
Secara bersamaan mereka menyerang.
Sementara Yama hanya terdiam dan kemudian mengayunkan pedangnya. Dalam sekali tebas, kedelapan orang itu terlempar dan terluka parah.
Darah mengucur dari tubuh mereka.
Yama hanya mematung masih dengan ekspresi dingin.
"Aku tahu kau masih disini, Evangelion" ucap Yama dengan nada dingin menghunuskan pedangnya kearah seorang pengikut.
"Cuih. Ternyata memang susah ya untuk mengelabuimu, Yama" Ucap Evangelion dengan mengambil tubuh kosong milik seorang prajuritnya.
Dengan terhuyung huyung ia bangkit dan mulai secara mendadak melesat dengan cepat ke arah Yama.
Yama menangkis serangan demi serangan Evangelion.
"Tch. Dasar pak tua! Bukankah saat ini kau sudah mencapai batasmu? Bahkan kekuatan kehidupanmu nampaknya sudah habis keke" ucap Evangelion.
"Tsk. kau tak perlu mempedulikanku, Evangelion" ucap Yama dengan tersenyum bahagia.
"Tch. Kalau begitu keputusanmu, bagaimana jika aku mengabulkannya." Ucap Evangelion seraya mengibaskan tangannya.
Nampak sebuah lubang besar muncul dari langit biru.
Yama tersadar akan bahaya yang menimpa muridnya
Dengan cepat ia bergerak ke arah muridnya yang belum sadarkan diri.
Dug!
Jantungnya berdentum dengan keras. Seteguk darah merah mengalur dari mulutnya. Ia berlutut menahan rasa sakitnya.
Sementara Evangelion terkekeh.
"Baj*ngan kau Evangelion!" Umpatnya.
'Tidak! Aku tidak boleh pergi saat ini. Anak itu masih menungguku. Setidaknya dia harus hidup untuk melindunginya.'
Yama berdiri dan dengan cepat bergerak.
Lubang besar itu mengeluarkan sebuah meteor yang sangat besar ke arah tempat Raka terlelap.
Ledakan besar tak terhindarkan. Sepersekian detik sevelumnya, Sebuah formasi merah besar nampak berputar ditempat Yama berdiri.
Ledakan itu meluluh lantakkan medan perang itu. Tanpa terkecuali tempat Raka terlelap.
Semuanya terkesiap dan menunjukkan emosi marah mereka.
Evangelion tertawa dengan girangnya.
Ditengah debu yang masih mengepul, nampak siluet seseorang mencoba bertahan.
Itu Yama!
Ia berlutut dengan bertongkatkan pedang.
Matanya memancarkan aura hebat.
Ia berdecik.
Sementara Evangelion berhenti tertawa dan merubah ekspresinya menjadi dingin dan gelap.
Ia memberi perintah kepada kedelapan pengikutnya yang telah ia pulihkan.
Kedelapan orang itu lantas melesat dengan pedang panasnya kearah Yama.
Yama bangkit dan kembali menangksi senua pedangnya.
Crassh..
Sebilah pedang menembus perut Yama.
Meskipun begitu, yama terus fokus menebas. Seorang pengikut yang menancapkan pedangnya kepada Yama tertebas.
meskipun begitu, ketujuh orang trus berusaha membunuh Yama.
Satu persatu pedang tertancap dan menembus tubuh Yama.
Dan begitupun sebaliknya, satu persatu bawahan jubah putih tumbang tanpa nyawa.
Yama terus bertahan mempertahankan nafasnya.
Dengan delapan pedang di tubuhnya, ia berdiri dengan gagah.
Baju zirahnya kini bersimbah cairan merah darah.
Raka membuka matanya perlahan.
"Ugh.. Guru.." ucapnya membuka mata.
Yama tersenyum sesaat mendengar suara kecil itu memanggilnya.
Ia berpaling dan menunjukkan ekspresi tenangnya.
"Sudah bangun huh!? Bagaimana tidurmu?"
Raka terkejut. Sebuah perasaan melonjak dalam dirinya.
"Guru! Apa yang terjadi pada anda!" Ucap Raka terkejut.
"Tsk. Bodoh! Mau berapa kali kau membuatku yang tua ini khawatir huh!? Tindakanmu tadi itu sangat berbahaya.. kau tahu? Menurutmu apa yang harus kulakukan jika koki kecilku mati?" Ucap Yama dengan ringan.
"Tch. Berhenti mengatakan hal hal yang tidak penting! Alice lin.." Raka terhenti sesaat melihat kelima bawahannya yang masih berlutut.
"Tunggu. Apa ini yang kau maksud saat itu? Dan apakah kau yang memerintahkan hal bodoh seperti ini!?"
"Jika bukan aku yang memerintahkan mereka apa menurutmu gurumu ini bisa tenang saat meningggalkanmu sendirian huh!? Dan juga, bisakah kau m3lakukan apa yang aku sampaikan padamu saat itu?" Ucap Yama dengan tersenyum.
Perlahan lahan tubuhnya limbung. Raka menghampirinya dan menahan tubuh gurunya.
"Tsk.Terlelaplah dengan tenang. Pak tua"
Nafasnya berakhir.