Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Prolog 4: Benang Merah yang bertaut




Dia menghilang, bersamaan dengan air mata yang tak sanggup ku bendung. Aku sendiri tak menyadari keberadaannya, aku tak mengenalnya. Namun saat ia menarikku, perlahan lahan muncul dalam benakku perasaan dimana aku benar benar merasakan ketenangan dan kebebasan.


Ia melepas belenggu dari hidupku yang lalu.


Dalam diamku bertanya tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Pandangku terhenti pada sesosok wanita cantik dengan rambut perak yang terlihat bahagia bercengkrama dengan dua orang pria berambut pirang didekatnya.


'Ibu! Ayah! Kakak!' Suaraku tersekat. Ada sesuatu yang terjadi padaku, tubuhku membeku terdiam. Pandanganku kabur, perlahan namun pasti dimensi sekitarku berubah, satu persatu semuanya menghilang, tergantikan oleh sebuah lanskap langit berbintang yang begitu indah. Aku tertegun. Sebuah suara memasuki pikiranku, dalam suaranya dia menyebut namaku dengan lembut.


Setelahnya, hatiku merasa tenang. Aku menengadahkan wajahku kearah sumber suara. Nampak dalam pikiranku sebuah pohon tinggi dengan banyak rantingnya yang rimbun.


'Siapa kau?' Kembali ku bertanya.


'Siapapun aku, kau tak perlu menghiraukannya, apakah kau merindukan keluargamu, Gadisku?'


Ucap sebuah suara menyapa lembut.


Aku mengangguk sedih menanggapi perkatannya. Menanggapi reaksiku, pohon itu menggerak gerakkan daunnya menyentuh wajahku lembut.


'Temuilah' ucapnya.


'A apa?' Ucapku terkejut. Seberkas sinar memancar dari tanganku. Sinar itu menghilangkan kesadaranku, hingga aku kembali terbangun.


Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi satu hal yang kutahu, aku kembali disaat dimana aku dilahirkan! Semenjak itu semua hal yang terjadi sama dengan apa yang terjadi di kehidupanku sebelumnya. Atas semua ingatanku, aku membangun semuanya dari awal. Mencegah kematia. Keluargaku, dan segala hal buruk dalam hidupku.


Takdir tetaplah takdir, itulah yang kupikirkan dikehidupan pertamaku hingga kehidupan ke limaku. Ya! Itu benar semua hal yang terjadi pada akhirnya tidak berubah. Semuanya masih berakhir menyedihkan.


Sama seperti sebelumnya, aku selalu bertemu dengan pria itu. Pria yang selalu menarikku dan mengajakku tepat dimana saja tempat Ox mau bertemu denganku. Ox itulah nama yg kusematkan pada pohon yang selalu memberiku kesempatan kembali mengulang waktu.


"Ox, apakah takdir itu benar benar tidak bisa diubah?"


'Oh? Ada apa dengan gadisku, apa kai baik baik saja?'


"Haha, kau bercanda ox, bukankah semuanya sia sia? Maksudku, kesempatan untuk mengulang waktu yang kau beri padaku.."


'Entahlah, kau tahu? Kau istimewa'


"kenapa kau memberiku kesempatan ini? Sedangkan takdir itu sendiri tidak dapat diubah? Apa kau bermain main denganku?"


'Kau kacau, gadisku'


Mataku memanas, tetesan air mata membasahi pakaian yang kini kukenakan. Aku meringkuk menangis tersedu sedu. Sendiri.


Ox membelaikan daunnya lembut. Perlahan namun pasti, aku terlelap dalam mimpi, mimpi yang begitu panjang dan menyedihkan.


...●●●...


"Bodoh! Bukankah sudah kubilang untuk tidak mempertahankannya!?"


Seorang pemuda berambut hitam mengetuk kepalaku ringan seraya mengomel.


"Ouch! Bisakah kau tidak mengetuk kepalaku setiap kali bertemu!? Aku tahu jika kau lebih tinggi dariku, tapi setidaknya jangan mengetukku seenaknya!?" Protesku terhadap pemuda dihadapanku.


"Pffft! Lihat! kau begitu menggemaskan saat memarahiku Varhea" ucap pemuda itu ringan seraya menarik kursi dihadapanku.


Pipiku memanas, "bo bodoh! Kau mengacaukanku" ucapku seraya mengacak acak balik rambut hitamnya.


"Ahahaha!" Dia tertawa cukup keras.


"Hmph! Kau pasti sering mengatakannya pada gadis lain kan!?" Tanyaku curiga.


"Gasp!" Wajahku memerah. Bagaimanapun, dia mengatakan dua hal yang membuatku malu.


"Kau tahu? Aku suka wajahmu yang memerah malu" ucapnya.


"Di diam! Berhenti mengejekku"


"Hahaha"


.


.


.


"Ayo! Bisakah kau berlari dengan cepat!? Kau laki laki kan!?" Ucapku seraya berlari menggodanya.


"Ugh.. apa maksudmu hah!? Tentu saja aku laki laki! Tapi, jika seandainya aku berlari lebih cepat lagi, bagaimana aku mengawasimu huh!?" ucapnya tak kalah tinggi.


"Bodo amat!" Ucapku seraya memamerkan separuh lidahku mengejek.


Aku berbalik dan hendak kembali sebelum sebuah sosok mengambil alih perhatianku.


Aku terhenti. Dihadapanku, seorang pria dengan surai pirang dan mata coklat hazelnya berdiri bergandengan dengan seorang wanita anggun bersurai merah yang benar benar cantik.


Kami saling berpandangan. Dia nampak terkejut saat melihatku. Dan dengan cepat berlalu begitu saja.


"Setidaknya, kau bisa menjelaskannya padaku bukan? Alan?"


Dadaku terasa begitu panas saat itu. Hingga, sebuah tangan yang dingin menutup mataku erat dan mendekapku dari belakang.


"Bodoh!" Ucapnya dingin.


Aku melepaskan tangannya dan mendongakkan kepalaku ke atas, mata kami saling bertatapan.


Sebuah mata biru dengan ekspresi dingin dan rumit menarikku dalam peluknya. Mataku memanas, nafasku kembali tak beraturan. Tapi entah kenapa, hatiku benar benar tenang.


"Bukankah sudah kukatakan, tutup matamu? Kenapa kau masih membukanya?" Ucapnya.


Aku terus menangis dalam peluknya. Hingga beberapa lama, tangisku reda. Ia melepas peluknya, dan tersenyum hangat membelai rambutku.


"Inilah akibatnya jika kau melihat yang tak seharusnya kau lihat" ucapnya seraya menutup mataku.


Aku menggigit bibirku miris.


'Ahh.. memori ini lagi'


"Haha, kau benar benar menyebalkan, Ox"


"Oho?"


"Kau bahkan memanipulasi ingatanku"


"Fufu, apapun akan kulakukan untuk itu, gadisku. Jadi apa keputusanmu?"


"Apa kau bercanda huh!? Menurutmu? Apa aku punya alasan untuk tidak terpengaruh olehnya!?" Ucapku.


"Seperti yang diharapkan darimu, gadisku. Aku menantikanmu"


Seberkas sinar kembali menyinari tubuhku untuk membawaku pada putaran berikutnya, putaran takdir milikku sendiri.