
Pagi ini keluarga Daffa dikejutkan dengan kehadiran Jira yang memang dua hari lalu baru saja keluar dari penjara dan kedatangan wanita itu membuat Daffa jadi cemas juga khawatir, dia takut kejadian dulu akan terulang lagi. Namun, diluar dugaan ketika Daffa ingin meminta Jira untuk pergi istrinya malah melarang dia bahkan menyuruh Jira untuk masuk kedalam dan menyambut wanita itu layaknya seorang tamu.
Tapi, kedatangan Jira disambut oleh Sahara yang memang sama sekali tidak tau tentang apa yang sudah wanita itu lakukan. Berdiri di depan Jira dengan sudah mengenakan seragam sekolahnya Sahara tersenyum lebar.
Sedangkan Fahisa sedang pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman dan tentu saja suaminya itu mengikuti dari belakang sambil terus melayangkan protes.
"Sayang, kenapa kamu malah membiarkan Jira masuk? Harusnya usir saja dia! Aku tidak mau kalau sampai wanita itu berbuat buruk sama kamu!" Protes Daffa sambil mengikuti Fahisa hingga ke dapur
"Ck, mas Daffa niatnya hanya untuk berkunjung tentu saja kita harus membiarkan dia masuk." Kata Fahisa sambil berdecak kesal
"Tapi, Fahisa aku khawatir dia...."
Menatap suaminya dengan tajam Fahisa berhasil membuat pria itu terdiam. Jujur saja dia memang sedikit cemas, tapi tetap saja dia tidak bisa menghakimi Jira seperti itu karena mungkin wanita itu sekarang sudah berubah.
Selain itu kalau bukan karena Ratu dia pasti tidak akan melakukan perbuatan jahat seperti itu.
"Kamu gak boleh seperti itu Mas Daffa perbuatannya hanya kesalahan dan aku yakin dia pasti sudah menyesali semuanya, jangan menyimpan dendam dan prasangka buruk sama orang lain." Kata Fahisa sambil membawa minum serta beberapa makanan ringan ke ruang tamu
Saat melihat Fahisa yang datang sambil membawa nampan Jira merasa tersentuh, tapi dia juga merasa tidak enak hati dengan Daffa yang terus menatapnya tajam.
Kedatangannya bukan untuk apapun dia hanya ingin meminta maaf secara langsung karena besok dia akan pergi sesuai permintaan Rana, mereka akan pindah.
"Tante Jira kenapa hanya sendirian? Oma Rana dimana?" Tanya Sahara membuat Jira sedikit tersentak
Tersenyum canggung Jira mengusap rambuh hitam anak itu dengan sayang, seandainya dia tidak melakukan itu semua pasti Rana masih bisa terus bertemu dengan cucunya.
"Oma sedang pergi Ara." Kata Jira membuat Sahara mengangguk singkat
Saat melihat kedatangan Fahisa yang sekarang duduk di samping Sahara dan menatapnya membuat Jira tersenyum canggung. Jujur saja dia sedikit takut dengan kehadiran Daffa yang terus menatapnya dengan begitu tajam sehingga Jira sesekali menundukkan kepalanya.
"Maaf merepotkan, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan." Kata Jira sambil menatap Fahisa sebentar
"Hmm katakan saja aku akan dengarkan." Kata Fahisa
Tapi, sebelum berbicara Fahisa lebih dulu menatap Sahara yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Ara sudah siang kamu berangkat ke sekolah sama Daddy saja ya? Mommy akan menemani Tante Jira disini." Kata Fahisa yang langsung membuat Daffa melayangkan protesnya
Dia tidak mungkin meninggalkan istrinya bersama dengan Jira.
"Fahisa! Aku akan disini! Ara berangkat sama Pak Hadi saja ya?" Kata Daffa yang membuat anaknya mengerucutkan bibir dan menggeleng dengan cepat
"Mas Daffa antar dulu hanya sebentar!" Kata Fahisa jengkel
"Tapi Fahisa...."
"Aku bersumpah tidak akan melakukan apapun Kak, kedatanganku hanya untuk minta maaf." Kata Jira sambil menatap Daffa dengan sisa keberaniannya
"Yasudah minta maaf dan pergi." Kata Daffa dengan wajah datarnya membuat Jira merasa begitu sesak ketika mendengarnya
Ternyata Daffa sudah benar-benar membencinya.
"Mas Daffa! Sudah kamu antar Ara dulu hmm?" Kata Fahisa sambil menatap suaminya dengan penuh permintaan
Dia hanya ingin melupakan semuanya, dia tau betapa marahnya Daffa pada Jira hanya saja tidak seharusnya pria itu menyimpan dendam dan terus berprasangka buruk dengan Jira.
Setiap orang pernah berbuat kesalahan dan Jira salah satunya.
Di masa lalu dia pernah melakukan kesalahan dan sekarang dia ingin meminta maaf serta memperbaiki semuanya.
Lalu kenapa Daffa malah menghakiminya?
Bukan hanya Daffa, tapi Fahisa juga sama dia merasa begitu marah hanya saja semua sudah berlalu.
Setidaknya kalau kita tidak bisa melupakan kita harus memaafkan.
"Hubungi aku kalau ada apa-apa." Kata Daffa setelah terdiam cukup lama
Sebelum pergi Daffa lebih dulu menatap tajam Jira dan mengatakan hal yang membuat wanita itu menunduk, tidak berani menatap wajah Daffa.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau sampai terjadi sesuatu dengan Fahisa!" Tegas Daffa
Sedikit tersenyum Daffa membawa Sahara kedalam gendongannya membuat anak yang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi itu melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
"Ara berangkat sekolah dulu dadahh"
Setelah keduanya menghilang dari pandangan Fahisa menghela nafasnya panjang lalu menatap Jira dengan tidak enak, Daffa terlalu keras.
"Maafkan Mas Daffa." Kata Fahisa
Menggelengkan kepalanya cepat Jira merasa Daffa tidak melakukan kesalahan sama sekali. Hal yang wajar jika pria itu tidak mau meninggalkan Fahisa bersamanya mengingat perbuatan buruk yang telah dia lakukan.
Jira memaklumi semuanya.
"Kak Daffa tidak salah." Kata Jira pelan
"Baiklah sekarang katakan semua yang ingin kamu bicarakan." Kata Fahisa sambil tersenyum
Terdiam cukup lama Jira merasa bingung harus memulai dari mana, dia takut salah berbicara.
Jira ingin meminta maaf atas semua kesalahannya.
"Maaf"
Setelah mengucapkan satu kata itu Jira menghela nafasnya panjang lalu mendongak untuk menatap mata Fahisa dan dengan sedikit keberanian dia mulai berbicara.
"Aku tidak tau harus memulai dari mana Fahisa, tapi yang jelas aku ingin minta maaf atas semuanya sungguh aku sangat menyesal dan Tanti aku sangat menyesal karena sudah membuat dia berakhir seperti ini,"
Kembali terdiam Jira merasa begitu sesak rasanya semua kata-kata yang telah dia rangkai hilang begitu saja.
"Aku ajak Tanti untuk menemui kamu, tapi dia tidak mau katanya dia bahkan tidak berani berhadapan sama kamu." Kata Jira
"Astaga dia seharusnya tidak merasa begitu." Kata Fahisa dengan penuh sesal
"Semua bukan kesalahan Tanti karena aku yang memaksa dia melakukan semuanya. Jujur saja Fahisa aku benar-benar tidak mengerti kenapa aku bisa melakukan itu semua? Aku bodoh sangat bodoh." Kata Jira sambil menatap Fahisa dengan raut wajah penuh penyesalan
Entah kenapa melihat Jira yang seperti itu membuat Fahisa secara refleks menggenggam tangan wanita itu dan mencoba memberi kekuatan.
Bagi Fahisa setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua.
"Awalnya aku memang merasa senang, tapi setelah melihat Kak Daffa yang menatap aku dengan penuh kebencian dan tangisan Mamah serta tatapan penuh kekecewaan rasanya begitu menyakitkan Fahisa." Kata Jira membuat Fahisa terdiam sambil terus menunggu kata yang akan keluar dari bibir Jira
"Keluargaku tidak pernah ada yang mendidik untuk menjadi seorang penjahat, tapi aku menghancurkan semuanya dan mungkin Kak Nata juga Papah menyesal memiliki anak seperti aku." Kata Jira lagi
Membawa Jira ke dalam pelukannya Fahisa mengusap pundaknya dengan lembut, penyesalan memang selalu datang terakhir.
"Aku akan pindah Fahisa kami akan pergi jauh dari kehidupan keluarga Kak Daffa, tolong jangan biarkan Ara melupakan Mamah katakan pada Ara bahwa Oma nya sangat menyayangi dia." Lirih Jira membuat Fahisa terkejut mendengarnya
Dia melepaskan pelukannya dan menatap Jira dengan raut wajah terkejutnya.
"Kenapa kalian harus pindah?" Tanya Fahisa
"Tapi kalian akan kembali kan? Setidaknya kembalilah untuk Sahara." Kata Fahisa
Terdiam cukup lama Jira merasa ragu bahwa mereka akan kembali lagi.
"Mungkin"
Ya, Jira memang belum memikirkan apa dia akan kembali atau tidak.
¤¤¤¤
Selama perjalanan Daffa benar-benar merasa tidak tenang bahkan perjalanan yang hanya dua puluh lima menit itu terasa begitu lama. Bukan salahnya kalau dia khawatir berlebihan seperti ini karena bahkan setelah bertahun-tahun lamanya Jira datang lalu melakukan hal yang buruk kepada istrinya.
Lalu sekarang?
Dia baru keluar dari penjara dua hari yang lalu dan langsung menemui Fahisa tentu saja hal itu membuat Daffa memikirkan banyak hal buruk yang mungkin akan terjadi.
"Daddy sudah sampai, kenapa kita tidak turun?" Tanya Sahara membuat Daffa tersadar dari lamunannya
Dia sampai melupakan tujuannya untuk mengantar Sahara ke sekolah.
Menghela nafasnya panjang Daffa menyunggingkan senyumnya lalu turun dari mobil dan menggandeng anaknya memasuki sekolah.
"Daddy nanti jemputnya sama Mommy juga ya!" Kata Sahara
"Iya sayang." Kata Daffa sambil mencium gemas pipi anaknya
"Yasudah Ara berangkat dulu, dadah Daddyy." Kata Sahara sambil melambaikan tangannya
"Belajar yang benar ya anak Daddy." Kata Daffa
Mengacungkan jempolnya Sahara sedikit berlari ketika suara bel sudah berbunyi membuat rambutnya yang di ikat bergerak mengikuti langkahnya.
Setelah anaknya menghilang dari pandangannya Daffa bergegas berbalik dan mengendarai mobilnya kembali ke rumah, dia masih belum merasa tenang.
Dalam perjalanan Daffa mencoba menghubungi Fahisa dan tidak perlu membutuhkan waktu lama istrinya itu langsung menjawab membuat Daffa merasa lega.
"Fahisa kamu dimana?"
'Lagi di jalan sama Jira'
Satu kalimat itu sekarang membuat kecemasan Daffa semakin meningkat, untuk apa wanita itu membawa istrinya pergi dan kemana mereka pergi?
Astaga!
Kenapa tidak ada satupun pekerja di rumah yang menghalanginya?
"Kemana?! Kenapa kamu pergi tanpa izin dariku?! Fahisa pulang sekarang!" Kata Daffa dengan nada penuh kecemasan
'Hanya sebentar Mas....'
"Aku tidak perduli Fahisa yang aku mau kamu pulang sekarang! Bagaimana bisa kamu pergi bersama Jira? Bagaimana jika terjadi sesuatu?" Potong Daffa
Di sebrang sana Fahisa hanya diam membuat Daffa merasa begitu kesal.
"Fahisa, suruh Jira putar balik! Atau berikan saja ponselnya ke dia." Tegas Daffa
'Mas Daffa hanya sebentar aku akan baik-baik saja jangan khawatir'
Suara lembut Fahisa malah semakin membuat Daffa cemas, dia takut sangat takut jika kejadian yang sama akan terulang kembali. Kecemasannya mungkin cukup berlebihan, tapi Daffa hanya tidak bisa menghilangkan rasa cemasnya begitu saja.
"Fahisa pulang saja hmm?" Kata Daffa dengan penuh permohonan
Daffa tidak bisa melihat istrinya kesakitan dan keluarganya yang kembali bersedih.
Dia hanya seorang pria yang dipenuhi dengan rasa takut dalam dirinya.
¤¤¤¤
Sudah hampir satu jam dan Fahisa masih belum kembali hal itu benar-benar membuat Daffa cemas apalagi panggilannya diabaikan. Sejak sampai Daffa menunggu di ruang tamu dengan mata yang terus menatap ke arah pintu utama.
Berkali-kali Daffa mengirim pesan dan menelpon, tapi masih belum ada tanggapan.
Sampai akhirnya tepat satu jam pintu utama terbuka dan Fahisa berjalan seorang diri membuat Daffa merasa cemas. Apalagi ketika melihat raut wajah sedih yang istrinya tunjukkan.
Menghampiri Fahisa dengan segera Daffa memeluknya erat, rasanya kecemasan itu hilang begitu saja.
"Kamu dari mana hmm?" Tanya Daffa
Mendongakkan kepalanya Fahisa menatap mata Daffa dengan sendu lalu kembali memeluk suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Daffa.
"Kami menemui Tanti...."
Belum sempat menyelesaikan perkataannya Daffa sudah lebih dulu melayangkan protesnya.
"Untuk apa kamu menemui wanita itu?! Fahisa aku tidak suka..."
Cup
Ciuman yang Fahisa berikan memang benar-benar membuat Daffa diam dan langsung menatap Fahisa yang tersenyum ke arahnya.
"Tidak ada yang terjadi Mas kami hanya mengobrol dan Jira besok akan pergi, mereka akan pindah." Kata Fahisa sambil kembali memeluk suaminya
"Jira? Kemana? Apa dia pergi bersama Mamah juga?" Tanya Daffa yang sedikit terkejut dengan fakta tersebut
"Hmm aku tidak tau kemana dan iya Tante Rana juga ikut mereka akan berangkat besok." Kata Fahisa
"Lalu kenapa wajah kamu terlihat sedih hmm? Apa mereka mengatakan sesuatu yang buruk?" Tanya Daffa yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh istrinya
"Yakin?" Tanya Daffa lagi
"Hmm kami hanya mengobrol tentang banyak hal dan yang membuat aku sedih hanya ingatan tentang anak kita yang sudah bahagia disana." Kata Fahisa
"Aku tidak suka melihat kamu sedih, sakit, atau terluka Fahisa." Kata Daffa sambil menangkup kedua pipi istrinya dan mengusapnya sayang
"Terkadang aku sudah merelakan kepergian anak kita, tapi terkadang aku merasa sedih dan menyesal karena tidak bisa mempertahankan dia." Kata Fahisa
"Semua akan menjadi lebih baik kedepannya anak-anak kita akan memberikan kebahagiaan yang begitu besar nantinya." Kata Daffa sambil tersenyum menenangkan
Menghela nafasnya panjang Fahisa mengukir senyum manisnya sebelum akhirnya menggandeng tangan suaminya menuju dapur.
"Aku lapar ayo kita masak sesuatu"
Semua akan terlewati seiring dengan berjalannya waktu.
¤¤¤¤¤
Semuanya stay safe yaa♡
Sekali lagi aku mau bilang makasih sama yang masih baca cerita ini luvvv banget😆