
Sejak pertama pulang dari liburan Daffa memang sangat sibuk dengan pekerjaannya, tapi tiga hari belakangan ini Fahisa merasa jika suaminya itu terlalu sibuk dan cenderung cuek kepadanya. Sering sekali Daffa mengabaikan pesan atau telponnya dan suaminya itu juga sering pulang malam parahnya lagi saat malam sudah larut dia masih bermain ponselnya.
Tentu saja hal itu membuat Fahisa kesal, tapi ketika dia bertanya Daffa hanya menjawab jika itu semua adalah pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Padahal tidak pernah sekalipun Daffa melakukannya bahkan Fahisa harus kebingungan mencari alasan ketika Sahara merengek karena Daffa yang tidak ikut makan malam tiga hari belakangan.
Pagi ini Fahisa sudah berniat untuk menanyakan semuanya kepada Daffa karena dia sudah sangat kesal. Bagaimana bisa Daffa jadi secuek ini?
Fahisa kesepian karena tidak ada yang mengganggunya.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi yang dibuka membuat Fahisa mendongak dan menatap Daffa yang baru saja selesai mandi. Tanpa fikir panjang Fahisa langsung menghampiri suaminya dan ketika mereka sudah berhadapan Daffa menatapnya dengan alis bertaut.
"Ada apa Fahisa?" Tanya Daffa yang sekarang sedang mengeringkan rambutnya
"Aku mau bicara sama Mas Daffa!" Kata Fahisa dengan sedikit kekesalan yang masih ia pendam
"Bicara apa? Katakan saja akan aku dengarkan." Kata Daffa sambil berusaha bersikap tenang
Dia tau apa yang akan dibicarakan oleh Fahisa dan dia juga tau jika istrinya itu pasti sangat kesal dengannya.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa Mas Daffa cuekin aku? Kenapa Mas Daffa sering pulang malam terus kalau pulang masih sering main hp? Kenapa Mas Daffa jadi berubah?" Tanya Fahisa dalam satu kali tarikan nafas
Berdeham pelan Daffa mengalihkan pandangannya lalu berusaha untuk menahan tawanya dan setelah dirasa cukup tenang Daffa kembali menatap istrinya.
Kemudian menjawab dengan begitu santainya.
"Aku tidak berubah Hisa itu hanya perasaan kamu dan aku pulang malam juga karena pekerjaan kan?" Kata Daffa
"Tapi...."
"Fahisa aku bekerja bukan untuk main-main dan belakangan ini pekerjaanku memang sangat banyak kamu kan tau aku meninggalkan kantor selama satu minggu." Kata Daffa membuat Fahisa terdiam
Suaminya memang mengatakan dengan suara biasa, tapi Fahisa merasa sedih ketika mendengarnya. Iya, dia tau kalau Daffa meninggalkan kantor selama satu minggu, tapi masa iya suaminya itu tidak bisa membalas sebuah pesan.
Paling tidak kan dia membalas satu kali maka Fahisa tidak akan merasa seperti ini.
"Kamu marah hmm? Jangan seperti anak kecil Fahisa aku tidak akan macam-macam." Kata Daffa sambil menatap istrinya yang sekarang sedang menunduk
Jadi dia seperti anak kecil ya?
Setelah mendengar perkataan Daffa akhirnya Fahisa pergi tanpa mengatakan apapun membuat Daffa yang melihatnya jadi merasa sedikit keterlaluan. Wajah Fahisa terlihat begitu sedih dan perkataan Daffa pasti malah semakin membuatnya sedih, tapi ini semua hanya sampai besok.
Karena besok adalah hari ulang tahun pernikahan mereka.
¤¤¤¤
Setelah Daffa berangkat bekerja dan Sahara yang berangkat ke sekolah barunya Fahisa berada di rumah sendirian, dia termenung sambil mengingat setiap perkataan suaminya. Entahlah Fahisa merasa sakit hati ketika mendengarnya padahal Daffa mengatakan hal yang benar, memang Fahisa saja yang kurang pengertian.
Harusnya Fahisa tau jika suaminya itu adalah seorang pimimpin perusahaan yang pastinya memiliki banyak pekerjaan apalagi seminggu lalu Daffa tidak pergi bekerja. Hanya saja Fahisa masih tidak terima dikatakan seperti anak kecil padahal kan dia hanya khawatir selain itu dia juga curiga karena hingga malam semakin larut Daffa masih memainkan ponselnya.
"Fahisa! Sudah sudah jangan difikirkan! Lupakan! Kamu baru pergi liburan kenapa malah jadi banyak fikiran?" Kata Fahisa kepada dirinya sendiri
Saat akan pergi menonton tv Fahisa yang baru saja bangun dari duduknya merasa begitu mual dan dengan segera Fahisa menuju kamar mandi lalu memuntahkan semua sarapan yang telah dimakannya. Berpegangan pada dinding kamar mandi Fahisa merasa sedikit pusing dan masih merasa sangat mual bahkan sekarang perutnya terasa sedikit nyeri.
Fahisa membasuh wajahnya setelah dia merasa lebih baik lalu memandang wajahnya di cermin. Meringis pelan Fahisa kembali merasa nyeri setelah dia berdiri dengan tegak.
Tokk tokk tokk
"Nyonya? Apa nyonya baik-baik saja?" Tanya seseorang di balik pintu kamar mandi
Mungkin dia mendengar suara Fahisa, tapi sekarang dia sudah lebih baik meskipun masih sedikit mual.
Ceklek
"Aku baik-baik saja Bi hanya merasa sedikit pusing." Kata Fahisa sambil tersenyum pelan
"Benar nyonya? Apa perlu saya telpon tuan Daffa?" Tanya Santi lagi
Berdecak kesal Fahisa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ngapain nelpon Mas Daffa? Aku gak papa Bi." Kata Fahisa lagi
Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa berlalu meninggalkan Santi yang masih terus mengikutinya, tapi saat baru sampai di meja makan Fahisa berbalik dan meminta sesuatu.
"Bi kita punya semangka gak di kulkas?" Tanya Fahisa
"Punya nyonya." Kata Santi membuat senyum Fahisa langsung mengembang
"Aku mau dong Bi bawaiin ke kamar ya?" Kata Fahisa dengan semangat
Mengangguk patuh Santi langsung bergegas ke dapur dan mengambilkan apa yang diminta oleh majikannya. Tersenyum senang Fahisa kembali melangkahkan kakinya menuju kamar, tapi saat dia menaiki satu anak tangga tiba-tiba saja perutnya kembali terasa nyeri membuat Fahisa meringis sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Aduhh kenapa sakit banget sih? Apa aku salah makan ya?" Tanya Fahisa kepada dirinya sendiri
Cukup lama rasa nyeri itu hadir dan ketika sudah tak begitu terasa Fahisa kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Beberapa menit kemudian Santi datang sambil membawa sepiring semangka yang dia minta membuat senyum Fahisa kembali mengembang dengan begitu lebar.
"Ini nyonya kalau butuh sesuatu nyonya bisa panggil saya." Kata Santi
"Iya terima kasih ya Bi." Kata Fahisa yang sekarang sedang menyantap semangka dengan begitu lahap
Rasanya benar-benar menyegarkan di tenggorokan dan Fahisa benar-benar menghabiskan sepiring semangka yang di bawa oleh Santi tanpa tersisa. Saat ingin membawa piringnya ke dapur Fahisa tanpa sengaja melirik kalender yang ada di nakas dan tiba-tiba saja dia teringat sesuatu.
Apa mungkin?
¤¤¤¤
Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama dan seperti yang sudah Daffa rencanakan sebelumnya dia akan mengajak keluarganya ke rumah Tania seharian. Selama perjalanan Daffa sedikit merasa aneh dengan sikap Fahisa yang terlihat lebih ceria dari sebelum-sebelumnya dan bukan hanya itu Fahisa juga terlihat begitu bersemangat dari hari-hari sebelumnya.
Sekarang saja ketika dalam perjalanan Fahisa dan Sahara terus bercanda dan memenuhi mobil dengan suara tawa keduanya. Melihat hal itu tentu saja Daffa bahagia, tapi dia juga penasaran apa yang membuat Fahisa begitu bahagia padahal kemarin istrinya itu selalu cemberut?
"Coba Mommy seperti ini." Kata Sahara sambil menggembungkan pipinya dan membuat bibirnya mengerucut
"Seperti ini?" Kata Fahisa sambil meniru Sahara membuat anak itu terawa dan menusuk-nusuk pipi Fahisa dengan jari telunjuknya
"Mommy lucu sekali." Kata Sahara sambil mencubiti pipi Fahisa
"Anak Mommy juga lucu." Kata Fahisa sambil memeluk Sahara yang duduk dipangkuannya dan mencium puncak kepalanya penuh kasih sayang
"Mommy besok malam ada pameran kita kesana ya? Nanti ada rumah hantu." Kata Sahara dengan semangat
"Memang Ara tidak takut? Nanti hantunya mengejar Ara." Kata Fahisa menakut-nakuti dengan wajah seriusnya
"Tidak, kan hantunya cuman bohongan kakinya saja menyentuh lantai berarti dia bukan hantu." Kata Sahara membuat Fahisa tersenyum ketika mendengarnya
"Pintar sekali." Kata Fahisa
"Apa Daddy tidak diajak?" Tanya Daffa tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jalan raya
Tersenyum lebar Fahisa mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu kepada Sahara.
"Emmm sama Daddy juga nanti kita naik mainan banyak terus beli jajanan." Kata Sahara
Selanjutnya perjalanan mereka kembali dihiasi dengan obrolan juga canda tawa Fahisa dan Sahara.
Mereka terlihat begitu bahagia.