Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Prolog 2: Benang merah yang bertaut




Nonius memutuskan untuk gagal dalam misinya kali ini. Sekeping ingatan bermunculan dalam ingatannya. Tentang bagaimana ayahnya yang seorang pemabuk mati tepat dihadapannya. Tentang ibunya yang menjadi depresi dan memutuskan mengakhiri hidupnya. Tentang adik kecilnya yang mati dalam tragedi pembunuhan berantai arah angin. Semuanya menyakitkan, karenanyalah, ia memutuskan untuk membiarkan pria itu hidup, bagaimanapun ia tak ingin ada seorang gadis kecil yang menghadapi saat saat terakhir ayahnya yang mengerikan. Apa yang kau tanam akan kau tuai, itu benar. Suatu hari nanti, dia pasti akan membunuh pria itu untuk adik kecilnya, Rania.


Malam benar benar dingin, udara panas berhembus keluar saat Nonius membuka maskernya. Ia menatap bintang, terlintas dalam pikirannya seperti apa keluarga kecilnya dulu.


"Ah, kuharap suatu hari nanti aku akan menemui kalian, ayah ibu, Rania juga" Matanya berbinar bahagia saat mengingat bagaimana ia tertawa tempo hari.


...●●●...


Klak! Nonius membuka pintu apartemennya. Terpampang didepannya apartemen hangatnya.


"Sayang, kau sudah kembali? apakah misimu lancar?" Ucap seorang wanita dengan apron tengah menyiapkan makanan.


Wanita itu adalah Melisa, kekasihnya yang begitu ia cintai. Yah, itu benar Melisa tahu akan profesi Nonius sebagai seorang pembunuh, tapi tetap saja ia 'terlihat' sangat tulus mencintainya.


"Ah, terimakasih, hari ini cukup baik, bagaimana denganmu?" Ucap Nonius mendekat dan mengelus rambut pirang Melisa dengan lembut dan hangat.


"Aku baik baik saja.. kecuali, benar benar merindukanmu!" Ucapnya menerobos dan memeluknya erat.


"Kau ini.." belum sempat menyelesaikan ucapannya, tenggorokan Nonius tersekat. Cairan merah pekat menetes deras dari punggungnya.


"Me Melisa kau" Ucap Nonius terkejut.


"Ah? apa menurutmu aku terlihat jahat? bukan aku loh yang membunuhmu,, kau sendiri yang terlalu bodoh, Nonius" Ucap wanita itu dengan raut keserakahan.


"Tsk! adik kecilku, kau benar benar bodoh! apa menurutmu hanya karena kau seorang pembunuh elite? lantas kau seenaknya sendiri?" Ucap pria kekar sembari menjilat darah Nonius yang melekat di pisaunya.


Pria itu adalah Rayden, pria yang sama yang berbincang dengannya saat itu.


"Apa apaan ini" Ucap Nonius berusaha berdiri.


"Ah,, kau benar! kau bertanya apa alasannya kan? apa menurutmu aku bisa melupakan segalanya begitu saja? Kau benar benar naif!"


Nonius terkejut, dia pun mengingat segalanya kembali, pria itu adalah kakak dari kekasih pertamanya, Anne. Bertahun tahun lalu, kejadian berdarah menyelimuti kisah cinta mereka, Itu jugalah alasan yang menyebabkan dia tenggelam dalam berbagai kasus.


Nonius mengalihkan pandangnya pada wanita yang dia cintai itu, Melisa hanya tersenyum licik. Saat itu dada Nonius benar benar sakit, memikirkan tentang segala yang ia lalui selama ini dengan wanita itu, Melissa.


"Oh? ada apa? apa kau terkejut? jangan terkejut.. aku membunuhmu bukan karena dendam bodoh seperti itu,"


"Apa menurutmu seorang pembunuh elite yang sudah banyak membunuh sepertimu tidak punya musuh didepan sana? Ya! aku membunuhmu demi uang! Kau tahu? harga buruanmu di dunia bawah benar benar fantastis!" Ucap Melissa dengan ekspresi menjijikan.


Brakk.. Tubuhnya limbung dan terjatuh kedepan. Tubuhnya benar benar lemah, darah merah mengalir ke mana mana, jantungnya benar benar kesakitan.


"Ah, Nonius,, benar juga.. soal misimu yang terakhir itu, aku sudah memenuhinya, pria itu mati! kau tenanglah disana,, dendam adikmu sudah kubalaskan.. Dan juga biar kuingatkan satu kalimat padamu, Kehidupanmu ini, benar benar mengenaskan! tapi hidupmu ini sangat layak untuk kami nikmati" Ucap Rayden terkekeh didekat telinganya. Saat itu pikirannya benar benar kacau. Inderanya menumpul, kepalanya benar benar pusing, tubuhnya mati rasa. Ingatannya tentang kehidupan masa kecilnya dulu, tentang senyum cantik ibunya, tindakan usil adiknya, dan suara keras ayahnya..


'Ah, aku merindukan mereka' Ungkapnya dalam hati. Saat itu, matanya kabur dan kesadarannya lenyap. Ada begitu banyak orang disekitarnya, mereka terlihat bahagia.


'apakah mereka bahagiadengan keluarga mereka?'


Tepat disaat terakhir nafasnya, dia melihatnya. Keluarganya yang begitu ia cintai.


"Ayah! Ibu! Rania!" Panggil Nonius bahagia. Ia begitu bahagia, setelah sekian lama ia tak bertemu. Kebahagiaan terasa meledak ledak dalam hatinya. Tapi itu hanya sementara,


"Siapa kau?," "Kau bukan Noniusku," "Kakakku tidak akan begitu menjijikkan seperti ini,"


Nonius berhenti melangkah. Ekspresi bahagianya seketika berubah, menjadi sebuah ekspresi dingin.


Keluarganya pun perlahan lahan pergi meninggalkannya sendirian. Semua orang mulai menjauh, mungkin bisa dibilang mereka akan pergi ke surga. Saat memikirkannya hati kecilnya benar benar terasa sesak.


'Mengapa? mengapa!'


"Kau bodoh!" Ucap sebuah suara didekatnya. Nampak seorang wanita cantik berambut perak tersenyum tulus.


Anne, itulah satu satunya nama yang terlintas dalam hatinya.


"Anne!" Nonius berlari menghampirinya, tapi terlambat, Gadis itu mulai memudar dan hilang.


"Ah, benar juga seorang pembunuh sepertiku yang sudah membunuh banyak orang bagaimana bisa hidup bahagia?"


'Kalau begitu, apakah kau ingin hidup kembali?'


"Ya"


'Bagaimana dan seperti apa hidup yang kau inginkan'


"Entahlah, aku hanya ingin hidup di tengah tengah orang yang bisa mencintaiku dengan tulus, tak peduli apapun itu"


'Keinginan terpenuhi'


...●●●...