Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Naughty Boy: Bullying




"Kakak!" Terdengar suara kecil memanggilnya.


Raka menoleh kepada seorang gadis kecil yang tengah berdiri disampingnya. Panggilannya membuyarkan Raka dari konsentrasi membacanya.


Gadis itu adalah Stelia.


Raka yang masih terkejut mencoba untuk tersenyum.


"Ada apa?" Ucap Raka mengelus lembut rambut coklat manis Stelia.


"Buku apa yang kakak baca? Kakak benar benar terlihat serius!" Ucapnya.


"E eh? Ini yah? Hanya sedikit buku pelajaran" ucap Raka ringan.


Gadis itu kemudian meraih kursi dan mencoba naik didekat Raka untuk melihatnya.


"Woah.. apakah itu buku matematika? Kakak menyukainya?" Tanya Stelia penasaran.


Raka mengangguk.


"Ah. Terkadang aku akan membaca dan mencoba mengerjakannya jika aku senggang" ucapnya ringan.


"Kakak benar benar hebat!"


Stelia benar benar antusias saat berbicara dengan Raka. Bagaimanapun, keberadaan Raka membuatnya merasakan aman.


Sudah beberapa minggu sejak Raka mulai tinggal disini.


Ia bukan tipe orang yang sulit beradaptasi, karenanya, saat ini ia bahkan terlihat seperti pangeran itu sendiri.


"Steliaa.. jangan mengganggu Kak Raka membaca,, bukankah hari ini kau ada les dengan Nyonya Magnoph?" Ucap Queensha yang menghampiri mereka berdua.


"Eit? Kenapa ibu tak mengingatkanku? Aku pasti terlambat!" Ucapnya seraya melompat dari kursi dan bergegas pergi.


Sementara Queensha hanya menghela nafasnya sembari berkacak pinggang.


"Raka? Bagaimana kabarmu? Apakah disini cukup menyenangkan?"


"Ah. Tentu.." Raka menjawabnya sembari tersenyum ramah.


"Haiz, kemana anak itu? Seharusnya dia disini menemanimu kan? Dan seharusnya kau melakukan hal lainnya selain menghadap suamiku dan menghabiskan waktu di perpustakaan kan Raka?" Tanyanya sedikit terganggu.


"Eh? Ah tidak apa apa.. lagipula aku cukup merasa nyaman disini kok"


"Haih.. baiklah.. aku akan kembali" ucap Queensha.


Tapi pada kenyataannya, Raka melakukan banyak hal lainnya, kegiatan kegiatan ini ia lakukan di perpustakaan dan kamarnya karena cenderung sepi dan lebih tertutup.


Dan untuk alasan mengapa ia tidak dekat dengan Bobby adalah ia membencinya!


Tidak! Bukan Bobby, tapi ketiga temannya yang diketahui adalah bangsawan Azasky.


Meskipun banyak yang tidak tahu, tapi pada dasarnya Raka bisa merasakan apa yang mereka pikirkan! Mereka itu adalah p*rasit!


Itu benar, ada empat orang anak bangsawan yang mengerubungi Bobby seperti lalat. Dan kesemuanya sebenarnya sama sekali tidak punya alasan tulus untuk menjadi temannya, dengan kata lain, mereka adalah para Count dan Marquiss masa depan yang baik.


Raka menutup bukunya. Kali ini ia memutuskan untuk pergi keluar sebentar.


'Yah, kurasa mataku butuh penyegaran' keluhnya dalam hati.


Ia kemudian menyusuri lorong panjang.


Sesekali ia berhenti untuk sekedar melihat keindahan taman hijau didekatnya atau untuk melihat beberapa prajurit yang nampak berlatih adu pedang.


Hal semacam ini memang sudah jadi kebiasaan Raka sejak disini, meskipun terlihat remeh. Pada dasarnya, Raka dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain.


Meskipun hanya melihat, pada dasarnya ia juga menilai dan mengasah kemampuan taktisnya.


Dari melihat, ia bisa memperkirakan siapa yang unggul, apa taktik yang digunakan, hingga jika ia mau ia bisa mencuri belajar darinya. Ya, itu adalah bakat alaminya sejak kecil.


Raka kembali melanjutkan langkahnya santai.


Ia menghela nafasnya berat saat melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia lihat.


Saat memutuskan untuk kembali, sebuah suara memanggilnya.


"Oh? Bukankah itu adalah yang mulia pangeran Arcnight?" Ucap salah satunya.


Ketiga teman yang lainnya hanya mengangguk dan sesekali menunjukkan ekspresi jeleknya.


Sigh.


Raka kembali menghela nafasnya berat.


"Dari sekian banyaknya orang yang tak ingin kutemui kenapa harus kalian yang disini sih!? Membuang waktuku saja" keluhnya dengan suara pelan.


Ia berbalik dan seketika ekspresi beratnya berubah terang.


Ia tersenyum begitu terangnya, ketiganya bahkan merasa silau karenanya.


Ya! Dia berakting!