Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Naughty boy: sly fox




Makan malam tiba.


Semuanya duduk diatas kursinya masing masing, kecuali Albert yang sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Seperti biasa, Stelia nampak bercengkerama dengan Raka.


Sementara Bobby nampak merenungkan sesuatu.


"Bobby, ada apa?" Tanya Queensha penasaran.


"Eh? Tidak apa apa bu" ucap Bobby.


"Ah. Aku sudah selesai makan, aku akan kembali kekamarku sekarang, ayah ibu" ucap Bobby turun dari kursinya dan berjalan menjauh.


Raka sadar akan sesuatu.


"Huh.. anak itu sebenarnya ada apa dengannya?"


"Ah. Kurasa yang mulia Pangeran Bobby cukup lelah hari ini, aku mendengarnya dari tuan muda Rietch, Kleid dan Struitch tadi siang, beliau beradu pedang dengan tuan muda Glad" ucap Raka menenangkan kekhawatiran Queensha.


Queensha melayangkan pandangnya pada Raka yang tengah tersenyum. Sebuah perasaan lega dan percaya muncul dari hatinya.


Sigh.


Ia menghela nafasnya dan mengangguk.


"Yah, kurasa akan jadi lebih baik sebelumnya jika kau bisa berteman dengannya, Raka" ucap Queensha menambahi.


Raka hanya tersenyum.


"Ah, aku bukan orang yang mudah akrab, bibi" ucapnya menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak terasa gatal.


Makan malam telah usai.


Stelia nampaknya kembali kekamarnya untuk belajar sedikit tentang sejarah.


Bobby yang sudah kembali sejak awal.


Sementara Queensha pergi menemui suaminya.


Raka melangkahkan kakinya untuk kembali kekamarnya.


Suasana istana itu memang ramai, tapi disaat saat seperti ini, istana ini akan jadi begitu hening.


Raka berhenti melangkah, ia kemudian menolehkan pandangnya ke arah samping,


"Keluarlah" ucapnya.


Sebuah siluet hitam muncul dan nampak berlutut menghadapnya.


"Hormat kepada yang mulia" ucapnya.


"Katakan" ujar Raka dingin


"Ah. Semuanya berjalan sesuai rencana anda, yang mulia.. kerajaan Purma telah hancur" ucapnya


"Oh." Raka menjawab singkat. Memalingkan wajahnya.


"Kembali" ucapnya.


"Sesuai perintah yang mulia" ucapnya sebelum menghilang.


Sigh. Raka menghela nafasnya.


Slap!


Ia menendang sebuah dinding didekatnya, sebuah retakan yang cukup besar nampak muncul kemudian.


"Katakan maksud anda, tuan Qin"


Raka kembali berdiri dengan kokoh.


Pria itu keluar dan nampak terkejut sesaat.


"Fufufu.. anda benar benar tak terduga, yang mulia pangeran Arcnight, tidak! Yang mulia Diablo" ucap Kepala pelayan Qin dengan hormat kemudian.


Raka hanya menatapnya dingin tak bergeming seolah olah tak pernah mendengar sedikitpun ucapan Qin sebelumnya.


"Ah.. anda benar benar berbeda." Ucap Qin dengan menghela nafasnya.


"Kau belum menjawabku, Tuan Qin" tegas Raka selangkah kemudian.


"Baiklah. Aku yang sudah tua ini mengalah"


Rana hanya mengangguk mendengarkan


"Seharusnya anda sudah tahu masalahnya bukan?" Ucap Qin dengan serius.


"Ini soal Yang mulia Bobby"


Raka kemudian memalingkan wajahnya dan mulai melangkah kembali.


"Akan kupikirkan"


"Ah. Anda terlalu baik, terimakasih."


Raka kemudian berhenti setelah beberapa langkah.


"Tapi kenapa harus aku?" Tanya Raka sejurus kemudian.


"Sigh. Merepotkan" ucap Raka berlalu.


...●●●...


Sementara di ruang kerja tempat Albert dan Queensha.


"Yang mulia! Anda kedatangan Count Rietch, Klied, Struitch, serta Marquiss Glad datang menemui anda" Ucap Tryan dengan panik, masih dengan nafas yang terengah engah.


Keduanya terkesiap dan saling bertatapan.


Beberapa jam sebelumnya, dikedalaman hutan hitam.


"Glad, apa kau yakin jika ini arah yang benar?" Tanya Bobby.


"Ah. Yang mulia tidak usah ragu, ini benar.. saya menemukan peta ini di sebuah buku di perpustakaan tempo hari" ucap Glad.


Sementara ketiga teman yang lainnya nampak mengangguk dengan tubuh sedikit bergetar.


Bobby mengiyakan dan kembali berjalan.


Kali ini, dia dan keempat temannya yang lainnya pergi ke hutan hitam untuk mencari pedang suci terkutuk, Phthartic.


"Sigh. Kurasa cukup, aku tidak mau ada yabg terjadi dengan kita. Jika itu lebih dalam lagi akan berbahaya,"


"Eh? A apa maksud yang mulia? Pedang ini adalah pedang Phthartic yang bisa menarik aura jahat! Jika kita bisa mendapatkannya, kerajaan kita tidak perlu takut iblis lagi bukan?" Tanya Struitch.


"Hmm? Apa maksudmu? Jika memang pedang itu bisa menyerap aura, maka pasti hutan ini tidak akan disebut sebagai hutan hitam bukan? Lagipula jika memang benar jika pedang ini bisa melindungi kerajaan dari iblis maka pedang ini sudah diburu sejak berabad abad yang lalu, tidak hanya oleh manusia tapi bahkan mungkin iblis itu sendiri." Ucap Bobby menyakinkan


"Ta tapi! Alasan kenapa pedang ini tidak diburu pasti karena petanya baru ditemukan Glad kan? Bukan begitu Glad?"


"Yah, itu memang benar, tapi kurasa apa yang dikatakan yang mulia ada benarnya.. pasti ada resiko dalam memakainya, atau bahkan mungkin pedang itu memang tidak ada." Ucapnya


"""E eh?""" Ucap mereka bertiga heran.


Bobby mengangguk dan kemudian mulai melangkah kembali.


Tapi sebelum itu, tanpa disadarinya, sebuah senyum jahat terpampang di wajah Glad.


'Yah. Aku tak menyangka jika kau bisa begitu pintar, tapi tetap saja.. kau tidak berguna' gumamnya dalam hati.


Sesaat kemudian, ia melempar sebuah bola seukuran tenis kearah semak belukar.


Bobby menyadarinya.


"Glad. Apa yang kau lempar!?" Tanyanya marah. Bagaimanapun disini adalah hutan hitam yang tidak diketahui apa apa didalamnya. Akan sangat berbahaya jika bertindak gegabah.


"Menurutmu? Yang mulia?" Tanya Glad dengan ekspresi liciknya.


Boom!


Bola itu meledak dan menimbulkan suara yang mengacaukan hutan.


Seketika ratusan pasang mata menatap mereka dengan ganas.


Bobby terkejut dan menarik pedangnya dengan cepat, mengambil langkah bertarung.


"Glad! Rietch! Struitch! Kleid! Lupakan omong kosong tadi! Cepat bertahan!" Seru Bobby.


Matanya melebar saat melirikkan pandangnya kearah belakang,


"Kalian.."


"Tsk."


Bobby bertarung dengan amarah yang membuncah dalam dirinya.


Sementara keempat temannya pergi menggunakan artefak teleportasi.


...●●●...


"Yang mulia! Apa anda bisa menjelaskan apa yang dilakukan yang mulia pangeran!?" Ucap Count Rietch dengan geram.


"Huhuhu.. Waldo ku sayang.." ucap seorang wanita, dia adalah Countess Rietch.


(Waldo nama asli Rietch.. )


"Apa maksud anda Countess Rietch! Apa kau bermaksud menuduh yang mulia pangeran huh!?" Ucap Queensha geram.


"Hiks.. hiks.. yang mulia Ratu.. sa saya tidak bermaksud demikian, saya.. saya hanya mempertanyakan tindakan anda tentang putra anda! Nyawa putraku itu tidak berharga bagi anda, bagaimanapun dia hanya bangsawan kecil, tapi bagiku, dia adalah segalanya, yang mulia!" Tegas Countess Rietch.


"Cukup! Emilia! Panggil yang mulia pangeran kemari! Apa benar dia sedang pergi ke hutan hitam!?" Tegas Albert.


"Albert!" Teriak Queensha.


"Tsk." Queensha memalingkan wajahnya kesal.


Tak selang lama, Maid itu kembali dan melaporkan bahwa Bobby tidak ada dikamar.


Pupil mata Queensha menyusut.


Sementara keempat bangsawan itu nampak tersenyum puas.


"Yang mulia, izinkan hamba berkata.. hamba sama sekali tidak peduli jika Theo terluka, tapi menurut anda apa yang akan terjadi jika yang mulia pangeran terluka? Yang pasti kematian putra marquiss sama sekali tak bisa dibandingkan dengan kematian yang mulia pangeran.." Ucap Marquiss Glad dengan licik.


Sementara Albert nampak menggelap.