
"Hei kak, pahami situasimu" sebuah tangan kecil menangkis pukulan Alvan. Itu adalah Ryan.
Alvan terkejut, masih dengan nafas cepatnya. Ia mencoba berpikir jernih.
Raka masih duduk dengan tenang. Dengan sedikit tatapan tajam dan dingin, dia berkata.
"Cukup, tenanglah Ryan"
Ryan terkejut. Tapi dengan segera ia menarik tangannya dan mundur.
Alvan masih berdiri dengan emosi. "Tch! Apa maksudmu dengan ini, pangeran Arcnight!?"
"Oh? Coba kau katakan itu pada saudarimu" ucap Raka dingin.
"A apa!? Ka kak?" Alvan menoleh ke Anastasya yang tampak menunduk kesakitan. Matanya melebar, masih tak percaya dengan yang ia lihat.
Sesuatu masih nampak menguap dari tengkuk Anastasya yang tertunduk dengan peluh keringat bercucuran.
"I ini!? Bagaimana mungkin!? Jangan jangan!"
"Kami mengerti, maafkan kami atas kelengahan kami.. tidak biasanya Anastasya bertindak ceroboh hingga tak menyadarinya" Ucap Nauval membungkuk hormat.
"Tch! Terimakasih" ucap Alvan turut membungkuk.
Ryan tampak membuang wajahnya tak peduli. "Hmph!"
Sementara Raka hanya tersenyum seadanya.
"Itu wajar,"
"Kai, kau disana?" ucap Raka dingin.
Sesaat setelahnya sesosok bayangan pria dengan rambut putih muncul, mengejutkan ketiga bersaudara yang masih diliputi kekalutan.
"Hormat kepada yang mulia, kami sudah menemukan jejak mereka" ucap Kai seraya membungkuk hormat.
Raka melirikkan pandangnya.
Krieet.
Pintu berdecit terbuka, dua orang pria nampak memberi salam pada Raka. Mereka menyeret seorang pria dengan tangan dan kaki yang diikat, serta mulut yang dibungkam.
Kedua pria yang datang dan menyeretnya adalah Louisse dan pak tua Edward.
"Mereka.." Nauval membelalakkan matanya tak percaya.
"Bukankah dia adalah pelayan rumah makan!?" Seru Alvan.
"Hmm? Rumah makan?" Tanya Raka sedikit terkejut.
"I iya! Kami sempat mampir kerumah makan dengan eksterior kayu klasik. Jika tidak salah namanya, Red Crystal"
Wajah Raka menggelap. "Kalian mendengarnya kan?"
"Hapus" ucapnya tajam.
"Sesuai perintah anda" Ucap Edward sebelum pergi.
Sementara seorang pria itu nampak gemetar ketakutan menghadap Raka.
"Katakan!"
Louisse melepas kain yang membungkamnya.
"Katakan yang sebenarnya!" Louisse menekan auranya tajam.
"A anu! Mohon ampun pemimpin! A aku... keugh!" Sesaat sebelum pria itu meregang nyawa dengan darah yang mengucur hebat dari mulutnya.
Ketiga bersaudara tercengang. Sementara Raka nampak terus mendingin.
"I ini!" Ucap Anastasya tercegah oleh Nauval.
Ryan dan Kai saling bertatapan sejenak, mereka lantas mengangguk dan membungkuk hormat kepada Raka.
"Master, serahkan tugas ini pada divisi kami" ucap mereka.
"Apa kalian yakin?"
Keduanya tetap membungkuk tanpa sepatah katapun.
"Berhati hatilah" ucap Raka seraya mengurut keningnya rumit.
Ketiga bersaudara saling berpandangan.
"Ah, maaf atas segala kekacauan yang terjadi, tapi jika memungkinkan, kurasa kesepakatan ini bisa kita bicarakan lain waktu, yang mulia pangeran Arcnight" ucap Nauval sopan.
Sigh. Raka menghela nafasnya berat. Ia lantas meraih cangkir tehnya untuk kemudian meminumnya.
"Tak apa, ini akan selesai. Kau sudah memaparkan kondisi negrimu, meskipun hanya sekilas, aku bisa memahaminya," ucap Raka seraya tersenyum ringan dan meletakkan kembali cangkirnya.
Alvan bergidik ngeri. 'Dia menakutkan! Seolah olah tidak punya emosi yang sesungguhnya. Baru sedetik yang lalu dia nampak begitu marah, dan sekarang, dia tersenyum begitu lega'.
"Baiklah, kalian tak perlu mengkhawatirkan tentangku. Yah, aku sedikit emosi tadi, tapi itu tak akan membuatku seperti seseorang yang kehilangan pikiran jernihnya dan langsung mengepalkan tinjunya kearah seseorang" Ucapnya pedas.
Sudut mulut Alvan berkedut hebat. "Kuh! Sial" keluhnya.
"Hahaha! Anda benar benar menarik, yang mulia!" Ucap Anastasya heboh.
"Sial! Aku tadi terbawa emosi karenamu loh!" Protes Alvan dengan wajah yang memerah malu.
Sementara Nauval hanya tersenyum tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap kedua adiknya.
"Ehem! Baiklah, sekarang giliranku bukan untuk mengajukan kesepakatan?" Tanya Raka sopan.
Ketiganya saling berpandangan sesaat.
"Yah, kurasa aku tak perlu panjang lebar menjelaskan situasi negriku. Bagaimanapun, situasi miasma dinegriku sudah berlangsung selama 17 tahun, dan barier pembatas antara negriku dengan dunia luar sudah ada sejak 6 tahun yang lalu. Bukan hal yang mudah bagi negriku untuk bertahan selama 6 tahun tanpa bantuan dunia luar. Meskipun begitu, dapat dipastikan negriku baik baik saja saat ini. Saat ini, miasma mulai menyebar keluar, barier pembatas juga tidak akan mampu untuk menahannya terus bukan?"
"Karena itulah, tidak ada alasan untuk terus mempertahanlan barier pembatas" sambungnya.
"Tunggu! Apa maksud anda adalah anda ingin menghancurkan bariernya, begitu!?" Ucap Nauval.
Raka mengangguk membenarkan ucapannya.
"Tapi maksudku, bukankah itu bukan hal yang cukup sulit bagi anda? Maksudku, ehem! Anda seharusnya bisa menyelesaikan ini sendiri. Jika difikir soal alasannya, itu cukup masuk akal bagimu untuk menghancurkannya. Saya yakin kekaisaran pun tidak akan melarang hal ini. Cepat atau lambat, kekaisaran akan tetap bertindak menghancurkannya. Jadi, seharusnya tidak ada bedanya apakah dilakukan terlebih dahulu oleh anda atau dilakukan nanti oleh kekaisaran bukan?"
Raka mengangguk. "Itu benar. Lalu, apa menurut anda karena kekaisaran mengerti, bukan berarti seluruh benua mengerti bukan? Masalah ini menyangkut kehidupan seluruh benua. Mau tak mau, jika ingin dilakukan terlebih dahulu olehku, itu membutuhkan persetujuan dari seluruh kerajaan di benua. Jika semuanya menerima, itu adalah suatu hal yang sangat melegakan. Tapi bagaimana jika ada bahkan satu keraguan? Bahkan sebuah batu bisa terkikis oleh setetes air yang terus menetes."
"Sebuah kerajaan kecil dengan kekuatan besar tetaplah sebuah kerajaan. Kami masih memiliki musuh didepan mata, bahkan jika itu adalah dari kerajaan manusia sendiri."
Alvan dan Anastasya nampak terkejut mendengar ucapan Raka. Keduanya tak percaya dengan yang baru saja mereka dengar. Bagaimanapun, dihadapan mereka adalah seorang pemuda dengan sebuah penilaian yang begitu presisi.
"Tidak, kami tidak akan membantu jika seperti ini" ucap Nauval.
Alvan dan Anastasya terkejut.
"A apa maksudmu kak!?" Anastasya nampak sedikit menolak.
"Kami sudah berhutang pada anda, tentu kami akan membayarnya. Bagaimanapun, nenek moyang kami telah berhubungan dengan leluhur leluhur anda. Percaya atau tidak, kerajaan anda telah memberi kontribusi yang sangat besar untuk mendukung kerajaan kami. Hutang budi ini, selalu diingat oleh ayah kami, tidak, bahkan jika itu mungkin, itu akan selalu diingat dalam benak rakyat kami. Karenanyalah, tak ada keraguan jika kami akan dipihak anda mau seperti apapun. Itu adalah hubungan yang dalam jika dilihat dari sudut pandang negri kami. Tapi, seperti yang anda tahu, itu hanyalah hubungan khayali yang tidak realistis dimata para raja lainnya. Karena itulah, beri saya, tidak- beri kami sebuah alasan yang cukup untuk merealisasi hubungan kita" ucap Nauval dengan keteguhan dimatanya.
"Kakak! itu bukan seperti yang dikatakan ayah" Seru Alvan
Raka terdiam dengan sedikit ekspresi dingin.
Raka tersenyum, "Jika begitu, apa yang anda inginkan?"
"Apa yang akan anda lakukan jika miasmanya menyebar? Lalu bagaimana caranya untuk meyakinkan seluruh benua bahwa ini tidak akan berdampak buruk?"
Raka tersenyum. Ia menutup satu matanya, dan mengangkat jari telunjuknya mengarah ke tengah mulutnya.
"Itu mudah.."