
Selama perjalanan pulang Fahisa menyadari jika suaminya itu sedikit merajuk karena sejak tadi Daffa sama sekali tidak mau mengajak bicara. Menyadari hal itu tentu saja membuat Fahisa kesal, dia kan tidak salah kenapa suaminya malah mendiamkannya?
Memang salah kalau dia keluar untuk mencari makan?
Masalahnya tadi perutnya sudah sangat lapar dan Daffa tak kunjung kembali makanya Fahisa meminta untuk di antar Keenan membeli makanan. Soal ponselnya Fahisa memang lupa membawanya dan kenapa dia harus disalahkan?
"Apa yang kamu makan tadi?" Tanya Daffa secara tiba-tiba
Mendapatkan pertanyaan itu membuat Fahisa terdiam sambil menggigit bibir bawahnya, dia memakan makanan cepat saji tadi dan dia bisa habis dimarahi kalau Daffa sampai tau.
Jadi Fahisa memilih untuk tidak menjawab.
"Fahisa, aku bertanya kenapa tidak dijawab? Apa yang kamu makan tadi?" Tanya Daffa lagi
Dan Fahisa tetap pada pilihannya dia tidak mau menjawab.
"Apa yang kamu makan hmm? Ice cream? Mie? Makanan cepat saji? Katakan apa." Kata Daffa yang sudah mulai kesal
"Pokoknya aku makan! Mas Daffa tidak usah tau apa yang aku makan." Kata Fahisa
"Berarti kamu memakan sesuatu yang sudah aku larang kan? Baiklah akan aku tanyakan saja pada Keenan sekarang." Kata Daffa membuat Fahisa langsung menatapnya dengan wajah merajuk
"Hanya sedikit kok aku tidak makan banyak, jangan marah." Kata Fahisa
"Aku tanya kamu makan apa bukan berapa banyak yang kamu makan." Kata Daffa
Mengalihkan pandangannya ke jendela Fahisa tidak mau menjawab dan memilih untuk diam. Masa bodo jika suaminya itu semakin marah pokoknya Fahisa tidak mau menjawab.
"Kamu tau Fahisa itu salah satu alasan aku tidak mau meninggalkan kamu sendirian, kenapa kamu tidak mau mendengarkan aku hmm? Bukan tanpa alasan aku melarang ini dan itu, tapi aku melakukannya demi kamu sendiri." Kata Daffa panjang
Kali ini tidak ada nada kekesalan yang terdengar di telinga Fahisa suara suaminya masih terdengar lembut dan penuh pengertian.
"Aku tadi makan mie di kantin bawah, tapi cuman sedikit tidak aku habiskan. Benar tidak bohong." Kata Fahisa
Menghela nafasnya pelan Daffa hanya diam dan tidak menanggapi ucapan istrinya, dia merasa kesal sekarang.
Apakah sesulit itu untuk menurut?
Daffa juga tidak akan melarang seandainya dua hari berturut-turut kemarin istrinya tidak memakan mie instan. Masalahnya Fahisa punya maag yang cukup serius dan Daffa benar-benar harus menjaga pola makan istrinya, tapi Fahisa sekarang begitu keras kepala.
"Mas Daffa aku serius kok cuman makan sedikit saja tidak banyak." Kata Fahisa dengan nada yang terdengar begitu manja
"Apa tidak ada makanan lain? Kenapa kamu seperti ini Fahisa? Aku melakukannya demi kebaikan kamu sendiri." Kata Daffa sambil menoleh sekilas
"Ada banyak, tapi aku tidak mau jadi aku beli mie saja." Kata Fahisa sambil memasang wajah yang begitu menggemaskan
Menghela nafasnya pelan Daffa sama sekali tidak memberikan tanggapan membuat istrinya itu merengek dengan wajah yang begitu lucu di matanya.
"Mas Daffa jangan marah aku hanya makan sedikit saja tidak banyak." Kata Fahisa sambil menarik-narik jas suaminya
Dan ketika menoleh Daffa malah dibuat gemas ketika melihat wajah istrinya.
"Fahisa kenapa aku tidak bisa marah sama kamu?" Tanya Daffa yang merasa gemas ketika melihat wajah istrinya
Tersenyum lebar Fahisa mendekatkan tubuhnya lalu mengecup singkat pipi suaminya membuat pria itu membulatkan matanya kaget.
"Fahisa, bahaya sayang jangan lakukan lagi." Kata Daffa
Tertawa kecil Fahisa mulai berbicara hal yang lainnya, menceritakan tentang pembicaraan yang dia dan Keenan lakukan tadi.
"Mas Daffa aku mau mengenalkan Kak Keenan sama teman aku." Kata Fahisa
"Benarkah? Siapa?" Tanya Daffa yang terlihat antusias
Mengetahui hal itu tentu saja Daffa bahagia karena menurutnya Keenan memang harus segera mencari pasangan karena usianya yang semakin bertambah.
"Hana, kamu tau kan Mas? Dia teman aku yang mengajar di Tk tempat Ara sekolah dulu." Kata Fahisa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh suaminya
"Tau, sepertinya itu ide yang baik sayang semoga saja mereka akan cocok." Kata Daffa membuat Fahisa jadi semakin bersemangat untuk menjalankan rencanya
"Aku harus cepat mengenalkan mereka berdua." Kata Fahisa
"Jadi, tadi kamu membicarakan ini dengan Keenan?" Tanya Daffa yang dijawab dengan anggukan oleh Fahisa
Tertawa kecil Daffa merasa seperti orang bodoh karena mencemburui istrinya sendiri padahal Fahisa sedang hamil. Astaga kenapa dia sebodoh ini? Ternyata Fahisa memang telah membuatnya menjadi orang yang sangat posesif.
"Lalu apa katanya? Dia suka?" Tanya Daffa lagi
"Hmm katanya dia suka dan besok aku akan kenalkan mereka berdua." Seru Fahisa
"Kenapa kamu punya fikiran untuk menjodohkan mereka berdua?" Tanya Daffa dengan penuh rasa ingin tau
"Tidak tau Mas tiba-tiba saja aku ingin melakukan hal itu." Kata Fahisa sambil tersenyum polos
Menanggapinya dengan tawa kecil setelah itu keduanya kembali terdiam selama perjalanan dan ketika hampir sampai ke rumah tiba-tiba saja Fahisa menginginkan sesuatu.
"Mas Daffa kita makan ayam bakar yang dekat rumah Mami itu yuk." Ajak Fahisa
Menoleh sebentar Daffa tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya. Jarang sekali Fahisa meminta untuk makan selain dari makanan cepat saji.
"Hmm baiklah kalau begitu kita langsung menjemput Ara dan berkunjung ke rumah Mami"
Tersenyum senang Fahisa langsung menyetujui perkataan dari suaminya, dia merasa lapar lagi sekarang dan ayam bakar sepertinya adalah makanan yang pas untuk perutnya.
"Mau makan disana atau di rumah Mami?" Tanya Daffa
"Di sana sajaaa"
Hari ini adalah hari yang cukup sempurna bagi keduanya.
¤¤¤¤
Dia selalu berharap dan berdo'a agar kebahagiaan ini akan selalu ada, Daffa berharap keluarga kecilnya akan bahagia untuk waktu yang sangat lama.
Saat ini Daffa berada di kamarnya dan memperhatikan sang istri yang nampak terlelap setelah mereka kembali dari rumah Tania. Senyuman Daffa terukir ketika melihat Fahisa yang merasa terusik dengan tangannya yang tidak berhenti mengusap pipi tembamnya.
"Hmmm"
Bergumam pelan Fahisa membuat suaminya terkekeh dan langsung menjauhkan tangannya dari pipi tembam istrinya.
"Cantik sekali"
Mengatakan hal itu sambil tersenyum Daffa tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium bibir Fahisa dengan gemas dan hal itu sukses membuat istrinya membuka mata dengan wajah penuh kekesalan.
"Ngantukkk"
"Maaf sayang." Kata Daffa sambil kembali mengusap pipi tembam itu dengan sayang
"Jangan gangguin lagi." Kata Fahisa yang kembali memejamkan matanya
Tersenyum kecil Daffa hanya bergumam pelan dan kembali membiarkan Fahisa pergi ke alam mimpinya, dia terlihat begitu mengantuk.
Terbukti karena hanya butuh beberapa menit dan Fahisa sudah kembali tidur dengan lelap. Menyelimuti istrinya Daffa mencium kening wanita itu sekilas sebelum akhirnya pergi ke kamar Sahara dan menemani anak itu hingga tidur.
Ceklek
Ketika pintu itu terbuka Sahara sedang duduk bersandar pada ranjang dengan sebuah buku cerita dongeng dipangkuannya. Melihat siapa yang ada di depan pintu kamarnya Sahara tersenyum dengan begitu lebar apalagi ketika Daffa menghampirinya dan duduk tepat disebelahnya.
Dengan gerakan yang begitu cepat Sahara memeluknya.
"Selamat malam anak Daddy kenapa belum tidur hmm?" Tanya Daffa sambil mengusap rambut hitamnya
"Belum mengantuk, Daddy kenapa hanya sendirian? Mommy dimana?" Tanya Sahara
"Mommy sudah tidur." Kata Daffa
Menganggukkan kepalanya Sahara meminta Daffa untuk menemaninya sampai dia tertidur.
Cukup lama ayah dan anak itu hanya diam sampai akhirnya Daffa mulai berbicara dan mengajak anaknya itu mengobrol.
"Ara, apa Ara sudah tidak sabar menunggu kehadiran adik bayi?" Tanya Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan penuh semangat
"Iya Daddy! Ara sangat tidak sabar, Ara ingin lihat adik bayinya pasti lucu." Kata Sahara dengan antusias
"Apa Ara merasa senang?" Tanya Daffa lagi
"Hmm Ara sangat sangat sangat sangat senang sekali Daddy." Kata Sahara membuat Daffa tertawa kecil melihatnya
Memeluk anaknya dengan erat Daffa bahagia melihat Sahara yang sekarang mendapatkan begitu banyak kebahagiaan. Semua juga karena Sahara dia berhasil menemukan Fahisa karena anaknya, kebahagiaan ini juga berkat Sahara.
"Terima kasih Ara karena sudah menghadirkan Mommy di dalam keluarga kecil kita." Kata Daffa
Tersenyum lebar Sahara mendongak lalu mencium pipi Daffa berkali-kali, dia juga bahagia dengan kehadiran Fahisa karena sekarang Sahara dapat merasakan hangatnya sebuah keluarga yang utuh.
"Ara sangat menyayangi Mommy kan?" Tanya Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan singkat
"Sayang, sangat sayang Ara lebih sayang Mommy dari pada Daddy." Kata Sahara sambil menunjukkan cengirannya
Merasa gemas dengan tingkah anaknya Daffa mencubit pipi tembam itu dengan cukup kuat dan membuat Sahara merengek karena merasa sakit.
"Sudah jangan dicubit!" Kata Sahara dengan wajah galaknya
"Makanya kamu jangan menggemaskan seperti ini Ara." Kata Daffa sambil tertawa kecil
"Daddy malam ini Ara mau tidur sama Mommy juga." Kata Sahara secara tiba-tiba
Menyunggingkan senyumnya Daffa memenuhi keinginan itu dan langsung membawa Sahara ke dalam gendongannya.
"Baiklah malam ini Sahara akan tidur sama Mommy dan Daddy." Kata Daffa membuat anak itu berseru senang dan langsung menciumi pipi Daffa
Saat sampai di kamar keduanya dapat melihat Fahisa yang sudah terlelap dalam tidurnya dan setelah diturunkan Sahara langsung berlari kecil untuk mengampiri Fahisa.
Setelah ikut bergabung Sahara yang menidurkan dirinya tepat disebelah Fahisa tersenyum senang dan terus memperhatikan wanita itu untuk waktu yang cukup lama.
"Mommy sayang"
Mendengar kata itu keluar dari bibir anaknya membuat Daffa merasa begitu bahagia lalu menarik selimut dan memeluk ketiganya.
"Ara tidur sudah malam." Kata Daffa
"Selamat malam Daddy"
Dan ketiganya benar-benar tertidur dengan begitu nyenyak.
¤¤¤¤
Mau tanya dongggg😂
Semisal cerita ini tamat kalian lebih suka mana?
Extra part?
atau,
sequel?
Jawabb yaaaaaa😄