
Sementara disuatu ruang di tempat pelelangan.
"Yang mulia, apakah anda yakin beliau akan datang?" Ucap wanita dengan rambut hitam dan kacamata yang tak lain adalah Alice.
"Ah. Dia tidak akan datang jika tanpa stampel" balas seorang remaja pria dengan kemeja putih dan celana hitam duduk dengan tenang sembari menutup bukunya, flop.
Pelelangan itu jadi begitu ramai beberapa saat kemudian.
Albert, Queensha, Boby, dan Stelia nampak masuk ke dalam ruang pelelangan besar dengan dekorasi megah menghiasinya.
Nampak berbagai bangsawan memenuhi ruangan itu.
"Ohoho! Lihatlah siapa yang hadir kali ini!? Bukankah ini sang penguasa tujuh mata angin!? Yang mulia Albert?" Ucap Edward dengan mengenakan topeng hitam menyambut Albert.
Albert dan lainnya hanya tersenyum.
"Kukuku,, saya telah mendapat kehormatan untuk menyambut anda, yang mulia.. dan juga mari, tuanku memberi titahnya untuk mengarahkan kalian yang terhormat ini ketempatmya yang pantas" ucap Edward sembari mengulurkan empat topeng hitam dengan corak yang sama.
"Oh? apakah orang yang disebut tuan oleh anda juga ikut dalam pelelangannya?" Tanya Albert tatkala melihat corak topeng yang sama.
"Oh? Anda benar benar seorang pemerhati, yang mulia"
"Itu benar. Tuanku juga hadir dalam pelelangan kali ini" Ucapnya sebelum pergi.
Mendadak ruangan itu menjadi sunyi.
Sorot lampu menarik pandang semua orang.
Nampak seorang wanita cantik dengan anggunnya berjalan diatas panggung dan membuka acara tersebut.
Acara berlangsung dengan sangat meriah. Ada begitu banyak barang dan harta berharga yang di lelang saat itu.
"Hmm? Pantas saja bisnis itu begitu ramai, harta harta yang dilelang juga bukan harta sembarangan." Ucap Queensha memperhatikan jalannya Lelang.
"Oh? Apa ada yang membuatmu tertarik? Jika itu ada belilah, berapapun harganya" ucap Albert dengan lembut.
Sementara Boby dan Stelia nampak bermain disekitar ruang VIP tempat orang tua mereka berada.
Hosh hosh..
Boby terengah engah, ia terus bolak balik mencari cari dimana adiknya berada.
Beberapa saat yang lalu, ia nampak bermain dengan adiknya, Stelia.
"Pangeran, dimana tuan putri?" Ucap Queensha penasaran melihat putranya yang hadir tanpa adiknya ini.
"Eh? Apa Stelia belum kemari!?" Ucap Boby panik.
"Pangeran, apa maksudmu" ucap Queensha panik.
...●●●...
"Huh.. kakakku benar benar bodoh! Dia bahkan tidak bisa menemukanku"
"Hufft.. sebenarnya ini dimana?" Ucap seorang gadis kecil dengan rambut coklat gelombangnya.
Ia adalah Stelia.
Ia nampak celingukan diantara ramainya pengunjung dan staff yang hadir.
Ia kemudian berjalan menelusuri lorong sepi dengan penuh hati hati.
Splash..
Stelia refleks menghindar. Sebuah panah runcing dengan ujung nampak membiru racun menancap di sebuah dinding kosong.
Stelia mengarahkan matanya tajam.
"Aku sama sekali tak mengerti jalan pemikiran seorang baj*ngan sepertimu yang bahkan menyerang anak kecil sepertiku" Ucapnya dengan mengeluarkan sedikit mananya.
Ia kemudian mengayunkan tangannya dan sebuah sabit angin terbentuk dan melayang dengan cepat kearah bayangan.
Srakk..
Topeng bayangan itu sobek dan dengan ekspresi marah melempar sebuah bola.
Buff..
Bola itu meledak dan menyemburkan asap pekat yang menghalangi pandangan.
"Tch. Kau seharusnya beruntung karena kau adalah seorang azaskian."
Namun sial baginya, sesaat sebelum berhasil kabur, sebuah formasi mengikatnya.
Dan bruk!
Sebuah bayangan dengan cepat berdatangan dan mengerumuni pria itu.
Sementara itu, Stelia yang masih berkubang dengan asap, merasakan sebuah tarikan kuat yang menarik tangannya.
"Si siapa kau!" Ucapnya sembari mengacungkan belati kecil. Nampak ia masih memejamkan matanya perih dengan sedikit airmata menetes.
"Pfft." Raka menahan tawanya.
Ia membungkuk dan tersenyum ramah pada Stelia.
"Hooo.. apa aku benar benar terlihat seperti penculik anak huh!?" Ucap Raka menggoda Stelia.
Stelia terdiam, masih dengan tangannya yang mengucek ucek matanya perih. Sementara tangannya sudah diturunkan.