Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
You're my king!




Raka tersenyum menanggapi perkataan Andreas.


"Hahahaha! Kau benar benar orang yang unik yang mulia Andreas! Pantas saja kau bisa menjadi salah satu murid pak tua doyan minum itu haha!" Ucap Bartolomeo merendahkan.


'Huh, Andreas ini benar benar penyabar! Dia bahkan bisa bertahan dibawah perkataan Bartolomeo. Bartolomeo, kali ini kau MVP-nya!' Ujar Raka dalam hatinya.


Sementara Andreas memelototi Bartolomeo yang sibuk memprovokasi. Ia benar benar menahan amarahnya kali ini.


"Tsk. Kalian ini! Mau sampai kapan kalian bertahan sembari menutup mata dan telinga kalian saat raja kita direndahkan huh?" Ucap Bartolomeo dengan ekspresi yang berubah menjadi dingin.


"Hmm?"


Sesaat setelah Bartolomeo berucap mendadak muncul segerombolan bayangan dibelakangnya dan mengelilingi Raka ditengahnya.


"Kau benar benar menahan amarahmu ya, Bartolomeo.." ucap seorang wanita berambut hitam panjang dengan kacamata. Dia adalah Alice, dibelakangnya berbaris sekelompok orang berseragam serba merah,


"Li lihat! Bukankah itu tentara Bloody Rose! Aku tak menyangka mereka hadir disini!"


"Ah, aku juga. Tapi wajar sih, bagimanapun mereka adalah tentara pengawal sang mulia kan? Dan juga tak hanya itu! Coba lihat disamping yang mulia! Bukankah itu para Assassin bayangan sang mulia? Dan juga itu adalah pasukan api membara!"


'TIGA BESAR PASUKAN BERKUMPUL! PERTARUNGAN SENGIT AKAN TERJADI!'


"Ah. Aku setuju dengan Alice. Meskipun itu kau. Hampir agak mustahil bagimu meluangkan waktu untuk kami bergerak. Barto, kurasa pandanganku tentang dirimu mulai berubah, aku akan mengganti sebutanmu si otak otot menjadi si otot otak, bagaimana?" Ucap pria muda dengan rambut putih, Kai.


"Huh?" Respon bartolomeo geram.


"Tch! Apa kau bercanda huh? Kai mengajukan penawaran untuk melepaskan para prajurit lemah dengan syarat aku bertarung atas diriku sendiri tanpa bantuan orang lain, tapi apa apaan ini? Kau bahkan membawa ratusan pasukan disampingmu!" Ucap Andreas meremehkan.


Raka hanya tersenyum sederhana.


"Ah, bukanlah kita sama? Kau dan aku adalah raja.. kau menggunakan iblis bawahanmu sebagai seluruh anggota tubuhmu.. lalu mengapa aku tak boleh memiliki otoritas yang sama? Hanya karena aku seorang yang lebih muda, lamtas kedudukanku sebagai raja diremehkan huh? Jika iblis adalah tubuhku, maka kelima pasukan adalah jiwaku. Mereka hidup bersamaku dan akan mati bersamaku pula!" Ucap Raka dengan tenang.


Menanggapi perkataan sang pemimpin para pasukan berlutut dan memberi penghormatan.


"Anda adalah Raja kami yang mulia! Jiwa kami adalah jiwa anda! Jaya selalu yang mulia!"


Semua pasukan tercengang dan secara refleks mereka mengikutinya.


Saat itu, bayangan semua orang terhadap Raka berubah. Benar! Dia hanyalah anak kecil, tapi anak kecil inilah yang memikul beban Qrystial selama bertahun tahun tanpa diketahui oleh para penduduk. Dan bahkan, jika ia memang berniat untuk lari dari tanggung jawabnya maka ia seharusnya bisa pergi saat ini, tapi ia bahkan tak bergeming sedikitpun, bahkan ia bersungguh sungguh untuk membiarkan mereka kembali sekalipun tanpa dirinya sendiri.


"Tch! Matilah kau!" Teriak Andreas geram.


Sebuah lingkaran api hitam berkumpul diatas para pasukan Raka yang masih berlutut memberi penghormatan.


"Hancur!" Ucap Raka tegas. Dalam sekejap, bola itu hancur berkeping keping menyisakkan bayangan hitam yang kemudian menghilang.


Raka melangkahkan kakinya keluar dari pusat pasukan,


"Andreas! Aku mengerti keinginanmu untuk menghancurkanku, juga tentang pandanganmu yang menganggapku sebagai rintanganmu dalam menaklukan ras manusia.."


"Kau takut akan perkembangan dan kemajuan yang kulakukan bukan?"


"Tch." Andreas berdecik menahan amarahnya.


"Kau tahu? Kau adalah tipe orang yang akan maju tanpa alasan dan dengan serakah dan rakusnya ingin menguasai semuanya! Sayangnya aku bukan dirimu,, aku ini, tipe orang yang suka membalas.. aku tidak akan ikit campur pada apa yang kau lakukan, tapi aku akan mengacungkan pedangku pada setiap orang yang berniat ikut campur dalam urusanku, tak terkecuali dirimu, Andreas.."


"Berdiri!" Perintah Raka pada pasukannya


Semua pasukan berdiri dan memancarkan aura kebencian dan amarah.


"Tch! Semuanya! Serang!!" Ucap Andreas.


Groawl..


Para iblis mulai menyergap secara beringas. Mereka maju penuh keinginan membunuh.


"Semuanya! Hancurkan para iblis!" Perintah Alice dengan sigap. Para pasukan mulai melesat maju tanpa gentar.


Para assassin, barbarian, dan petarung lainnya mulai membaur melawan iblis.


Tak terkecuali Bartolomeo, Alice dan Kai.


"Hormat kepada master." Ucap seorang anak kecil berumur 8 tahunan mendarat disamping Raka.


"Kau sudah datang ya.. baguslah jika kau tidak apa" ucap Raka sembari mengusap kepalanya lembut.


"Maaf, saya.."


"Tidak apa, lagipula jika kau tidak datang juga tubuhnya akan hancur saat menyentuhku kok," ucap Raka dengan riang.


"Ah, kekuatan saya benar benar lemah untuk melindungi anda"


"Kau tak perlu berlebihan, Ryan"


"Hmm? Dia?"


"Andreas, dia salah satu murid guruku, bisa dibilang jika dia bukan lagi iblis mungkin aku harus memanggilnya kakak seperguruan.."


Splash..


Ryan kembali menebaskan belatinya, membunuh iblis iblis yang mulai mendekati rajanya itu. Ya, meskipun Raka adalah pemimpinnya, tapi ia sudah menganggapnya sebagai saudara.


...●●●...


Pertarungan terus terjadi tanpa henti. Para iblis mulai terbunuh satu persatu. Meskipun begitu, pasukan milik Raka tetap maju tanpa kenal lelah.


Bagaimanapun mereka adalah pasukan terlatih milik Raka. Mereka sudah dilatih untuk merasakan rasa lelah melebihi pasukan manapun, dan dengan terus melatih mental baja mereka.


Bisa dibilang, mereka adalah pasukan terkuat di benua.


Andreas mulai panik sesaat menyadari kekuatan tempur pasukan milik musuhnya itu.


Ia pun terpaksa untuk kembali menyerang dengan tangannya sendiri. Puluhan bola api mulai muncul dan melesat dari kejauhan mengarah tepat kearah musuhnya.


"Padam" ucap Raka dingin.


Selang beberapa centi, bola bola api itu benar benar menghilang menjadi abu.


Andreas tercengang, ia merasakan keberadaan yang begitu kuat.


'Aku benar benar tak berfikir ia akan menjadi sekuat ini! Jika itu benar aku pasti akan membunuhnya bahkan sebelum ia lahir!'


Andreas tak menyerah, ia mulai menyerang Raka secara bertubi tubi tanpa henti. Bahkan sesekali ia memakai formasi hanya untuk melancarkan serangan pada musuhnya. Tapi tetap saja, siapa yang mengira bahwa kekuatan anak ini benar benar monster!.


"Ah.. apakah kau mulai lelah? Yah, kurasa begitu. Sudah cukup untuk serangannya. Sekarang biarkan kau yang menghindar." Ucap Raka sembari tersenyum kecil.


Ia mengepalkan tangannya dan sebuah bola api berwarna biru seukuran kepala manusia dewasa meluncur cepat menuju Andreas.


"Padam!" Ucap Andreas penuh penekanan.


Bola itu benar benar padam. Tapi sebelum itu, sebuah piringan kuning berputar dibawah kakinya.


Srash!!


Ribuan petir keluar dari langit dan bumi menyambar tubuh Andreas.


Tubuh Andreas terbakar menyisakan jubah antisihir miliknya.


"Tch! Si*lan kau!" Ucap Andreas yang kemudian berganti tubuh.


Raka hanya tersenyum penuh arti.


'Tch. Aku sama sekali tak menyangka dia akan jadi sekuat ini.. seandainya, seandainya aku tahu sedikit saja tentang dia sebelumnya mungkin aku akan bisa mengambil keputusan yang tepat untuk menghancurkannya..' kutuk Andreas dalam hati.


Meskipun ia selamat dari serangan Raka, faktanya mananya berkurang drastis. Dan itu cukup membuatnya frustasi saat ini.


Jika itu bukanlah pertarungan kehormatan, maka ia pasti akan memilih untuk pergi saat ini. Tapi bagaimanapun, pertarungan ini dilihat oleh banyak orang, ditambah dia adalah seorang raja iblis.


Tidak ada kata mundur baginya saat ini.


Belum sempat ia memutuskan keputusannya, sebuah formasi berputar dan menghujaninya dengan serangan petir tak terhitung jumlahnya.


Tubuh Andreas bergemeretak. Pada dasarnya ia sama sekali tak mampu menahan apa lagi melancarkan serangan balik saat ini. Ia berada dalam situasi hidup dan mati.