Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Duapuluh delapan



Saat tengah malam Daffa terbangun dari tidur nyenyaknya ketika dia tidak mendapati Fahisa disampingnya sedikit panik Daffa bergegas ke kamar mandi, tapi dia tidak melihat siapapun disana. Sampai akhirnya suara bising yang samar-samar dia dengar membuat Daffa langsung pergi ke arah dapur dan ternyata disana istrinya itu sedang sibuk memasak.


"Fahisa kamu ngapain?" Tanya Daffa


Sedikit terkejut Fahisa menoleh dan menatap wajah suaminya dengan polos lalu tersenyum manis sambil melanjutkan kegiatannya.


"Masak mie Mas Daffa mau?" Tanya Fahisa


"Kenapa gak bangunin aku aja? Aku bisa masakin itu untuk kamu." Kata Daffa dengan penuh kekecewaan


Fahisa menggelengkan kepalanya pelan.


"Mas tidurnya nyenyak banget jadi aku gak mau bangunin dan milih untuk masak sendiri." Kata Fahisa


Selesai memasak Fahisa langsung menuju meja makan dengan di temani oleh suaminya dan ketika dia makan pun Daffa terus menatapnya membuat Fahisa jadi merasa malu karena di tatap dengan begitu dalam oleh suaminya. Hanya setengah, Fahisa hanya memakan setengahnya karena dia sudah merasa cukup kenyang.


"Sudah?" Tanya Daffa ketika melihat Fahisa beranjak dari tempat duduknya untuk menaruh mangkuk


"Emm aku sudah kenyang." Kata Fahisa


Saat ingin berbalik Fahisa dikejutkan dengan tangan yang melingkar di pinggangnya, pelukan dari belakang. Menyandarkan kepalanya di bahu Fahisa sesekali Daffa mengecup leher jenjangnya membuat Fahisa menahan nafas karena perbuatannya.


"Mas aku ngantuk." Kata Fahisa


Daffa tersenyum lalu membawa Fahisa kedalam gendongannya membuat istrinya itu terkejut dan malu disaat yang bersamaan.


Saat sampai di kamar Daffa langsung membaringkan Fahisa di tempat tidur dan ikut bergabung. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka Daffa mulai mendekat lalu membawa Fahisa kedalam pelukannya.


"Fahisa"


"Hmm"


"Masalah pesan yang kamu dapatkan jangan di fikirkan, aku akan menceritakan semuanya kepada kamu." Kata Daffa membuat Fahisa terdiam mendengarnya


Karena tidak mendapat tanggapan Daffa meraih dagu Fahisa membuat wanita itu mendongak untuk menatapnya dan ketika mata mereka bertemu Daffa tersenyum.


Dia berbisik sebuah kalimat yang membuat Fahisa benar-benar merasa bahagia.


"Aku cinta kamu Fahisa"


Belum sempat membalas perkataannya Daffa sudah membungkam Fahisa dengan ciumannya.


¤¤¤¤


Pagi harinya Fahisa sudah beraktifitas seperti biasanya dia membuat sarapan, tapi kali ini ada suaminya yang membantu bahkan kali ini Daffa yang lebih banyak bekerja. Ternyata benar kata orang kalau lihat lelaki lagi masak itu ketampanannya jadi berlipat, Fahisa baru menyadarinya sekarang.


Tadinya dia fikir Daffa tidak bisa memasak, tapi ternyata suaminya itu pintar juga dan tanpa sadar Fahisa yang sedang memperhatikan Daffa mengukir sebuah senyuman yang begitu lebar.


"Mas Daffa jadi makin ganteng deh pas masak gitu." Kata Fahisa tiba-tiba membuat Daffa terkejut karena perkataannya


Menoleh Daffa fikir sekarang Fahisa sedang merona malu, tapi ternyata istrinya itu sedang tersenyum ke arahnya. Senyuman yang sangat manis di mata Daffa.


Tidak sampai disitu Daffa kembali di buat terkejut saat Fahisa berjinjit lalu meraih tengkuknya dan mencium bibir Daffa cukup lama, hanya menempel saja tidak lebih.


"Morning kiss dari aku untuk Mas Daffa." Kata Fahisa sambil menunjukkan cengirannya


Wajahnya sedikit merona dan melihat hal itu membuat Daffa semakin merasa bahagia.


Apa dia perlu memasak setiap pagi biar mendapat ciuman seperti ini?


"Aku mau bangunin Ara dulu." Kata Fahisa sambil berlalu pergi


Tertawa kecil Daffa kembali melanjutkan kegiatannya, sesekali menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya sepertinya terdengar menyenangkan.


Sekitar lima belas menit semua sudah selesai meja makan juga sudah di tata oleh Fahisa dan sekarang mereka sedang menyantap sarapan bersama-sama.


Selesai menyantap nasi gorengnya Fahisa meraih susu yang sudah dia buat, tapi belum sempat meminumnya dia dibuat mual saat mencium bau yang sangat menyengat. Dengan cepat Fahisa langsung menjauhkan gelas itu membuat Daffa menatapnya dengan bingung.


"Kenapa Hisa?" Tanya Daffa


"Bau banget aku jadi pengen muntah." Kata Fahisa


"Apa aku perlu beli susu yang lain?" Tanya Daffa


Fahisa menggelengkan kepalanya cepat, dia tidak mau minum susu.


"Gak perlu aku gak mau, belikan aku ice cream coklat saja ya?" Kata Fahisa


Fahisa langsung mengerucutkan bibirnya kesal, "Kenapa harus tanya dokter?"


Daffa hanya mengangkat bahunya acuh membuat Fahisa jadi semakin kesal dia kan hanya mau makan ice cream bukannya racun.


"Mommy Ara juga mau ice cream." Kata Sahara tiba-tiba


Perkataan itu mendadak membuat Fahisa tersenyum lebar dia mendekatkan wajahnya untuk berbisik kepada Sahara yang duduk di sampingnya.


"Nanti kita beli setelah Daddy berangkat ke kantor, oke?"


¤¤¤¤


Sebelum berangkat ke kantornya Daffa berniat untuk pergi ke suatu tempat terlebih dahulu, tempat yang biasanya rutin ia kunjungi. Letaknya cukup jauh dari kantor mungkin akan memakan waktu sekitar setengah jam, tapi Daffa tidak peduli dia harus kesana.


Area pemakaman umum.


Melangkahkan kakinya Daffa mendekat ke arah nisan yang sangat ia kenali, makam Renata. Mendudukkan dirinya Daffa meletakkan bunga yang sebelumnya dia beli.


Cukup lama Daffa hanya terdiam tanpa sepatah katapun dan membiarkan angin menerpa wajahnya dia juga mengabaikan ponsel yang sesekali bergetar di saku celananya. Menghela nafasnya pelan tangan Daffa terulur untuk mengusap nisan milik Renata dan senyumnya perlahan mulai terukir, senyuman yang sangat tipis.


"Nata sudah lama ya? Aku datang untuk menyampaikan sesuatu,"


Kembali terdiam Daffa merasa seperti orang bodoh yang berbicara sendirian, tapi dia perlu melegakan hatinya.


"Maaf karena sudah mengingkari janji yang pernah kita buat, aku jatuh cinta lagi Nata,"


Daffa tersenyum membayangkan Fahisa dalam ingatannya, wanita yang selalu tersenyum dan merona ketika dia ganggu.


"Dia wanita yang baik dan dia juga sangat menyayangi Sahara, aku jatuh cinta tanpa aku minta dan perasaan ini sangat nyata,"


"Aku tidak akan pernah melupakan kamu Renata semua kenangan kita akan selalu aku ingat, tapi aku minta maaf karena hati aku tidak bisa menetap untuk kamu,"


"Aku jatuh cinta kepada Fahisa"


Setelah mengatakan kalimat itu Daffa kembali terdiam untuk waktu yang cukup lama sampai akhirnya dia kembali mengusap nisan itu dan beranjak dari tempatnya. Saat berbalik dia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sangat ia kenali dan sudah lama tidak berjumpa.


"Mamah"


¤¤¤¤


Bertemu dengan orang tua Renata juga adiknya membuat Daffa cukup terkejut dan akhirnya dia mengajak kedua orang itu untuk ke salah satu cafe, berbincang untuk beberapa menit ke depan. Kedua orang itu memang sudah lama pindah dan terakhir kali bertemu adalah ketika Sahara berumur dua tahun, setelahnya mereka tidak lagi datang.


"Mamah apa kabar?" Tanya Daffa


"Baik, kamu gimana? Maaf ya kami tidak datang ke acara pernikahan kamu." Kata Rana


Daffa tersenyum dan mengangguk singkat.


"Bukan masalah Mah, sudah lama sekali kalian bahkan sudah tidak pernah mengunjungi Sahara." Kata Daffa


Jira, adik kandung Renata itu tersenyum tipis mereka memang sudah lama tidak datang ke kota ini dan ya sudah tiga tahun mereka tidak pernah lagi mengunjungi Sahara.


"Kami belum sempat kesini Kak dan baru sekarang kami bisa berkunjung kesini terutama ke makam Kak Nata." Kata Jira sambil tersenyum


"Kalian mau mengunjungi Sahara atau Mami?" Tanya Daffa


"Apa boleh?"


"Tentu saja Mah, bagaimana kalau makan malam? Daffa akan bilang sama Mami dan istri Daffa." Kata Daffa sambil tersenyum tulus


"Boleh, Mamah sudah kangen sekali sama Tania dan Sahara." Kata Rana


Belum sempat membalas perkataan wanita paruh baya itu getaran di ponsel Daffa membuat dia berhenti bicara dan memilih untuk mengangkat panggilan yang sejak tadi berbunyi.


"Iya saya akan segera kesana"


Menutup panggilan telfonnya Daffa menatap kedua orang itu dengan tidak enak karena harus pergi secepat ini, tapi kantor nya sedang membutuhkan kehadirannya sekarang.


"Mah Daffa pergi dulu sampai ketemu nanti malam dan Jira nomor ponsel kamu biar aku bisa hubungin kamu untuk mengabari tentang makan malam." Kata Daffa sambil menyerahkan ponselnya


Mengetikkan nomornya disana Jira kembali menyerahkan ponselnya kepada Daffa dan menatap pria itu cukup lama. Setelah mencium punggung tangan Rana dia bergegas keluar cafe dan memasuki mobilnya agar segera sampai ke kantor.


Pertemuan yang cukup mengejutkan.