Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Prolog 3: Benang Merah kehidupan




Malam itu adalah malam yang dingin.


Tiada siapapun disini yang menemaniku menutup hidupku yang kecil ini.


Sesekali udara masuk menghampiriku dengan nafas dinginnya.


Aku terbaring lemah dikamarku yang turut mendingin. Tak jarang, air mata menetes pelan dari mataku.


'Inikah ajalku?'


'Yah, apapun itu kurasa sudah tak lagi berguna. Hidup masa kecil yang sempurna dengan akhir yang menyedihkan,, apakah itu semua memang sudah takdirku?'


'Ah, aku merindukanmu Bu, Ayah, Kakak.. Aku merindukan kalian semua..'


'Kurasa aku akan kembali bertemu kalian'


Ucapku dalam sesaat. Ya, kurasa bisa dibilang aku menyerah akan hidupku ini..


...Dalam sebuah dongeng, putri kecil hidup menderita.. Dengan terus bersabar, putri kecil bertemu dengan pangeran berkuda putih yang gagah. Mereka menjalin perasaan. Rintangan pun silih berganti menemui mereka, menguji rasa cinta mereka.. Hingga akhirnya, dengan rasa cinta yang kuat diantara mereka, merekapun hidup bahagia hingga akhir hayatnya....


Tapi yah, jika itu adalah dongeng, maka apa yang kualami adalah sebuah kutukan.


...Hidup sebagai putri kecil dalam kastil yang bahagia. Mengalami kehancuran hidup, menanti datangnya sang pangeran.. tapi apa yang terjadi? Sang putri terjatuh. Bagaikan terperangkap dalam sangkar berlapis emas.. Itulah akhir ceritaku.....


Nafasku tersekat saat mengingatnya, ingin rasanya aku menangis, tapi semuanya sudah berakhir.


Aku menutup mataku, nafasku pun terus berharmoni dengan detak jantungku, perlahan lahan berhenti, hingga menghilang sepenuhnya. Aku, mengalami apa yang disebut kematian.


...●●●...


Aku membuka mataku, gelap dan dingin, itulah yang ku rasakan. Tak berselang lama, nampak lalu lalang orang orang disekitarku, begitu ramainya. Mereka tertawa dan saling berpelukan.


'mereka saling berkumpul dengan keluarga mereka, betapa bahagianya'


Sesaat kemudian, perhatianku tertuju pada sesuatu yang hangat menggenggam tanganku erat, Aku menoleh pada sebuah bayang hitam yang dingin, tapi entah mengapa aku merasakan kehangatan dalam dirinya. Air mataku mulai berjatuhan, dadaku sakit sesakit sakitnya.


Aku tidak tahu apa yang kufikirkan saat itu, tubuhku secara tidak sadar memeluknya dengan erat dan menangis sekencang kencangnya. Saat itu, semua rasa sedihku membuncah keluar dengan tangis riuhku.


Sosok itu kemudian mengelus rambutku pelan. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya atau tubuhnya saat itu, tapi yang ku tahu, dia tersenyum padaku. Seutas senyum yang menenangkan sekaligus memberiku energi. Aku tidak bisa mendengar suaranya, tapi yang kurasa, dia berbisik dalam jiwaku.


...'Tenanglah, Kau tak sendirian. Aku akan menemanimu selamanya'...


Dia kemudian mengecup dahiku lembut. Dia memberiku perasaan dan energi yang hangat. Jiwaku merasa tenang, dalam hatiku, aku benar benar bahagia. Entah bagaimana, aku percaya padanya! aku mempercayainya! sesosok penuh bayangan gelap yang rupa bahkan suaranya tak bisa kulihat dan ku dengar.


Dia menarikku, membawaku ke tengah tengah kerumunan, dari sana genggamannya menguat, menarikku kearah cahaya yang semakin terang. Perlahan lahan langkahnya semakin cepat, hingga kemudian kembali melambat dan kemudian berhenti.


Ia menoleh, kembali kurasakan sebuah senyum darinya. Ia seolah olah menuntunku ke dalan sebuah ruang yang terasa hangat, aku yang kebingungan kembali menatapnya lekat.


Aku terkejut saat melihatnya kembali, bayangan hitam perlahan lahan menghilang menyisakan sesosok pria yang gagah. Bersamaan dengan bayangan yang menghilang, perlahan lahan tubuhnya pun mulai memudar menyisakan butiran butiran cahaya seindah kunang kunang. Kembali ku meneteskan air mataku, menyadari tangisku, pria itu menoleh dan tersenyum hangat padaku. Sebuah kecupan hangat kembali kurasakan di keningku, terasa lebih hangat sebelum bayangannya menghilang dari penglihatanku. Belum sempat aku meraihnya, bayangan itu menghilang dari pandangku.


...●●●...