Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Reunion: A Familiar Figure




Raka mengantar gadis kecil itu kesebuah air mancur untuk membasuh matanya yang perih.


"Kakak! Sebenarnya siapa pria baj*ngan tanpa harga diri itu!" Tanya Stelia kesal.


"Oh? Pria itu hanya pria yang ingin merampokku saja" ujar Raka datar.


"Oh? Merampok? Apa kakak begitu kayanya?" Tanyanya serius.


"Yah. Bisa dibilang begitu." Ucap Raka


"Benarkah? Orang tuaku juga begitu. Mereka adalah bangsawan terhormat dengan status tinggi. Tapi tidak pernah ada seorang pun yang berani merampokku?".


"Pfft" Raka hanya tertawa kecil.


"Baiklah, ini sudah cukup larut kembalilah, pasti orang tuamu akan mencarimu kan?" Ucap Raka ramah.


Stelia mengangguk. Raka kemudian mengarahkan Stelia untuk kembali.


Gadis kecil itu lantas berlari dengan riangnya.


Sementara Albert dan Queensha nampak mulai panik.


"Kakak! Kemana saja kau! Kenapa kau tidak mencariku sih!?" Cecar Stelia sesaat tiba di ruangan orang tuanya.


Albert, Queensha dan Boby terkejut dengan kehadiran mendadak Stelia.


Queensha berlari dan memeluk tubuh Stelia spontan.


"Steliaa.. kemana saja kamu nak?" Tanyanya dengan sedikit air mata disudut matanya.


"Ibu, aku tidak apa apa, tadi memang ada sih orang yang menyerangku" ucapnya polos.


"Apa!?" Seru Albert dan Boby secara bersamaan.


"Tsk. Orang sialan mana yang berani menyentuh rambut putri kecilku huh!?" Ucap Albert dengan sedikit menekan auranya.


Boby memberi reaksi yang sama, ia mengangguk dan turut menekan auranya.


Sontak seluruh orang terkejut merasakan aura yang luar biasa itu, seluruh mata tertuju pada sebuah ruang VIP berangka 3.


Queensha dan Stelia hanya menatap datar kedua pria bodoh didepannya.


"Huh, kenapa aku harus menikah denganmu sih dulu" Eluh Queensha dengan lirih saat melihat suaminya yang berkobar kobar.


"Ibu, aku ingin kembali masuk kedalam perutmu saja" imbuh Stelia dengan ekspresi datar.


"Baiklah, lupakan mereka berdua, apakah kau terluka sayang?" Ucap Queensha dengan penuh perhatian.


Stelia menggeleng gelengkan kepalanya dan tersenyum kuda.


"Yah, orang tak berguna itu menyerangku dengan panah, swosh.. tapi aku menghindarinya hehe,, kemudian, Stelia memarahi orang itu. Orang itu justru marah padaku.. kemudian dia memberiku bola asap dan boom! Itu meledak dengan keras. Stelia tidak bisa melihat saat itu bu!" Ucap Stelia menceritakan kejadian tadi.


"Lalu, ada seorang kakak yang baik yang memerintahkan pengawalnya untuk menangkap pria itu, dia juga menarik Stelia dan mengantarkan Stelia ke tepi, kemudian dia berbicara beberapa hal dengan ku bu! Kakak itu begitu tampan dan pintar! Katanya, orang itu memburunya untuk mendapatkan harta milik kakak,, kemudian kakak memujiku dan memberiku semua makanan ini tehee" ucapnya ceria seraya menyodorkan beberapa kudapan kecil.


Queensha dan Albert saling bepandangan tak mengerti.


Bagaimanapun, jika memang benar orang itu ingin merampok seorang peserta lelang, kenapa orang itu justru pergi kearah yang sepi? Sedangkan orang yang akan dirampok pastinya ada di tribun lelang kan?.


"Ah. Itu mungkin saja.. tapi ada yang mengganjal disini".


Sementara itu, stelia nampam menikmati kudapan manisnya bersama dengan Boby. Mereka menyimak dengan tatapan bosan.


"Stelia! Jangan makan terlalu banyak! Bagaimana jika kau gemuk huh!?" Ucap Queensha mengagetkan putri kecilnya itu.


"Ugh.. ta tapi manisan ini enak bu!" Rengek Stelia.


"Manisan itu kan?" Alberta tersentak tatkala melihat kudapan kecil familiar dihadapannya.


Ia kemudian bangkit dengan segera.


"Jika kalian ingin pulang pulanglah, ada hal yang ingin kuobrolkan dengan seseorang" ucapnya sebelum meninggalkan tempat itu.


Ia kemudian melangkah dengan langkah tegapnya diantara kerumunan penonton. Setelah beberapa lama mencari, terdengar sebuah suara mengejutkannya.


"Ohohoh! Seperti yang tuan katakan!" Ucap Edward yang berdiri di samping Albert ramah.


"Anda.."


"Mari" Ucap Albert sembari mengulurkan tangannya menunjuk ke sebuah arah.


"Apa maksudnya ini!?" Tanya Albert dengan curiga.


"Apa kalian memiliki maksud tertentu huh!?" Ucapnya.


Albert sendiri bukan tanpa alasan mengambil spekulasi itu. Bagaimanapun, sedari mulai surat undangan dengan stampel kerajaan Arcnight, lelang yang menakjubkan, hilangnya Stelia, penyerangan yang terjadi pada putrinya tadi, hingga kudapan manis khas Arcnight. Itu semua menjadi alasan baginya untuk menemui pria dibalik ini semua.


"Fufu.. anda akan tahu setelah bertemu tuanku."


Ia kemudian mengajakku menelusuri lorong panjang dan berhenti pada sebuah pintu.


Tok tok.


Ia mengetuk pintu.


"Siapa?" Ucap sebuah suara dari dalam.


"Ah. Hamba Edward mengantar yang mulia Albert"


"Hoo.. biarkan beliau masuk" ucapnya.


Tak lama kemudian, Edward membuka pintu secara perlahan dan mempersilahkan Albert untuk masuk.


Albert lantas masuk kedalam ruangan kecil itu.


"Ah. Apa kabarmu, paman?" Ucap sebuah suara dibalik meja yang tertutup kertas yang menggunung.


"U ugh.. aku baik". Balas Albert.


"Ah. Maaf kau tak dapat melihatku ya paman?"


"Tidak. Maksudku, yang mulia, Albert Azasky" ucap Raka dengan membungkuk hormat.


Albert terkejut tatkala melihat sesosok bayangan yang tak lagi asing diingatannya.