Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Empatpuluh tiga



Keadaan cafe siang ini cukup padat oleh pengunjung dan di salah satu meja ada Ratu bersama seorang pria yang sedang berbincang sambil sesekali menyeruput minuman yang ada di hadapan keduanya. Sudah cukup lama keduanya berada disana dan membicarakan banyak hal sambil sesekali tersenyum tipis.


Perbincangan mereka diawali dengan penangkapan Jira kemarin dan berakhir dengan percakapan mengenai keluarga Daffa yang tentu saja didominasi oleh Ratu mengingat jika wanita itu pernah memiliki hubungan spesial dengan Daffa. Mereka memang pernah dekat bahkan dulu Daffa sudah pernah mengajak Ratu untuk bertunangan, tapi karena suatu hal dia membatalkan semuanya.


Karena Sahara


Iya, Sahara adalah penyebabnya karena bagi Daffa dia belum bisa menjadi figur seorang Ibu untuk Sahara mengingat Ratu yang sering keluar dan bepergian bersama teman-teman sosialitanya membuat Daffa mengurungkan niatnya lalu memutuskan hubungan mereka.


"Jira? Gue gak nyangka dia bakal beneran ngelakuin hal itu." Kata Pria dihadapan Ratu dengan alis bertaut


Tersenyum sinis Ratu mengatakan hal yang membuatnya cukup terkejut.


"Lo fikir Jira memang punya fikiran kayak gitu? Hell! Anak itu mana berani untuk punya fikiran ngegugurin kandungan Fahisa, dia terlalu penakut." Kata Ratu meremehkan


"Gimana dia bisa punya fikiran seperti itu? Jangan bilang kalau lo yang mempengaruhi semuanya?" Tanya pria itu dengan tidak percaya


Mengangkat bahunya acuh tanpa disadari Ratu telah memberikan jawabannya.


"Hmm gak perlu mengotori tangan sendiri kan?" Kata Ratu sambil tertawa kecil


Ikut tertawa pria dihadapannya itu sama sekali tidak menyangka jika Ratu bisa memiliki fikiran sampai sejauh itu.


Oke, Ratu memang anak yang sangat bebas bahkan dari kuliah dulu club malam adalah tempat nongkrongnya hanya saja dia cukup terkejut dengan fakta jika Ratu bisa berbuat sampai sejauh itu.


"Lo gila Ratu." Katanya sambil menggelengkan kepalanya pelan


"Yes i'am." Balas Ratu dengan bangganya


"Lo dendam sama Daffa? Lo berniat untuk ngerebut dia lagi?" Tanyanya penasaran


Tertawa kecil Ratu dengan cepat menggelengkan kepalanya pelan. Sama sekali tidak terlintas dibenaknya untuk bisa memiliki Daffa kembali, tapi dia melakukan semua ini untuk alasan yang lain.


Baginya Daffa sudah selesai, mereka sudah tidak bersama lagi. Namun, ada satu hal yang ingin Ratu lakukan untuk membalas perlakuan Daffa yang tiba-tiba memutuskannya.


"Big no! Gue sama dia udah selesai dan untuk memiliki dia lagi gue gak pernah kefikiran sampai sana, lagipula gue punya lo kan?" Tanya Ratu sambil tersenyum membuat pria dihadapannya itu tertawa kecil


"Jadi rencana lo ngelakuin itu semua? Lo tau? Yang ada difikiran gue adalah lo ngehasut Jira untuk ngelakuin itu semua dengan tujuan supaya lo bisa lebih mudah memiliki Daffa." Katanya menyatakan pendapatnya


Menggelengkan kepalanya pelan Ratu menyangkal semua pendapat pria itu karena memang tujuannya bukan seperti itu dia punya tujuan lainnya.


Tujuan yang lebih jahat mungkin.


"Pertama gue ganggu Fahisa dengan pesan-pesan yang bikin dia jadi cukup banyak berfikir dan kedua gue bawa Jira kembali lalu ngelakuin ini semua, menurut lo tujuannya untuk apa?" Tanya Ratu bermain teka-teki


"Gue gak ngerti sama pola fikir lo Ratu." Katanya membuat Ratu tertawa kecil


"Ngehancurin keluarganya dan ngerusak kebahagiaan Daffa"


Sedikit tersentak pria itu cukup tidak percaya dengan semua perkataan wanita dihadapannya. Sedangkan Ratu sama sekali tidak terganggu atau takut dengan ucapannya bahkan dia sekarang sibuk menikmati kopi yang sudah dia pesan.


"Gue gak mau Daffa kembali, tapi gue cuman mau kebahagiaannya hancur dan semua baru berawal dari sekarang." Kata Ratu semakin membuat pria dihadapannya itu bingung


"Dengan cara apa? Bukannya Jira udah di penjara?" Tanyanya bingung


Tersenyum sinis perkataan Ratu selanjutnya benar-benar membuktikan jika dia adalah wanita yang harus diwaspadai oleh Daffa.


"Kenyataan"


"Kenyataan?"


"Kenyataan adanya masalah di rahim Fahisa, gue bakal bilang semuanya ke Fahisa karena gue yakin Daffa gak mungkin kasih tau semuanya." Kata Ratu dengan begitu yakin


"Lalu?"


"Lalu apalagi? Gue bakal buat dia tersiksa dengan kenyataan itu." Kata Ratu


Cukup lama terdiam Ratu kemudian kembali berbicara hal yang cukup mengejutkan.


"Gue akan bermain cantik sekarang dan semuanya di mulai dari Fahisa, bulan depan di acara ulang tahun perusahaan bokap gue"


Ya, semuanya baru dimulai dan Ratu sudah mulai memainkan perannya.


¤¤¤¤


Mengunci dirinya di kamar Fahisa termenung sambil menatap hasil usg kehamilannya kedatangan Rania beberapa jam yang lalu membuatnya kembali merasakan sesak. Pernyataan Rania yang mengatakan jika Jira tidak bersalah dan tidak pernah memiliki niat untuk mencelakainya malah semakin membuat perasaan Fahisa tidak karuan, dia bahkan tidak mengetahui fakta itu.


Memejamkan matanya Fahisa benar-benar merasa sesak ada perasaan yang tidak bisa dia gambarkan. Semua perkataan yang Rania lontarkan membuat Fahisa jadi ingin menangis lagi.


Apa benar Jira yang melakukannya?


Kenapa dia bisa setega itu?


Dari luar Tania berusaha mengetuk pintu kamar dan membujuk Fahisa supaya keluar dari kamarnya. Dia samgat tau jika perkataan Rana tadi pasti melukainya bahkan dia sangat kesal dengan semua perkataan yang temannya itu ucapkan.


"Fahisa keluarlah." Kata Tania dengan begitu lembut


Semua dugaannya ternyata benar Jira memang memiliki niat tidak baik, tadinya dia fikir itu semua hanya sekedar dugaan karena efek kehamilannya yang membuat Fahisa jadi sering berfikir banyak hal.


Apa Jira tidak terima karena Daffa menikahinya?


Menyentuh perut ratanya yang terkadang masih suka terasa nyeri air mata Fahisa kembali turun, dia kembali menangis.


'Kenapa kamu begitu jahat Fahisa? Tante hanya punya Jira sekarang dan kalian malah memenjarakannya untuk sesuatu yang tidak mungkin dia perbuat, Jira tidak mungkin memiliki niat untuk melukai kamu dan anak kamu'


Dia tidak jahat bahkan Fahisa tidak tau fakta itu karena Daffa tidak pernah memberitau semuanya.


Di luar sana Tania merasa begitu khawatir karena Fahisa yang tidak mau membuka pintunya dan terus berusaha membujuk menantunya itu agar membuka pintu.


"Fahisa buka pintunya atau Mami akan panggil Daffa untuk segera pulang." Kata Tania


Sesaat setelah mengatakan hal itu Fahisa membuka pintunya dan dia dapat melihat menantunya itu sudah berurai air mata membuat Tania jadi tidak tega melihatnya. Membawa Fahisa kedalam pelukannya Fahisa kembali terisak sambil membalas pelukan Tania dengan begitu erat.


"Jangan menangis anak Mami harus kuat." Kata Tania sambil melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Fahisa dengan begitu lembut


"Anakku tidak salah Mi, kenapa dia harus menanggung semuanya?" Kata Fahisa dengan begitu lirih


"Jira akan mendapat hukuman atas perbuatannya, sudah jangan menangis." Kata Tania sambil membawa menantunya itu kedalam pelukannya


Mengusapnya dengan begitu lembut Tania membawa Fahisa kedalam kamar lalu menyuruhnya untuk duduk dan memberinya air putih yang ada di nakas. Masih meminum air putih itu tiba-tiba mata Fahisa menangkap jam yang tergantung di dinding dan setelahnya dia menghapus jejak air matanya lalu tersenyum tipis.


"Sebentar lagi Ara akan pulang Mi." Kata Fahisa membuat Tania tertegun


Beranjak dari tempatnya Fahisa pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya karena sebentar lagi suaminya pasti akan datang dan mengajaknya untuk menjemput Sahara, dia tidak mau terlihat seperti habis menangis. Memang benar dugaannya sekitar sepuluh menit setelahnya Daffa memang datang dan dia langsung berpamitan kepada Tania yang sebentar lagi juga akan pulang ke rumahnya.


"Mami aku pergi dulu ya?" Kata Fahisa


"Hati-hati ya sayang jangan menangis semua akan baik-baik saja." Kata Tania sambil mengusap pipi Fahisa dengan begitu lembut


Mengangguk singkat Fahisa langsung menuju pintu utama dan segera pergi bersama Daffa karena suaminya itu memang tidak mematikan mesin mobilnya. Di dalam mobil Fahisa tersenyum ketika Daffa menatap ke arahnya membuat suaminya itu merasa bahagia karena dapat melihat senyuman istrinya.


"Mami sudah pulang?" Tanya Daffa


"Sedang menunggu supir yang masih dalam perjalanan." Jawab Fahisa


"Sudah makan siang?" Tanya Daffa lagi dan langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Fahisa


"Kita langsung makan siang saja habis menjemput Sahara." Kata Daffa lagi


"Emm terserah Mas Daffa saja." Kata Fahisa sambil tersenyum tipis


Sepanjang perjalanan Fahisa hanya diam sambil memandang keluar kaca, tatapan matanya berbeda ada kesedihan yang dalam disana dan hal itu disadari oleh Daffa. Namun, Daffa hanya diam karena mereka sudah memasuki area sekolah Sahara dan keduanya langsung turun untuk menemui anaknya yang pasti sedang menunggu di tempat bermain.


Memang benar Sahara berada disana bersama dengan Hana dan mengobrol lalu saat melihat kedua orang tuanya yang sudah datang Sahara langsung melompat turun dari ayunan dan berlari menghampiri keduanya. Menundukkan badannya Fahisa langsung memeluk Sahara dan mencium kedua pipi anaknya itu dengan gemas.


Melihat Hana yang berjalan ke arahnya Fahisa melepaskan pelukannya lalu menghampiri teman baiknya. Tersenyum tipis Hana memeluk Fahisa dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut.


"Maaf ya karena aku tidak bisa menjenguk kamu ke rumah sakit." Kata Hana


Melepaskan pelukannya Fahisa tersenyum sambil mengangguk singkat, bukan masalah karena dia pun bukan dalam keadaan yang baik untuk di kunjungi saat itu.


"Tidak masalah Han aku sudah baik-baik saja." Kata Fahisa


"Aku merasa bersalah karena tidak bisa menjenguk kamu di rumah sakit." Kata Hana dengan wajah sedihnya


"Sudah Han jangan merasa bersalah aku sudah lebih baik." Kata Fahisa lagi


Mengangguk singkat setelahnya Fahisa berpamitan untuk langsung pergi dan Hana hanya tersenyum sambil mengatakan jika nanti dia akan berkunjung atau mengajak Fahisa untuk keluar.


"Hmm telfon saja ya"


¤¤¤¤


Menatap lawan bicaranya dengan sinis Jira berdecih ketika melihat wanita ular dihadapannya sekarang, semua karena hasutannya sehingga dia berakhir didalam sini. Saat ini Jira merasa menyesal karena sudah terhasut semua omong kosong wanita dihadapannya ini ternyata dia hanya dimanfaatkan, kurang ajar.


Persidangannya sudah dijadwalkan dan Jira tidak mau mengelak lagi dia akan mengakuinya saja karena dengan mengelak malah akan semakin membuatnya susah, lebih baik dia mengaku. Selain itu dia juga takut dengan ancaman yang Daffa berikan, jadi yasudah dia akan menerima semua kekalahannya sekarang.


"Tadinya gue fikir lo pinter Ra, tapi ternyata lo terlalu bodoh bahkan hanya dalam waktu seminggu lo ketahuan." Kata Ratu meremehkan


"Ngapain sih lo kesini Tu? Lebih baik lo pergi dan fikirin cara lain untuk ngerebut Daffa karena sekarang gue udah disini kan." Kata Jira jengah


Tertawa kecil Ratu memandang Jira dengan remeh, semua orang ternyata punya fikiran yang sama. Terlalu bodoh fikiran mereka terlalu sempit.


"Gue? Ngerebut Daffa lagi? Hell! Gue sama sekali gak ada niat untuk itu tujuan gue cuman mau hancurin kebahagiaan mereka, That's it." Kata Ratu sambil mengangkat bahunya acuh


Mendengar hal itu membuat Jira benar-benar emosi dia tidak menyangka jika Ratu bisa memiliki fikiran sejahat itu. Oke, Jira memang punya niat jahat untuk mencelakai Fahisa, tapi dia sama sekali tidak berniat untuk menghancurkan Daffa karena bagaimanapun juga cintanya sudah sangat besar dan dia tidak mau melihat Daffa menderita.


Wanita di hadapannya benar-benar iblis.


"Lo gila Ratu!" Bentak Jira yang hanya ditanggapi dengan tawa kecil olehnya


"Dan lo udah terpengaruh sama orang gila ini." Kata Ratu sambil tersenyum sinis


Tangan Jira terkepal dengan begitu erat dia sangat ingin marah dan menampar wajah Ratu sekarang, tapi sayangnya dia tidak bisa. Sedangkan wanita itu hanya memandanginya dengan sinis lalu mengatakan hal yang membuat Jira hilang kendali dan mencoba untuk memukulnya, tapi sayang dia sudah ditahan lebih dulu oleh petugas.


"Sayangnya lo harus di penjara untuk beberapa tahun kedepan jadi lo gak bisa lihat kehancuran orang yang paling lo cintai itu, tapi gak papa gue bakal kasih tau perkembangannya ke lo nanti." Kata Ratu dengan begitu santainya


"Sialan! Lo iblis Ratu! Lo gila!"


Tapi, Ratu tidak perduli.


¤¤¤¤


Lama yaaa😅


Mau tanya dongg bolehh kann??


Menurut kalian cerita ini aneh gak sih? Jadi aku itu tadi baca ulang ceritanya dari awal terus baru sadar kalau ada banyak banget typo terus sekarang aku mulai perbaikin typo typo yang ada😅


Sama aku baru inget kalau nama Mamahnya Jira itu Rana dan bukannya Rania😆 Ya ampunn maaf yaa aku lupa soalnya😂


Terus aku juga mikirin cerita ini maksud gak sih?


Kasih pendapat kalian dong tentang cerita ini jujur yaaa aku gak bakal marah kok kalo misal ceritanya emang jelek atau aneh gitu yang penting jawab jujur😙


Sama satu lagi, kalo ada typo kasih tau ya kayaknya aku kegedean jempol deh jadi suka typo😂


Salam sayang,


Daddy daffa💜