Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Tigapuluh satu



Malam ini tiba-tiba saja Fahisa ingin memakan sesuatu dia berniat untuk memintanya pada Daffa, tapi suaminya itu sedang tertidur dengan sangat pulas membuat Fahisa jadi tidak tega untuk membangunkannya. Akhirnya Fahisa memutuskan untuk pergi sendiri dia ingin sekali memakan nasi goreng yang di jual di depan kompleks perumahan, untungnya jaraknya tidak terlalu jauh.


Melepaskan pelukan Daffa dari tubuhnya Fahisa segera turun dari tempat tidur dan mengambil jaket di dalam lemari lalu perlahan-lahan melangkahkan kakinya keluar. Dalam hati Fahisa berdo'a semoga suaminya tidak bangun sampai dia pulang lagi ke rumah, dia tidak mau lagi dimarahi.


Iya, Daffa pernah memarahi Fahisa habis-habisan karena malam-malam dia menghilang dan saat itu Fahisa juga sedang membeli makanan di depan kompleks perumahan.


Fahisa juga mengerti alasan suaminya marah jadi dia langsung meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya, tapi sekarang dia ingkar janji.


Tapi, Fahisa sangat ingin makan nasi goreng disana dan dia tidak tega untuk membangunkan Daffa yang sangat nyenyak dalam tidurnya.


Fahisa janji ini yang terakhir kali.


Saat keluar dari rumah hawa dingin mulai menyambut Fahisa meskipun dia sudah memakai jaket yang cukup tebal. Perlahan-lahan Fahisa mulai melangkahkan kakinya dan ketika dia sudah sampai pos satpam senyumnya langsung merekah melihat warung nasi goreng kesukaannya masih buka.


Mempercepat langkahnya Fahisa dengan berhati-hati menyebrang dan langsung memesan seporsi nasi goreng untuk dia bawa pulang. Sedangkan itu di dalam rumah Daffa dibuat panik karena tidak menemukan Fahisa di sampingnya dan juga di seluruh area rumah, menghela nafasnya kasar Daffa ingin mencoba untuk menelfon, tapi ternyata ponsel Fahisa ada di rumah.


Akhirnya dia bergegas keluar rumah untuk mencari Fahisa dan satu-satunya tempat yang ada difikiran Daffa adalah warung makan depan kompleks perumahan.


Fahisa tidak bisa membawa mobil dan di rumah Daffa tidak menyediakan motor jadi istrinya itu tidak akan pergi jauh-jauh dari kompleks perumahan. Namun, tetap saja Daffa panik ini sudah malam dan istrinya yang sedang hamil malah pergi keluar sendirian.


Apa Fahisa tidak mengerti kalau dia sangat takut jika terjadi sesuatu dengan Fahisa dan kandungannya?


Baru saja membuka pagar Daffa sudah melihat Fahisa yang sedang berjalan sambil menenteng plastik berisi nasi goreng yang dibelinya. Berjalan dengan pelan Fahisa yang menggunakan baju tidur kebesaran dan jaket yang sama besarnya sedang jalan seorang diri membuat Daffa menggelengkan kepalanya, istrinya terlihat sangat lucu dan menyebalkan.


"Kenapa aku tidak bisa marah sih saat sudah lihat wajah lucunya itu?" Batin Daffa kesal


Tanpa sadar Fahisa mendongak dan dia melotot mendapati Daffa yang sudah berada di depan pagar dan menatap ke arahnya. Meskipun merasa takut, tapi Fahisa tetap mendekat dan malah memasang cengirannya ketika mereka berhadapan.


"Dari mana Fahisa?" Tanya Daffa


Fahisa mengangkat plastik hitam yang dia bawa dan tersenyum senang membuat Daffa jadi tidak tega untuk memarahinya.


Sial, senyuman Fahisa adalah kelemahannya.


"Beli nasi goreng, yuk makan sama aku." Kata Fahisa sambil tersenyum lebar hingga menampakkan lesung pipitnya


Berjalan mendahului suaminya Fahisa menghela nafasnya panjang berusaha untuk bersikap biasa saja meskipun dia tau jika suaminya itu sedang menahan kekesalan.


"Kamu menangis saja kalau Daffa memarahi kamu, nanti dia tidak akan jadi marah, kelemahan Daffa itu air mata orang yang dia sayang"


Perkataan Mami beberapa waktu lalu terngiang ditelinganya dan Fahisa mengangguk pelan, dia akan mencobanya kalau Daffa memarahinya nanti.


Tapi, ternyata Daffa sama sekali tidak marah dia hanya diam sambil menatap Fahisa yang sedang menyantap nasi gorengnya dengan lahap.


Tidak bertanya apapun, tapi hal itu malah membuat Fahisa jadi curiga.


"Mas Daffa mau?" Tawar Fahisa


Menggelengkan kepalanya pelan Daffa beranjak dari tempat duduknya untuk mengambilkan minum dan memberikannya kepada Fahisa.


"Makasih Mas." Kata Fahisa sambil tersenyum manis


Daffa benar-benar tidak bisa marah kepada Fahisa sekarang karena melihat wajah bahagianya ketika berhasil mendapatkan apa yang dia idamkan. Setelah selesai memakan nasi gorengnya Fahisa yang hendak menaruh piring kotor berhenti karena Daffa yang menahan tangannya dan menyuruhnya untuk kembali duduk.


"Kamu mau aku dimarahin sama Mami karena udah ngebiarin menantunya yang lagi hamil ini keluar malam-malam untuk nyari makan sendirian?" Tanya Daffa membuat Fahisa langsung mendongak dan menggelengkan kepalanya cepat


Tersenyum lebar tangan Daffa terulur untuk mengusap lembut rambut hitam Fahisa.


"Aku gak mau kamu kenapa-kenapa Fahisa jadi jangan kemana-mana sendirian apalagi malam-malam." Kata Daffa


Mendengar hal itu Fahisa malah jadi ingin menangis dan benar saja setelahnya Daffa malah mendengar isakan istrinya membuat dia menghela nafasnya pelan.


"Maafin Hisa"


Mendekatkan kursinya Daffa membawa Fahisa kedalam pelukannya dan mengusap rambut hitam itu dengan lembut. Semenjak hamil Fahisa memang jadi mudah menangis dan merajuk membuat Daffa terkadang bingung sendiri.


"Kenapa nangis hmm? Aku tidak marah hanya mengingatkan saja supaya lain kali kamu jangan begini, kamu harus tau kalau aku takut sekali karena tidak menemukan kamu di dalam rumah." Kata Daffa dengan lembut dan penuh pengertian


"Emm janji ini yang terakhir, aku cuman gak tega mau bangunin Mas Daffa." Cicit Fahisa


Menangkup wajah istrinya Daffa mencium kening Fahisa cukup lama kemudian mengusap pipinya dengan lembut.


"Jangan pernah ada fikiran seperti itu Fahisa, aku tidak masalah kalau kamu bangunkan jangan sungkan untuk meminta sesuatu sama aku Fahisa." Kata Daffa


"Emm aku janji." Kata Fahisa sambil merain tangan Daffa dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari suaminya


Tersenyum senang Daffa mengusap puncak kepala Fahisa dengan sayang.


"Istri pintar"


¤¤¤¤


Selama masa kehamilannya Fahisa yang memang jadi sedikit lebih manja selalu tidur dalam pelukan suaminya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Daffa. Kebiasaan baru Fahisa itu membuat Daffa senang apalagi terkadang istrinya itu menciumnya ketika bangun tidur membuat Daffa jadi semakin bahagia.


Sekarang Fahisa tidak pernah lagi membuat sarapan karena Daffa sudah mempekerjakan Bi Santi untuk memasak, tapi sesekali ketika istrinya meminta Daffa akan memasak untuk sarapan. Masalah vitamin Fahisa selalu meminumnya tanpa di ingatkan hanya saja untuk susu dia sama sekali tidak mau minum.


Pagi ini Daffa terbangun lebih dulu dan sejak tadi dia memperhatikan wajah Fahisa yang sedang tertidur, senyumnya terukir. Wajah manis dengan lesung pipit itu benar-benar membuat Daffa jatuh cinta dia bahkan tidak bisa marah ketika mata mereka telah bertemu.


Perlahan-lahan Daffa menundukkan wajahnya lalu mencium setiap bagian wajah istrinya dan berhenti lama di bibir mungil yang sekarang sudah sering bersuara.


"Ehhmm"


Gumaman Fahisa membuat Daffa menjauhkan diri dan ketika mata istrinya itu terbuka Daffa tersenyum.


"Apa sudah siang? Apa aku kesiangan?" Tanya Fahisa panik dia belum membangunkan Sahara dan membantunya untuk bersiap ke sekolah


"Masih pagi Hisa." Kata Daffa membuat Fahisa merasa sedikit lega


"Aku mau mandi dulu." Kata Fahisa sambil berusaha melepaskan pelukannya


Tapi, suaminya itu malah mendekapnya dengan semakin erat kemudian berbisik.


"Ayo kita mandi"