
Hari ini adalah hari ulang tahun adikku, Raka. Pada umumnya, ulang tahun para anggota kerajaan akan dirayakan oleh seluruh negri. Karenanyalah, kami harus mempersiapkannya jauh jauh hari. Dan yang penting, dia tidak boleh tahu!.
Adikku itu yah, dia sedikit pemalu, tidak lebih tepatnya dia takut diejek. Karenanya, dia lebih suka menjauhi keramaian dan seringkali tidak mau tampil dalam acara formal sekalipun dengan berbagai alasannya selama 5 tahun ini.
Dan, hari ini aku dianugerahi misi penting untuk mengajaknya berkeliling selagi acara dipersiapkan. Kau tahu? Ini benar benar sulit. Maksudku, untuk membohongi seseorang yang memiliki kecerdasan diatas rata rata dan kepekaan yang tinggi dengan kecerdasaan yang normal dan kepekaan selayaknya manusia biasa, aku tersiksa!.
Hosh hosh..
Aku menarik cepat nafasku yang berderu.
Clang!
Dua mata pedang beradu didepan mataku, ini adalah rutinitasku, pelatihan pedang bersama seorang bangsawan, Sir Thomas.
Bruk!
Aku terpental.
"Anda tidak fokus yang mulia!" ucap pria dengan rambut merah yang sama denganku itu.
"Ugh.. maaf"
Sigh. Ia menghela nafasnya dan tersenyum kepadaku. Ia lantas melangkah dan mengulurkan tangan kekarnya.
"Berdirilah, yang mulia pangeran, anda adalah calon raja besar kami." Ucapnya dengan ekspresi bangga.
Aku terkejut. Dan lantas tertawa kecil seraya meraih tangan kekarnya.
Kami lantas tertawa.
"Yah, apapun itu terimakasih karena anda sudah berusaha selama ini, pangeran. Saya hanya ingin berkata bahwa anda berbakat dalam pertarungan." Ucapnya menyemangatiku.
"Ah, kurasa begitu"
"Dan juga, apakah yang membuatmu kehilangan fokus tadi adalah karena pangeran kedua?"
"Eh? Ah itu benar" ucapku seraya tertawa kecil.
"Hmm, beliau sudah 5 tahun ya. Adik anda tumbuh dengan saangat cepat yang mulia"
"Ahaha, itu benar. Tidak kusangka"
"Itu benar, tapi maksudku adalah tumbuh dalam artian yang lain, yang mulia" ucapnya serius.
"Hmm?" Aku memiringkan kepalaku bingung.
"Yah, tadi pagi saya melihatnya, berbeda dari tahun tahun sebelumnya dimana saya bertemu dengan beliau terakhir kali, dia tumbuh dengan cepat. Saat ini, yang dapat saya simpulkan adalah dia akan tumbuh sebagai monster yang mengerikan."
"A apa maksudmu!?" Tanyaku terkejut.
"Pfft, lihatlah! Anda salah tangkap lagi! Haha!" Ucapnya terkekeh.
Wajahku memerah malu, bagaimanapun aku ditertawakan.
"Yah, tapi aku juga tidak sedang bercanda, yang mulia. Tadi, saat saya berhadapan dengan beliau, saya bisa merasakan ketegasan diwajah beliau. Dapat dipastikan jika beliau akan menjadi pilar terkuat anda di kepemerintahan nanti. Ditambah dengan pengetahuan beliau yang tidak dapat ditutupi lagi."
"Ah, dia itu memang mengejutkan, maksudku.. yah kurasa dia akan jadi lebih terkenal dibandingkan denganku" ucapku bangga.
Sir Thomas nampak sedikit mengernyit kaget. Tapi sesaat setelahnya, dia nampak tertawa keras.
"Yah, kelihatannya para bed*bah sialan itu tidak akan berhasil memisahkan mereka berdua,"
...□□□...
"Hei Raka! Ayolah!" Ucapku memanggil adikku.
"Kuh! Bisakah kau mengecilkan suaramu!?" Ucapnya seraya terus menutup wajahnya rapat rapat dengan tudung.
"Ayolah.. kau bukan gadis kecil yang mengendap untuk mencari permen kan?"
"Kuh! Kauu" ucapnya seraya menahan rasa marah.
"Haha! Lihatlah ekspresimu itu!"
Kami lantas berlari larian di kota.
Hari sudah cukup sore saat kami memutuskan untuk pulang.
'Yah, ibu sudah selesai kan?' Ucapku dalam hati.
"Lihat? Bukankah itu tidak apa apa? Maksudku, yah menurutku, tidak apa jika kau mencoba sesekali untuk keluar kan?"
Anak itu menengadahkan wajahnya yang nampak berseri seri senang.
Ia menggelengkan kepalanya cepat. Dan berlari kecil kearahku. Lantas menggaet tanganku erat.
"Bersembunyi!" Ucapnya lirih.
"Hah?"
"Cepat!"
"Lari!"
"Sembunyi"
"Mereka mendekat"
"Hindari"
Ucapnya terus menerus tanpa henti seolah olah dikejar oleh sesuatu yang mengerikan.
"Hah!? Raka! Apa sih yang kamu lakukan!?" Bentakku padanya yang terus menyeretku menembus kerumunan massa.
"Mati!" Ucapnya mengejutkanku. Ia lantas berhenti sekilas dan dengan cepat menarik tanganku ke arahnya.
Slap!
Sebuah pisau lempar melesat melewati kami dan mengenai seorang pria dengan pakaian serba hitam.
"A apa maksudnya ini? Bukankah ada yang ingin menyerang kita?" Ucapku gemetar.
Raka mengangguk. Ia lantas menatapku tenang.
Semua orang yang melihatnya lantas terkejut dan panik.
Sesaat setelahnya, nampak para petugas patroli datang dan dengan cepat mengamankan situasi.
Kami sepakat untuk pulang saat ini.
Aku mencoba maju dan meminta seorang petugas patroli untuk mengantar kami pulang.
Tapi sebelum itu, tangan kecil itu kembali bereaksi dan meremas tanganku. Mencegahku untuk kembali masuk kedalam kerumunan.
"Jangan! Itu berbahaya" ucapnya tajam.
"Eh? La lalu bagaimana?"
"Ayo ke pinggiran kota"
"Eh? Kau bodoh ya! Bukankah itu artinya menjauh dari istana!?" Protesku.
Ia mengangguk membenarkan ucapanku.
"Itu benar, tapi di setiap sudut kota penuh dengan hawa membunuh, kita tidak bisa menghadapi mereka, bahkan jika kita meminta bantuan kesatria sekalipun"
"A apa katamu? Tidak! Dari mana kau mengetahuinya!?"
Sebelum menjawab pertanyaanku, tubuh Raka sedikit bereaksi, itu membuatku sedikit bingung. Ia nampan kesakitan seraya meremas jantungnya.
"He hei, a apa kau baik baik saja?"
"Tidak"
"Jangan disini"
"Pergi"
Ucapnya seraya menarik tanganku menerobos sela sela orang orang dikota.
Ia terus berlari menggandeng tanganku erat. Hingga tiba di pinggir kota yang nampak gelap dan sedikit sepi.
Bau sampanye yang pekat langsung menyerang hidungku. "U ugh"
"Tahan"
"Sebentar lagi harusnya bisa"
Aku menutup mulutku, menahan isi perutku yang melonjak.
Tak berapa lama Raka memberiku isyarat.
"Uweeek!" Aku mengeluarkan seluruh isi perutku.
"Raka! Sebenarnya siapa yang mengejar kita sih!? Dan juga bagaimana bisa kau tahu?"
"Eh? Aku tidak tahu" ucapnya polos.
"Kuh! Kau ini menyebalkan!"
Setelah beberapa lama, kami bangkit dan memutuskan untuk pulang.
"Ugh.. kau tahu? Ayah pasti akan sangat marah jika tahu kita berjalan jalan hingga ke pinggir kota, bagaimanapun disini ada begitu banyak kriminal!"
"Ah, aku tahu. Tapi justru karena disini kriminallah akan ada sedikit masalah yang akan kita temui, setidaknya hari ini" ucapnya tenang.
"Hmm, kau menyebalkan saat bereaksi tadi!"
"Benarkah?" Ucapnya seraya tersenyum jahat.
"Gah! Kau membuatku takut tahu!"
"Ahaha tidak apa! Jika kau ingin jadi kakak yang baik kelak, kau akan lebih sering menemui kondisiku yang seperti tadi!" Ucapnya terkekeh.
"Hei, aku ingin bertanya lagi padamu, siapa sebenarnya yang mengejar kita?"
"Hmm, aku tidak tahu. Tapi jika dipikir pikir, kurasa sekelompok pembunuh bayaran yang bertindak secara diam diam" ucapnya tenang.
"Be begitukah? Jika begitu kenapa kau bilang jika petugas patroli tidak akan bisa menyelamatkan kita?"
"Itu karena level petugas patroli masih terlalu rendah, mereka yang jarang berhadapan dengan kematian atau mereka yang tidak pernah membunuh tidak akan bisa merasakan hawa membunuh."
"Eh? Lalu bagaimana denganmu?"
"Eh?"
"Kuh!" Tubuh Raka kembali bereaksi, kali ini ia nampak menarik rambut hitam kebiruannya denga. Sedikit ekspresi menahan sakit.
"Ra raka!"
Ia mendorongku. Dan memberi isyarat untuk bersembunyi.
Sesaat setelahnya, beberapa orang pria nampak melewati kami dan beberapa diantaranya seperti sedang mencari kami.
Aku terkejut. Bukankah ini terlalu kebetulan? Maksudku, aku tahu jika kecerdasan Raka itu tinggi, tapi bagaimana bisa ia menjadi begitu peka?
"Ayo!" Ucapnya mengejutkanku.
Ia lantas berlari menghampiriku dan kembali menyeretku.
"Pakai tudungmu kak"
Kami lantas memakai tudung kami dan berjalan berbaur dengan para pria yang nampak sedang mabok.
Kami mengikuti rombongan pria mabuk itu hingga ke kota tempat awal kami.
"Hufft.. itu melelahkan"
"Ah. Tidak apa, asalkan kita baik baik saja."
Hari sudah cukup petang saat kami sampai di kota.
Brak!
Seorang anak kecil berlari dan menabrak Raka. Ia lantas terjatuh.
Kami berdua terkejut dan refleks menjongkokkan tubuh kami untuk membantunya.
"Hei! Lihat! Bukankah itu pangeran kedua?"
"Apa? Pangeran kedua yang katanya tidak berguna itu!?"
"Sungguh kasihan ya, jangan jangan dia bahkan tidak bisa menghindar!?"
"Ah. Jika begitu maka anak yang menabraknya tidak salah, maksudku, apa yang bisa dilakukan pangeran yang bahkan tidak bisa sihir?"
Deg! Aku mengepalkan tanganku erat.
"Apa apaan ini? Bukankah mereka rakyatku?"
"A anakku!? Eh? Hormat kepada yang mulia!" Ucap seorang ibu terengah engah dan menarik anaknya menjauh. Ia lantas berlalu begitu saja.
"I ini!" Ucapku dicegah Raka.
"Ayo pergi" ucap Raka dingin.
Aku lantas berjalan mengikuti Raka tanpa menghiraukan ucapan mereka.
Raka terus terdiam selama perjalanan kembali kami.
Aku pun kehabisan kata kata untuk sekedar menanyakan perasaannya. Saat ini, aku bahkan kehilangan wajah saat ia di remehkan semua orang.
"Jangan dipikirkan" sebuah suara dingin menyentuhku.
Aku mengangkat wajahku kearah pemilik suara.
Raka nampak menunduk dengan ekspresi rumit.
"A apa yang.."
"Kakak, apa kau masih punya stamina?" Tanyanya dingin.
"Eh? Jika untuk lari aku.."
"Kanan"
Slap!
Sebuah panah melesat dengan cepat ke arah kiri tubuhku. Tubuhku bergerak secara refleks menghindarinya.
"Kakak, kita harus pulang"
Ia mengejutkanku.
Aku mengangguk setuju.
"Ayo!" Ia lantas menarikku untuk kembali berlari menyusuri pemukiman warga.
Sesekali, panah panah itu menghujani kamj disela sela langkah kecil kami.
Tapi entah kenapa, setiap kali itu datang, ia selalu mengatakan arah kemana aku harus bergerak. Dan lagi, tubuhku seolah olah bersinkronisasi dengan ucapannya.
Aku menghentikan langkahku, dan melepas genggamannya dariku.
"Raka! Pergilah! Minta bantuan kepada ayah dan ibu! Kita tidak bisa tidak mati jika terus berlari!"
Ia turut menghentikan langkahnya. Dan berbalik menatapku dengan sepasang mata biru kristalnya. Ia nampak terkejut. Ekspresinya berubah menjadi dingin.
Serangan panah telah berhenti, tapi seorang pria kekar nampak turun dari atap sebuah rumah dan menggenggam pedang besar.
"Ah, hormat yang mulia pangeran, tidak, sanderakh yang terhormat" ucapnya tertantang dan secara tiba tiba maju mendesakku dengan pedang besarnya.
Aku mendorong Raka dan dengan cepat menghindarinya sebisa mungkin.
Pedang itu menghantam tanah. Nampak area disekitarnya hancur meninggalkan bekas cekungan berdiameter 5 meter.
Aku melemparkan pandangku pada Raka disisi lain yang nampak baik baik saja. Aku menelan sulivaku kasar.
Pria kekar itu kembali mengayunkan pedang besarnya. Dengan cepat, aku membentuk barier pertahanan sebisa mungkin.
Pertarungan terus terjadi, dia terus mengayunkan pedangnya dan aku terus bergerak menghindar dan bertahan.
Zzrrrt.. zzrrrt.. dash!
Kilatan merah dengan cepat melesat bersamaan dengan tinjuku menghancurkan pedang besar pria itu.
Aku menghela nafasku.
'Yosh! Setidaknya pria itu kehilangan efektivitasan tempurnya'
Tanpa kusadari, sesosok bayangan menatapku dari atas dengan mata haus darahnya.
"Anda benar benar hebat, yang mulia. Sesuai dengan rumor, anda benar benar tidak bisa ditandingi dalam hal pedang ya. Tapi sayangnya mana dan stamina anda pasti sudah habis."
Aku terkejut. Instingku memberi perintah, sebilah mata panah menatapku dengan panasnya.
'Sial! Aku tidak bisa bergerak!'
Clang!
Anak panah melesat dengan cepat. Tapi sebelum itu mencapai tangan, sebuah kilapan melibasnya.
Tring tring.
Itu adalah baja tipis pecahan pedang pria itu yang kuhancurkan.
Aku terkejut.
"Maaf, jika anda ingin menargetkan seseorang, bisakah anda menyelidiki terlebih dahulu siapa orang itu dan bersama siapa dia? Maaf jika aku sembarangan bicara, aku hanya memikirkannya sepintas tadi. Apa kalian meremehkan bakat kakakku huh!?" Ucap sebuah suara yang tak asing.
Aku menoleh ke pemilik suara. Nampak Raka berdiri seraya memegangi serpihan serpihan pedang yang berserakan.
Kedua pria itu sedikit terkejut. Mereka lantas tertawa keras.
Pria dengan panah turun dari tempatnya.
"Haha, anda benar benar pintar melempar, yang mulia pangeran kedua, api itu sia sia." Ucap pria kekar. Ia lantas berjalan maju seraya mempermainkan tangannya tapi segera dicegah pria pemanah.
"Tubuhnya lemah, dan juga anak panahku sudah habis, biarkan aku menyelesaikan ini, sementara kau jaga anak rambut merah"
Raka mendekatiku dan membisikkan sebuah kata yang mengejutkanku.
"Aku akan bertarung, buka matamu lebar lebar"
"A apa!?"
Ia hanya tersenyum.
Pria ramping itu lantas berlari dengan cepat kearah adikku masih dengan senyumnya, tangannya mengepal keras.
Sssh..
Raka melangkah mundur, tepat sebelum pukulan itu mengenainya.
Pria ramping itu berdecik kesal. Ia lantas mengayunkan kakinya. Tapi segera dilewati Raka dengan ringan.
Setelah beberapa saat, pria itu marah dan berlari dengan kecepatan penuhnya, mengerahkan kekuatannya untuk memukul Raka.
Belum sempat itu mengenainya, tubuhnya terhenti, Raka menghilang dari pandangnya, berpindah ke arah samping dan mengayunkan sesuatu kearah leher pria rampung itu
Srash..
Darah mengucur hebat, pria itu limbung dan pingsan.
"A apa!?" Ucap pria kekar seraya berlari kearahnya.
Thud!
Aku menggenggam kakinya. Tapi segera dia lepaskan dengan mudah.
"Raka! Pergi!" Seruku.
Tapi, wajah Raka nampan mendingin.
Pria kekar itu sedikit membungkuk dan mengayunkan tinjunya dengan keras.
Dash!
Tinjunya mengenai tembok bangunan. Sementara itu, tanpa diduga, Raka kembali bergerak, kali ini ia berpindah ke punggu pria itu seraya menarik tangan kirinya kebelakang. Menghujamkan pecahan pedang tepat ke tengkuknya secara berulang kali.
Pria kekar itu mengaduh.
"Kau lengah!" Ucap Raka sesaat setelah pria itu. kehilangan kesadarannya dan jatuh.
...□□□...
Kami berhasil pulang.
Itulah kata pertama yang membahagiakan. Saat tiba diistana, ibu kami langsung heboh dan bertanya tentang apa yang terjadi.
Raka lantas bercerita, tapi yang ia ceritakan bukan tentang pertarungan, melainkan tentang permainan kejar kejaran.
Setelahnya, ia sedikit bercerita tentang apa yang terjadi padaku.
"Kakak, mungkin setelah ini kau akan bertanya kenapa aku bisa merasakan mereka bukan? Dan kenapa aku bisa bertarung seperti itu?"
"Eh? Jika kau tidak mau menceritakannya juga tidak apa kok"
Ia menggeleng dengan wajah kecilnya yang nampak imut.
"Aku.. sejak kecil aku bisa mendengarnya"
"Eh? Apa?"
"Sejak kecil, aku selalu bisa mendengarnya, suara suara aneh yang berpendar di sekitarku, dan hanya aku yang bisa mendengarnya." Ucapnya seraya menutup telinganya.
"Aku juga bisa melihatnya. Aku bisa melihat setiap orang dengan berbeda darimu, atau manusia yang lain. Terkadang, jika itu mungkin, aku bisa melihat sesuatu lebih jelas dibandingkan orang lain, dan dalam pertarungan tadi, aku bisa melihat pergerakan dengan lebih lambat."
"Aku bisa membaui bau yang tidak bisa kau baui, dengannya, aku bisa tahu tentang identitas dan apa yang akan terjadi dengan keberuntungan udara"
"Aku bisa merasakannya, aku bisa merasakan racun yang menyebar diudara, hawa membunuh yang menyebar, dan perasaan terancam"
"Se sejak kapan?"
"Sejak kecil."
Deg! Aku terkejut.
"Apa karena itu juga kau tidak pernah mau keluar dari istana? Dan apa karena itu juga kau tidak dapat teman? Apa itu semua karena ejekan yang mereka lemparkan padamu?"
Dia mengangguk kecil.
Aku menggigit bibirku miris.
"A aku, aku benar benar bodoh! Sebagai kakak aku.."
"Kau bercanda! Mau seperti apapun, kau tidak punya hak untuk memintakan mereka maaf." Ucapnya ringan.
Ia lantas tersenyum.
Sejak itu, aku tidak bisa untuk tidak lebih dan lebih mencemaskannya. Yah, itu karena dia, adikku yang berharga.