Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Enampuluh dua



Selama tiga hari Daffa sama sekali tidak diizinkan untuk keluar dari rumah apalagi pergi bekerja bahkan Fahisa melarang pria itu untuk keluar dari kamar. Sudah berkali-kali Daffa meyakinkan bahwa dia baik-baik saja, tapi Fahisa tetap pada pendiriannya dia mengancam akan mogok makan kalau suaminya itu tidak mau menurut.


Pagi ini Daffa sudah beraktifitas seperti biasanya dan hari ini Daffa berniat untuk mengajak keluarga kecilnya pergi ke rumah Tania guna menghabiskan waktu disana.


Tapi dibalik itu semua ada niat lain yanh telah Daffa simpan.


Dia ingin memberikan sebuah kejutan spesial untun istri cantiknya yang sedang berulang tahun.


Hari ini adalah ulang tahun Fahisa dan dia berniat untuk memberikan kejutan, tapi tentu saja sebelum itu Daffa harus menjauhkan Fahisa dari rumah.


Dia juga sudah berbagi rencana dengan anak kesayangannya.


"Mas Daffa kenapa harus kerja? Ini kan hari minggu harusnya libur." Protes Fahisa sesaat setelah suaminya itu mengatakan jika dia harus pergi ke kantor


"Ada hal penting yang harus aku lakukan Fahisa." Kata Daffa membuat istrinya itu mendengus kesal


"Tapi, kan bisa dikerjakan di hari lain lagi pula Mas Daffa baru sembuh." Kata Fahisa lagi


"Tidak bisa sayang nanti malah akan semakin menumpuk." Kata Daffa kembali memberikan alasan yang membuat istrinya mendengus kesal


Belum sempat Fahisa kembali membuka suaranya tiba-tiba dengan wajah tanpa dosanya Sahara bersuara.


"Mommy sekarang jadi cerewet ya Daddy?" Kata Sahara sambil menunjukkan cengiran tanpa dosanya


Perkataan yang begitu polos itu mengundang tawa Daffa dan tatapan tidak percaya Fahisa, tapi dalam hati Fahisa juga turut membenarkan.


Dia memang sedikit cerewet sekarang, hanya sedikit ya.


"Hey apa yang Ara baru saja katakan hmm?" Tanya Fahisa sambil mencubit pipi anaknya dengan gemas


Tertawa kecil Sahara yang berada didalam pangkuan Fahisa memeluk wanita itu dengan erat.


"Mommy sekarang cerewet." Kata Sahara lagi


Merasa gemas Fahisa menggelitiki perut Sahara membuat anak itu tertawa lepas sambil berusaha melepaskan tangan yang menggelitikinya. Sedangkan Daffa yang masih mengemudi hanya ikut tertawa melihatnya.


"Mommy sudah sudah gelii." Kata Sahara sambil tertawa


Setelah merasa puas Fahisa menghentikan tangannya lalu menangkup wajah Sahara dan mencium seluruh wajah anak itu dengan gemas.


Menyunggingkan senyumannya Sahara mencubit pipi Fahisa yang sudah semakin tembam lalu menggerakkan tangannya.


"Pipi Mommy sekarang tembam seperti punya Ara." Kata Sahara sambil menunjuk pipinya yang gembul


"Punya Ara lebih tembam." Kata Fahisa yang membuat anak itu menatapnya tidak terima


"Tidak punya Mommy lebih tembam." Kata Sahara sambil kembali mencubit pipi Fahisa


"Lihat Daddy pipi Mommy sangat kenyal seperti squishy." Kata Sahara dengan penuh semangat


Tertawa kecil Daffa begitu menikmati perjalanan mereka pagi ini yang dipenuhi dengan tawa anak dan istrinya.


Sedangkan Fahisa yang terus dicubiti pipinya menarik lepas tangan Sahara lalu menatap anak itu dengan wajah cemberutnya.


"Jangan dicubit pipi Mommy jadi sakit." Kata Fahisa membuat senyum Sahara langsung memudar


Setelah itu Sahara langsung menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Fahisa membuat wanita itu sedikit tersentak karena kaget.


"Kenapa hmm?" Tanya Fahisa sambil mengusap lembut rambut hitamnya


Menggelengkan kepalanya Sahara semakin mengeratkan pelukannya membuat Fahisa dan juga Daffa tersenyum ketika melihatnya, terkadang Sahara memang sulit ditebak.


"Mommy ayo kita makan ice cream lagi." Ajak Sahara sambil mendongakkan kepalanya


Senyuman Fahisa langsung mengembang lebar, kedengarannya itu adalah ide yang bagus.


"Ayo nanti kita akan beli ice cream." Kata Fahisa


Mendengar hal itu Sahara berseru senang berbanding terbalik dengan Daffa yang menghela nafasnya pelan. Sebenarnya dia ingin melarang, tapi dapat diyakinkan jika nantinya Fahisa malah akan membahas kecerobohannya tiga hari yang lalu.


"Daddy nanti Daddy kerjanya sampai kapan?" Tanya Sahara


"Hmm sampai malam." Jawab Daffa yang secara refleks membuat Fahisa menoleh dan menatapnya tajam


"Kenapa lama sekali?!" Kata Fahisa dengan suara yang terdengar begitu kesal


"Ada banyak pekerjaan Fahisa." Kata Daffa


"Apa Daddy akan ikut makan malam?" Tanya Sahara lagi


Mencoba untuk menahan senyumnya Daffa merasa bahagia karena rencananya untuk membuat Fahisa kesal berjalan dengan lancar.


"Tidak sayang sepertinya Daddy akan pulang sangat malam." Kata Daffa


Menatap suaminya dengan tajam Fahisa merasa semakin kesal saat Daffa malah mengabaikannya.


"Apa kita akan menginap di rumah Oma?" Tanya Sahara sekali lagi


"Tidak Ara nanti Pak Hadi yang akan menjemput kalian." Kata Daffa yang semakin membuat istrinya menatap dengan pandangan penuh protes


"Kenapa tidak bilang kalau akan sampai malam? Kalau tau begitu aku kan bisa bawakan bekal." Kata Fahisa dengan penuh kekesalan


"Tidak perlu sayang aku bisa memesan makanan saja nanti." Kata Daffa yang semakin membuat istrinya cemberut


"Makan apa?! Makan udang lagi terus sakit lagi?!" Ketus Fahisa


Di tempatnya Sahara hanya menatap Fahisa dengan bingung, sepertinya ini kali pertama dia melihat kekesalan Fahisa.


"Mommy jangan marah." Kata Daffa membuat Fahisa memelototkan matanya


"Iya Mommy jangan marah." Kata Sahara juga


Dan Fahisa hanya bisa menghela nafasnya pelan.


"Aku tidak marah!"


Tertawa kecil Sahara kembali memeluk Fahisa.


"Mommy lucu kalau lagi marah"


Anak dan Ayah memang sama.


¤¤¤¤


Seharian ini Fahisa sama sekali tidak bisa diam berkali-kali dia terus menelpon Daffa ketika sudah waktu makan siang, tapi suaminya itu sama sekali tidak mengangkat telpon. Saat ini Fahisa jadi tidak memiliki nafsu untuk makan dia sangat kesal karena talponnya tidak diangkat, masa tidak sempat untuk mengangkat telpon.


Sejak tadi Fahisa terus memakan es batu entah sudah berapa banyak yang dia makan. Ketika mertuanya mengajak untuk makan siang Fahisa nampak tidak memiliki semangat untuk makan.


"Fahisa dimakan." Kata Tania ketika melihat jika menantunya itu hanya mengacak-ngacak piringnya


"Fahisa bukankah kamu hari ini ulang tahun? Kenapa terlihat begitu tidak bersemangat?" Tanya Tania membuat menantunya itu langsung menatapnya


Ahh dia bahkan sampai lupa kalau dia hari ini berulang tahun.


Tapi, mengingat kenyataan itu malah semakin membuat mood Fahisa berantakan.


Bahkan suaminya sama sekali tidak ingat dan sekarang malah sibuk dengan pekerjaannya.


"Hmm tidak papa Mi." Kata Fahisa sambil tersenyum seadanya


"Mommy ulang tahun? Wahh kalau begitu kita harus jalan-jalan lalu beli kue." Kata Sahara dengan semangat


Anak itu benar-benar pandai berakting dia sangat menurut dengan perkataan Daddy nya.


"Mau jalan-jalan? Mami akan ikuti kemauan kamu sekarang." Kata Tania menawarkan sesuatu yang bisa membuat menantunya itu bahagia


"Mommy selamat ulang tahun nanti kita akan makan ice cream sama-sama." Tambah Sahara dengan senyum manisnya


Bukan menjawab Fahisa malah diam entah kenapa tiba-tiba dia jadi ingin menangis. Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah menerima sebuah ucapan selamat ulang tahun dan sudah bertahun-tahun hari spesial ini dia lalui tanpa saudara kembarnya.


Fahisa sangat merindukan moment bersama Fanesa dan juga bersama keluarganya.


Fahisa begitu rindu hingga tanpa sadar air matanya jatuh.


"Fahisa"


Menghapus air matanya Fahisa mendongak dan tersenyum kecil.


"Ada apa sayang?" Tanya Tania yang cukup terkejut dengan tangisan menantunya


Menggelengkan kepalanya air mata Fahisa malah semakin deras membuat Tania dan Sahara menatapnya dengan cemas.


Menghampiri menantunya Tania membawanya kedalam pelukan lalu mengusap rambutnya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.


"Ada apa Fahisa?" Tanya Tania


Terus menggelengkan kepalanya isakan Fahisa mulai terdengar membuat Sahara juga ikut merasakan kesedihan.


"Mommy kenapa menangis?" Tanya Sahara dengan wajah yang tampak begitu sedih


Terus menangis untuk waktu yang cukup lama Fahisa menguraikan pelukan yang diberian oleh mertuanya lalu menghapus air mata yang mengalir dipipinya sambil tersenyum sendu.


Dia tidak mau mengatakan apapun tentang tangisannya.


Jadi yang Fahisa lakukan malah mengajak mereka untuk pergi keluar.


"Mami aku mau makan ice cream di kedai yang biasanya." Kata Fahisa


Tersenyum penuh arti Tania hanya menganggukkan kepalanya.


"Yasudah ayo siap-siap dulu." Kata Tania sambil berlalu pergi


Sedangkan Sahara anak itu masih diam sambil menatap Fahisa lalu tanpa permisi memeluknya dengan erat.


"Mommy kenapa menangis?" Tanya Sahara dengan wajah sedihnya


"Tidak papa sayang." Kata Fahisa


"Pasti karena Daddy ya? Ara tidak mau mengikuti perkataan Daddy lagi." Kata Sahara


"Memang Daddy mengatakan apa?" Tanya Fahisa penasaran


"Daddy bilang...."


"Fahisa ayo kita pergi"


Rahasia Daffa masih aman terjaga.


¤¤¤¤


Persiapan kejutan ulang tahun untuk Fahisa sudah selesai sepenuhnya dan sekarang Pak Hadi sudah dalam perjalanan untuk menjemput Fahisa. Senyum manis Daffa mengembang saat dia membayangkan raut wajah bahagia istrinya, dia berharap Fahisa akan selalu bahagia bersamanya.


Saat ini sudah ada keluarga besar Wijaya yang hadir kecuali Tania karena wanita itu masih bersama Fahisa dan Sahara di rumah. Sekitar dua puluh lima menit di perjalanan suara mobil yang berhenti membuat senyum Daffa langsung mengembanh dan dengan segera seluruh lampu langsung dimatikan.


Ceklek


Suara pintu yang terbuka terdengar bersamaan dengan suara Fahisa yang bertanya tentang keadaan rumah yang begitu gelap.


"Mami kenapa gelap sekali?" Tanya Fahisa dengan nada yang terdengar begitu takut


Belum sempat ada jawaban seluruh lampu langsung dihidupkan dan Fahisa dapat melihat dekorasi yang begitu indah dengan suaminya yang berjalan mendekat sambil membawa sebuket bunga. Di belakang sana sudah ada keluarga besar suaminya yang menatap Fahisa dengan senyum penuh kebahagiaan.


Melihat hal itu membuat Fahisa berkaca-kaca, dia merasa begitu dicintai dan dihargai.


"Selamat ulang tahun istriku sayang"


Sebuah kalimat itu telah berhasil memecahkan tangisan Fahisa, dia merasa sangat bahagia.


Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya Fahisa kembali merasakan kasih sayang dan rasa cinta yang begitu dalam.


Dadanya terasa sesak bayangan saudara kembarnya dan keluarganya berputar-putar diingatannya.


Fahisa rindu sangat rindu.


Isakannya terdengar begitu keras membuat Daffa merasa cemas dan langsung membawa wanita itu kedalam pelukannya.


"Ada apa Fahisa? Kenapa menangis hmm? Apa aku salah? Kamu marah? Maaf jangan menangis." Kata Daffa sambil mengusap lembut rambut hitamnya


Fahisa tidak menjawab dia masih terus menangis bahkan isakannya semakin kuat membuat orang-orang yang ada disana terlihat ikut merasakan kesedihan.


"Fahisa jangan menangis aku minta maaf kalau sudah membuat kamu sedih"


Menggelengkan kepalanya Fahisa yang masih terisak dengan penuh terbata-bata mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Daffa tersenyum.


"Terima kasih.... Mas Daffa.... terima kasih"


"Tidak perlu berterima kasih sayang." Kata Daffa sambil menguraikan pelukannya lalu menghapur air mata yang mengalir itu dengan lembut


Nafasnya terengah-engah karena isakan dan dengan suara yang begitu pelan Fahisa kembali berbicara.


"Aku sayang Mas Daffa"


Dan Fahisa kembali memeluk suaminya itu dengan begitu erat.


¤¤¤¤¤