Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Pertarungan belum usai, Qrystial




Raka dan pasukannya menang dengan mudah. Tentu saja, ini sama sekali tidak akan berhasil tanpa strategi milik Raka. Meskipun perang telah usai, Raka memutuskan untuk tinggal sebentar dengan para pasukannya. Mereka mengobati dan memulihkan tenaga mereka.


"Hormat kepada yang mulia, Diablo" ucap sesosok bayangan hitam muncul secara mendadak.


"Katakan" ucap Raka tenang sembari terus menulis dengan diterangi lentera.


"Saya sudah mengintainya, tidak ada kecurigaan akan datangnya serangan susulan."


"Apa maksudmu?" Ucap Raka mengalihkan pandangnya.


"Kabar soal kehancuran pasukan Purma sudah menyebar, tapi tetap saja, tidak ada gerak gerik mencurigakan yang mengindikasikan mereka untuk kembali menyerang"


"Bagaimana mungkin pasukan raja iblis hanya segitu? Lagipula melihat dari sifat Purma tetap saja dia tipe raja yang ceroboh dan seenak jidatnya dalam memutuskan sesuatu. Apa mungkin otaknya mulai berputar ya?" Ucap Raka bertanya tanya.


"U ugh.. mungkinkah begitu?" Ucap bayangan itu dengan ekpresi pasrah.


"Baiklah, kalau begitu apa adalagi yg perlu kau laporkan?"


"Ah, tapi sebelum itu izinkan hamba bertanya"


"..."


"Kenapa anda beranggapan jika Purma akan melakukan serangan susulan? Meskipun berdasarkan sifatnya yang serakah dan sombong, dia sudah menghadapi anda dua kali, mka seharusnya dia akan memilih keputusan paling menguntungkan baginya,"


"Ah, itu benar.. tapi entahlah, guru mengingatkanku untuk waspada, bukan pada Purma tapi pada orang dibelakangnya, lagipula sejak kita mendapatkan kemenangan, aku merasakan firasat buruk, itu saja "


"Uhmm, jadi begitu,"


"Ah, ada sesorang yang mengunjungi istana Astra siang ini, kelihatannya dia adalah salah satu raja iblis yang ingin mengambil alih kekuasaan Purma."


Raka terkejut dan secara refleks meletakkan penanya dengan keras.


"Tsk. Jangan bilang jika itu" tubuh Raka bergetar dan berdiri secara seketika.


Bayangan hitam itu terkejut.


"Siapkan pasukan." Ucap Raka lirih dan dingin.


"Baik" ucap bayangan itu dengan sigap.


Raka meraih pedang hitamnya dan keluar menghampiri Bartolomeo.


"E eh? Hormat kepada yang mulia" Ucap Bartolomeo yang tengah minum sembari menundukkan tubuhnya tatkala melihat Raka keluar dari tendanya.


"Siapkan pasukan, ini kan jadi lautan darah" Ucap Raka dengan tegas. Bartolomeo yang terkejut segera berlari.


Sementara Raka terus melangkahkan kakinya kearah benteng putih. Para pasukan segera berkumpul dengan Zirah yang melekat ditubuh masing masing.


Raka melangkah dan menghadap para bawahannya itu.


"Hormat kepada yang mulia Diablo!" Ucap mereka secara serempak saat memandang sang pemimpin.


"Aku tahu seberapa lelahnya kalian! Seberapa inginnya kalian kembali kepada keluarga kalian! Aku tahu seberapa rindunya kalian akan ketenangan kalian di kota!"


"Aku tahu, mungkin ini berat bagi kalian, tapi tidak ada jalan! Pasukan musuh akan segera menyerang kembali! Tidak ada jalan pulang! Bunuh atau dibunuh! Angkat senjata kalian setinggi tingginya, Gaungkan nama Qrystial di telinga para pengkhianat!" Ucap Raka membakar semangat para pejuang.


"Oooo!!!" Seru para pejuang dengan stamina yang kembali membara.


Raka berbalik dan menundukkan wajahnya.


"Ugh" seteguk cairan merag merembes dari mulutnya.


'Ugh, aku kehabisan Mana, tapi perang ini harus dimenangkan apapun kondisinya.'


Para pasukan segera kembali ke posisi mereka semula.


Para archer siap sedia menarik busur mereka, para swordman siap menghunuskan amarah mereka. Para spearman siap menghujamkan dendam mereka dalam pertempuran.


Berbeda dengan sebelumnya, Raka memutuskan untuk bertahan dibarisan para archer. Mengingat mananya yang berkurang drastis, ia pun memutuskan untuk hanya bertindak seperlunya saja.


Berbeda dari sebelumnya, kali ini regu assassin turut berperang, mereka menjadi kartu truf milik Raka.


Para assassin bersembunyi dibalik bayang dan mereka bertugas menyerang bila keadaan tak terkendali.


"Tuan, mereka berada didepan" ucap seseorang yang bersembunyi di balik bayang Raka.


"Semuanya! Bersiap!" Ujar Raka tegas,


Para Archer mulai mengangkat busurnya, dan memokuskan pandangannya.


Begitupun para Magi yang bersiap merapal mantranya.


Sementara para petarung mulai megepalkan tinjunya erat, Seordman yang menggenggam pedangnya dan menarik ancang ancang selebar mungkin. Para Spearman yang bersiap untung maju dan mengguncang pertahanan musuh.


Setelah itu, muncul lusinan ribu iblis dan beast yang siap berperang.


Lagi lagi kabut hitam pekat kembali menyelimuti medan perang, yang kali ini jauh lebih pekat dan luas.


Pasukan musuh tiba, mereka begitu banyak, jelas ini bukan pasukan balasan biasa yang dikirim Purma, melainkan oleh iblis lainnya. Pasukan mausuh terus maju dalam kecepatan yang cukup cepat.


Raka menarik nafasnya panjang.


Ia memberi aba aba untuk menyerang secara bersamaan. Para spearman berpacu dengan kuda mereka dan mulai membaur.


Pertarungan antar pasukan pun dimulai.


Raka terus mengamati kekuatan musuhnya kali ini.


'Ini sama sekali bukan kekuatan yang busa dimiliki oleh raja Purma. Tidak salah lagi, Dia lah yang mengirim mereka,' ucapnya dalam hati


"Tuan, perang ini,, takutnya kita akan benar benar ditekan." Ucap Alice yang berdiru di samping Raka.


"Oh? Apa maksudmu?"


"E eh? Maaf tuan, tapi.. jumlah pasukan musuh berkali kali lipat banyaknya dibandingkan pasukan kita."


"Mereka hanya iblis, yang dikendalikan.. tak peduli apapun, pikiran mereka hanya satu, membunuh.."


"Mungkin itu yang akan terjadi, tapi Alice, menurutmu manakah yang berlari lebuh cepat? Harimau yang mau memangsa atau rusa yang akan dimangsa?"


"E eh? Yang mulia, ini bukan waktunya berpikir soal teka teki kan?" Ucap Alice


"Ah,, aku sedang serius, Alice,, jika dipikir pikir lagi harimau bisa berlari dengan cepat, tapi terkadang ia tak bisa mengejar rusa bukan? Hasrat membunuh itu benar benar kuat, tapi sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan hasrat untuk hidup."


"Para iblis sudah mati, mereka tak lagi memiliki hasrat untuk hidup, sedangkan manusia? Mereka selalu ingin hidup, jadi, jika kau bertanya manakah yang akan menang? Tentu saja jawabannya siapapun yang ingin hidup."


"E eh? Jadi itulah maksud yang mulia?"


"Ah.."


Para pasukan terus bertarung tanpa henti, mereka terus menebas menebas dan memukul musuh.


Seiring berjalannya waktu pasukan masing masing menampakkan staminanya. Para pasukan musuh mulai berkurang satu demi satu terbunuh. Dan pasukan dari Qrystial mulai kelelahan ditambaj beberapa luka yang mereka derita. Para penyihir terus menyupport mereka, tak tertinggal para healer yang terus mengobati para pasukan. Mereka terus bekerja non stop. Diantara mereka bahkan ada yang kehabisan mana mereka.


Meskipun para healer dan support terus mengobati luka mereka dan menaikkan stamina mereka tapi tetap saja, mereka kelelahan.


Bukan hanya fisik mereka, namun juga mental mereka.