Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Delegation: Impulsive Youth



Nauval menghela nafasnya.


"Baiklah, aku akan memulainya dengan kondisi negara kami. Jika berbicara tentangnya, seharusnya anda pasti sudah mendengarnya, soal konflik negara kami dengan kerajaan iblis Baal. Tapi, sebagai delegasi yang mewakili negara, kami akan memperjelasnya." Ucap Nauval tajam.


Sementara Raka mengangguk seraya menyesap teh miliknya.


"Negara kami berbatasan dengan wilayah bebas, hutan kayu hitam. Setiap tahunnya, kami memanfaatkan kayu kayu hitam sebagai sumber kehidupan para pengrajin negri kami. Secara teritori, memang, kami akui, hutan kayu hitam seharusnya adalah bagian dari istana Baal, tapi seperti yang diketahui oleh banyak orang, hutan itu adalah keberadaan bebas secara hukum." Ucap Nauval.


"Permasalahannya adalah, sejak lima tahun yang lalu, ada sedikit perubahan yang terjadi di hutan hitam. Pemimpin suku kayu hitam terlihat memihak pada istana Baal. Itu hanyalah sebuah praduga sebelum akhirnya hutan kayu hitam mendeklarasikan diri untuk bergabung dengan istana Baal." Sambung Anastasya kemudian.


"Para pengrajin yang kehilangan pasokan kayu hitam melakukan protes keras. Bagaimanapun, meskipun hutan hitam sudah menjadi kawasan bebas sejak dulu, kenyataannya mereka tak bisa berhenti untuk bergantung pada negri kami. Sejak puluhan ribu tahun, nenek moyang kami bekerjasama saling membantu dan menguntungkan." Ucap Alvan menambahi.


"Ah, itu benar. Jika Dibandingkan dengan apa yang negri kami berikan terhadapnya, istana Baal tidak pernah sekalipun ikut campur dalam perkembangan hutan hitam. Bahkan dalam beberapa sejarah, diketahui jika istana Baal sudah beberapa kali berniat mengaj curkan hutan hitam. Perihal itu, kami sedikit kecewa dengan mereka, tapi raja kami, menerima keputusan pemimpin suku dengan lapang dada dengan beberapa kesepakatan. Anda bisa melihat kesepakatan itu karena anda adalah rekan kami saat ini." Ucap Nauval seraya menyerahkan sebuah gulungan surat.


Raka menerimanya, ia tersenyum saat membaca isi dari gulungan itu.


"Meskipun begitu, beberapa poin dalam kesepakatan itu dilanggar oleh pihak lawan, dan itu cukup membuat negri kami bergejolak. Poin poin itu seperti kerjasama yang tetap berjalan seperti sebelumnya, pada kenyataannya mereka memanfaatkannya untuk menaikkan harga, sementara istana Baal justru mengeksploitasi hutan hitam. Dan itu jelas melanggar poin pertama dan kelima tentang sumber daya kayu hitam. Lalu, beberapa iblis mulai mengacau jalannya distribusi kayu hitam, yang menyebabkan menurunnya kualitas yang kami dapatkan. Selanjutnya, negri kami mengalami krisis air. Bagaimana tidak? Sungai yang mengalir melalui hutan hitam sekarang sudah di kuasai oleh istana Baal, dan mereka juga merusak hilir sungai. Ini menyebabkan kekeringan dan keracunan dalam beberapa kasus." Ucap Nauval tajam.


"Tak hanya itu, beberapa kota yang berbatasan dengan hutan hitam akhir akhir ini melaporkan banyak kejadian aneh, mulai dari penculikan, hingga perampokan yang dilakukan oleh sekelompok bandit gunug, kemungkinan besar mereka adalah anggota suku kayu hitam. Ada pula beberapa kota lainnya yang mengalami perselisihan antara warga lokal dengan suku pedalaman kayu hitam. Tentu saja ini membuat pemerintahan kami resah, bagaimanapun, mereka mengacau di negri kami. Beberapa dari mereka berhasil kami tindak. Tapi mereka terus bertambah, dan beberapa dari mereka seperti sengaja menyulut perang antara negri kami dengan istana Baal."


"Dalam beberapa saat, kami berusaha melakukan mediasi, tapi apa yang kami dapatkan hanyalah tolakan. Kekaisaran juga sudah turun tangan, dalam hal ini, kekaisaran memberi ultimatum kepada suku pedalaman, dan mereka masih tak menghiraukannya dengan melakukan beberapa kekacauan lainnya. Bahkan, tambang kami yang berada didekat hutan hitam diambil alih secara paksa sebagai bentuk penolakan mereka. Kedepannya, kami tak bisa mengharapkan bantuan dari kekaisaran lagi. Bagaimanapun, kekuatan kekaisaran menurun dalam lima tahun terakhir dan kami tidak ingin menyebabkan kepunahan atas kaum manusia di benua ini."


"Karenanyalah, ayah kami memutuskan untuk melakukan kerjasama dengan anda, yang mulia pangeran kedua Arcnight. Dengan anda dipihak kami, kami mengharapkan bantuan anda sebagai pemimpin Azadys." Ucap Nauval Hormat.


"Oh? Begitukah?" Ucap Raka ringan.


"Tapi sebelum itu, seharusnya kalian tahu bukan? Bahwa kepercayaan adalah dasar dari kerjasama kita?" Tanya Raka tajam.


Dalam sekejap, udara ruangan itu berubah menjadi berat.


'Ini.. apa ini selubung aura miliknya!?' Tanya Nauval dalam hati.


'Keugh! Jadi ini kekuatan dari pemimpin Azadys!?' Pikir Anastasya.


"Cough! Cough!" Anastasya tertekan, saat ini ia tertekan lebih dari siapapun.


"Anastasya!" Seru kedua saudaranya serempak.


Nauval dengan segera merangkul Anastasya, ia terkejut saat melihat sebuah bayangan hitam menguap dari tengkuk adiknya.


Alvan tercengang. Dengan cepat ia bergerak maju kearah Raka dengan tangannya yang mengepal erat.


Sementara Nauval tampak terkejut dan refleks berdiri. Hendak mencegahnya tapi itu terlalu cepat untuk ia cegah.


"Alvan! Kendalikan emosimu!"


Dash!