Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Battle




Para pasukan kelelahan. Begitupun para pasukan iblis, mereka satu persatu merasa frustasi menghadapi lawan yang cukup tangguh.


"Semuanya! Dengarkan aku! Mungkin kalian lelah, aku memahaminya, begitupun diriku. Meskipun begitu, apakah kalian rela untuk mati ditangan para makhluk tanpa harga diri ini!? Apakah itu adil bagi kalian, kalian adalah kalian! Tidak ada lagi penindasan hanya karena kalian manusia! Apakah kalian akan menyerah begitu saja? Bagaimana dengan keringat dan darah yang kalian keluarkan? Apakah kalian rela semua pengorbanan kalian hanya untuk memuaskan para iblis? Aku sama sekali tak menyalahkan kalian, siapapun yang ingin mundur mundurlah! Ini bukan tempat bagi para pecundang yang berusaha terhormat! Inilah medan bagi para ksatria! Bakarlah semangat kalian! Puaskan hasrat kalian! Keinginan untuk hidup! Hiduplah! Bakarlah! Bunuhlah! Lampiaskan semuanya dalam sekali tebas!" Ucap Raka penuh ketegasan.


Tanpa sadar para pasukan kembali melangkahlan kaki mereka. Langkah mereka semakin cepat, genggaman mereka semakin erat, nafas mereka semakin kuat, dan mata sayu mereka kembali bersinar. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam jiwa mereka.


BUNUH ATAU DIBUNUH!


Raka menghembuskan nafasnya berat. Wajahnya kembali pucat, darah kembali merembes dari sudut sudut mulutnya. Mananya telah habis!


"Yang mulia!" Seru Alice menghampiri Raka yang sempoyongan.


Raka hendak terjatuh, sesaat kemudian alice menghampirinya dan meraih tubuhnya.


"Yang mulia! Berhenti memaksakan diri anda, anda sudah melampaui batas anda! Kekuatan support dalam jangkauan besar hanya mampu anda lakukan selama sekali dalam sehari! Tapi anda bahkan telah melakukannya lebih! Ini terlalu.."


"Aku tak butuh laranganmu" ucap Raka dingin.


"E eh? Haah.. Yang mulia, anda ini"


"Aku tak bisa bertarung saat ini, manaku habis, jadi daripada aku mengahabiskan kekuatanku untuk bertarung ditengah tengah mereka dan kemudian aku benar benar jatuh, dan itu hanya akan merepotkan mereka bukan?" Ucap Raka dengan senyumnya.


"Yang mulia.."


"Dibandingkan itu, akan lebih menguntungkan jika aku mengeluarkan semua kemampuanku untu menyupport mereka yang memiliki hati yang panas.. setidaknya mereka tidak akan mengecewakanku.."


Pertarungan terus terjadi, berbeda dari sebelumnya, pasukan Qrystial mulai bangkit dan terus menggencet pasukan iblis. Mereka benar benar beringas dan terus melawan tanpa lelah.


Sementara itu, sepasang mata memandang dari kegelapan, dua mata itu benar benar manampakkan eksistensinya dan terus mengamati pertarungan Seolah olah dia mengendalikan boneka.


Raka terkejut saat merasakannya. Instingnya berkata,


'LARI JIKA KAU TIDAK INGIN MATI!'


Ia mengalihkan pandangnya pada pasukannya


"Semuanya! Pergi!" Ucap Raka terkejut.


"Yang mulia ini.."


'FUFUFU.. KELIHATANNYA AKU KETAHUAN YAA'


Tsk. Raka berdiri dan mengambil ancang ancang untuk melompat. Saat semuanya saling bertanya tanya, sebuah bola api besar meluncur dengan cepat dan siap menghantam pasukan Qrystial. Dalam sekejap, pandangan mereka teralihkan.


Seolah olah berada ditengah rawa, tubuh mereka membeku dengan keringat dingin bercucuran.


Sepersekian detik berikutnya nampak siluet sesorang seolah olah menebas bola itu dari benteng putih.


Para pasukan yang sebelumnya membeku seolah olah di beri kesempatan untuk bernafas. Tatapan kagum terlukis diwajah mereka.


'TSK. MEMANG MENYEBALKAN! TAPI DIALAH PEMIMPIN KAMI!'


Raka mendaratkan tebasan pedangnya ke bola itu dengan tepat. Semua mata menatapnya dengan kagum, tapi tatapan itu terganti dengan tatapan khawatir. Ya! Raka memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya.


Saat itu, sebuah suara bergema mengiringi kemunculan sosok pria dengan jubah hitam dari balik kegelapan.


"Fufufufu,, ah, padahal aku sudah mengirimimu peringatan, adikku, tapi tetap saja, kenapa kau bahkan repot repot menghancurkan bingkisan spesial dariku untuk para bawahanmu ini?? Padahal jika saat itu kau tidak menghancurkan bolanya kau bisa lari dariku, atau setidaknya aku masih bisa mati dengan perlawanan.." ucap pria itu dengan ekspresi meremehkan.


"Yang mulia apa itu.."


"Diam!" Bentak Raka.


"Oh? Apakah kau masih ingin mempercepat kematianmu? Adik kecilku?"


"Tsk. Aku bertanya tanya apa yang menyebabkan kakak terbesarku ini turun dari singgasananya, apakah hanya karena anda merindukanku? Dan lagi, terimakasih atas hadiah yang menghancurkanku tadi." Ucap Raka sembaru tersenyum menahan sakit.


"Cih. Kau sama saja seperti kakakmu, Akara"


"Dan lagi, kelihatannya kau begitu menyukai hadiah dari ku kan? Bagaimana jika aku memberimu lagi" Ucapnya sembari mengangkat tangannya. Sebuah bola api meluncur dengan cepat. Berbeda dari sebelumnya, bola api ini terkihata berkali kali lipat lebih besar dibandingkan sebelumnya.


Semua pasukan menggertakkan gigi. Tentunya mereka tak menyangka jika pada akhirnya mereka benar benar menjadi beban bagi pemimpin.


"Yang mulia! Cepatlah pergi! Jangan hiraukan kami! Bukankah anda berniat untuk menyeret kami dari neraka? Jika anda mati disini menurut anda siapa lagi yang akan menyeret kami hah!?" Ucap seorang panglima kepada Raka.


Ucapannya itu mengejutkan Raka, sesaat kemudian ekspresinya berubah menjadi lebih tenang.