
Malam itu malam yang berkabut sejuk. Dalam sebuah ruang yang diterangi lentera, Yama duduk bersila ditengah ruang. Dihadapannya nampak muridnya yang duduk dengan hormat saling berhadapan dengan gurunya. Dengan wajah tertunduk dan air mata yang silih menetes membasahi piyama yang ia kenakan. Samar samar terdengar suara tegas dari Yama.
"Haih, aku tahu ini mungkin berat bagimu, tapi tetap saja, ini yang terbaik dan ini juga yang pada akhirnya akan terjadi, mau tak mau kau harus menerimanya."
Sementara itu Raka hanya terdiam menunduk meski air matanya tak lagi menetes.
Tak lama kemudian terdengar suara ledakan yang cukup mengejutkan.
Duarr!!
Raka terkejut dan mengangkat wajahnya tanpa sadar. Nampak dihadapannya sebuah pemandangan yang cukup menyakitkan baginya, ledakan terus terjadi silih berganti di berbagai tempat.
"Oh? Apa sudah waktunya huh?" Yama berdiri dari posisi duduknya dan menghadap kearah ledakan. Raka mengikutinya, ia berdiri dari posisinya dan melangkah kearah gurunya sedekat mungkin masih dengan wajah yang menunduk dalam dan terisak.
Yama yang menyadarinya tersenyum dan mengelus rambut muridnya itu dengan lembut.
"Tenanglah, tidak ada yang berubah selama aku tidak ada, aku akan menjaminnya"
"Apa menurutmu hal seperti itu pantas dipercaya huh?" Ucap Raka sembari mengelap air matanya yang semakin tak terbendung.
"Apa anda benar benar harus pergi?" Ucap Raka kemudian.
Raka hanya terdiam masih dengan wajah yang menunduk pasrah saat dielus oleh gurunya itu. Tapidengan air mata dan suara isakan yang tak lagi terdengar.
"Master! Terjadi ledakan dimana mana!" Ucap seorang prajurit kepada Yama dan Raka.
"Apa kau sudah siap, Muridku? Oh tidak, aku harusnya memanggilmu dengan pedang bayangan Arcnight?"
"Tsk." Raka berdecik kesal. Ia kemudian berjalan setengah berlari keluar tanpa menghiraukan gurunya ataupun wajahnya yang merah karena menangis. Ia memutuskan untuk mengganti piyamanya dengan jubah bertarung miliknya.
Sesaat kemudian, nampak dirinya berada ditengah tengah pasukan bersiap untuk memimpin pasukannya dan mengevakuasi warganya ke daerah yang aman. Sementara Yama berdiri dibelakang memandunya.
Semuanya sudah diperhitungkan dan mereka siap berperang. Dalam sekejap kota Qrystial dengan segala gemerlap aktifitasnya berubah menjadi medan perang yang dipenuhi hawa membunuh. Tak lama setelah Raka keluar bersama pasukannya, sekelompok pembunuh menyergapnya, pertarungan tak bisa dihindari. Sorakan pembakar semangat turut bergema diantara para pasukan. Semuanya dipenuhi oleh hasrat membunuh.
Tak peduli jalanan, rumah, tanah lapang, atau bahkan di gang gang kecil sekalipun pertarungan terjadi dimana mana. Kota itu kini berlumuran darah. Terlepas dari kenyataan bahwa bau anyir darah yang menyesakkan, kota itu terlihat gagah dan kokoh dengan lumuran darahnya.
Pertarungan sempat terhenti oleh ledakan ledakan yang terjadi. Pertarungan terus terjadi tanpa henti. Barulah ketika matahari menampakkan wajahnya, para penyerang mundur kearah hutan hitam. Meskipun mungkin bagi Raka untuk mengejar mereka, tapi ia memutuskan untuk membiarkan mereka pergi.
Raka menghela nafasnya panjang. Meskipun ini bukan pertarungan pertamanya, tapi tetap saja fisik kecilnya tak mampu bertahan selama itu. Raka memberi aba aba kepada para pasukannya untuk segera mundur dan merawat luka masing masing. Dengan ini, pertarungan berhenti sejenak.
Raka melepas satu persatu zirah yang melindungi tubuh kecilnya.