Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Limapuluh dua



Memandangi kotak yang berada ditangannya Daffa merasa jantungnya berdetak dengan begitu cepat, dia begitu penasaran akan isinya. Pelukan Fahisa pada tubuhnya juga semakin mengerat dan setelah helaan nafas yang ia keluarkan Daffa membuka hadiah yang sudah istrinya berikan kepadanya.


Keningnya berkerut ketika melihat benda yang sudah tidak asing diingatannya, sebuah testpack. Cukup lama Daffa berusaha mencerna apa yang sedang dilihatnya dan dengan raut wajah penuh kebahagiaan Daffa melepaskan pelukannya lalu menatap istrinya yang sekarang sedang menundukkan wajahnya.


"Fahisa"


Mendongakkan wajahnya Fahisa dapat melihat dengan jelas wajah penuh kebahagiaan milik suaminya dan hal itu membuat Fahisa tersenyum manis lalu mengecup singakt bibir suaminya.


Kemudian berbisik pelan.


"Halo Daddy Daffa"


Tertawa kecil Daffa menangkup kedua wajah Fahisa.


"Apa ini serius? Ini semua nyata kan Fahisa?" Tanya Daffa


Fahisa mengangguk dengan senyuman manisnya membuat Daffa tersenyum dengan begitu lebar lalu mencium seluruh wajah Fahisa dan berhenti lama di bibir merah muda milik istrinya.


"I love you Fahisa." Kata Daffa sambil mencium istrinya dengan begitu lembut


Menyalurkan rasa bahagianya Daffa mencium Fahisa dengan sangat lama hingga membuat istrinya itu kehabisan nafas dan memukul-mukul dada bidang Daffa. Setelah ciuman itu terlepas Fahisa terengah dia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan Daffa yang memang merasa begitu bahagia kembali memeluk Fahisa dengan sangat erat.


"I love you Fahisa! Aku cinta sekali sama kamu." Kata Daffa membuat Fahisa tersenyum mendengarnya


"Aku bahagia untuk pernikahan kita Fahisa dan aku bahagia dengan kehadiran kamu, i love you." Kata Daffa lagi


Membalas pelukan suaminya Fahisa merasa begitu bahagia, kebahagiaan kembali datang kepada mereka dan Fahisa berharap kebahagiaan ini tidak akan berakhir seperti dulu lagi.


"Aku juga cinta sama Mas Daffa terima kasih karena sudah hadir dalam hidup aku." Kata Fahisa


Melepaskan pelukannya Daffa mengajak Fahisa untuk duduk di tepian ranjang dan menanyakan hal yang sangat ingin dia tanyakan.


"Sejak kapan? Kenapa kamu tidak memberitau aku Hisa?" Tanya Daffa


"Aku baru tau kemarin Mas dan aku memang sengaja untuk memberitaukan sekarang, selain itu aku juga kesal karena Mas Daffa cuekin aku." Kata Fahisa sambil mengerucutkan bibirnya


"Kalau begitu besok kita akan pergi ke dokter dan besok kita akan beritau Mami juga Sahara mereka pasti sangat senang." Kata Daffa yang langsung diangguki dengan semangat oleh istrinya


"Mas Daffa tadi pagi perut aku nyeri sekali, tapi hanya sebentar." Adu Fahisa sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Daffa


Mulai sekarang Fahisa akan menyampaikan semua keluhannya dan dia tidak akan lagi menyembunyikan perasaan ataupun prasangkanya, Fahisa akan berbicara apa yang ingin dia bicarakan.


Mengusap rambut hitam Fahisa dengan penuh kasih sayang Daffa menciumnya berkali-kali dan dia berusaha meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja.


"Besok kita akan ke dokter Fahisa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk dan kita akan sama-sama menjaga anak kita di dalam sana." Kata Daffa sambil mengusap lembut perut rata Fahisa


"Dia pasti bahagia punya Daddy seperti Mas Daffa." Kata Fahisa membuat suaminya itu tertawa kecil


"Dia bahagia karena dia punya kita Fahisa." Kata Daffa


Setelah mengatakan hal itu Daffa langsung mengajak Fahisa untuk beristirahat dan keduanya langsung berbaring di ranjang, tidak lupa Daffa menarik selimut untuk membuat istrinya merasa lebih hangat. Mendekatkan tubuhnya Fahisa memeluk Daffa dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya lalu mulai memejamkan matanya.


Mengusap lembut rambut hitam istrinya Daffa masih belum pergi tidur dia masih setia memanjakan Fahisa dan tersenyum bahagia. Rasanya ada yang ingin meledak di dalam hatinya, dia sangat bahagia.


Dia tidak percaya jika sekali lagi Tuhan mengizinkannya untuk memiliki seorang anak dan kali ini Daffa berjanji tidak akan pernah meninggalkan Fahisa lagi.


"Mas Daffa aku mau minta sesuatu boleh." Kata Fahisa


"Apapun yang kamu minta akan aku turuti Fahisa." Kata Daffa membuat Fahisa tersenyum senang


Mendongakkan kepalanya Fahisa menatap Daffa sambil tersenyum manis dan sebelum mengatakan keinginannya Fahisa menghela nafasnya panjang.


"Besok sebelum ke rumah sakit aku mau ke makam anak kita." Kata Fahisa membuat Daffa terdiam untuk sesaat


Tadinya Fahisa pikir Daffa tidak akan menuruti keinginannya karena pria itu hanya diam, tapi saat suaminya itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum Fahisa merasa begitu lega.


"Kita akan menjenguk anak kita"


¤¤¤¤


Ada sedikit rasa takut di hati Daffa dulu, dia takut jika Fahisa memang benar-benar tidak bisa hamil lagi. Sebenarnya dia tidak masalah hanya saja Daffa selalu memikirkan tentang Fahisa yang mungkin saja tidak bisa menerima kenyataan itu, Fahisa seorang perempuan dan dia tau jika Fahisa juga ingin menjadi seorang ibu.


Memang mereka sudah punya Sahara, tapi sekali lagi Daffa yakin jika istrinya juga pasti ingin memiliki seorang anak yang dia kandung sendiri dan dia besarkan sejak bayi. Semua yang dia fikirkan adalah untuk Fahisa dan sekarang Daffa benar-benar bahagia mengetahui istrinya tengah mengandung.


Dia sangat ingat jika dokter pernah mengatakan bahwa ketika Fahisa hamil lagi nanti maka kandungannya akan lemah, tapi Daffa yakin jika mereka akan bisa melewati semuanya dan anak yang dikandung Fahisa pasti akan bisa melihat dunia.


Tuhan telah memberinya kesempatan dan Daffa tidak akan menyia-nyiakan semuanya.


Bagaimanapun juga Daffa akan selalu menjaga Fahisa disisinya.


Mengusap lembut pipi istrinya Daffa yang terbangun sejak tadi sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik istrinya. Mendekatkan wajahnya dengan hati-hati Daffa mencium kening strinya dan perbuatan itu membuat Fahisa membuka matanya perlahan.


"Selamat pagi sayang." Kata Daffa saat melihat istrinya yang sekarang sudah membuka matanya


Tersenyum manis Fahisa kembali memejamkan mata dan menyandarkan wajahnya ke dada bidang Daffa, enggan untuk bangun dari tidurnya.


"Masih mengantuk?" Tanya Daffa sambil mengusap lembut rambut hitamnya


"Hmm masih mau tidur sambil peluk Mas Daffa." Kata Fahisa sambil mengeratkan pelukannya


"Kalau begitu tidurlah sebentar lagi." Kata Daffa


Kembali memejamkan matanya Fahisa tidak kembali tertidur, tapi dia hanya menikmati kebersamaan ini bersama suaminya. Sampai akhirnya perutnya berbunyi karena lapar dan Fahisa langsung mendongak menatap Daffa yang sedang tersenyum geli.


"Sudah lapar hmm? Kamu mau makan sesuatu?" Tanya Daffa yang langsung diangguki oleh Fahisa


"Mas Daffa aku mau makan bubur yamg dijual didepan kompleks." Kata Fahisa sambil tersenyum lebar


Merasa gemas Daffa sedikit menundukkan wajahnya lalu mengecup singkat bibir istrinya.


"Mau makan di rumah atau makan disana?" Tanya Daffa sambil mengusap pipi Fahisa dengan lembut


"Kamu yakin?" Tanya Daffa yang membuat istrinya itu langsung cemberut


"Kenapa? Mas Daffa tidak mau ya?" Tanya Fahisa sedih


Melihat wajah sedih Fahisa membuat Daffa langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Bukan begitu sayang, tentu saja aku mau kalau begitu sekarang kita cuci muka dulu hmm?" Kata Daffa membuat Fahisa tersenyum senang dan mengangguk dengan semangat


Selesai membasuh muka Daffa langsung mengambilkan jaket untuk Fahisa dan memakaikannya supaya istrinya itu tidak merasa kedinginan. Sedangkan dia sendiri hanya menggunakan kaos hitam dan celana selutut layaknya seorang anak muda.


Menggenggam erat tangan istrinya mereka berdua langsung menuju depan kompleks perumahan yang jaraknya tidak terlalu jauh. Selama perjalanan Fahisa tersenyum dengan begitu lebar dan sesekali dia mengeratkan genggaman tangannya lalu menyandarkan kepalanya di lengan Daffa.


"Mas Daffa pernah makan disana gak sebelumnya?" Tanya Fahisa


"Pernah Ara suka sekali makan disana." Kata Daffa membuat senyum Fahisa semakin mengembang


"Wahhh aku jadi semakin tidak sabar." Kata Fahisa sambil mempercepat langkahnya membuat Daffa tertawa kecil


Saat sudah dekat mereka dapat melihat bahwa disana cukup ramai dengan pembeli, tapi hal itu malah semakin membuat Fahisa merasa semangat. Pasti sangat enak makanya ramai sekali.


"Kamu yakin? Apa tidak papa ramai begitu?" Tanya Daffa


"Hmm tidak papa." Kata Fahisa


Dan Daffa tidak punya pilihan lain selain menurut.


¤¤¤¤


Sekitar satu jam keduanya baru kembali lagi ke rumah dan sekarang mereka sedang bersiap untuk pergi ke dokter. Saat makan bubur di depan kompleks perumahan tadi Fahisa sangat senang dia bahkan sampai memakan dua piring dan tentu saja hal itu membuat Daffa merasa bahagia.


Cukup lama bersiap akhirnya sekarang keduanya sedang berada dalam perjalanan dan tujuan pertama mereka sebelum rumah sakit adalah makam anak mereka. Selama perjalanan Fahisa menghela nafasnya berkali-kali semua memang keinginannya, tapi tiba-tiba saja Fahisa merasa begitu sesak ketika setiap detik mereka semakin dekat untuk sampai di area pemakaman.


"Kamu tidak papa Fahisa? Apa kita perlu berbalik arah?" Tanya Daffa saat melihat Fahisa yang sedikit berbeda


"Aku baik-baik saja Mas hanya saja aku merasa sedikit sesak, rasanya masih sedikit sakit ketika mengingat semuanya." Kata Fahisa


"Tidak perlu dipaksakan Fahisa kita bisa kesini lain waktu saja." Kata Daffa


"Tidak, hanya sebentar saja Mas aku janji." Kata Fahisa membuat Daffa menghela nafasnya pelan lalu mengangguk ragu


Saat sampai di area pemakaman Daffa menggenggam erat tangan Fahisa dan membawanya ke tempat di mana anak mereka dimakamkan. Mendudukkan dirinya Fahisa mengusap nisan itu dengan begitu lembut dan perlahan mulai berbicara.


"Hai sayang, Mommy datang bersama Daddy"


Setelah kalimat itu terucap ada sedikit jeda karena Fahisa merasa begitu sulit untuk berkata-kata, tapi setelah menghela nafasnya panjang dia mulai berusuara.


"Mommy hamil lagi sayang, sekarang Mommy sama Daddy merasa sangat bahagia dan disana kamu juga pasti bahagia kan?" Kata Fahisa sambil tersenyum


"Mommy rindu sekali dengan kamu, tapi kehadiran adik kamu di dalam perut Mommy pasti akan mengobati rasa rindu ini." Kata Fahisa lagi


Menolehkan kepalanya Fahisa tersenyum dan dia mengatakan bahwa dia ingin pulang. Menganggukkan kepalanya Daffa mengusap nisan itu sebelum pergi.


"Mommy dan Daddy pulang ya sayang"


Fahisa merasa begitu lega setelah mengunjungi anaknya.


¤¤¤¤


Selanjutnya pasangan suami istri yang sedang dilanda kebahagiaan itu sekarang sudah berada di rumah sakit dan saat ini keduanya sudah berada di dalam ruangan pemeriksaan. Berbaring di ranjang rumah sakit Fahisa tersenyum manis ketika seorang dokter wanita menghampirinya, dia dokter yang sama yang merawatnya ketika dia keguguran dulu.


Ikut tersenyum dokter itu mengucapkan selamat kepada keduanya dan mengatakan pada mereka untuk menjaga kandungan Fahisa dengan baik.


"Banyaklah meminum vitamin dan susu itu akan bagus untuk kamu dan bayi di dalam kandunganmu." Katanya sambil tersenyum kepada Fahisa


"Hmm akan saya lakukan dokter." Kata Fahisa


Saat sebuah benda menyentuh perutnya tanpa penghalang Fahisa merasa jantungnya berdetak dengan sangat cepat, dia takut kalau kegugurannya dulu akan mempengaruhi keadaan anak di dalam kandungannya.


"Rileks saja nona Fahisa." Kata dokter itu membuat Fahisa tersenyum canggung lalu mulai mencoba untuk bersikap biasa


"Usianya kurang lebih dua minggu dan keadaannya juga baik, tapi saya sarankan untuk nona Fahisa agar menjaga pola makannya supaya teratur dan juga tidur dengan cukup." Katanya sambil menatap kedua orang itu bergantian


"Dia sudah selama itu ternyata." Kata Fahisa sambil tersenyum haru


"Saya juga punya kabar gembira untuk kalian." Kata dokter itu


"Apa itu dokter?" Tanya Fahisa antusias


"Kalian akan punya bayi kembar." Katanya membuat Fahisa dan Daffa terdiam sambil menatapnya dengan tidak percaya


Kembar?


Cukup lama mereka terdiam sampai akhirnya Daffa langsung bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.


"Benarkah? Kami akan punya anak kembar? Astaga aku tidak percaya ini aku bahagia sekali." Kata Daffa


"Benar dan karena nona Fahisa pernah keguguran saya harap anda menjaga kesehatan istri anda dengan sangat ketat dan langsung laporkan tentang segala keluhan yang dirasakan, selain itu saya juga menyarankan agar nona Fahisa tidak terlalu lelah dan jangan dibiarkan untuk melakukan pekerjaan berat terlebih dahulu." Kata dokter itu yang langsung diangguki oleh Daffa


"Saya juga akan berikan vitamin yang harus diminum oleh nona Fahisa." Kata Dokter itu


Sekitar satu jam berkonsultasi sekarang keduanya sudah berjalan menuju parkiran dengan senyum yang mengembang sempurna. Saat sudah memasuki mobil Daffa tidak langsung melajukan mobilnya, tapi dia menolah dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Fahisa.


"Terima kasih banyak Fahisa, aku janji dan aku bersumpah akan menjaga kalian dengan sangat baik." Kata Daffa sambil mencium kening Fahisa cukup lama


"I love you Fahisa"


Medengar hal itu membuat Fahisa merasa berbunga-bunga dan dengan senyuman yang terukir indah di bibirnya Fahisa mengecup bibir Daffa sekilas lalu berbisik pelan.


"I love you too Daddy"