
Bobby terus berjuang sendirian. Satu persatu beast dan iblis itu tumbang, tapi itu justru memanggil yang lainnya untuk semakin beringas.
Bobby merasa putus asa.
Bagaimanapun, energinya terkuras cukup banyak.
Dalam hatinya ia terus mengutuki kebodohan dirinya sendiri.
Sementara itu, sebuah siluet hitam bertengger di sebuah dahan dekat medan pertempuran
Bobby, mengamati dengan seksama sembari terus menyembunyikan nafasnya.
"Butuh bantuan?" Ucapnya.
Bobby menoleh dan mencari arah suara dengan bingung.
Slap!
Seekor beruang besar tertebas dengan cepat.
Pupil Mata Bobby melebar, sebuah siluet yang tidak asing muncul dimatanya.
"Ka kau? Bagaimana bisa kau disini?"
"Oh? Kelihatannya bantuanku tidak berguna disini" ucap Raka turun dari pepohonan.
"Kuh! Tunggu! Terimakasih, bisakah kau membantuku kali ini?" Tanya Bobby terdesak.
"Ah. Dengan senang hati" Ucap Raka seraya tersenyum ramah.
Bobby lantas merasa bulu kuduknya berdiri tegang.
'Dia menyeramkan'
Raka kemudian melangkah dan mengeluarkan dua belati kecil dengan kilap merah dan biru dibalik jubahnya.
Ia tersenyum dan
Slash!!
Ia melangkahkan kakinya begitu cepat. Hanya bayangan dan jejaknya saja yang bisa dilacak.
Ia seperti hantu! Menebas satu persatu monster dihadapannya tanpa keraguan.
Jubah hitam yang menutupi tubuhnya dipenuhi darah monster.
Ekspresinya mendingin, begitupun sorot matanya tajam tanpa perasaan.
Mata Bobby melebar.
Saat ini hatinya dipenuhi rasa kagum
'Bukankah dia seumuran denganku? Tapi kenapa rasanya ada begitu jauh jarak antara aku dengannya...sebetapa hebat dia? Bukankah itu artinya dia sudah setingkat dengan para Exorcist level 5?' Tanyanya dalam hati.
Raka berhenti. Ia mengelap sembirat darah yang mengenai wajahnya.
Hah.. hah..
Nafasnya terdengar keras dan jelas.
Ia kemudian mundur dan turut duduk disamping Bobby.
"Apa kau tidak apa apa? Aku benar benar tidak tahu apa yang harus kukatakan saat melihatmu bertarung." Ucapnya tulus.
"Apa maksudmu huh!?"
"Eh?"
Bobby terkesiap kemudian tertawa kecil.
"Kau tahu? Kau mengingatkanku pada seseorang yang tak sengaja kutemui" ujar Bobby.
"Oh?"
"Dia mirip sepertimu.. tapi kelihatannya dia tidak sesuram dirimu," ucap Bobby.
Raka merasa sebuah benda tajam menusuknya.
"Suram huh!?"
Bobby mengangguk.
Sesaat kemudian punggungnya mendingin, sebuah tatapan tajam diarahkan padanya.
Plak!
"Ouch!" Bobby mengaduh.
Sementara Raka tidak peduli lagi.
"Hee kenapa kau memukulku huh!?"
"Oh? Bukankah kau mengatakan jika aku suram? Kalau begitu bisakah kau mengatakan padaku bagian mana dari diriku yang suram!?"
"Kuh! Tidak! Kau sama sekali tidak suram! Akulah yang suram!" Ucapnya panik seraya menjauh.
Raka hanya tersenyum Ramah.
"Sigh. Apa aku benar benar berubah huh!?" Keluh Raka.
"Hmm? Apa maksudmu itu?"
"Yah. Kurasa kau sama seperti dulu, aku bersyukur tidak ada satupun dari sifat bodohmu yang menghilang, justru kurasa kau semakin bertambah bodoh" ucap Raka pedas.
"Gah! Apa maksudmu!"
"Eh? Kau pernah bertemu denganku?" Tanya Bobby menyadari satu hal.
"Tunggu! Jangan bilang kau benar benar pelayan itu!?" Seru Bobby heboh.
Raka hanya tersenyum seolah olah berkata: itu benar, lalu kenapa? Apa kau akan mengolok olokku karena aku bertambah suram?
Bobby merinding. Dan menutup mulutnya rapat.
"Kalau begitu, mengapa tempo hari aku tidak bertemu dengamu?" Tanya Bobby.
"Sigh.. itu karena pelayan kecil itu sudah mati"
ucap Raka sembari menghadapkan wajahnya kearah langit malam. Rambut navy nya nampak berkibar kibar terkena angin malam
Bobby tersadar, ia menggigit bibirnya geram.
Ia menyesalinya, ia dulu berpikir jika masalah itu benar benar sudah selesai dan tidak pernah mengingatnya lagi. Ia berpikir dengan ia yang tidak pernah bertemu dengan pelayan itu ia mengira bahwa pelayan itu sudah bebas.
Ya, itu benar.. pelayan itu bebas, tapi itu adalah kebebasan yang diambil dengan nyawanya
"Aku-"
"Tak perlu meminta maaf.. aku bukan tipe orang yang akan mempermasalahkan kebodohan seseorang.. bagaimanapun, kepintaran setiap orang itu berbeda." Ucapnya menyindir.
"Yah. Awalnya aku ingin meminta maaf.. tapi kelihatannya aku berubah pikiran, kurasa menggigit kepalamu itu bukan hal yang buruk" ucap Bobby.
Mereka terdiam beberapa saat hingga kemudian tertawa bersama sama.
Malam ini, mereka mengenang kembali pertemuan tak disengaja mereka.