dia mengatakan 'iya' setelah berkali-kali Keenan mengajukan ajakan yang sama.


Tapi, sayangnya rencananya tidak berjalan dengan lancar.


Hanya saja ketika melihat wajah malu-malu dengan pipi bersemu milik Hana tadi bolehkan Keenan menganggap jika wanita itu juga memiliki rasa kepadanya?


¤¤¤¤


Di sisi lain sepanjang perjalanan pulang Daffa sedikit memperingati sikap istrinya tadi yang sayangnya sama sekali tidak diperdulikan. Menurut Fahisa dia tidak salah sama sekali dan juga dia ingin melihat bagaimana kedua orang itu berinteraksi.


"Seharusnya kamu jangan ganggu mereka sayang." Kata Daffa yang langsung dibalas Fahisa dengan garang


"Siapa yang mengganggu? Aku tidak mengganggu! Aku kan hanya meminta mereka untuk bergabung bersama kita saja." Kata Fahisa dengan begitu santai


"Iya, tapi kan tetap saja Keenan pasti tadi ingin berdua saja dengan Hana mereka kan lagi berkencan." Kata Daffa yang sekali lagi diacuhkan oleh istrinya


"Mereka juga tidak keberatan." Kata Fahisa membuat suaminya itu mengggelengkan kepalanya pelan


Tentu saja semua terserah Fahisa dia tidak akan bicara lagi sekarang.


"Mommy aku ngantuk." Kata Sahara sambil mengucek matanya


Menarik tangan Sahara dengan lembut Fahisa langsung merangkul anak itu dan memyuruhnya untuk tidur karena perjalanan masih cukup lama.


"Ngantuk? Sini Ara tidur saja nanti kalau sudah sampai akan Daddy gendong." Kata Fahisa sambil mengusap lembut rambut hitam Sahara


Mengangguk lucu Sahara memeluk Fahisa dari samping lalu mulai memejamkan matanya. Sekarang ketika hari sudah semakin siang Sahara memang sudah terbiasa untuk tidur dan berlaku sampai sekarang.


"Ara sudah tidur? Apa kamu kesulitan sayang? Kalau iya ada bantal di belakang gunakan itu saja." Kata Daffa sambil sesekali menoleh ke kursi belakang


Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa menunduk untuk menatap anaknya yang sudah tertidur dengan begitu lelap.


"Tidak Mas sudah biarkan saja begini." Kata Fahisa


"Benar tidak papa kan?" Tanya Daffa lagi


"Hmm tidak papa sudah Mas Daffa fokus ke jalan saja supaya kita cepat sampai rumah." Kata Fahisa


Sekitar lima belas menit akhirnya mobil Daffa berhenti di rumah besar keluarga Wijaya dan dia dengan segera langsung membawa Sahara yang sedang tertidur itu kedalam gendongannya lalu membantu Fahisa untuk turun dari mobil.


Memasuki pintu utama Tania yang sedang berada di dapur dan melihat kedatangan anak juga menantunya itu langsung meghampiri mereka.


"Mami sedang apa?" Tanya Fahisa ketika ibu mertuanya itu berdiri dihadapannya


"Sedang buat brownis kesukaan menantu Mami." Kata Tania sambil mencubit gemas pipi Fahisa


Awalnya Tania menolak keinginan menantunya itu, tapi Fahisa terus memaksa dengan memasang wajah yang begitu lucu dan membuat Tania akhirnya mengizinkannya untuk itu ke dapur.


"Aku ke kamar dulu." Kata Daffa yang masih menggendong Sahara


Setelah Daffa pergi keduanya pun menuju dapur dan melanjutkan kegiatan Tania yang sudah setengah jalan dalam pengerjaan brownis nya.


"Mami nanti ajarin Hisa ya? Hisa juga mau bisa bikin brownis yang enak seperti punya Mami." Kata Fahisa


"Nanti ya sayang setelah cucu kembar Mami ini lahir kita akan belajar memasak berbagai jenis makanan." Kata Tania membuat senyum menantunya itu mengembang lebar


"Kalian tadi hanya makan ice cream saja?" Tanya Tania lagi yang dijawab dengan anggukan oleh Fahisa


"Jadi belum makan siang?" Tanya Tania


"Hmm belum maunya makan masakan Mami saja." Kata Fahisa membuat mertuanya itu tersenyum


"Ahh iya bagaimana kata dokternya tadi? Apa cucu Mami baik-baik saja?" Tanya Tania penasaran


"Sangat baik Mi"


Tania benar-benar tidak sabar menanti kehadiran cucu kembarnya.


¤¤¤¤


Saat malam hari Fahisa mengalami kesulitan untuk tidur dan sejak tadi yang dia lakukan hanyalah berpura-pura memejamkan matanya sambil berharap jika rasa kantuk akan datang menghampirinya. Namun, sampai tengah malam datang Fahisa tak kunjung tertidur dan malah kembali membuka matanya sambil memperhatikan sang suami yang sudah terlelap.


Mendadak Fahisa mengingat tentang kebersamaan mereka selama ini dari awalnya dia yang sempat ragu lalu kenangan tentang istri pertama Daffa yang sempat membuatnya ingin pergi dan keguguran yang sempat membuatnya terpuruk.


Semua telah berhasil mereka lalui dan Fahisa benar-benar tidak menyangka untuk itu semua.


Dengan sebuah senyuman Fahisa mendekatkan wajahnya untuk mengecup singkat bibir suaminya, tapi setelahnya dia dibuat hampir jantungan karena ketika akan menjauh suaminya itu membuka mata dan menahan wajahnya.


Lalu perlahan mulai menciumnya dengan lembut, hanya sebentar.


"Belum tidur hmm?" Tanya Daffa sambil membawa sang istri kedalam pelukannya


Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa menenggelamkan wajahnya di dada bidang Daffa sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang suami.


"Tidak bisa tidur Mas." Keluh Fahisa


"Kenapa? Apa ada yang mengganggu kamu? Atau kamu ingin sesuatu? Katakan saja kalau kamu ingin sesuatu sayang." Kata Daffa sambil mengusap lembut rambut hitam Fahisa


"Tidak mau apa-apa Mas aku hanya tidak bisa tidur saja." Kata Fahisa


"Mungkin kamu tidak bisa tidur karena tidak memeluk aku." Canda Daffa yang membuat sang istri memukul pelan dada bidangnya


"Mas Daffa sudah mengantuk ya?" Tanya Fahisa


"Tadi sudah, tapi sekarang tidak aku akan menemani kamu sampai kamu tidur." Kata Daffa


Tersenyum senang Fahisa semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas Daffa sudah siapkan nama untuk anak kita belum?" Tanya Fahisa


"Sudah"


Menjawabnya dengan penuh semangat Daffa benar-benar tidak sabar menunggu kehadiran buah hatinya.


"Siapa?" Tanya Fahisa penasaran


"Rahasia sayang"


Mengerucutkan bibirnya kesal Fahisa mengendurkan pelukannya lalu mencubit gemas pipi suaminya.


"Anak kita pasti sangat lucu ya? Aku tidak sabar menanti mereka"


"Anak kita juga pasti tidak sabar untuk menemui kita." Kata Daffa dengan senyuman yang begitu lebar


Senyum suaminya itu benar-benar penuh arti dan Fahisa merasa begitu bahagia.


¤¤¤¤


Semakin dekat menuju hari kelahiran si kembarr😙😙😙


Tunggu terus yaaa semuanyaa😄