Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Empatpuluh lima



Malam ini adalah malam dimana acara ulang tahun perusahaan milik keluarga Ratu dilasanakan, perusahaan yang sudah berjalan selama puluhan tahun itu kini sudah sangat maju dan besar maka tak heran jika acara malam ini diadakan disalah satu hotel bintang lima. Semua tamu yang berdatangan juga berasal dari rekan-rekan kerjanya termasuk keluarga Wijaya yang diwakilkan oleh Daffa dan istrinya.


Saat kedua pasangan serasi itu datang tamu sudah mulai ramai dan acara juga sudah hampir di mulai dengan menggenggam erat tangan istrinya Daffa mengajak Fahisa untuk bertemu Rama, ayah kandung Ratu. Merasa sedikit terbiasa karena sudah beberapa kali diajak ke acara seperti ini Fahisa tidak lagi gugup atau takut meskipun beberapa pasang mata menatap ke arah mereka.


"Om"


Pria paruh baya itu menoleh ketika Daffa memanggilnya lalu dia tersenyum sambil memeluk singkat salah satu rekan kerjanya yang masih sangat muda itu.


"Terima kasih sudah datang dan apa dia istri kamu?" Tanya Rama sambil melihat ke arah Fahisa yang sedang tersenyum tipis ketika ditatapnya


"Iya Om ini istri Daffa namanya Fahisa." Kata Daffa kepada Rama yang memang tidak datang di acara pernikahannya


Selanjutnya kedua orang itu kembali mengobrol tentang masalah perusahaan dan Fahisa hanya menyimak saja sambil sesekali melihat ke sekelilingnya. Acaranya sangat besar dan tamunya juga begitu banyak membuat Fahisa berfikir jika perusahaan ini pasti sangat sukses.


Cukup lama mereka berbincang sampai akhirnya Rama permisi untuk menyambut tamu yang lainnya dan kembali meninggalkan Daffa juga Fahisa. Selama memperhatikan para tamu yang datang Fahisa baru menyadari jika kebanyakan tamu yang datang berusia di atas tiga puluh tahun meskipun beberapa dari mereka juga terlihat seumuran dengan Daffa.


Memang dari cerita yang dia dengar Daffa memimpin perusahaan itu di usianya yang masih sangat muda karena suatu kejadian yang mengharuskan dia melakukannya meskipun ada kakak-kakaknya yang lain. Tidak heran ketika melihat banyaknya pemimpin perusahaan yang memang rata-rata berusia di atas tiga puluh tahun karena biasanya memang seperti itu.


"Ayo kita duduk dulu." Kata Daffa sambil membawa istrinya untuk duduk dan menikmati beberapa makanan ringan yang disediakan


"Kamu melihat apa Fahisa?" Tanya Daffa penasaran ketika istrinya itu masih sibuk menjelajahi tempat diselenggarakannya acara


Tersenyum jahil Fahisa menjawab hal yang membuat Daffa merasa kesal.


"Nyari pria tampan biasanya kalau di pesta gini pasti ada." Canda Fahisa sambil tersenyum lebar hingga lesung pipitnya nampak dengan begitu jelas


"Kita pulang saja kalau begitu." Ketus Daffa membuat Fahisa terkekeh pelan


"Kok ngambek? Kan cuman bercanda." Kata Fahisa


Belum sempat menjawab salah seorang rekan kerja Daffa menghampiri keduanya, dia Keenan pria yang usianya tidak terlalu jauh dengan Daffa. Dia tampan apalagi dengan dibalut jas hitam serta dasi yang melingkar sempurna di lehernya, tapi tetap tidak lebih tampan dari Daffa.


"Hai"


Di sapa oleh teman suaminya Fahisa tersenyum lalu mengangguk pelan, sedangkan Daffa yang teringat perkataan istrinya tadi menatap mereka tidak suka.


"Kenapa sih Daf? Nyapa doang gak bakal gue ambil." Kata Keenan sambil terkekeh ketika melihat tatapan tidak suka teman baiknya itu


"Ahh iya dimana Sahara? Gue kangen banget sama anak itu pasti sekarang dia udah gede." Kata Keenan ketika mengingat anak perempuan Daffa yang sangat menggemaskan


"Ara di tempat Mami katanya dia tidak mau nanti pulangnya malam." Kata Fahisa membuat Keenan mengangguk faham


"Lo kesini sama siapa Nan?" Tanya Daffa


"Sendiri lah lo kan tau gue belum nikah pacar aja belum punya." Kata Keenan sungut


"Makanya cari pacar sana udah semakin tua juga masih betah aja sendirian." Ledek Daffa yang langsung dihadiahi omelan dari istrinya


Bagi Fahisa tidak sopan mengatakan hal seperti itu karena jodoh akan datang ketika waktu yang sudah tepat, tidak seharusnya kita meledek seseorang yang masih sendiri.


"Mas Daffa nih gak boleh ngomong kayak gitu." Kata Fahisa sambil menggelengkan kepalanya


"Tuh Daf istri lo aja faham." Kata Keenan senang ketika untuk pertama kalinya ada yang membela dia


"Jodoh kan udah ada yang atur jadi gak perlu sampai menuntut orang lain supaya cepat dapat pasangan karena semua akan terjadi di waktu yang tepat." Kata Fahisa membuat Keenan semakin senang karena ada yang memiliki fikiran yang sama dengannya


"Temen gue nih temen gue, baru Fahisa yang sejalan sama gue." Kata Keenan sambil menepuk-nepuk kepala istri Daffa dengan pelan


Memelototkan matanya kesal Daffa menepis tangan Keenan dengan cukup kuat hingga menimbulkan suara membuat teman baiknya itu meringis kesakitan saat merasa panas di telapak tangannya.


"Sakit Daf gue gak akan jadi pebinor santai"


¤¤¤¤


Sekitar dua menit Fahisa keluar dari salah satu bilik toilet dan berdiri untuk bercermin melihat penampilannya, tapi tiba-tiba dia dikagetkan dengan tepukan di bahunya yang ternyata adalah Ratu. Jantung Fahisa berdetak dengan begitu cepat ketika kedua matanya bertemu dengan mata milik Ratu, tapi dengan memberanikan dirinya Fahisa tersenyum kecil.


Mendadak dia ingat perkataan Jira yang mengatakan bahwa semua perbuatannya didasari oleh hasutan Ratu.


"Hai Ratu aku gak lihat kamu sedari tadi." Kata Fahisa canggung


Ratu yang mengenakan dress di atas lutus serta rambut yang di kucir itu berjalan menghampiri Fahisa membuat jantungnya kembali berdetak tidak karuan.


"Apa kabar Fahisa? Maaf gak bisa jengukin." Kata Ratu dengan ramah


Kali ini senyum Fahisa lebih tulus karena dia melihat Ratu yang sepertinya sama sekali tidak memiliki niat buruk.


"Emm tidak masalah aku sudah lebih baik sekarang." Kata Fahisa


"Fahisa ngobrol yuk?" Ajak Ratu dengan senyuman ramahnya


Fahisa yang sama sekali tidak merasa aneh hanya mengangguk pelan dan membiarkan Ratu yang mengajaknya untuk mengobrol di luar ruangan. Pada awalnya obrolan mereka sangat biasa Ratu hanya menanyakan hal-hal klise bahkan keduanya untuk sesaat terlihat begitu akrab.


Sampai akhirnya pembicaraan Ratu mulai menuju ke arah yang lain.


"Gue kaget banget waktu tau kalau Jira yang lakuin itu semua, gak nyangka aja kalau dia bisa setega itu." Kata Ratu mulai memainkan dramanya


Fahisa hanya menanggapinya dengan senyuman tipis, dia juga tidak percaya Ratu mengatakan hal itu kepadanya. Memgingat pertemuan mereka yang kurang baik dengan tatapan sinis Ratu di pesta pertunangan Wira kala itu Fahisa mulai merasa tidak nyaman.


"Dia jahat banget sampai buat lo kehilangan anak yang sudah lo kandung selama enam bulan dan parahnya lagi gue denger ada masalah sama rahim lo karena kejadian itu." Kata Ratu dengan wajah dramatisnya


Wanita itu benar-benar melakukan dramanya dengan sangat baik, tapi sayangnya harapan Ratu untuk melihat wajah kaget Fahisa tidak terjadi karena yang Fahisa tunjukkan hanyalah senyuman tipis. Dia sama sekali tidak terkejut seperti apa yang ada di dalam benak Ratu karena memang Fahisa sudah tau semuanya dan sekarang dia mulai percaya dengan semua perkataan Jira.


'Oke gue tau kalau gue udah salah dan jahat banget sama lo, tapi Fahisa gue mohon lo harus percaya bahwa Ratu punya niat yang lebih buruk dari gue'


Tidak ada tanggapan yang Fahisa berikan selain senyuman tipisnya, sampai akhirnya Ratu kembali bicara.


"Ternyata cinta bisa buat orang jadi sejahat itu ya? Padahal Jira orangnya baik banget sama kayak Renata." Kata Ratu membuat Fahisa jadi ingin menjambak rambutnya karena gemas


'Ratu itu mantannya Kak Daffa dia gak terima karena diputusin gitu aja dan sekarang Ratu punya niat untuk menghancurkan keluarga kalian, wanita iblis itu mau Kak Daffa menderita'


Perlahan senyuman Fahisa terbentuk, bukan senyum manis melainkan senyuman sinis yang entah kenapa berani dia tunjukkan. Bagi Fahisa semua sudah keterlaluan Ratu benar-benar gila dan Fahisa tidak bisa membiarkannya.


Keluarganya akan tetap utuh dan bahagia.


Dia akan membuat semua rencana Ratu berantakan bahkan sebelum wanita itu sempat menjalankannya. Karena sungguh Fahisa tidak bisa terima ulah gila Ratu yang berniat mengusik kebahagiaan keluarga kecilnya.


"Ratu"


"Kenapa?" Tanya Ratu dengan wajah bingungnya


"Menurut kamu itu semua murni karena keinginan Jira atau karena ada orang lain yang mendorong Jira untuk melakukan hal jahat itu?" Tanya Fahisa sambil menatap Ratu yang terlihat terkejut


Belum sempat Ratu menjawab Fahisa sudah kembali berbicara.


"Mungkin dia berniat menghancurkan keluargaku, tapi dia tidak tau bahwa sebenarnya dia sedang menghancurkan dirinya sendiri,"


Mengepalkan tangannya Ratu merasa tersinggung dengan perkataan Fahisa, tapi Fahisa yang tidak menyadari itu terus bicara hal yang membuat Ratu semakin marah.


"Keluarga aku gak akan pernah hancur dan kebahagiaan kami akan selalu terbangun, dia bermimpi terlalu tinggi jika ingin menghancurkan itu semua karena tidak mungkin,"


Menatap Ratu sambil tersenyum Fahisa mengatakan kalimat terakhirnya sebelum mengajak Ratu untuk kembali ke dalam.


"Seandainya aku bisa bertemu orang itu aku ingin bilang bahwa rencananya hanya akan sia-sia karena aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, tidak akan!"