
Gubrakk!!
Aku membuka mataku. Terdengar suara perkelahian dari luar ruangan.
'Ugh, kepalaku benar benar pusing kali ini,'
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Nampak Louis dengan terengah engah menyapaku.
"Tu tuan muda! Apakah anda baik baik saja?"
"Hmm? Kau ini sebenarnya kenapa, Louise?" Ucapku dengan sedikit kesal.
"Eh? Hmm, ini..." Ucapannya tertahan seolah olah tak ingin aku mengetahui sesuatu.
Hufft.. aku mengehela nafasku berat.
"Aku mengerti, sekarang keluarlah dari kamarku terlebih dulu" Ucapku dengan tenang.
"E eh? Tu tuan muda! I ini.. anda tidak ingin melakukan itu kan??" Ucapnya sembari mengalihkan pandangnya.
"E eh? Ba baik kapten!" Ucapnya terkejut berlari keluar dengan ekspresi mengerikan. (Sebenernya ekspresinya Louise senang,, tapi Raka salah mengartikan kayaknya :D)
Hufft.. lagi lagi aku menghela nafasku berat.
"Apakah ini benar benar bukan mimpi? Bukankah semuanya terlalu cepat, Ox?"
...●●●...
"Yah, kurasa ini akan menjadi tahun yang berat tanpa anda, Guru"
Namaku, Raka Azalea Putra Arcnight. Identitasku sebenarnya adalah salah satu dari empat pewaris tahta suatu kerajaan kecil di tengah benua Oxmage, kerajaan halilintar merah. Meskipun kerajaan kami adalah kerajaan kecil, kekuatan tempur kami adalah nomor satu di benua Oxmage. Karenanyalah, kerajaan kami diincar oleh banyak kekuatan besar untuk dimanfaatkan tenaga militernya. Itu jugalah hal yang menyebabkan kehancuran kerajaanku saat ini. Yah, tak bisa disebut sebagai negara yang hancur sih, tapi mungkin sebuah negara yang hampir hancur. Setidaknya kerajaan kami bisa bertahan lebih lama dibanding negara besar tetangga, negara matahari. Berdasarkan fakta bahwa aku adalah salah satu pewaris jugalah yang menyebabkan aku diburu oleh kekuatan yang menginginkan tahta dikerajaanku. Wajar sih, sebagai satu satunya pewaris yang 'tidak pantas'. Karena itu pulalah, ayahku memutuskan mengasingkanku keluar wilayah Arcnight menuju ke wilayah Azaskian berada. Itulah rencana pertama, tapi karena penyarangan yang terjadi sebelum aku mencapai wilayah Azasky, aku menderita cukup banyak kerugian. Seluruh pengawal dan pelayan yang ditugaskan ayahku mati ditempat, bahkan diriku sendiripun harus merelakan ingatanku untuk bisa kabur dan naasnya, aku justru dijadikan budak. Yah, dari sana pulalah aku bisa bertemu dengan guru, kurasa takdir memang sudah ditentukan. Setelah beberapa tahun bekerja sebagai budak disebuah keluarga bisnis, aku dibebaskan dengan bayaran nyawaku sendiri. Tapi yah, untungnya itu tidak berhasil, hal itu justru memicu kebangkitan pertama dari potensi sihirku sekaligus ingatanku tentang kehidupanku saat berada di Arcnight. Singkatnya, aku bertemu dengan guru dan memulihkan ingatanku serta membangun kemampuan sihirku setinggi mungkin. Beberapa tahun berselang sejak aku berpetualang dengan guru, kami memutuskan tinggal di sebuah kota kecil yang tak diakuisisi, Qrystial. Dan anehnya lagi, disini aku dijadikan pemimpin dari para kriminal. Saat itu aku masihlah seorang anak berusia 11 tahun, bukankah itu memalukan bagi para kriminal yang bahkan berusia 6 kalilipatku?. Setidaknya aku masih bersama guru, itulah yang kufikirkan sebelumnya. Tapi tidak lagi hari ini. Guru sudah tidak ada lagi, yah mulai sekarang aku harus berusaha lagi dan lagi untuk memimpin mereka. Itu terjadi beberapa bulan yang lalu.
Dan itu berlalu begitu saja. Agak sulit bagiku untuk menerimanya, meskipun itu seudah berlalu sekalipun. Yah, apapun itu aku harus mewujudkan keinginannya untukku. Aku harus kembali memimpin Qrystial, aku harus kembali pada Ghost Monarchy. Entah bagaimana, Ghost Monarchy yang kudirikan selama 4 tahun ini bahkan terancam hancur sejak kematian guru. Mereka mulai tak mengindahkan aturan dariku, dan bahkan dari mereka mulai berkolusi dengan pihak luar, dan itu menggangguku.
Beberapa kali dalam beberapa waktu ini bahkan mereka sedikit menonjolkan aktivitas menyimpang mereka. Dan itu mengancam posisiku sebagai seorang diablo, bahkan sebagai seorang pemimpin Ghost Monarchy.
Meskipun begitu, aku beruntung masih memiliki banyak orang terpercaya sebagai pondasi terkuatku, dan juga sebagai kekuatan utamaku.