
Salah satu hal yang dapat membuat seorang Daffa Berlian Wijaya takut adalah berada di dalam ruang persalinan untuk menemani sang istri yang akan melahirkan. Sejak pagi Fahisa merasa perutnya begitu sakit dan mulas yang menyebabkan suami serta mertuanya langsung membawa wanita itu ke rumah sakit.
Sekarang hampir jam dua belas siang dan Fahisa telah dibawa menuju ruang persalinan dengan diikuti Daffa yang dihantui rasa takut. Sebenarnya Tania sudah melarang anak itu dan mengatakan bahwa dia yang akan pergi, tapi Daffa menolak dengan mengatakan bahwa dia ingin selalu berada di sisi Fahisa apapun yang akan terjadi nantinya.
Tapi, entah itu suatu keputusan yang tepat atau bukan karena ketika memasuki ruangan keringat dingin mulai menetes di tubuh Daffa dan tangannya sedikit bergetar sorot matanya juga dipenuhi kecemasan.
'Tidak Daffa kamu harus tenang semua akan baik-baik saja hal yang sama tidak akan terulang lagi, Fahisa pasti akan baik-baik saja'
Berkali-kali Daffa menekankan kata-kata itu agar rasa takut dan cemasnya sedikit berkurang, tapi ketika perjuangan Fahisa telah dimulai Daffa merasa begitu lemas.
"Fahisa"
Berkali-kali Daffa memanggil nama itu dengan tangan yang dia biarkan Fahisa genggam dengan begitu erat, sangat erat.
"Fahisa semua akan baik-baik saja bertahanlah sayang." Kata Daffa dengan begitu pelan
Seandainya dia bisa Daffa akan pergi saja dia tidak sanggup dan fikirannya terus memikirkan hal yang dia benci.
"Mas..."
"Iya sayang aku disini suami kamu ada disamping kamu." Kata Daffa dengan wajah yang kembali dilingkupi kecemasan
Perjuangan Fahisa bukan hanya sekali, tapi setelah bayi pertama keluar masih ada satu bayi lagi yang harus diperjuangkan.
Selama berada di dalam sana dan melihat perjuangan sang istri Daffa merasa jika waktu berlalu dengan sangat lama.
Sungguh Daffa tidak akan pernah menyakiti Fahisa.
"Fahisa bertahanlah sayang demi anak kita." Kata Daffa
Saat suara tangis bayi yang kedua sudah terdengar Daffa merasa begitu lega hingga rasanya dia ingin menangis, tapi satu-satunya hal yang dia lakukan adalah menatap wajah Fahisa. Semakin merasa takut Daffa panik saat melihat tatapan sayu Fahisa yang perlahan mulai menutup.
"Fahisa? Fahisa tidak, buka mata kamu sayang." Kata Daffa sambil mempererat genggaman tangannya
Tidak lagi, jangan biarkan Fahisa pergi dari sisinya.
"Fahisa kumohon..."
Senyuman kecil dengan susah payah Fahisa bentuk dan mata yang terasa begitu berat tetap ia paksa untuk terbuka.
"Fahisa"
Semua sudah berakhir ketakutan Daffa akan segera hilang.
¤¤¤¤
Sudah berjam-jam berlalu sejak Fahisa selesai melahirkan dan Daffa masih tetap setia di ruang rawat Fahisa, menggenggam dan mengusap tangan mungil itu dengan penuh cinta. Sejak tadi Daffa sama sekali tidak beranjak dia terus menatap mata Fahisa dengan tatapan yang penuh arti.
Sedangkan Fahisa yang terus ditatap sang suami hanya bisa tersenyum dia ingin bicara, tapi tubuhnya terasa begitu lemas.
"Terima kasih Fahisa"
Suara itu akhirnya keluar dari bibir suaminya dan bersamaan dengan itu Daffa mencium punggunh tangan Fahisa berkali-kali membuat wanita itu merasa tersentak.
"Tadi aku takut sekali Fahisa, tapi melihat kamu sekarang membuat aku begitu bahagia,"
Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Fahisa dan menghangatkan hatinya.
"Terima kasih karena sudah terus berada di sisiku dan terima kasih karena sudah memberikan dua bayi mungil yang begitu lucu di keluarga kecil kita." Kata Daffa
Tatapan Daffa begitu menghanyutkan ada perasaan yang tak bisa digambarkan.
Mendengar perkataan itu membuat Fahisa hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Mas"
Memanggil dengan begitu pelan Fahisa membua Daffa langsung bertanya dengan terburu-buru.
"Ada apa sayang? Kamu butuh sesuatu? Ada yang sakit?" Tanya Daffa yang dijawab dengan gelengan kepala olehnya
"Nama?" Tanya Fahisa pelan
"Nama?" Kata Daffa dengan wajah penuh kebingungan
"Nama anak kita, siapa?" Tanya Fahisa dengan suara yang begitu pelan
"Devano dan Devina, kamu suka?" Tanya Daffa dengan senyuman yang begitu lebar
Ikut tersenyum Fahisa menganggukkan kepalanya pelan.
"Hmmm"
"Kamu tidak ingin melihat mereka?" Tanya Fahisa sambil menoleh ke tempat dimana anaknya berada
Tertawa kecil Daffa ikut mengalihkan pandangannya ke arah yang sama dimana ia dapat melihat Tania dan Sahara yang masih belum beranjak dari sana.
"Tidakkah kamu lihat sayang jika Mami dan Ara tidak memberikan celah sedikitpun bagi aku untuk melihatnya?" Tanya Daffa membuat Fahisa tertawa kecil
"Mereka sangat bahagia." Kata Fahisa dengan senyuman haru
"Bukan mereka sayang, tapi kita semua bahagia dan percayalah jika dalam hitungan menit keluargaku akan segera datang." Kata Daffa membuat senyum Fahisa semakin melebar
Di sisi lain Tania dan Sahara sedang memperhatikan anak kembar Fahisa dengan senyuman yang begitu lebar, kedua anak itu terlihat lucu. Bahkan Sahara sama sekali tidak mau mengalihkan pandangannya dari kedua adiknya.
"Omaa adiknya gendut." Kata Sahara dengan begitu bahagia
Tania hanya mengangguk dengan mata yang dipenuhi binar kebahagiaan, dia benar-benar bahagia melihat dua bayi mungil yang telah dinanti kehadirannya.
"Oma pipinya tembam sekali terus matanya sipit." Kata Sahara lagi
"Mereka sangat lucu." Kata Tania
Setelah merasa cukup puas mereka menghampiri Fahisa dan ketika sudah berada dihadapan menantunya Tania tersenyum hangat lalu mengusap lembut rambut hitamnya dengan sayang.
"Terima kasih sudah memberikan Mami cucu yang begitu lucu dan sehat." Kata Tania
Mengangguk singkat Fahisa mengalihkan pandangannya ke arah Sahara yang tersenyum bahagia dengan wajah polosnya.
"Mommy adik bayinya lucu mereka gendut Ara jadi mau cubit." Kata Sahara dengan semangat
Meminta untuk dibawa kedalam pangkuan Daffa anak itu langsung menggenggam tangan Fahisa dan mengusapnya pelan.
"Mommy adik bayinya dikasih nama siapa?" Tanya Sahara penasaran
"Mommy Ara mau cubit pipi adik bayinya boleh tidak?" Tanya Sahara lagi
Sekali lagi Daffa lebih dulu menjawab pertanyaan itu membuat Sahara menatapnya dengan kesal.
"Tidak boleh Ara." Kata Daffa
"Kenapa Daddy terus yang jawab? Ara tanya Mommy." Katanya kesal
Tertawa kecil Fahisa mengusap lembut pipi Sahara membuat anak itu langsung menatapnya dengan raut wajah penuh kebahagiaan.
"Ara senang?" Tanya Fahisa pelan
Mengangguk dengan semangat Sahara benar-benar menunjukkan betapa bahagianya dia sekarang.
"Sangat sangat senang Mommy." Jawab Sahara
"Tentu saja dia senang Fahisa karena sebentar lagi Ara akan punya teman di rumah." Kata Daffa membuat sang anak mengangguk setuju
Saat tengah asik berbincang pintu ruangan dibuka dan menampakkan Dara beserta keluarga kecilnya yang masuk dengan tidak sabaran serta senyuman yang begitu lebar.
"Mana keponakan aku?" Tanya Dara dengan penuh semangat
Sebelum melihat keponakannya yang baru saja lahir Dara lebih dulu menghampiri adik iparnya untuk menanyakaan keadaannya.
"Fahisa, bagaimana keadaan kamu?" Tanya Dara
"Baik Kak." Kata Fahisa sambil tersenyum kecil
"Apa persalinannya berjalan dengan lancar?" Tanya Dara lagi
Mengangguk singkat Fahisa membuat Dara tersenyum lega lalu dengan rasa penuh penasaran Dara menghampiri keponakanannya dan seruan langsung keluar dari bibirnya.
"Ya ampun lihat mereka lucu sekali!" Seru Dara membuat Fahisa tersenyum senang ketika mendengarnya
"Lihat Fahisa mereka sangat mirip dengan kamu itu bagus sekali kan? Mereka bahkan tidak mirip dengan Daffa." Kata Dara yang langsung mengundang kekesalan adiknya
"Apa maksud Kakak? Tentu saja mereka mirip denganku coba lihat mata dan alisnya itu seperti punyaku." Bela Daffa
"Tidak tidak mereka mirip Fahisa astaga mereka lucu sekali pipinya sangat menggemaskan." Kata Dara tanpa perduli kekesalan adiknya
Melihat hal itu Fahisa tersenyum penuh arti dia benar-benar merasa bahagia sekarang.
"Aku akan sering-sering main ke rumah kalian kalau begini, ya ampun kenapa mereka lucu sekali?" Kata Dara
"Mamah aku juga mau punya adik." Kata Gibran yang membuat keadaan hening seketika
Terlihat salah tingkah Dara membuat adiknya jadi berkeinginan untuk menggoda kakaknya yang menyebalkan itu sekarang.
"Apa kau dengar Kak? Dia ingin punya adik pasti Gibran kesepian, ya kan Gibran?" Tanya Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh anak itu
"Iya Gibran mau punya adik juga biar ada teman seperti Ara." Katanya dengan bibir mengerucut
"Wahh Kakak kalian harus melakukan sesuatu agar Gibran bisa punya adik"
Dan Dara benar-benar ingin melempar adiknya dengan sepatu tinggi yang ia kenakan.
¤¤¤¤
Dua minggu telah berlalu sejak kelahiran anak kembar Fahisa dan sekarang dia sudah mulai beraktivitas seperti biasanya meskipun ada sedikit perbedaan sekarang. Sejak melahirkan Daffa melarang Fahisa melakukan banyak pekerjaan dan meminta dia untuk fokus merawat anak mereka saja.
Hanya saja kalau membuat sarapan Fahisa ikut turun tangan, tapi mulai sekarang dia tidak lagi ikut mengantar atau menjemput Sahara ketika pulang sekolah.
Jujur saja terkadang Fahisa kewalahan merawat Vano dan Vina terutama Vina karena anak perempuannya itu sangat rewel juga mudah menangis, berbeda dengan Vano yang lebih pendiam.
"Selamat pagi kesayangannya Mommy." Kata Fahisa sambil mencium kening kedua anaknya
Melihat keduanya yang masih tertidur dengan begitu nyenyak membuat Fahisa tersenyum senang dan memperhatikan keduanya dalam diam.
"Mommy sangat tidak sabar melihat kalian tumbuh besar dan dewasa." Kata Fahisa tanpa mengurai senyumannya
"Vano kenapa kamu sangat jarang bersuara? Kamu hanya bersuara kalau menangis saja tidak seperti Vina." Kata Fahisa sambil mengusap rambut hitam anak laki-lakinya dengan sayang
"Sepertinya Vina akan sangat cerewet kalau sudah besar seperti Sahara." Kata Fahisa lagi
Saat tengah asik berbincang dengan anaknya sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya membuat Fahisa menoleh dan mendapati sang suami yang sekarang sedang menciumi pipinya.
"Mereka masih tidur." Kata Daffa dengan sebuah senyuman
"Hmm tidurnya nyenyak sekali." Kata Fahisa
"Mereka tidur larut malam tentu saja jam segini belum bangun." Kata Daffa membuat Fahisa tertawa kecil
"Sudah lapar belum?" Tanya Fahisa
"Sedikit"
"Aku akan buat sarapan dulu, Mas Daffa sini saja jagaiin anak-anak ya?" Kata Fahisa yang dijawab dengan anggukan oleh sang suami
Mencium singkat bibir suaminya Fahisa segera pergi untuk ke dapur dan membuat sarapan, tapi sebelum keluar dari kamar Daffa memanggilnya.
"Fahisa"
"Hmmm?"
"I love you"
Dan sekarang tiga kata itu tidak pernah berhenti Daffa ucapakan setiap harinya.
Tiga kata yang telah menjadi kebiasaan untuk diucapkan.
¤¤¤¤¤
Maaf yaa lamaaaa :"
Aku tuh bingung soalnya ini pertama kali hikin cerita yang kayak gini😂 Biasanya aku buat cerita tentang anak sekolahan😅
1 part lagi ending terus lanjut extra part yaaa😄
Sequelnya ditunggu yaaa😆