
"Jadi begitu, kalau begitu kenapa kau tidak mengajakku huh!?" Ucap Queensha sembari menunjukkan ekspresi sedihnya.
Albert merasa tercerahkan oleh ribuan matahari saat ini, bagaimanapun, ia tidak bisa menolak keinginan atau perintah wanita dihadapannya ini.
"Ah.. ini, aku minta maaf" ucapnya dengan ekspresi rela mati.
"Hufft.. bagaimanapun, kali ini dia akan bersama kita, Queensha" ucapnya mengelus lembut rambut istrinya.
Air mata Queensha menetes membasahi gaun emasnya. Sementara Albert perlahan lahan mendekapnya dalam pelukan yang erat dan dalam.
"Albert, aku ini seorang wanita, dan aku juga memiliki seorang putra, aku sama sekali tak takut jika putraku terluka, tapi saat membayangkan seorang anak seusia putraku menghadapi banyak pertarungan hidup dan mati hanya untuk mempertahankan hidupnya, hatiku merasa tersayat, bagaimanapun, dia seharusnya ada disini, sejak 10 tahun lalu, bersama kita dan dia harus menikmati dan menjalani banyak kehidupan pangeran pada umumnya bukan? Dan itu membuatku merasa bersalah padanya, Albert"
Albert mengangguk dengan ekspresi rumit.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan tuxedo dan satu kacamata terpasang di mata kananya memberi hormat kepada Queensha dan Albert.
"Hormat kepada yang mulia Raja dan Ratu, Saya Qin," ucapnya hormat.
"Katakan ada apa, kepala pelayan Qin?" Ucap Albert.
"Ada sebuah kereta dagang yang datang hendak menemui anda, yang mulia, beliau memberi tahu saya untuk menunjukkan anda ini" ia lantas menunjukkan sebuah arloji hitam dengan sedikit sembirat biru menghiasinya.
"Antar dia kesini"
Qin lantas berjalan menjauh hendak menjemput tamu rajanya.
"Apakah itu dia?" Queensha menengadahkan kepalanya dan sedikit melepas dekapnya, ia mengelap air matanya.
Hmm.. albert hanya tersenyum hangat padanya.
"Persiapkan dirimu, dia putra kita" Ucapnya.
Tak lama kemudian, nampak kepala pelayan itu kembali dengan diiringi oleh kedatangan seorang anak laki laki dengan rambut navy dan mata biru indahnya.
"Hormat kepada yang mulia, hamba sudah mengantar beliau kesini" ucap Qin dengan patuh.
Sementara anak itu tersenyum ramah.
Ia kemudian membungkuk memberi hormat.
"Hormat kepada yang mulia Azasky, Yang mulia Raja Albert dan yang mulia Ratu Queensha, sebuah kehormatan dapat bertemu dengan anda" ucapnya mengakhiri penghormatannya.
Queensha bangun dari tempat duduknya dan melangkah dengan cepat kearah anak itu.
Ia lantas memeluk dengan erat dan terisak di pelukannya.
Albert turut berdiri dengan tersenyum hangat padanya.
Anak itu yang tak lain adalah Raka kemudian membalas pelukan Queensha, ia tersenyum hangat.
"Bibi, aku tidak apa, percayalah" ucapnya lembut.
Queensha lantas melepas peluknya perlahan, tapi air matanya masih menetes.
Raka tersenyum hangat,
"Aku senang bisa melihat anda sehat, yang mulia Queensha."
Queensha menghela nafasnya memandangi anak itu lekat. Ia lantas tersenyum dan mengelus rambut navy itu dengan sedikit mengacak acaknya.
"Dasar anak nakal! Kau akhirnya kembali, jika tidak aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kukatakan pada ibumu," Ucapnya
Raka mengangguk.
"Uhuk!" Albert berdehem mencoba untuk muncul diobrolan keduanya.
"Ah. Baiklah tudak baik jika aku ikut nimbrung di obrolan para pria dewasa!" Ucap Queensha pasrah.
"Suamikuu" panggilnya sekerasa kerasnya.
"Ah. Jika saat makan siang tiba jangan lupa datang bersama putraku yang tampan ini makan yaa.. aku akan mengawasi Bobby dan Stelia belajar"
"Pufft" Albert terkejut saat mendengarnya, ia hampir menyembur keluar teh yang tengah ia hirup
Sementara memalingkan wajahnya menahan tawa. Sesekali nampak tubuhnya bergetar menahan tawa.
Queensha kemudian berjalan menjauh meninggalkan kedua pria itu.
Ya, pria! Meskipun pada dasarnya Raka masih berusia 15 tahun, tapi ia sudah terlihat layaknya pria berumur 17 hingga 19 tahunan.
Raka kemudian duduk dihadapan Albert yang masih membersihkan pakaiannya yang terkena semprotan teh.
Ia kemudian menghela nafasnya.
"Bagaimana?"
"Apanya?"
"Bagaimana perasaanmu setelah kesekian lamanya saat melihat istana ini?" Tanya Albert.
"Oh."
"Aku tidak mengingatnya, bagaimnapun, aku masih sangat kecil saat itu, bahkan bisa dibilanh masih bayi,"
Albert mengangguk menyetujuinya. Terakhir kali Raka kesini memanglah saat ia masih berusia tujuh bulan saat itu. Itu tak mengherankan jika ia sudah tak mengingatnya lagi.
"Deja Vu."
"Nostalgia"
"Mungkin hanya itu yang bisa digunakan untuk menggambarkan perasaanku saat ini" ucaonya.
Albert menatapnya sekejap hingga kemudian menutup matanya lemah.
"Kau terlihat sangat dewasa, Raka" ucapnya mengeluh.
Raka tersadar dari lamunannya hingga kemudian tertawa kecil.
"Anda bergurau,"
"Hfft.. terserah padamu, tapi aku juga memiliki putra, dan aku juga pernah seumur denganmu, dan itu tak sama dengan yang kulihat pada dirimu" ucapnya serius.
Raka hanya melengkungkan bibir kecilnya.
Bagaimanapun jika itu adalah ia yang dulu, sebelum gurunya meninggal mungkin ia tak akan terlihat sedewasa ini.
Alasan Raka terlihat cukup dewasa adalah karena didalamnya terdiam sebuah jiwa dengan ingatan masa lalu sebagai Nonius, pembunuh berdarah dingin.
"Baiklah, jadi apa rencanamu untuk kedepannya" tanya Albert serius.
Raka tersenyum sebelum menjawab perkataan Albert.
"Bukan suatu hal yang rumit, tapi itu juga bukan hal yang sepele" ucapnya ringan.