Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Extra Part: War and Love (Special ed Happy new year)




"Ayo kesini!"


.


"Sini sini, biar kubantu"


.


"Hei! Kau yang disana! Cepat kemari!"


.


Lalu lalang orang orang begitu ramai malam ini.


Yah, bagaimana tidak? Malam ini adalah malam tahun baru. Ya! Tahun baru di benua Oxmage.


Fiuhh.. Aku menghela nafasku panjang. Cukup sulit untuk menemukan sudut yang sepi.


Bagaimanapun, istana ini begitu ramai malam ini. Dan seperti yang kalian ketahui, aku mencoba menghindar dari ajakan paman dan bibi yang ingin 'menculikku'.


Aku berjongkok di sebuah sudut taman yang nampak sepi.


"Fiuh.. aku benci ini, apa tahun baru tidak bisa diisi dengan acara baca buku bersama saja?"


"Hmm, yah, aku akan menyukainya jika itu terjadi"


"Yah, apapun itu lupakan, kelihatannya tempat ini cukup sepi" Aku tersenyum senang.


Yah, sepintas ingatanku bergulir.


"Ah. Jika itu aku yang dulu aku akan mencari tempat sepi lalu tidur sampai larut. Hingga kemudian, saat aku kembali pasti akan ada suara nyaring terngiang di kepalaku, haha" Aku tertawa kecil saat mengingatnya.


Itu hanyalah rentang waktu sesaat sebelum tetesan air mata mengalur lembut. Aku menangis, untuk pertama kalinya setelah aku mendapat ingatan ini.


"Yah, kelihatannya aku tetap tidak bisa hidup normal tanpa orang yang membantuku yah,"


"Agak memalukan bagiku yang sudah cukup berumur ini, tapi kurasa aku mulai sedikit merindukan guru,"


"Raka!" Sesaat kemudian sebuah suara membuyarkan lamunanku.


Refleks aku memalingkan wajahku ke sumber suara.


Nampak dari kejauhan, seorang wanita dengan blouse biru lautnya berjalan menghampiriku.


Aku pun segera menyembunyikan jejak air mata dari wajahku.


"Ah. Bibi, anda mengejutkanku" ucapku dengan sedikit senyum untuk menyamarkan ekspresi kalutku sebelumnya.


"A apa kau menangis?" Ucap Queensha dingin.


"Eh? Ah? Ini.." Aku mencoba mencari kata kata yang pas untuk melanjutkan pembelaanku.


Bagaimanapun, aku hanya tidak ingin membuat wanita di hadapanku ini mengkhawatirkanku.


Aku menghela nafasku berat. Sedikit akting akan mengakhiri ini.


"Ah. Tidak apa, aku hanya sedikit merindukan ibu,"


Yah, itu benar. Meskipun pada dasarnya bukan itu alasan utamaku menangis, tapi memang ada sedikit rasa rindu pada wanita cantik nan lembut yang melahirkanku.


Aku lantas tersenyum riang.


Wanita itu sedikit tersekat, ia lantas berjalan menghampiriku, dan memelukku erat.


"Haih.. kau ini terlalu kaku, bagaimanapun apa kau tidak lagi menganggapku bibimu huh!? Menurutmu bagaimana aku akan menjelaskannya pada ibumu kelak?" Tanyanya lembut seraya mengusap wajahku.


Manik mataku melebar, meskipun itu adalah suatu kebenaran jika wanita ini menyayangiku selayaknya anaknya, tapi aku sama sekali tak berpikir akan menghadapi situasi ini sendiri.


Aku menghela nafasku panjang. Dan kembali tersenyum mengisyaratkan bahwa aku sudah kembali normal.


...□□□...


"Hei! Apakah logistiknya sudah di salurkan!?"


.


"Pindahkan itu kesini!"


.


"Siapkan amunisinya"


.


Lalu lalang orang berhamburan kesana kemari.


Malam ini adalah malam sibuk lainnya di garda depan pertarungan.


Yah, entah sudah berapa lama ini terjadi padaku, rasanya malam yang sibuk dengan perlengkapan perang dan segala persediaan logistik memenuhi minggu minggu hidupku.


Aku sendiri turut berdiri sebagai medis sekaligus penjaga benteng dengan panah yang melingkar erat di tanganku-yah, seorang Archer.


Pada dasarnya bukan suatu hal yang tak mungkin bagiku untuk bertarung bersama yang lainnya, bagaimanapun, musuhku adalah para warga awam yang terjangkit miasma dan terpengaruh energi negatif. Jadi, bukan suatu hal yang sulit untuk menjatuhkan mereka yang tak memiliki pondasi beladiri yang kuat. Tapi apa alasannya sehingga aku menjadi seorang archer yang tidak bertarung secara langsung adalah tugas utamaku sebagai pelayan dan pengawal pribadi yang mulia Queen of Arcnight, Rishma.


Mungkin sebagian akan bertanya mengapa kita kesulitan melawan musuh yang umumnya memiliki tidak memiliki pondasi beladiri yang kuat sedangkan kami adalah para pasukan yang terkenal akan kehebatannya di seantero benua Oxmage ini? Alasannya sederhana, kami disini ada untuk bertahan hidup, bukan untuk membasmi kehidupan tak bersalah. Para rakyat Arcnight yang terjangkit miasma bukan tak mungkin untuk sembuh, bahkan dibeberapa kasus mereka yang sembuh dari miasma secara otomatis mendapat kekebalan akan hawa negatif dari nafas iblis dan sebagian lainnya dapat meningkatkan kekuatan beladiri.


Meskipun begitu, rasio selamat dari miasma ini sendiri sangat kecil. Dan itu juga alasannya mengapa kami belum bisa mengatasi masalah ini dengan benar.


Fiuh..


Aku menghela nafasku panjang, cukup lelah memang, harus berjaga dimalam hari dan mengangkut sendiri logistik dan pasokan makan minum para prajurit. Yah, itulah yang kami, para prajurit wanita lakukan. Para prajurit pria yang memiliki kekuatan dan tenaga yang besar umumnya tertidur lelah dimalam hari setelah pertempuran sepanjang siang, sedangkan para pria biasa lainnya dengan bermodalkan senjata seadanya akan berpatroli di sekitar hutan. Sisanya, kami para wanita akan mengurus logistik, pangan dan semua kebutuhan prajurit di malam hari, tertidur sepanjang siang, bersiaga dikala petang. Itulah yang kami lakukan.


"Paman Gerald, kau bisa bicara" ucapku dingin saat ada seseorang yang mengamatiku dari kejauhan.


"Maaf mengganggu waktu anda nona Icy, tapi beberapa pasukan yang berpatroli melihat ada sedikit pergerakan dari musuh diarah jarum jam 4, saya menunggu keputusan anda"


"Apakah orang orang dari pasukan inti masih ada yang terjaga? Jika ada panggil mereka ke medan perang, lalu tarik semua pasukan patroli dari sektor yang terdampak, dan juga jika kau bertemu dengan anggota Bloody red dress, maka panggil merek menghadap padaku, persiapkan semua pasukan yang terjaga dari sisi pertempuran. Pertahankan sisi lainnya. Kita akan mewarnai langit malam ini"


...□□□...


Swosh.. duarr!!


Kilatan cahaya terang melesat dengan cepat, sepersekian detik setelahnya meledak menyisakan cahaya kunang yang begitu indah, kembang api.


Ya, malam ini adalah malam tahun baru yang cukup meriah. Semua orang dari penjuru ibukota Azasky nampak antusias memandangi langit malam yang berhiaskan bintang dan kerlap kerlip kembang api, tanpa bulan yang menghiasinya.


Berbeda dari sebelumnya, aku memutuskan untuk tetap tinggak di Azasky dan menikmati pergantian tahun disini.


Para warga turut berkerumun, mereka semua menikmati berbagai acara yang diselenggarakan di malam pergantian tahun ini.


Pada dasarnya, tidak ada perbedaan yang mencolok antara tradisi yang berkembang di Qrystial dan Azasky, begitupun kerajaan lainnya. Mereka menari, menyanyi, para wanita yang bersolek, dan para pria yang menunjukka sisi kejantanan mereka, yah, ini sudah awam.


Aku berjalan sendirian saat ini, sesekali mampir untuk menikmati kudapan dan banyak acara lainnya. Sebenarnya, acara utama sendiri belum dimulai, karenanyalah bibi memperbolehkanku untuk berjalan jalan sebentar.


Kling kling.


Gemerincing pernak pernik menghiasi setiap kios yang terpampang di pinggir jalan, semuanya nampak gembira.


Pandangku terhenti pada sebuah bros permata berwarna amethyst dengan bentuk menyerupai kupu kupu kecil.


Sekelebat ingatan muncul di kepalaku, ingatan ini adalah ingatan dari enam tahun lalu. Sebuah kenangan dari gadis di masa depan untuk kekasihnya di masa lalu, begitulah kiranya.


Hari itu, hari dimana anak itu dibuang dan tenggelam dalam danau, dengan energi iblis yang menguasai tubuhnya, sepasang mata Amethyst-lah yang menyelamatkannya. Gadis itu lantas memberinya ini, sekeping ingatan berdebu tentang hidupnya dimasa depan.


"Lima tahun lagi ya, ah. Maaf bu, bisakah anda menjual pernik ini padaku? Seorang kenalan memintaku untuk membelikannya hadiah"


Ucapku ramah pada wanita paruh baya yang berjaga di kios kecil itu.


"Ohoho, kau punya selera yang bagus, nak"


Aku kembali berjalan menikmati udara malam yang terasa hangat dengan nafas semua orang.


"Ah. Jika itu kau, pasti akan menggenggam tanganku dan menarikku kesana kemari. Pastinya aku tidak akan berjalan sendirian. Yah, percayalah.. kau akan menyukai tempatku berdiri saat ini"


Gumamku memandangi kerlap kerlip lampu malam yang serasa hidup dengan nafas semua orang.


Phew! Aku menghela nafasku pelan. Uap panas segera naik ke udara. Yah, meskipun udara cukup dingin, hatiku cukup panas sekarang.


...□□□...


Sementara itu, dilain sisi.


"Serang!"


.


.


"Lindungi nona muda!"


.


Sorak sorai pasukan memenuhi udara kelam dan dingin tanah utara Arcnight.


Aku mengencangkan zirahku, mencegah terjadinya hal hal yang tak diinginkan. Sesekali udara dingin bersaing dengan nafas panas para petarung.


'Ugh, aku lelah. Aku mengantuk. Sampai kapan pertarungan ini akan berlangsung?' Keluhku dalam hati.


"Nona! Apa anda baik baik saja!?" Seru sebuah suara membuyarkan lamunanku.


Aku kembali bangkit dengan teguh, "ah. Tak apa, lanjutkan pertarungan" ucapku dingin.


Ya, itu benar. Aku memaksakannya, mau berapa kalipun aku terjatuh, aku tak peduli lagi. Satu hal yang pasti, aku harus bertahan demu diriku dan semua pasukan ini.


Aku berpacu cepat dengan kuda perang, nafas panas sesekali terhembus dariku. Darahku mendidih, amarah yang memuncak memenuhi ulu hatiku. Perasaan ini, perasaan tak ingin dikalahkan.


Aku terus mengayunkan pedang yang berlumuran darah ini. Sesekali aku terhenti dan mengamati kembali medan perang.


Bagaimanapun, aku adalah komandan divisi ini, dan aku tidak boleh lengah sedikitpun demi keselamatan nyawa para prajurit.


Tak peduli apakah itu darahku atau darah musuh musuhku, semuanya bercampur membasahi pakaianku saat ini.


Bloody red dress queen, kurasa panggilan itu cukup cocok padaku saat ini.


Swosh..


Duarr!


Lengkingan suara kembang api yang meletus mewarnai langit malam.


Ya, ini malam tahun baru. Malam tahun baru yang diawali dangan kemelut berdarah.


"Ah. Jika itu kau pasti saat ini kau akan bersembunyi dan mencari tempat untukmu beristirahat"


Aku tersenyum sederhana. Terbayang bagiku sesosok yang nampak familiar dengan ingatanku.


Senyuman itu hanya sesaat, sebelum mataku memanas dan memutuskan untuk meleleh dalam riuhnya pergantian tahun.


Ada saatnya dimana aku berjalan berdampingan mengenggam tangannya erat ditengah hujan kembang api yang semarak.


"Ah. Benar benar kenangan ya" aku menggigit bibirku miris.


"Hidup nona muda! Hidup Ratu Bergaun Darah! Hidup Arcnight! Hidup yang mulia Raixena!"


Sorakan dan penghormatan secara lantang berkumandang mengakhiri perang berdarah.


Aku tersadar dari lamunanku dan menghela nafasku panjang.


Reli panjang pertempuran utara yang melelahkan.


Aku berdiri teguh dihadapan para prajurit yang nampak bergembira. Kembali kuteguhkan pijakanku. Tiupan angin dingin malam membekukan air mataku yang mengalur sendu.


"Kemenangan atas kita semua!" Ucapku dengan lantang seraya mengangkat pedang berdarah, masih dengan alirannya yang turut membasahi tanganku.


...□□□...


Seorang pria muda dengan kemeja putih sederhananya berdiri mematung memandangi semarak kerumunan penduduk yang bersiap untuk menerbangkan lampion.


"Kakak! Ini!" Sebuah suara kecil mengejutkannya. Ia menoleh, tepat dihadapannya sesosok gadis kecil berambut coklat madunya nampak tersenyum, ditangannya sebuah kertas berwarna warni diulurkannya pada pemuda itu.


Pemuda itu berjongkok menyetarakan tingginya terhadap gadis kecil itu. "Ah. Apa ini lampion?"


Gadis itu mengangguk.


"Apa kakak tahu? Menerbangkan lampion saat tahun baru adalah sebuah tradisi, dan warna lampion melambangkan suatu keinginan"


Pemuda itu tersenyum. "Oh ya?"


"Ah. Itu benar, putih untuk kebaikan dan kejujuran, emas untuk kesejahteraan dan kemakmuran, hijau untuk pertemanan dan perdamaian, biru untuk kekeluargaan dan kesehatan, hitam untuk kekuatan dan ketegaran, dan merah untuk perang dan cinta" ucap seorang wanita dengan gaun biru lautnya


"Ah. Baiklah" ucap pemuda itu seraya bangkit.


Disaat yang sama, dilain sisi.


"Nona, apa anda baik baik saja?" Ucap seorang gadis muda berlari kearah seorang wanita dengan seragan militer dan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Sebagian tubuhnya nampak dipenuhi oleh cairan merah.


"Ah. Aku baik baik saja"


"Ji jika begitu, bagaimana jika anda mengikuti pesta pergantian tahun? Disana akan ada banyak lampion dan kembang api!" Serunya bahagia.


Wanita itu tertawa kecil.


"Pfft. Baiklah, bantu aku mengambilkan gaun merahku"


"Ah? Kenapa gaun itu lagi?" Ucapnya berubah menjadi murung.


Sementara wanita itu hanya tersenyum kecil.


"Entahlah".


Swush..


Duarr!


Lengkingan suara kembang api mengiringi malam pergantian tahun.


Seorang pemuda berdiri memegangi sebuah lampion merah yang telah dinyalakan.


Disisi lain, disuatu tempat lain. Seorang wanita tampak berdiri dengan gaun merah anggunnya memegang sebuah lampion senada dengan gaun indahnya.


Keduanya nampak menengadahkan wajahnya ke langit malam yang semarak.


"Keinginanku," bisik pemuda itu mengangkat lampionnya tepat didepan wajahnya.


"Ditahun ini dan dimasa depan" bisik wanita itu seraya mengangkat tangannya yang memegang lampion.


"Aku ingin" ucap keduanya disaat yang sama, ditempat yang berbeda.


"Mengakhiri perang yang menyengsarakan" ucap pemuda itu tenang.


"Perang yang berkecamuk" ucap wanita itu dingin.


"Demi perang!" Ucap keduanya teguh.


"Aku ingin, bertemu dengannya" ucap keduanya.


"Tak peduli apapun," ucap wanita itu sendu


"Tak peduli jika itu hanya sedetik" ucap pemuda itu rumit.


Wanita itu menengadahkan wajahnya yang bertutupkan tudung. "Meskipun hanya sekejap"


Disaat yang sama, pemuda itu melepas genggamannya, "Meskipun hanya sekelebat"


"Biarkan kami bertemu, untuk cinta" Ucap keduanya melepas lampionnya ke udara malam yang dingin.


Fiuhh. Keduanya lantas menhela nafas mereka dan kembali memandang lampion yang kini terbang tinggi diangkasa malam.


Sesosok bayangan putih bersinar terang, wajahnya mengabur, Meskipun begitu, dapat dirasakan bayangan itu tersenyum hangat.


"Kalian benar benar yang terpilih, aku menantikan kalian.. berjuanglah, insan yang direstui semesta"


Satu.


.


Dua.


.


Tiga!


Swish...


Duarr!!


Kembang api kembali melesat cepat, hingga kemudian pecah dan meninggalkan jejak cahaya bagaikan kunang yang bertebaran diangkasa raya.


Dengan ini, pergantian tahun terlewati dengan hangat.


...■■■...