
Gadis itu memiliki rambut hitam pekat dengan mata merah merona, dengan sedikit sentuhan paras yang cantik dan menggelora.
Dia adalah Ilusianna Acquilla Sarasvati. Putri seorang margrave, dari kerajaan Acquilla.
Bisa dibilang dia sebaya dengan Raka dan Bobby, dengan rentang waktu tiga bulan lebih muda dari Raka dan tujuh bulan lebih tua dari Bobby.
Meskipun dia adalah bangsawan Acquilla, namun dia lebih akrab dengan putra putri dari bangsawan Azasky. Hal ini karena hubungan kedua orangtuanya dengan orang tua Bobby, terutama dari pihak ibu sambungnya.
Dia adalah gadis cantik yang ceria dan kuat.
Meskipun saat bersama Bobby, ia akan menjadi gadis yang cerewet dan mendominasi. Mereka adalah teman sejak kecil.
Saat ini, suasana kereta masih begitu hening.
Lusi menunduk murung karena baru dimarahi Raka.
Bobby masih nampak terkejut dan sedikit merinding dengan hawa keberadaan Raka yang sama menakutkannya dengan ayahnya.
Sementara itu, pelaku dari keheningan itu sendiri nampak tak peduli, ia menutup matanya tenang sembari menikmati angin yang bersiul lewat jendela tempatnya bersandar.
Selang beberapa waktu, mereka tiba di Qrystial.
Karena terlalu lama diam, Bobby dan Lusi tertidur pulas meninggalkan Raka yang terjaga sendirian.
Sudut mulut Raka berkedut, 'hei, kemana sosok kalian yang tadi bertengkar huh!? Bukankah sekarang kalian justru nampak seperti kakak dan adik yang saling menyayangi satu sama lain!?'
Sigh. Raka menghela nafasnya, ia lantas membangunkan keduanya dan kemudian turun dari kereta.
"Umm? Apa kita sudah sampai?" Ucap Lusi mengucek matanya.
Raka mengangguk membenarkan ucapan Lusi.
Sementara Bobby nampak berjalan keluar masih dengan nyawa yang belum terkumpul dari tidurnya.
Setelah berterimakasih kepada kusir dan membiarkan kusir itu pulang, ketiganya lantas berjalan dijalanan kota yang semarak.
"Woah! Hebat! Aku tak menyangka, bukankah ini mirip dengan Azasky!?" Seru Lusi berputar putar dengan gaun kecilnya yang nampak berkibar.
"Ugh, apa yang kau bicarakan, tentu saja itu berbeda bodoh! Memangnya jika di Azasky bjsa sedamai ini huh!?" Protes Bobby.
Yah, itu benar, Azasky adalah kerajaan majemuk dengan hampir 30% warga benua ada didalamnya, bisa dibilang lebih padat dibanding kekaisaran itu sendiri. Karenanyalah, bisa dibilang akan sulit untuk menemukan jalanan sepi yang hanya dilalui beberapa orang dengan santai seperti di kota kecil Qrystial.
Raka hanya terdiam menyimak pembicaraan kedua temannya itu. Dia cukup sibuk dengan kudapan manis kecilnya.
Raka menuntun kedua temannya ke arah tempat pertemuan pemimpin- tempatnya bekerja.
"Ah? Apa kita sudah sampai?" Tanya Lusi penasaran.
"Kau punya tempat yang bagus, Raka" ucap Bobby kemudian.
"Huuuuh, terserah apa kata kalian, tapi bisakah nanti kalian cukup duduk duduk saja diruangku? Semuanya cukup sibuk saat ini" keluh Raka datar.
"Siap kapten!" Ucap keduanya kompak dengan mata berbinar.
Pintu balai pertemuan terbuka, seorang pemuda dengan rambut kehitaman dan tuxedo putih silvernya berjalan diantara kerumunan.
Diantara ramainya pengunjung balai, beberapa diantaranya membungkuk memberi penghormatan padanya. Saat ini, dia, Raka telah menjadi Diablo didaerah kekuasaannya.
Bobby dan Lusi nampak sedikit terkejut sekaligus terpana melihat sifat temannya yang sangat berbeda.
'Tunggu! Apakah ini bercanda? Maksudku, aku tahu jika dia berbeda dariku, atau anak seumurannya, dan aku juga tahu jika dia adalah anak yang misterius, tapi apa apaan perubahan sifat ini!? Bukankah ini terlalu dewasa untuk tubuh anak kecil seperti kami!?'
Raka terus berjalan tanpa memperhatikan situasi disekitarnya, ia lantas berhenti dan membuka pintu sebuah ruang di lantai tertinggi bangunan itu. Di lantai itu, semua hiruk pikuk tampak sepi, seolah olah tidak pernah ada.
Pintu terbuka, sebuah ruang yang cukup luas tersaji dihadapan mereka. Didalamnya muat beberapa furnitur, dengan lemari lemari penuh bukunya, rak rak berisikan artefak sihir sederhana, lembar lembar kerja yang tersusun dengan rapih di rak rak penyimpanan dokumen, empat sofa kecil dengan meja lengkap dengan kudapan serta meja dan kursi kerja yang berhadapan langsung dengan jendela yang luas.
"Masuklah, kalian dilarang berkeliaran seenaknya, tapi jika ada yang kalian butuhkan, kalian bisa mengatakannya padaku" Ucap Raka bersungguh sungguh.
Keduanya mengangguk.
"Raka, apakah tidak apa apa kami disini? Seharusnya kau meninggalkan kami tempat kami akan menginap saja, maksudku, yah bukankah kita akan mengganggumu nanti?" Ucap Lusi lirih.
"Um? Kurasa itu ide yang bagus! Maksudku, aku tinggalkan kalian hingga kemudian kalian bepergian tidak tahu arah sampai ke hutan hitam!?"
Mereka berdua terkesiap, kemudian dengan kompak menggelengkan wajahnya bergidik ngeri.
Sigh. Raka menghela nafasnya.
"Kau bodoh!" Semprot Bobby seraya menarik rambut panjang Lusi.
"Ouch! Maaf" Ucap Lusi seraya mengaduh.
Seorang pria berjas lantas datang menghampiri Raka dengan setumpuk dokumen ditangannya.
Saat melihat Raka dihadapannya, ia lantas membungkuk memberi hormat.
"Bertemu yang mulia, ini adalah dokumen yang anda inginkan, didalamnya berisi kerjasama dan permintaan suplai dari beberapa daerah yang bekerjasama dengan kita dalam rentang waktu beberapa bulan ini, yang mulia"
"Ah, terimakasih Fred" ucap Raka sederhana sembari mulai memandangi dokumen dokumen dihadapannya.
"Hmm? Bobby kurasa jika kau bingung ingin melakukan apa, kau bisa berlatih sihir pada beberapa orang, kebetulan dari beberapa bawahanku ada yang memiliki afinitas sihir angin."
"Oh ya? Hebat!" Ucap Bobby dengan mata berbinar binar.
"Ah! A-"
"Itu juga berlaku padamu, miss Lusia" Ucap Raka datar.
"Kyaa! Kau hebat! Raka! Kau benar benar kakakku"
Raka tersenyum pahit, 'kakak? Siapa juga yang ingin jadi seorang kakak dari monster sepertimu!?'
"Fred, bisakah kau mengantar mereka?"
"Ah! Tentu saja, tuanku"