
Malam berlalu dengan suasana hening dan dingin.
Para pasukan tertidur lelap setelah seharian bertarung. Malam itu, Qrystial begitu dingin dan senyap.
Keesokan paginya, semua pasukan berkumpul didepan markas utama Diablo.
Raka keluar dari ruangannya dengan tubuh yang sudah dilapisi zirah. Semua mata tertuju padanya, secara serempak para pasukan lantas berlutut memberi penghormatan padanya.
"Semuanya! Seperti yg kukatakan kemarin! Hari ini adalah hari pelampiasan amarah! Atas segala yang mereka lakukan! Kemarin, Qrystial berdyka kehilangan para jenderalnya! Kota Qrystial kita, berlumuran darah segar para pemimpin, lantas apakah kalian rela kota Qrystial kita ini kembali berlumuran darah para prajurit?!"
"Tidak!" Ucap para pasukan serentak.
"Baiklah, dengan ini! Aku pemimpin Ghost monarchy, menyatakan perang kepada para pengkhianat!!" Ucap Raka dengan amarah yang membludak.
Para pasukan pun mulai berpacu dengan kuda mereka, Raka memimpin para pasukannya ke medan perang, kota mati Horstea.
Sementara itu, diistana iblis Astra,
"B*jingan kau Joey! Jika seandainya aku tidak membantumu untuk melawannya, aku takkan kehilangan separuh tentaraku! Si*lan si*lan kau Joey! Bagaimana bagaimana bisa kau menipuku!! Arggh.. si*lan si*lan!!" Ucap seorang pria paruh baya dengan jubah hitamnya tengah duduk diatas singgasana, dia adalah Purma, seorang raja iblis yang terkenal akan tabiatnya yang rakus dan serakah.
Pada awalnya dia bekerja sama dengan Joey yang saat itu merupakan salah satu dari anggota tinggi Ghost Monarchy. Mereka berdua melakukan penggelapan atas beberapa barang suplay dari maupun ke Qrystial. Setelah beberapa waktu, bisnis mereka semakin besar dan akhirnya melibatkan banyak oramg di Ghost Monarchy. Itulah awal dari pemberontakannya.
Akibat dari kejahatannya ini, menyebabkan banyak kelaparan di sekitar kota Qrystial.
Selang beberapa waktu, Raka yang mengetahui akan adanya hal yang tidak beres akhirnya menemukan kejahatan Joey dan komplotannya menghukum Joey dan komplotannya dengan hukuman mati. Sedangkan Purma, ia tidak dihukum, mengingat keberadaannya sebagai seorang raja iblis. Namun Raka memutuskan untuk mencabut semua kerjasama antara kota Qrystial dengan wilayahnya. Tindakannya ini, membuat Purma marah dan akhirnya bersekutu dengan Joey untuk menggulingkan kekuasaan milik Raka.
Joey menyebarkan kebencian diantara para anggota Ghost Monarchy. Akibatnya, banyak terjadi pembelotan dan rumor buruk mengenainya.
Keanggotaan Ghost Monarchy semakin kacau dibarengi dengan penyerangan kecil terhadap beberapa kliennya yang sebenarnya didalangi pleh raja iblis Purma. Dalam sekejap, singgasana Raka goyah.
Meskipun begitu, Raka tetap mampu bersikap tenang dan menahan amarahnya. Hingga, Raja ibkis Purma dan Joey bertekad untuk menghancurkan kota Qrystialnya beserta para penduduknya. Amarah Raka memuncak setelah mendengar hal itu, sebagian besar para Ghost monarchy berjalan kearahnya masing masing.
Mereka membelot! Belum lagi kabar mengenai dirinya yang sebenarnya masihlah sangat muda tersebar dan semakin memperkeruh suasana. Banyak para jendral diantaranya yang membelot dan bahkan berusaha merebut kursi kepemimpinan darinya.
"Yang mulia Purma, saya memiliki usul" ucap seseorang pria dengan tanduk hitam berpakaian tuxedo dengan ekspresi menyeringai kejam.
"Oh? Apa maksudmu?" Ucap Purma dengan nada menggoda.
"Ya, kurasa ini saat terakhirmu, Raka"
...●●●...
Pasukan Raka sampai di medan perang. Mereka menunggu kedatangan musuh dari kota kerajaan iblis.
Sementara itu, Raka menyibukkan diri dengan mengatur starategi dan formasi tentaranya.
Ia menempatkan pra prajurit berkuda dengan senjata mereka berupa tombak dan lembing digaris depan pertahanan mereka. Disusul keberadaan para prajurit berpedang dengan semangat berkobar.
Kemudian dibelakang mereka berbaris para petarung tangan kosong, mereka adalah para petarung yang dimiliki Raka yang unggul dalam kekuatan mereka.
Dibelakang mereka terdapat pula para mage, mereka membantu menangani para musuh yang menyelinap untuk menghancurkan benteng.
Kemudian dibelakang mereka nampak benteng berdinding putih berdiri dengan kokohnya. Diatasnya nampak para prajurit dengan seragam archer bersiap. Disamping mereka terdapat pula para konstelator, Healer, serta para penyihir tipe support yang bertugas membantu para prajurit garda terdepan.
Selang beberapa waktu, pasukan musuh tiba dengan para beast dibelakang mereka. Aura hitam pekat menyelimuti medan perang seketika.
Mereka adalah pasukan iblis!
Seorang pria berambut pirang dengan kacamata dan setelan jasnya muncul dihadapan para pasukan iblis. Dia menunduk hormat tatkala melihat Raka berdiri teguh dihadapan pasukannya.
"Oh? Apakah ini tuan Diablo yang terkenal akan kehebatannya? Tanpa diduga anda benar benar seperti rumor, benar brnar masih muda.. anda tahu? Anda sangat beruntung".
Raka menatapnya dengan dingin.
Pria itu terkekeh dan melanjutkan perkataannya.
"Ah, saya minta maaf sebelumnya tapi rajaku Purma mengutusku datang untuk menyampaikan permohonan maafnya dan berharap agar yang mulia..."
"Barto.." ucap Raka dingin.
"E eh?" Ucap pria itu terkejut dengan ucapan Raka.
Keugh..
Sesaat kemudian bayangan besar dengan pedang besarnya melesat cepat kearah utusan itu dan menghantam tubuhnya keras.
Blarr..
Dalam sekejap darah mengucur deras. Tubuh pria itu terbelah menjadi dua. Sementara pria itu masih menunjukkan ekspresi wajahnya yang terkejut dan nampak masih ingin melanjutkan perkataannya.
Para pasukan iblis terkejut dan merasa sedikit terintimidasi atas tindakan Bartolomeo.
"Kami disini akan berperang, dan tidak menerima kesepakatan apapun, sedikitpun tidak ada toleransi bagi orang yang merebut milikku" Ucap Raka dingin dengan aura mengintimidasi.
"Tsk!" Dalam sekejap para pasukan iblis berusaha menerjang dan maju kearah Raka dengan beringas.
Sebuah tangan terangkat dan memberi aba aba.
Splash!
Ribuan anak panah dari arah berlawanan meluncur dengan cepat, diantaranya bahkan berupa panah sihir.
Para pasukan iblis terkejut, belum sempat mereka mundur ribuan anak panah itu menghujam tubuh mereka tanpa ampun. Sarah berceceran dimana mana.
Mereka semua yang berusaha maju mati tanpa terkecuali. Sementara mereka tang bertahan dibelakang gemetar ketakutan saat melihat sebuah senyum tersaji dihadapan mayat mayat saudara mereka yaang mati.
'DIA! IBLIS!'
Raka menurunkan tangannya sejajar menunjuk kearah musuh yang gemetar. Dalam sekejap, debu berterbangan menyelimuti area pertempuran, para pasukan berkuda melesat dengan tekad baja dibawah kepemimpinan Raka. Mereka menyerbu pasukan musuh tanpa kenal ampun.
'MEMBUNUH ATAU DIBUNUH' Itulah konsekuensi dari pertarungan ini.
Pasukan iblis yang terpukul akan serangan anak panah kembali dihadapkan dalam situasi sulit. Mereka refleks berlari dan berpacu mundur dari medan perang. Belum sampai ke jalur penyelamatan mereka, lapisan tanah bergerak keatas mengepung pasukan musuh, tidak membiarkan mereka kembali.
Dengan ini, perang dimenangkan oleh Qrystial, mereka memukul para pasukan musuh dengan mudahnya tanpa perlawanan.
Para prajurit melampiaskan kekesalan mereka atas banyak kematian saudara mereka pada penyerangan sebelumnya. Debu tak lagi berterbangan, berganti dengan kabut darah yang menyembur ke mana mana membasahi tanah kering Horstea. Bau anyir darah benar benar kental. Ya! Ini kemenangan mutlak bagi kami!