
Istana kerajaan.
"Kakak! Apa kakak akan benar benar pergi!?"
Seorang gadis dengan rambut madunya nampak merengek pada dua orang pemuda bersurai pirang dan hitam.
Dibelakangnya, seorang wanita berambut pirang tersenyum memandangi putri kecilnya.
"Hah? Apa yang kau katakan Stelia!? Kakak hanya akan pergi sebentar saja, nanti dia akan kembali kok"
"Hmph! Tenang saja Stelia! Aku juga akan merindukanmu kok!" Seru pemuda berambut pirang.
"Huh? Siapa yang bicara padamu hah? Lihat wajahku! Apa aku benar benar terlihat seperti akan merindukanmu!? Jika kau mau pergi pergi saja! Jangan ajak ajak Kak Raka!" Protes gadis berambut madu itu, Stelia.
"Pfft!" Raka tak bisa menahan tawanya.
Sementara Bobby saat ini sedang mengalami serangan mental.
Raka tersenyum dan mengelus lembut rambut madu gadis itu. "Ah, itu benar.. aku hanya sebentar saja kok!"
"Be benarkah? Apa itu benar, bu?" Stelia menoleh ke wanita disampingnya.
Queensha mengangguk membenarkan.
"Memberi hormat kepada yang mulia, pangeran dan tuan putri.. hamba melapor, keretanya sudah disiapkan."
"Ah, baiklah. Terimakasih paman Qin" ucap Raka tersenyum hangat.
"Ah, Bobby! Ingat jangan terlalu banyak bicara, jangan terlalu banyak bertarung, jangan terlalu nakal, jangan berkeliaran sendirian, jangan terlalu impulsif, jangan boros, dan juga, jangan lupa dengan aturan keluarga Azasky! Dan juga, kau harus belajar apa yang ada disana, ibu menunggu laporanmu saat kembali!"
Bobby terkejut, saat ini guncangan mental kedua telah melandanya. "Gah!"
Raka bergetar menahan tawa.
"Ibu! Kau memberiku banyak perintah, apa kau tidak memperhatikan Raka juga!?" Protes Bobby.
"Oh? Benar juga, hmm.. Yah, kurasa tanpa kuberi tahu pun kau sudah paham kan, Raka? Yang jelas, bersenang senanglah disana" ucap Queensha hangat.
"Ah, tentu bibi, terimakasih"
Sementara Bobby kehilangan ekspresinya. 'Ah? Apa ini? Siapa aku? Ibu! Apa sebenarnya dendammu pada anakmu ini!?' Gerutunya dalam hati.
"Baiklah, berhati hatilah dijalan," ucap Queensha melambai.
"Tentu! Dah Bibi, dah Stelia! Ah! Dan juga, sampaikan salamku pada paman!" Ucap Raka sembari berlalu dengan cepat mengikuti Pelayan Qin. Sementara tangan kanannya menyeret bagian belakang kerah baju milik Bobby yang masih nampak linglung.
Thump!
Bobby menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi panjang dalam kereta.
Di hadapannya, Raka dengan tenang membolak balikkan lembar buku yang nampak tebal.
Itu yang seharusnya terjadi, tapi apa yang terjadi adalah...
"Uwaaaa! Aku ingin ikut!" Rengek seorang gadis.
Mungkin sebagian besar akan mengira rengekan itu berasal dari Stelia, tapi pada kenyataannya, seorang gadis sebaya dengan rambut hitam pekat dan mata merah menyala nampak seumuran dengan keduanya menghentakkan kakinya geram.
"Gah! Kau tidak boleh ikut!" Protes Bobby selangkah kemudian.
"Kenapa!? Bukankah kereta itu cukup luas!?" Balas gadis itu sama tingginya.
"Tiidak! Kubilang tidak ya tidak! Kau tidak boleh ikut! T I D A K!" Seru Bobby tak kalah heboh.
"Huh? Atas dasar apa kau melarangku!?"
"Atas dasar aku pemilik kereta ini, lalu atas dasar apa kau memintaku untuk mengizinkanmu!?"
"Atas dasar aku lebih tua darimu!"
"Gasp! Kau hanya lebih tua dariku 7 bulan tahu!"
"Hmph! Siapa peduli"
"Tsk! Lagipun kau tetap yang terpendek diantara kami!"
"Kuh! Kauuu!"
Sesaat suasana menjadi begitu panas. Hingga sebuah perasaan dingin muncul dan mengejutkan keduanya.
Flop! Buku itu ditutup dengan keras.
"Oh? Apa sudah cukup berdebatnya?"
Raka tersenyum hangat, sepintas perasaan mengerikan muncul menerpa kedua orang itu.
Mereka lantas masuk ke dalam kereta dan duduk berdampingan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Seorang pria tua hanya bisa tersenyum pasrah saat melihat kedua orang yang tidak bisa dilerai itu akhirnya diam dan menutup mulut masing masing.