
Satu bulan kehamilan Fahisa sudah berlalu dan kandungannya juga sangat sehat karena Daffa memang benar-benar menjaga pola makan istrinya serta melarang melakukan berbagai pekerjaan rumah. Selama satu bulan itu keinginan Fahisa juga beragam, tapi kebiasaan memakan es batu semakin meningkat seiring berjalanannya waktu bahkan sehari istrinya itu memakan sampai tiga mangkuk penuh.
Tapi, untungnya Daffa masih bisa mengehentikan kebiasaan memakan ice cream Fahisa karena jika tidak istrinya itu mungkin akan terserang flu karena setiap hari memakan es batu dan juga ice cream.
Setiap malam Fahisa juga selalu memeluknya dan ketika bangun dari tidur wanita itu akan menciumnya, kebiasaan yang sama seperti dulu. Kehamilan kali ini memang sama seperti sebelumnya yang membedakan hanya pola makan Fahisa yang lebih banyak serta kebiasaan memakan es batu.
Satu lagi kebiasaan yang Daffa tidak suka adalah memakan permen atau lolipop.
"Fahisa kamu sudah habis dua jangan makan lagi!" Kata Daffa sambil berusaha menyingkirkan lolipop yang ada di meja
Mengerucutkan bibirnya kesal Fahisa hendak protes, tapi suaminya tidak perduli karena dia tidak mau Fahisa jadi sakit gigi nantinya.
"Satu lagi!" Desak Fahisa
"Tidak! Kamu selalu mengatakan hal yang sama, tapi akhirnya tetap tidak mau berhenti." Kata Daffa
Menatap suaminya dengan penuh kekesalan Fahisa terlihat begitu menggemaskan di mata Daffa apalagi dengan pipi yang sangat tembam.
"Noo! Fahisa sudah cukup kalau kebanyakan kamu akan sakit gigi nanti." Kata Daffa lagi
"Hmm baiklah baiklah aku tidak akan makan lagi." Kata Fahisa mengalah
Tersenyum senang Daffa menepuk-nepuk puncak kepala istrinya dengan pelan.
"Sudah siang dan seharusnya kamu makan nasi bukan permen." Kata Daffa sambil mengajak Fahisa untuk pergi makan siang
Hari ini mereka hanya berdua saja di rumah karena Sahara sedang berada di rumah Dara atas permintaan wanita itu dan keduanya baru akan menyusul sore nanti. Tadinya mereka juga ingin berkunjung ke rumah Dara, tapi hari ini adalah jadwal cek ke dokter dan Daffa tidak ingin melewatkannya sehingga tadi mereka hanya mengantar Sahara lalu pergi.
Saat sampai di dapur Fahisa melepaskan genggaman tangan suaminya dan membuka rak lalu memgambil mie rebus dengan wajah antusiasnya.
Ahh satu lagi kebiasaan Fahisa.
Memakan mie dan Daffa tidak suka.
"No Fahisa! Tidak lagi." Kata Daffa sambil merebut mie itu dari tangan istrinya
"Semua saja tidak boleh dimakan!" Ketus Fahisa dengan wajah kesalnya
"Kemarin sudah makan mie! Sekarang aku akan turuti semua keinginan kamu asal jangan makan mie." Tegas Daffa yang sekarang kembali meletakkan mie di dalam rak yang seharusnya
"Tapi, mau mie pakai telur." Kata Fahisa sedikit memaksa
Tetap tegas Daffa menggelengkan kepalanya menolak keinginan istrinya.
"Bagaimana kalau makan di luar saja? Kamu bisa pilih apapun asalkan jangan mie." Kata Daffa berusaha membujuk
"Yasudah aku fikir-fikir dulu mau makan apa." Kata Fahisa masih dengan mempertahankan wajah kesalnya
Berfikir cukup lama Daffa benar-benar merasa gemas dengan tingkah istrinya yang bahkan untuk makan siang harus berfikir selama ini dan karena hari yang semakin siang akhirnya Daffa kembali bertanya.
"Jadi? Kita mau makan apa ibu hamil yang cantik?" Tanya Daffa membuat Fahisa menatapnya dengan kesal
"Mau makan Mas Daffa saja!" Ketusnya membuat Daffa tertawa
"Aku juga mau makan kamu." Kata Daffa sambil tertawa kecil
Tapi, beberapa saat setelahnya Daffa tersenyum miring dan mulai mendekatkan dirinya membuat Fahisa membulatkan mata karena terkejut
Perlahan tangan Daffa terangkat untuk membelai wajah istrinya dan hal itu membuat Fahisa merona juga menunduk, enggan untuk menatap wajah suaminya.
"Jadi katakan kamu mau makan apa? Kalau tidak aku yang akan makan kamu sekarang." Kata Daffa sambil mencium kuping Fahisa dan membuat istrinya membatu seketika
Mendorong dada bidang suaminya agar menjauh Fahisa merasa pipinya memanas dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
Bukan berhenti Daffa malah mencium hampir seluruh wajah Fahisa dan tentu saja dia akan berhenti lama di bibir manis Fahisa lalu menciumnya dengan sangat lembut.
Tanpa sadar Daffa mengangkat tubuh Fahisa dan mendudukkannya di meja makan lalu kembali menggerakkan bibirnya disana dengan begitu lembut.
Geraman Fahisa terdengar dan ketika merasa terengah dia memukul-mukul dada bidang suaminya, menyuruh Daffa untuk berhenti.
Tapi, tidak berhenti sampai disitu kali ini Daffa berpindah mengecupi leher jenjang Fahisa membuat wanita itu menahan nafasnya sambil berusaha mendorong Daffa agar menjauh.
Bukan melepaskan Daffa malah menahan kedua tangan Fahisa dan semakin gencar melanjutkan kegiatannya.
"Mas Daffa"
Dengan nafas yang tidak beraturan akhirnya Fahisa berhasil membuat suaminya berhenti dan sekarang dia benar-benar malu pipinya terasa panas.
Tersenyum kecil Daffa mengecup singkat bibir istrinya lalu menatap wanita yang dicintainya itu dengan begitu dalam.
"Sudah. Ayo kita cari makan saja." Kata Fahisa setelah dia berhasil mengatur nafasnya kembali
Tersenyum senang Daffa kembali mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu yang membuat istrinya merasa kesal dan malu di saat yang bersamaan.
"Jadi ini cara ampuh untuk menyuruh kamu makan? Kalau iya aku akan dengan senang hati melakukannya"
Dan perkataan itu dihadiahi dengan pukulan pelan dibahu Daffa membuat pria itu malah tertawa senang lalu mengangkat tubuh Fahisa yang berada di atas meja dan menurunkannya.
"Jadi?" Tanya Daffa dengan alis bertaut
"Mau makan ayam goreng." Kata Fahisa dengan senyum manisnya
"Yang dimana? Mau makan disana atau dibawa pulang saja?" Tanya Daffa
"Disana saja, Mas Daffa tau kan tempatnya? Yang di dekat supermarket itu pokoknya." Kata Fahisa
"Tau sayang"
"Habis itu beli ice crem di supermarket!" Kata Fahisa dengan penuh semangat
Lagi?
Daffa hanya menanggapinya dengan gumaman lalu segera mengajak istrinya untuk pergi karena hari sudah semakin siang.
Kali ini Daffa sedikit kewalahan menghadapi keinginan Fahisa yang jika tidak dituruti akan merajuk.
Tapi, Daffa menyukainya memenuhi semua keinginan istrinya membuat Daffa merasa bahagia dan puas.
¤¤¤¤
Pertama kalinya Daffa benar-benar merasa kesal kepada Fahisa karena ketika sampai dan mereka sudah memesan makanan, tapi tiba-tiba istrinya itu mengatakan bahwa dia ingin makan di tempat lain. Awalnya Daffa membujuk, tapi Fahisa terus merengek hingga akhirnya Daffa pergi untuk membayar ke kasir.
Berkali-kali Daffa juga mengucapkan maaf dan mengatakan bahwa istrinya sedang hamil sehingga keinginannya selalu berubah-ubah. Saat membayar Daffa juga melebihkan uangnya lalu kembali membawa Fahisa keluar dan mengikuti keinginannya.
Dia bukan marah karena harus mencari tempat lain, tapi Daffa merasa kesal karena hari sudah semakin siang dan istrinya itu masih bingung menentukan apa yang ingin dia makan.
Masalah besarnya adalah Fahisa hanya makan sarapan sedikit sekali tadi dan Daffa selama ini selalu ingin pola makan istrinya teratur, tapi lihat di siang bolong begini Fahisa belum makan apapun selain permen dan es batu.
"Jadi kamu ingin makan apa sayang?" Tanya Daffa sekali lagi
"Aku masih bingung." Kata Fahisa sambil menghela nafasnya pelan
Fahisa tidak tau kenapa hari ini dia begitu rewel dan banyak mau.
"Fahisa hari sudah semakin siang kamu harus tentukan ingin makan apa." Kata Daffa berusaha tenang
Tapi, Fahisa menangkap nada kekesalan di kalimat itu dan dia secara refleks langsung menatap suaminya dengan kekesalan.
"Tapi, aku gak tau mau makan apa!" Kata Fahisa jengkel
"Demi Tuhan Fahisa ini sudah siang kamu harus makan! Kenapa begitu sulit untuk memilih makan siang?" Tanya Daffa
Bukan menjawab Fahisa malah diam dan hal itu semakin membuat Daffa frustasi, kenapa Fahisa jadi begini?
"Tadi pagi kamu hanya sarapan sedikit dan sekarang kamu belum makan apa-apa selain permen juga es batu, kamu harus makan dengan teratur Fahisa,"
Omelan suaminya itu membuat Fahisa merasa sedih, kesal, dan sakit hati karena dia berani bersumpah kalau dia sama sekali tidak tau ingin makan apa dan dia juga tidak nafsu untuk makan.
"Kita bahkan sudah berkeliling hampir satu jam sayang, tapi kamu masih belum mengatakan keinginan kamu." Kata Daffa berusaha untuk tetap tenang
"Yasudah pulang saja aku tidak mau makan!" Seru Fahisa membuat Daffa terkejut mendengarnya
Lihat!
Daffa benar-benar merasa serba salah sekarang, dia hanya khawatir dengan istrinya.
"Fahisa! Kamu ini bicara apa?" Tanya Daffa dengan sedikit kekesalan
"Apa?! Aku tidak mau makan! Aku mau pulang! Sudah kita pulang saja!" Kata Fahisa yang tiba-tiba malah menangis
Melihat tangisan itu tentu saja membuat Daffa khawatir setengah mati dan dengan segera mencari tempat untuk menepikan mobilnya.
Apa dia terlalu keras?
Apa dia keterlaluan?
"Fahisa, kenapa malah menangis hmm?" Tanya Daffa berusaha menyentuh wajah istrinya
Tapi, Fahisa dengan segera menepisnya dia merasa begitu kesal dan ingin marah hanya saja yang keluar malah tangisan.
Dia benar-benar tidak tau harus makan apa, tapi suaminya itu terlalu berisik menyuruh ini dan itu juga melarang memakan ini dan melakukan itu. Fahisa merasa begitu kesal dan sekarang ketika dia ingin marah malah tangisan yang keluar.
"Pulang! Aku mau pulang!" Isak Fahisa membuat Daffa jadi kebingungan sendiri
"Mas Daffa jahat udah marahin Hisa! Hisa mau pulang saja tidak mau makan." Kata Fahisa membuat Daffa menghela nafasnya pelan
"Aku tidak marah Fahisa...."
Belum selesai perkataannya Fahisa sudah lebih dulu memotong masih dengan disertai isakannya.
"Marah! Mas Daffa marahin aku."
Menghela nafasnya panjang Daffa berusaha dan sedikit memaksa untuk membawa istrinya ke dalam pelukannya meskipun Fahisa berusaha untuk menolak.
"Baiklah maafkan aku karena sudah memarahi kamu hmm?" Kata Daffa sambil mencium kening istrinya lama
"Mau pulang." Kata Fahisa lagi
"Aku janji tidak akan marah lagi Fahisa, tapi aku mohon makanlah sesuatu meskipun hanya sedikit aku melakukan ini karena aku khawatir." Kata Daffa
Awalnya Fahisa hanya diam membuat Daffa benar-benar merasa bingung dibuatnya, tapi kemudian Fahisa akhirnya mengatakan keinginannya.
"Ke rumah Kak Dara saja aku mau ketemu Ara." Kata Fahisa tanpa mau melihat suaminya
Menghela nafasnya cukup panjang Daffa menurut dan kembali menyalakan mesin mobilnya.
"Berjanjilah kamu akan makan saat disana! Kamu ingin makan masakan Kak Dara atau membeli saja?" Tanya Daffa
"Nanti saja sama Kak Dara." Kata Fahisa yang langsung diangguki oleh suaminya
Saat sampai disana nanti dia akan bertanya kepada kakaknya tentang kehamilan seorang wanita dan sikap manja serta rewel istrinya hari ini.
Mereka harus berbicara banyak.
¤¤¤¤
Saat sampai di rumah Dara keduanya berjalan beriringan, tapi Fahisa sejak tadi berusaha menjaga jarak dari suaminya. Dia masih marah karena dimarahi padahal bukan salahnya, dia memang tidak tau harus makan apa hanya saja Daffa terus berisik dan memaksanya.
Memasuki ruang utama Dara yang melihat kedatangan adik bersama dengan istrinya itu langsung tersenyum, tapi untuk sesaat dia merasa bingung ketika melihat wajah murung Fahisa.
Merasa ditatap dengan penuh tanda tanya Daffa hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tau.
"Ara ada Mommy." Seru Dara sambil berjalan menghampiri keduanya
Masalah wajah murung adik iparnya dia akan bertanya dengan Daffa saja nanti.
"Hai Ibu hamil sudah makan?" Tanya Dara sambil memeluk Fahisa dan mencium kedua pipinya
"Dia belum makan apapun Kak katanya dia ingin makan disini saja." Kata Daffa sambil menicum punggung tangan kakaknya
"Wahh kamu ingin makan apa Fahisa? Kakak tadi memasak cumi dan ikan kamu mau itu atau yang lain? Ahh kakak juga bikin kue." Kata Dara dengan semangat
Belum sempat menjawab suara seruan Sahara yang ada di atas bersama dengan anak Dara berlari turun ketika melihat Fahisa dan memeluknya denga senang.
"Mommy! Mommy Ara sedang bermain sama Kak Gibran." Kata Sahara
"Aunty kami main tembak-tembakkan." Kata Gibran sambil menatap Fahisa dengan wajah polosnya
"Benarkah? Pasti seru sekali ya?" Kata Fahisa yang langsung diangguki oleh keduanya
Melihat Fahisa yang sedang asik mengobrol Daffa mendekati kakaknya lalu berbisik.
"Kak bujuklah dia untuk makan aku sudah tidak tau lagi harus bagaimana dia belum makan siang dan sarapan pun hanya sedikit"
Dara hanya mengangguk sebagai tanda setuju, tapi ternyata belum selesai karena Daffa kembali berbisik.
"Kak kita perlu bicara, aku bingung menghadapi Fahisa yang begitu sensitif rasanya semua yang aku lakukan atau katakan selalu salah di matanya." Bisik Daffa frustasi
Tertawa kecil sekarang Dara mengerti penyebab wajah murung adik iparnya.
"Kita bicara nanti sekarang aku akan buat adik ipar makan hingga kenyang dulu"
Ya, Dara bantulah adikmu sekarang.