Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Kau adalah Diriku, Nonius




"Ah, apakah kau melupakanku hmm?? Kau benar benar tak berguna ya,, kau bahkan tidak bisa mengingatku sama sekali,, kau memang pantas Mati!" Ucapnya sembari memeluk tubuh Raka dan membisikkannya.


"Jess, aku"


"Kau benar benar tak berguna! Kau tahu? Melahirkanmu sebagai anakku adalah penyesalan terbesar dalam hidupku, Nonius! Kau benar benar tak layak untuk hidup bahkan sejak pertama kali kau kulahirkan" Ucap bayangan yang kembali berganti menjadi sesosok wanita dengan rambut navy yang sama dengannya.


"I ibu.." Ucapnya lirih.


Sebuah perasaan menyeruak dari dalam hatinya. Perasaan marah yang benar benar membludak hebat.


Hatinya kacau seketika.


Hingga, sebuah suara lembut terngiang ngiang dikepalanya.


Ingatan ingatan kecil kembali berputar dalam pikirannya.


Ingatan tentang masa dimana ia masih kecil.


Tentang bagaimana suara lembut ibunya saat memanggilnya untuk sarapan. Tentang suara lembutnya saat memarahinya hingga ia menangis.


Juga tentang suara tegas dan hangat dari ayah dan saudaranya.


Juga tentang suara kecil dan imut saudari saudari kecilnya yang ia rindukan.


Ia menggigit bibirnya kuat. Menata kembali tekad yang ia kumpulkan selama ini.


"Aku tahu kau disini!" Ucap Raka pada sebuah bayangan yang familiar dihadapannya.


Bayangan itu semerah darah yang menyembur dari dirinya. Ia diselimuti kabut hitam bercampur darah disekelilingnya.


Tangan itu mencekik lehernya dengan erat.


"Ah, kau benar benar lemah, Raka" ucap bayangan itu menunjukkan jati dirinya.


Ia benar benar memiliki penampilan dan suara yang sama dengan Raka.


Raka hanya terdiam menahan rasa sakit dari tubuhnya.


Ugh.


"Kau membiarkan semua yang kau miliki direbut dari dirimu begitu saja. Kau benar benar pecundang!"


"Kau bahkan tak pantas untuk menyebutkan satu persatu dari mereka yang direbut darimu"


"Kau tahu? Kau adalah manusia terendah yang ku kenal." Bisik bayangan itu penuh dendam dan amarah.


"Ah, aku juga, Nonius.. "


Raka balik mencekik leher Nonius.


"Kau adalah pecundang yang bahkan tak berani menunjukkan wajahmu dihadapan musuh musuhmu"


"Kau yang bahkan berlari dengan takutnya saat menghadapi masalah"


"Juga tentang kau yang menyalahkan dirimu atas semua yang kita lakukan"


"Kita adalah penyesalan." Bisik Raka pada


Nonius.


"Kau adalah aku."


"Aku adalah kau"


"Tak satupun dari kita adalah pemenang. Dan tak satupun dari kita adalah pecundang."


"Marahmu, sedihmu, bahagiamu, adalah marahku, sedihku, serta bahagiaku.. Nonius.."


Kini perkataannya penuh penekanan dan amarah. Sementara Nonius terkejut dengan ucapannya.


"Hanya kitalah yang tahu tentang bagaumana perasaan kita, hanya kita yang tahu bagaimana penderitaan kita, hanya kita yang tahu bagaimana kita berjuang, hanya kita yang tahu bagaimana kita bahagia dan bersedih.. hanya kita yang tahu siapa kita sebenarnya.. pendam semuanya dan berikan yang terbaik untuk apa yang mereka ambil dari kita"


"Kita adalah kriminal! Tak ada satupun dari mereka yang bisa merebut apa yang kita inginkan, dan tak ada satupun hal yang tak bisa kita rebut, Nonius.."


Bayangan itu terdiam. Perlahan namun pasti, separuh bagian tubuh Raka menyatu dengan tubuh Nonius, menyisakan dua tubuh dengan warna dan kilap yang berbeda.


'Biru dan merah'


"Aku mengerti, kita adalah satu, dalam hidup apapun dan bagaimanapun, kau adalah aku.."


"Kuserahkan semuanya padamu, tidak! Padaku dan pada kita, Baik itu Nonius ataupun Raka, semuanya adalah kita" ucapnya sebelum melebur


Nonius tersenyum dan membaur pada tubuh Raka.


Sebuah ingatan melelapkan Raka pada mimpi yang panjang,, begitu panjangnya..