Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
The Agreement: Domination




Di suatu bangunan yang cukup ramai.


Seorang pria bersurai biru keperakan duduk dengan santai, dihadapannya seorang pemuda bersurai pirang dengan kacamata terpasang di wajahnya.


"Hmm? Ada apa, Serkan?" Tanya pria bersurai biru itu dengan tatapan sedikit angkuh.


Pemuda itu mengangkat wajahnya yang pada awalnya menunduk, ia menatap pria dihadapannya.


"Ah? Eh? Ma maaf, yang mulia.. hamba mengganggu anda"


Pria itu mendengus "Tsk. Menurutmu? Apa ini pertama kalinya huh?"


"Ehehe, yang mulia.. soal di pelelangan.."


"Hmm? Kau masih penasaran huh?"


"Eh? Ah. Jika anda tidak ingin memberitahu, hamba tidak apa"


"Sigh.. apa kau tahu Serkan? Kamar dagang itu sedikit membuatku tertarik, kau tahu?"


"Eh? Anda? Tertarik?"


"Iya! Kenapa?"


"Ah, eh, tidak ada"


'Tamatlah riwayat kamar dagang itu jika tuanku ini sudah tertarik' bisik pemuda itu dalam hati.


"Ah, kelihatannya hamba membuat anda menunggu cukup lama ya, yang mulia Richard"


Sesosok pemuda berjubah nampak sedikit menundukkan wajahnya dihadapan Richard.


Richard dan Serkan menoleh ke arah sumber suara yang mengejutkannya.


Serkan terkejut saat melihat seorang pemuda seusia dengannya dengan surai hitam kebiruan dan manik jernih birunya tersenyum hangat.


Dibelakangnya nampak pria muda berusia sekitar 20 tahunan dengan rambut pirang panjangnya tersenyum turut membungkuk.


Sementara Richard sedikit melengkungkan bibirnya.


"Ah. Anda terlalu berlebihan, tuan pemilik Azadys"


"Ahaha. Anda benar benar hebat, hanya sekilas saja anda bisa mengetahuinya ya. Aku Azalea, tuan dari Azadys trading Group, senang bertemu dengan anda yang mulia Richard. Dan, bisakah saya bergabung dengan anda saat ini?" Tanyanya sopan


"Hahaha, anda pasti bercanda. Bisakah aku menjadi lebih tidak sopan lagi jika anda berkata begitu?"


Raka hanya tersenyum seadanya.


Sementara Serkan masih menunjukkan tampang kebingungannya. Ia lantas bangkit dari tempat duduknya dan mempersilahkan Raka untuk duduk di tempatnya sebelumnya.


Raka duduk dengan tenang. Dihadapannya nampak Richard masih dengan senyum yang mengembang.


Serkan dan Louisse berdiri di sisi tuan mereka masing masing.


"Ah, kelihatannya anda cukup menarik perhatianku, tuan Azalea. Apalagi jika menilainya dari usia anda."


Raka tersenyum pahit. Sesaat kemudian matanya menajam.


"Haha, seperti kata pepatah bukan? Jangan menilai isi dari sampulnya"


"Yah. Anda memiliki mata yang indah, tuan Azalea"


"Ah. Terimakasih"


Serkan yang sedari tadi berdiri mendengarkan kedua orang dihadapannya bersaing ini mulai merasa bingung.


'Bukankah kalian akan melakukan kesepakatan? Tapi kenapa hanya adu mulut yang kulihat? Apa yang sebenarnya terjadi.'


Sementara Serkan melirikkan pandangnya pada Louisse di seberang tempatnya berdiri.


Nampak Louisse hanya tersenyum tenang seperti tidak ada apa apa.


"Ah. Baiklah, cukup basa basinya. aku bukan tipe orang yang suka basa basi, kurasa anda juga begitu bukan? Yang mulia Richard ?"


Richard tersenyum.


"Yah, aku hanya mengikuti keinginan tamuku"


Raka membalas senyum 'ramah' Richard


"Baiklah, kita mulai saja kesepakatannya, dan juga.. tidak ada ketentuan kau hanya boleh membawa satu asisten kok"


Richard memahami sepenuhnya perkataan Raka. Meskipun kelihatannya ia hanya berempat, pada kenyataannya ia menyembunyikan seorang assassin di balik bayang.


Serkan nampak terkejut sesaat,


'Apa? Dia bisa mendeteksi Jean? Tapi bagaimana mungkin? Jean adalah pengendali balik bayangan yang bahkan bisa mengintai raja. Sekuat apakah pemuda yang nampak sebaya dengannya ini?"


Ekspresi Richard meredup. Senyumnya kini mulai menghilang, berganti dengan ekspresi seriusnya.


"Oh? Anda melihatnya?"


Raka menyeruput sedikit Teh yang disiapkan oleh Richard sebelumnya. Ia lantas tersenyum.


"Aku hanya berpikir sedikit mencurigakan untuk melihat anda hanya berdua dengan asisten anda, yang mulia.. anda adalah orang yang bergerak dibidang bisnis, dan tentunya sikap kehati hatian anda pasti sangatlah tinggi, bagaimanapun.. anda tidak sendirian disana"


Tes...


Darah sedikit mengucur dari leher Raka.


Meskipun begitu, ia nampak tak menghiraukannya.


"Jean. Hentikan" Ucap Richard selangkah kemudian.


Udara di ruangan itu mendadak berat, seperti di penuhi oleh aura yang menekan secara tak kasat mata.


Sesosok wanita berjubah hitam nampak berdiri dengan satu kaki melangkah keatas meja, tubuhnya bergetar hebat tangannya nampak memegang sebuah belati dengan ujung mengenai leher Raka.


Serkan membelalakkan matanya. Tubuhnya sedikit bergetar takut. Sementara Louisse disisi lain tak bergeming sedikitpun, masih dengan senyum diwajahnya.


"Jean! Apa yang kau lakukan? Bukankah kau sudah sepakat untuk tidak menyerang sembarangan!?"


'Kenapa rasanya tubuhku bergetar ketakutan? Tu tunggu! Jika begitu.. apakah mungkin Emilia juga merasakannya? Bahkan lebih mengerikan dari apa yang kurasakan? Apa apaan dengan sensasi mencekam miliknya ini!?'


Richard memandang Raka dengan tajam. Saat ini, ia pun juga merasakan aura mencekam dari Raka.


Tubuh Jean nampak sedikit bergetar.