Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
An Invitation: Ruler of the Seven Cardinal Directions




Sementara itu, disebuah istana berdinding putih dengan menara yang menjulang tinggi.


Disebuah ruang di istana itu, nampak seorang pria paruh baya dengan rambut coklatnya dan mata merahnya nampak terduduk dengan sorot mata lelahnya memeriksa tumpukan tumpukan kertas yang menggunung di hadapannya.


Albert Kalandra Azasky, atau yang biasa disebut dengan gelar *Penguasa tujuh arah angin*.


Bukan tanpa alasan ia mendapat gelar itu, dia dalah seorang raja dari kerajaan langit, Azasky.


Dulu ia mulai merintis kekuasaannya tepat diumurnya yang masih muda, 17 tahun. Dengan kakuatannya, ia menaklukan tiga kekuasaan di sekitar kerajaannya. Tiga kekuasaan itu tersebar membujur dari ujung utara ke timur, barat ke utara, serta selatan ke barat. Dan tak hanya itu, ia juga terkenal dengan relasinya yang erat dengan kerajaan Arcnight, kerajaan dengan militer nomor satu dibenua.


Bahkan bisa dibilang, kerajaan ini adalag kerajaan sahabat dengan kerajaan Arcnight.


"Tryan, apakah aku benar benar harus menyelesaikannya saat ini huh!?" Keluhnya mengahadap seorang pria tua dengan tuxedo dan kacamata terpasang di hidungnya.


"Dan juga bukankah seharusnya aku memantau para mage yang sedang memperkuat barier huh!?"


"Bagaimanapun, sebagai adiknya aku ini harus membantunya kan?" Serunya dengan antusias tatkala bangun dari tempat duduknya.


"Ohohoho, anda benar benar harus bersyukur karena ada banyak orang yang peduli dengan anda dan memutuskan untuk membantu anda"


"Untuk masalah para mage, itu sudah terselesaikan oleh yang mulia ratu" ucapnya tersenyum ramah.


Albert terdiam membatu, bagaimanapun itu tidak bisa dibilang membantu, karena yang saat ini ia butuhkan adalah kesempatan keluar dari ruangannya itu.


"Uuugh"


Ia tertunduk lemas sembari memijati dahinya pusing.


"Oh ya, untuk yang mulia pangeran ia sedang berlatih pedang dengan teman temannya"


"Oh? Bagaimana dengan Stelia? Apakah ia disini saat ini?"


"Ahaha, tuan putri Stelia sedang sibuk diruangannya saat ini"


"Oh! Sebagai ayah yang baik bukankah sebaiknya aku kesana menemaninya?" Ucapnya kembali mendapatkan momentum


"Ohoho, kelihatannya anda sudah mulai menjadi tua ya, yang mulia" ucap tryan ringan.


Kuh. Albert tersentak, kali ini ia kembali mengingat adegan dimana putri kecilnya, Stelia memarahinya sesaat setelah ia menerobos ruang belajar putrinya dan membuat beberapa anak menangis kencang.


Ekspresinya menjadi suram kembali. Kali ini ia terduduk dengan kedua tangan menyangga dagu tegasnya.


Sigh. Tryan nampak menghela nafasnya berat. Ia memandangi rajanya yang nampak tertekan.


Istrinya yang seperti rubah, putrinya yang merupakan singa, dan putranya yang seperti kera.


Ia pasti tertekan.


"Oh? Apa itu surat lain yang membosankan?" Ucapnya dengan ekspresi datar.


"U um.. iya" ucap Tryan.


"Sigh.. aku tak ingin membacanya tapi untuk menghargai penulisnya aku akan membukanya sebentar" Ucapnya dengan ekspresi malas.


Ia kemudian membuka kop surat dan membacanya dengan malas.


Hingga sudut terakhir surat itu mengejutkannya.


Ia berdiri dan menggebrak mejanya secara spontan.


"Tryan..dari siapa kau mendapatkan surat ini huh!?" Ucapnya dengan eskpresi mencekam.


"U ugh.. ini.. surat ini dikirim oleh sebuah federasi dagang yang naik daun akhir akhir ini," Ucapnya dengan tatapan bingung bercampur kaget.


Sebuah senyum terbentuk diwajah Albert.


Nampak wajahnya yang semula tertekan dan malas berubah menjadi wajah penuh tantangan dan keingintahuan.


Tryan masih bertanya tanya.


"Tryan! Siapkan kereta! Kita bersiap siap untuk pergi ke pelelangan Nightingale!" Serunya.


Tryan kemudian membungkukkan tubuhnya dan segera keluar tanpa sepatah pertanyaan pun.


"Tsk. Ternyata itu kau baj*ngan kecil! Kau benar benar mengingatkanku pada ayahmu"


...●●●...


Tap tap tap..


Terdengar suara kereta kuda dengan lambang rajawali putih berjalan cukup cepat di jalanan yang terbilang cukup ramai.


Itu adalah kereta bangsawan.


"Suamiku, sebenarnya apa yang terjadi? Aku tahu meskipun kau tipe orang yang suka bersenang senang, tapi jarang sekali kau bersikap tidak waspada seperti ini?" Ucap seorang wanita cantik dengan rambut pirangnya tergerai panjang.


Disampingnya nampak seorang gadis kecil yang tertidur pulas.


Albert menolehkan pandangnga pada wanita cantik yang tak lain adalah istrinya itu, ia tersenyum ramah.


"Tidak ada yang mendesak. Hanya ada seseorang kawan lama yang ingin kutemui.. saat waktunya tiba kau juga akan mengenalinya, dan aku berharap Boby dan Stelia dapat berteman baik dengannya" ucapnya lembut.


"Kuh. Kenapa aku disangkut pautkan sih!?" Protes Boby.


Wanita itu pun terdiam, tapi masih menunjukkan ekspresi bertanya tanyanya.