
Seusai menyantap makan malam dan menemani Sahara sampai tertidur Fahisa kembali ke kamarnya dia pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya terlebih dahulu. Sedangkan Daffa yang sudah berada di ranjang menunggu istrinya itu keluar dia ingin sekali menggodanya dengan informasi yang di berikan oleh anaknya dan saat istrinya itu keluar dengan wajah yang masih sedikit basah Daffa tersenyum.
"Mas Daffa belum tidur?" Tanya Fahisa saat melihat suaminya yang sedang menatap ke arahnya
"Belum, gak ada yang di peluk jadi gak bisa tidur." Kata Daffa membuat Fahisa tertawa ketika mendengarnya
Saat istrinya itu naik ke atas kasur Daffa langsung menyuruhnya untuk mendekat lalu memeluk tubuh Fahisa dengan erat, wajah mereka berhadapan dan keduanya saling melemparkan senyuman. Mendekatkan diri Fahisa menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya membuat tangan Daffa secara refleks langsung terulur untuk mengusap lembut rambut hitamnya.
"Gimana jalan-jalannya sama Ara?" Tanya Daffa memulai percakapan yang akan mengarah kepada informasi dari Sahara
Dia bahkan tersenyum sendiri mengingatnya.
"Hmm menyenangkan"
"Apa kamu beli sesuatu juga? Kata Ara kamu membeli sesuatu." Kata Daffa
Dalam hati Fahisa merutuk karena anaknya yang terlalu jujur itu dia tidak menjawab dan lebih memilih untuk semakin memeluk erat tubuh suaminya. Tersenyum lebar Daffa tau jika Fahisa tidak ingin menjawab dan hal itu membuatnya semakin berniat untuk semakin menggodanya.
Rasa lelah yang tadi menghampiri sekarang menghilang seketika dan di gantikan dengan rasa senang yang begitu besar. Sedikit menunduk Daffa mendekatkan wajahnya ke telinga Fahisa dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Fahisa memerah.
"Kenapa tidak kamu pakai apa yang kamu beli tadi? Aku mau lihat kata Ara kamu beli baju tidur." Kata Daffa
"Hmm gak mau"
"Kenapa gak mau? Apa bajunya sexy? Bukankah itu bagus pasti terlihat cantik kalau kamu pakai." Goda Daffa
Mendongakkan kepalanya Fahisa menatap suaminya dengan kesal dan wajah memerah membuat Daffa menahan tawanya.
"Mass jangan gituu." Rengek Fahisa dengan wajah memerahnya
"Kan aku nanya Fahisa." Kata Daffa sambil tertawa kecil
"Mas Daffa mah jahil banget gangguin terus akunya malu." Kata Fahisa dengan bibir mengerucut
Daffa hanya tertawa lalu mengecup kening Fahisa cukup lama dan kembali membawa kepala istrinya untuk bersandar di dada bidangnya. Semua lelahnya sudah hilang dan sekarang dia ingin beristirahat sambil memeluk istri kesayangannya.
"Good night Fahisa"
¤¤¤¤
Saat pagi hari sekali lagi Fahisa terbangun di dalam pelukan suaminya dan seperti sebelumnya dia memperhatikan wajah Daffa yang sedang tertidur pulas suaminya itu sangat tampan bahkan ketika sedang tidur. Tersenyum kecil Fahisa mengusap pipi Daffa dengan lembut rasanya masih sedikit tidak percaya jika dia sudah menjadi istri dari seorang Daffa.
Dulu ketika mereka masih dekat ada beberapa temannya yang mengatakan bahwa Fahisa hanya mengejar hartanya padahal dia benar-benar tulus Fahisa bahkan tidak tau jika Daffa adalah seorang pemilik perusahaan dia baru tau ketika beberapa orang menggunjingnya. Mereka sama sekali tidak tau jika perasaan Fahisa sangat tulus entah itu kepada Sahara atau kepada Daffa dia menyayangi keduanya dengan sepenuh hati, tapi orang-orang itu dengan mudah menuduhnya.
Tapi, tidak masalah dia tidak mempermasalahkan gunjingan orang-orang terhadapnya yang terpenting adalah dia tulus dan tidak memiliki tujuan apapun.
Entah keberanian dari mana Fahisa mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir suaminya sekilas, tapi dia di buat terkejut saat akan menjauhkan diri mata Daffa terbuka dan dia langsung menahan wajah Fahisa lalu memperdalam ciuman mereka. Masih merasa bingung Fahisa hanya diam sampai ketika Daffa menjauhkan wajahnya dan menatapnya dengan senyuman wajah Fahisa langsung memanas, dia ketahuan.
"Terima kasih morning kiss nya." Kata Daffa membuat Fahisa semakin merona
"Apa kamu suka mencuri ciumanku setiap pagi?" Tanya Daffa membuat Fahisa semakin memerah
Melihat wajah istrinya yang memerah Daffa tertawa kecil dan tangannya terulur untuk mengusap pipi Fahisa, rasanya sudah begitu lama Daffa tidak begini biasanya dia terbangun sendirian atau bersama Sahara disampingnya.
"Gak gitu." Elak Fahisa dengan wajah memerahnya
"Kamu lucu Fahisa." Kata Daffa sambil tertawa kecil
Entah dengan keberanian dari mana dia mengucapkannya, tapi yang jelas setelah mengatakan itu wajahnya semakin memanas. Sedangkan Daffa yang sebelumnya sempat terkejut itu kini tersenyum dengan sangat lebar, perlahan-lahan dia mulai membuat Fahisa menjadi lebih terbuka.
"Sudah berani menggoda suaminya sendiri ternyata." Kata Daffa
"Udah ah mau buat sarapan." Kata Fahisa mencari alasan untuk pergi
Tapi, Daffa malah semakin mengeratkan pelukannya enggan untuk mengakhiri momen mereka di pagi hari biar saja agak sedikit telat hari ini juga Sahara tidak sekolah.
"Nanti saja, Hisa nanti malam Wira akan tunangan kamu temani aku kesana ya?" Kata Daffa
Fahisa mengangguk setuju, "Hmm sama Sahara juga gak?"
Daffa mengangguk singkat lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Fahisa menghabiskan waktu beberapa menit lagi untuk berdua bersama istrinya.
¤¤¤¤
Selesai menyantap sarapan Fahisa mengantar Daffa sampai depan untuk mengantar suaminya yang akan berangkat bekerja dan saat sampai di depan pintu Fahisa mencium punggung tangan suaminya lalu tersenyum lebar. Saat akan berangkat Sahara berlari ke arah mereka anak itu melompat kedalam gendongan Daffa memeluknya dan mencium pipinya berkali-kali.
"Ara jangan nakal yaa!" Kata Daffa mengingatkan
Sahara mengangguk patuh lalu mencium pipi Daffa sekali lagi sebelum akhirnya turun dari gendongannya dan mendekat kepada Fahisa yang tersenyum melihat interaksi keduanya.
"Hati-hati ya Mas nanti aku antar makan siang sama Sahara." Kata Fahisa
Daffa mengangguk singkat lalu segera memasuki mobil dan berangkat ke kantornya meninggalkan keluarga kecil ini untuk beberapa jam kedepan. Setelah Daffa berangkat ke kantornya ibu dan anak itu sekarang sibuk membuat kue di dapur.
Iya, Sahara yang memintanya selain itu Fahisa juga berfikir kalau itu bukan ide yang buruk sekalian mengurangi rasa bosannya.
"Mommy nanti kita anterin untuk Daddy ya?" Kata Sahara yang langsung di angguki oleh Fahisa
Dia tertawa kecil ketika melihat wajah Sahara yang di penuhi oleh tepung dan dengan segera Fahisa mengambil ponselnya yang ada di meja makan lalu kembali untuk memotret anaknya yang sedang bermain tepung terigu.
Mengetikkan sesuatu Fahisa mengirim pesan kepada suaminya.
Suamiku tercinta
Kami buat kue untuk Mas Daffa♡
¤¤¤¤
Keduanya menjadi pusat perhatian ketika memasuki area kantor milik Daffa dan beberapa orang yang mengetahui siapa mereka langsung menunduk dengan sopan. Menggandeng tangan Sahara mereka segera naik lift untuk sampai ke ruangan Daffa dan tanpa meminta izin keduanya langsung masuk kedalam bahkan saat membuka pintu Sahara langsung berseru heboh.
"Daddyyy"
Daffa yang sebelumnya masih berkutat dengan laptopnya kini mendongak dia tersenyum lalu langsung menghampiri keduanya. Pertama Daffa menggendong Sahara dan mencium pipinya lalu dia memeluk Fahisa sekilas, mencium pipinya juga. Pipi ya bukan bibir.
"Daddy kita bawa makan sama kue untuk Daddy." Kata Sahara
Tersenyum senang Daffa mengajak mereka untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya dan dengan segera Fahisa membuka kotak makan yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Sedikit kesal karena Fahisa juga Sahara ternyata sudah makan lebih dulu dan Daffa jadi harus makan sendirian, tapi pria itu tetap terhibur dengan kehadiran keduanya. Apalagi melihat Fahisa yang kelihatannya sudah mulai memakai make up yang dia beli kemarin, dia terlihat makin cantik.
Dan ketika Sahara sedang pergi ke kamar mandi Daffa mendekatkan diri lalu berbisik.
"Fahisa, rasa apa lipstik yang kamu pakai sekarang?"