
Serkan nampak terkejut sesaat.
'Apa? Dia bisa mendeteksi Jean? Tapi bagaimana mungkin? Jean adalah pengendali balik bayangan yang bahkan bisa mengintai raja. Sekuat apakah pemuda yang nampak sebaya dengannya ini?'
Ekspresi Richard meredup. Senyumnya kini mulai menghilang, berganti dengan ekspresi seriusnya.
"Oh? Anda melihatnya?"
Raka menyeruput sedikit Teh yang disiapkan oleh Richard sebelumnya. Ia lantas tersenyum.
"Aku hanya berpikir sedikit mencurigakan untuk melihat anda hanya berdua dengan asisten anda, yang mulia.. anda adalah orang yang bergerak dibidang bisnis, dan tentunya sikap kehati hatian anda pasti sangatlah tinggi, bagaimanapun.. anda tidak sendirian disana"
Tes...
Darah sedikit mengucur dari leher Raka.
Meskipun begitu, ia nampak tak menghiraukannya.
"Jean. Hentikan" Ucap Richard selangkah kemudian.
Udara di ruangan itu mendadak berat, seperti di penuhi oleh aura yang menekan secara tak kasat mata.
Sesosok wanita berjubah hitam nampak berdiri dengan satu kaki melangkah keatas meja, tubuhnya bergetar hebat tangannya nampak memegang sebuah belati dengan ujung mengenai leher Raka.
Serkan membelalakkan matanya. Tubuhnya sedikit bergetar takut. Sementara Louisse disisi lain tak bergeming sedikitpun, masih dengan senyum diwajahnya.
"Jean! Apa yang kau lakukan? Bukankah kau sudah sepakat untuk tidak menyerang sembarangan!?"
'Kenapa rasanya tubuhku bergetar ketakutan? Tu tunggu! Jika begitu.. apakah mungkin Jean juga merasakannya? Bahkan lebih mengerikan dari apa yang kurasakan? Apa apaan dengan sensasi mencekam miliknya ini!?'
Richard memandang Raka dengan tajam. Saat ini, ia pun juga merasakan aura mencekam dari Raka.
Tubuh Jean nampak sedikit bergetar.
Jean menghela nafasnya berat.
"Sigh.." Jean lantas mundur dan menarik belatinya.
"Hamba meminta maaf"
Louisse mengulurkan sebuah sapu tangan pada Raka. Ia lantas mengelap sedikit darah yang tersisa di lehernya.
"Cukup. Aku tidak menyangka jika anda benar benar tidak memiliki sopan santun disini, Tuan Azalea.. bagaimanapun, kesalahan tadi adalah kesalahan saya.. tapi dengan menekan keberadaan bawahan saya apakah itu sepadan?" Ucap Richard tajam.
"Oh? Haha"
Raka hanya tersenyum. Tapi itu tidak lama, setelahnya wajahnya berubah menjadi sedikit serius dengan jejak amarah dimatanya.
"Oh? Apakah anda bercanda yang mulia Richard? Apakah menyembunyikan seorang assassin dalam forum seperti ini dapat dibenarkan? Sebagai orang yang terhormat, anda tidak menganggap sama sekali keberadaanku disini bukan? Apakah anda berpikir untuk menekan dan menunjukkan kepemerintahan anda disini? Itu bukan hal yang dibenarkan. Ini wilayah saya, saya yang berkuasa. Dan saya menolak keberadaan kekuasaan lainnya. Anda mencoba menekanku dan mengarahkanku ke topik yang anda inginkan bukan? Dan lagi, apakah anda akan membunuhku jika aku tidak bersedia bekerja sama dengan anda? Ataukah, anda akan membunuhku jika aku mengetahui banyak rahasia, dan untuk membersihkannya anda akan membunuhku tanpa suara sedikit pun!?"
"Haha, tapi sayangnya, aku bukan orang yang bisa ditindas, yang mulia. Bahkan itu juga berlaku bagi bawahanku, Tapi aku? Aku hanya menekan kedua bawahanmu, dan mereka merasakan perasaan yang sama dengan perasaaan yang kurasakan kan? Ini membuktikan tentang siapa yang berkuasa disini"
Ekspresi Richard nampak meregang sedikit.
"Sigh.. harus kuakui, anda pantas sebagai pemimpin, Tuan Azalea.."
"Oh? Apakah hanya itu? Maaf, tapi aku tak butuh pengakuan anda".
Serkan nampak terkejut dan sedikit marah.
"Ka kau!"
"Aku? Aku apa? Lanjutkan perkataanmu" Raka menengadahkan kepalanya menantang Serkan.
Serkan terkesiap. Ia tak lagi mampu mengatakan sepatah kata pun. Sepasang mata biru mengintimidasinya.