Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Extra Part: Dua Pangeran (Special Ed Happy Birthday)




Tap tap


Seorang anak laki laki bersurai merah nampak berjalan ringan disebuah lorong. Sesekali disela sela langkah kecilnya, ia berhenti dan menoleh kesekitarnya seolah olah mencari sesuatu.


Dalam beberapa kesempatan, ia nampak berbincang bincang dengan beberapa pelayan yang secara kebetulan lewat.


"Um, maaf, nona Niels, bolehkah aku bertanya?" Tanyanya polos terhadap seorang wanita muda dengan seragam pelayan rapihnya.


"Ah, yang mulia, anda tidak perlu berbicara terlalu fornal kepada saya, anda adalah tuan saya, pangeran Varrel" balas pelayan itu terbata bata.


"Yah, tidak apa, ibu selalu berkata bahwa yang muda harus menghormati yang lebih tua dengan berbicara sopan" ucapnya.


"Aaaah.. tuanku, bagaimana anda bisa begitu tampan?" Ucap pelayan itu sumringah.


"Eh?" Anak itu memiringkan kepalanya bingung.


"Ja Jadi apa yang akan anda tanyakan tuanku?" Tanya pelayan itu kikuk.


"Ah! Benar! Apa Nona melihat Raka?" Tanya anak itu sedikit bingung.


"Oh? Kelihatannya, Yang mulia pangeran Raka sedang berada di taman belakang bersama yang mulia ratu. Apakah anda akan kesana?" Tanya pelayan itu.


Anak itu mengangguk. "Terimakasih Nona!" Ucapnya ceria.


"Aaah.. baiklah, tuanku.. berhati hatilah, jika anda perlu sesuatu, katakanlah" ucapnya seraya melambaikan tangannya gembira.


Anak itu lantas berlari ringan dengan bahagia.


Dia- Pangeran pertama yang berbakat, Varrel Azariel Putra Arcnight.


...□□□...


Sementara di suatu taman kecil dengan bunga dan pepohonan yang begitu terawat. Seorang anak kecil bersurai hitam kebiruan nampak meringkuk disudut semak dengan sebuah buku dalam pelukannya.


Dibelakang semak itu, beberapa pria nampak berjalan seraya mengobrol ringan.


"Hei! Apa kau melihatnya? Pangeran pertama benar benar menakjubkan! Tak kusangka dia bisa menguasai ilmu pedang yang setingkat dengan prajurit pangkat tiga diumurnya yang baru menginjak angka 7 tahun!" Ucap seorang pria dengan seragam selayaknya seorang butler.


"Yah, itu tidak diragukan lagi bakatnya! Maksudku, dia benar benar seorang pria yang hebat dimasa depan. Dia adalah calon raja kita!" Ucap pria satunya dengan nada yang bersemangat.


"Hmm, berbicara tentang bakat pangeran pertama, itu sedikit berlainan denngan pangeran kedua. Yah, maksudku, bukankah dia dilahirkan dengan badan yang lemah? Dia bahkan tidak berambut merah, artinya dia tidak pantas menjadi raja berikutnya! Mengingat rambut hitam kebiruan memang istimewa sih, tapi bukankah itu tidak berguna jika dia bahkan tidak bisa memakai sihir? Lalu apa bakatnya?" Timpal seorang pria dengan ekspresi ragu.


"Ssst! Apa yang kau katakan tadi!? Bagaimana jika itu sampai ke telinga yang mulia Raja? Dapat dipastikan kau akan dieksekusi!."


"Ya! Itu benar! Bagaimanapun, yang mulia pangeran kedua itu tetaplah pangeran meskipun tidak berbakat kan? Lain kali berhati hatilah dengan ucapanmu!"


"Tch. Memangnya kenapa jika dieksekusi? Bukankah itu benar? Aku hanya berbicara fakta saja kok. Yah, kalian berbicara seperti itu seolah olah kalian akan melaporkanku saja"


Para butler itu lantas berlalu.


Sementara anak kecil dengan surai hitam kebiruan nampak sedikit mendingin.


Ia menggigit bibirnya menahan tangis.


Mata tajamnya nampak menutup dengan pelan.


Dia-pangeran kedua kerajaan Arcnight itu sendiri, Raka Azalea Putra Arcnight.


...□□□...


Varrel terus berjalan ringan. Tak berapa lama, ia sampai di suatu tempat terbuka dengan padang hijau dihadapannya.


Ia melemparkan pandangnya ke seluruh sudut taman.


Sigh. Ia menghela nafasnya panjang. Ekspresinya berubah menjadi sedikit murung saat menyadari seseorang yang ia cari tak ada dalam pandangnya.


"Ouch!" Sebuah suara yang tak asing baginya mengejutkannya.


Dalam sekejap ekspresinha kembali ceria. Dengan senyum ceria, ia lantas berjingkat jingkat menuju ke sumber suara.


"Dorr!" Serunya mengejutkan Raka.


Raka terkejut, tanpa sadar tubuhnya bergerak bangkit seraya memeluk bukunya.


"A aku tidak mendengarnya! Oops!" Ucapnya terbata, ia lantas menutup mulutnya dengan kedua mulutnya. Masih dengan jejak air mata dipipi kecilnya yang nampak sedikit memerah.


Ekspresi Varrel berubah menjadi rumit.


"Kau menangis?" Tanyanya tajam.


Raka menggelengkan kepalanya cepat.


"Kau berbohong! Jelas jelas kau menangis! Dan apa yang kau dengar! Apa itu tentang ucapa para bajingan itu lagi huh!? Bukankah sudah kukatakan, jika ada yang membicarakanmu dibelakangku lagi, kau bisa mengatakannya padaku, ibu atau ayah! Bodoh!" Ucap Varrel dengan nada tinggi.


Raka terkesiap, mata birunya nampak membesar menatap Varrel yang masih dengan ekspresi geramnya.


Ia lantas tersenyum dan ekspresinya kembali normal. Ia menghapus jejak air mata di pipinya.


"Lupakan! Bukankah kau datang kemari untuk mencariku dan mengajakku makan siang?" Tanya Raka mengalihkan pembicaraan.


"Ah, itu benar! Aku hampir lupa! Ayo cepat," ucap Varrel seraya menarik tangan adik kecilnya.


...□□□...