

Disebuah ruangan VIP dengan nomor 457
"Hamba Edward memberi hormat kepada yang mulia Raja Theodore dari Sylvania"
"Oh? Apakah tuanmu yang mengirimmu padaku?"
"Seperti yang beliau titahkan"
"Baiklah. Jangan buang waktuku"
Tak berselang lama, tirai merah yang tertutup nampak terbuka dan menampilkan juru lelang di tribun lelang.
Alice berdiri dengan tegap, disampingnya nampak meja dorong dengan kotak hitam yang ditutupi kain didorong oleh beberapa pelayan.
Alice nampak begitu anggun dengan setelan formal jas hitam, dengan rok dan legging senada.
"Baiklah! Seperti yang kita tunggu, kali ini saatnya lelang yang ditunggu,"
"Produk yang pertama, adalah mutiara mimpi.. didatangkan langsung dari daerah kecil diujung utara Oxmage.."
"Untuk manfaat, dapat dipastikan sebagian dari anda mengerti, mutiara ini adalah artefak sihir alami yang hanya terbentuk di pesisir utara, meskipun ada banyak diluar sana.. dapat dipastikan jika mutiara ini berbeda, mutiara mimpi pada umumnya berwarna putih tulang, dan yang cukup baik berwarna merah muda.. tapi mutiara ini istimewa, dapat anda lihat bahwa mutiara ini memiliki kilap pelangi diatasnya.."
"Harga dibuka mulai dari 300 keping emas, setiap kenaikan tidak boleh kurang dari 10 keping"
Raka berdiri memperhatikan lelang dari kamar nomor 189, ruang tempatnya tinggal adalah sebuah kamar suits VVIP dengan letak strategis dimana ia dapat melihat keseluruhan lelang.
Lengkungan bibir kecilnya mengembang, "pertunjukkan kedua, dimulai"
Sejurus kemudian tribun lelang menjadi cukup ramai, para bangsawan yang tertarik nampak berebut saling menaikkan harga, harga pun melonjak dengan cepat dan tajam.
Sementara itu, di Ruang VVIP suite 356
"Saya Louisse Vol Quitte, memberi hormat kepada yang mulia Richard"
Seorang pria dengan rambut birunya nampak mengerjap
"Oh? Apakah kau yang akan mendampingiku?"
"Seperti yang dititahkan oleh tuanku"
"Yah. Kuterima pelayanan seperti ini"
"Oh? Kelihatannya agak berbeda dari pandanganku huh!?" Ucapnya memperhatikan jalannya lelang.
Produk produk lainnya silih bergantian, mulai dari mutiara mimpi dengan harga awal 300 keping emas, berhasil di lelang dengan harga 620, hingga berbagai artefak sihir lainnya berhasil dilelang dengan cakupan harga dua hingga beberapa kali lipat dari harga awal.
"Menarik" Ucapnya.
Raka masih berdiri menikmati jalannya lelang.
Berbeda dari sebelumnya, ekspresinya nampak mengembang dengan lebih lebih lagi. Saat ini, suasana hatinya nampak mekar.
"Pertunjukkan besar, dimulai"
Disebuah ruang VVIP dengan suite 376
Seorang pria dengan rambut putih dan setelan formal nampak membungkuk menghormat.
"Hormat kepada yang mulia Alpha,"
"Ya. Sesuai perintah tuanku"
"Oh?"
Pelelangan terus berlanjut, berbagai jenis produk pun berhasil dilelang dengan harga yang cukup fantastis. Mengingat lelang ini diikuti oleh mayoritas bangsawan royal.
"Cheryl,"
"Hamba menghadap, yang mulia"
"Bagaimana menurutmu tentang lelang ini?"
"Dari yang saya lihat dan amati, kebanyakan pengunjung adalah pebisnis dan para bangsawan dengan gelar minimal baron, dan yang cukup mengejutkan, saya juga mendapati beberapa bangsawan dengan identitas yang tidak bisa diremehkan, seperti Duke of Acquilla, Bryan dan banyak pebisnis besar yang berpengaruh di benua."
"Yah, seperti yang kurasakan, pelayanan disini pun cukup layak untuk standar raja dan penguasa tinggi suatu negara, dan itu tak main main"
"Lalu berikutnya, selain dari pelayanan dan fasilitas yang di berikan kepada para pengunjung, hal lainnya yang cukup berpengaruh adalah barang yang dilelang.. seperti yang anda lihat, yang mulia.. barang barang yang dilelang jelas bukan barang lelang yang dapat ditemui di asal tempat di benua, dan itu cukup pantas untuk patokan harga yang dipasang penyelenggara."
"Hmm.. cukup untuk hari ini, ayo kita pulang"
"Eh? Ya yang mulia? Anda?"
"Hmm? Menurutmu apa lagi yang bisa kita lihat huh!? Lelangnya sudah selesai bukan?"
"Eh? Tapi.. anda kelihatannya lupa akan tujuan awal anda"
Alpha berdiri dan mulai melangkah keluar dari suite.
Kai yang berdiri di pintu sedikit membungkukkan badannya tenang.
"Tuanku, mengharap kedatangan anda, yang mulia Alpha."
Alpha tak menghiraukan ucapan Kai, ia lantas berjalan melewati Kai menuju keluar suite.
"Oh? Kelihatannya tuanmu itu memandang remeh aku bukan? Bahkan pesan seperti ini pun harus disampaikan lewat bawahan huh!?"
Seorang anak dengan setelan formal tersenyum ramah.
"Bagaimanapun, anda tidak punya pilihan selain datang bukan, yang mulia Alpha?"
"Oh? Meskipun anda sudah tahu akan hal ini, tapi kelihatannya anda tidak sabar untuk bertemu dengan pria tua ini bukan?"
"Fufufu.. yah, yang muda harus menghormat kepada yang lebih tua"
Sementara itu, Cheryl nampak mematung dengan linglung.
'I ini? Apa sebenarnya yang terjadi sih!?'
"Tch! Kelihatannya kedua belah pihak sudah menunjukkan ketulusannya, yah, karena itu kurasa tidak ada yang perlu di ucapkan lagi"
"Ah, anda terang terangan seperti biasanya, yang mulia Alpha"
"Hmph!"
Raka tersenyum dengan ramah, Sementara Alpha berjalan keluar dan pergi kembali.
Cheryl hanya termenung bingung.
"Sigh.. tinggal dua lagi yang perlu diurus"